Saat Milady memasuki ruang privat di sebuah restoran, ia melihat Sebastian sudah duduk di sofa di depannya sambil menghisap cerutunya dan memandang ke arah taman.
Pria itu berpakaian casual, kaos putih lengan panjang dan celana jeans. Jaket kulitnya tersampir di salah satu sandaran sofa.
Rambutnya yang melebihi telinga yang biasanya tersisir rapi ke belakang, kini dibiarkan berantakan. Kakinya yang panjang terlipat santai.
Kemaskulinan sangat terasa di sosoknya.
Milady menghela napas sambil duduk di salah satu sofa.
Sebastian tersenyum tipis padanya.
Terlihat di mata pria itu, ia sangat merindukan Milady.
Milady membalas senyuman pria itu dengan senyuman andalannya yang paling manis, yang biasa ia keluarkan kalau sedang merayu seseorang.
Biasanya Trevor dan Bram adalah 'korban senyumannya' kalau ia sedang egois masalah pekerjaan. Seperti minta cuti mendadak hari ini, walaupun akhirnya ia kembali ke kantor, tapi awalnya mereka menolak cutinya mati-matian. Setelah Milady merajuk dengan senyuman akhirnya mereka baru mau tandatangan form cutinya.
Sebastian tertegun sesaat melihat senyumannya.
Tapi selanjutnya pria itu teralihkan dengan ponselnya yang berdering.
Restoran yang Sebastian pilih menyajikan klapertart rum andalannya. Sudah lama Milady ingin mencobanya.
Jadi saat ia ditanya pesanannya, Milady memilih itu, dan seteko teh cammomile.
"Ngga makan?" tanya Sebastian sambil pindah duduk di sebelahnya.
"Sudah makan di kantor." jawab Milady sambil memposisikan tubuhnya menghadap ke samping, ke arah Sebastian.
"Tolong hidangan diantarkan sekaligus." kata Sebastian ke pengantar makanan.
Tanda bahwa pria itu tidak ingin terlalu banyak gangguan yang berseliweran keluar masuk ruangan.
Pengantar makanan mengangguk.
Mereka berdiam diri, menyibukkan dengan ponsel mereka, menunggu sampai pelayan mengantarkan pesanan Milady.
"Oleh-oleh dari Jerman?" Milady menengadahkan tangannya.
Sebastian menyerahkan kotak seukuran buku kepadanya.
Milady membukanya.
Parfum dari kota Cologne dan coklat Ritter.
Milady tersenyum senang.
"Kalo kamu pakai parfum apa?" tanya Milady.
Sebastian mengalihkan pandangan dari ponselnya dan menatap Milady sambil tersenyum masam.
Dia tidak menjawab.
Hanya menatap Milady,
Dan melirik kemeja miliknya yang dikenakan wanita itu.
Lalu matanya kembali ke wajah Milady.
Milady membalas tatapannya sambil tersenyum.
Lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat ke arah Sebastian.
Pria itu tidak bergeming.
"...hm...Montblanc..." tebak Milady.
Terdengar dengusan dari arah Sebastian, lalu ia kembali memeriksa ponselnya.
Transaksi di Jerman belum selesai. Malam ini ia harus kembali ke sana atau transaksi tidak berjalan sempurna seperti yang sudah direncanakan. Bisa-bisa ia kehilangan belasan juta dollar.
"Kamu tidak harus kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan saya, kok... Tinggal reschedule saja, saya pasti memaklumi." sahut Milady.
"Hm..." gumam pria itu. Ia sedang fokus membalas pesan dari kliennya.
Milady memutuskan untuk lebih menggodanya.
Jemarinya yang lentik dan berkuku panjang, mendarat di pipi Pria itu, membelai jambangnya yang putih.
Sebastian membeku.
Milady merasa senang dengan reaksi Sebastian.
Dan jarinya semakin aktif menyusuri rahang Sebastian.
Memainkan janggut panjang pria itu.
Lalu sebuah ketukan perlahan membuat Milady berhenti.
Pesanannya sudah datang.
Pelayan membuka pintu ruangan dan meletakkan hidangan.
Tapi Milady tidak berhenti membelai Sebastian.
Berapa umur pria ini sekarang?
Mungkin hampir 60...
Sekitar... 56-57 tahun kalau dilihat dari biodatanya.
Setelah pelayan berlalu, Sebastian menangkap tangan Milady.
"Maaf, sebelumnya..." desis pria itu. "Karena saya tidak memberi kamu kabar."
Lalu pria itu menurunkan tangan Milady dari rahangnya dan menangkupnya, merangkainya menjadi genggaman erat.
Milady tersentak, terkejut dengan reaksi pria itu dan reflek menarik tangannya.
Namun Sebastian menahannya.
Milady menatap pria itu dengan waspada.
Wajah Sebastian tersenyum, ada kilatan rencana licik di binar matanya.
"Lepaskan..." desis Milady.
Sebastian malah memperat genggamannya.
"Kapan kamu sadar kalau kamu sudah bermain-main dengan menantang bahaya?" kata Sebastian. "Menggoda saya? Supaya saya menarik rencana saya terhadap Trevor dan kembali kepada kamu? Itu maksudnya?" Sebastian mencecarnya.
Milady masih menatapnya.
Sial... Pikir wanita itu.
"...lalu... Kalau saya sudah terjerat sama kamu, bisa jadi kamu akan membuat saya jatuh. Kamu tampaknya punya dendam sendiri terhadap saya, yah? Sampai berniat begitu..."
Tangan Milady mulai mendingin karena gugup. Rencananya ketahuan dengan begitu mudah!
"Sebenarnya saya berencana mengajak kamu bicara karena... Selain karena memang saya kangen sama kamu..." desis Sebastian.
Astaga! ... pikir Milady.
Sebastian mengakui perasaannya?!
"...saya juga mau bilang kalau saya tidak main-main terhadap rencana saya terhadap Trevor. Saya perlu menunjukan kamu bukti, hasil penyelidikan saya terhadap Ayumi."
Sebastian mengangkat tangan Milady.
Menyesap wanginya dengan hidungnya agak lama, ia memejamkan matanya mengingat kelembutan jemari Milady.
Lalu mengecup punggung tangan wanita itu.
"... Bukti yang mengarah kalau selama ini kenapa saya berusaha memisahkan mereka, dengan alasan kuat." sambung pria itu.
Milady bahkan tidak peduli hal itu.
Ia hanya peduli akan kebenciannya terhadap Sebastian.
Benci sekaligus cintanya...
"Aku sayang kamu." desis Milady.
Sebastian tampak tersentak, ia melirik Milady dengan mengernyit.
"... Tapi aku benci kamu." tambah Milady.
Sebastian terkekeh.
"Aku udah biasa dibenci..." sahut Sebastian.
Kini pemilihan kata-kata di antara mereka sudah tidak resmi lagi.
Sebastian melepaskan tangan Milady.
Milady menarik tangannya dan mendekapnya di dada.
Ia berusaha menguasai napasnya yang tidak beraturan.
Sebastian menghela napas.
"Kita hanya berdua saja sekarang, aku harap kamu bisa mengeluarkan segala yang sudah kamu tahan selama ini. Aku akan berusaha ngga emosi..." Sebastian duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Bukankah seharusnya itu kata-kataku." gerutu Milady. "Apa pula maksudnya 171703..." sungutnya lagi sambil menegakkan duduknya dan menuang teh ke cangkirnya.
Terdengar gumaman Sebastian.
"Hanya angka itu yang terpatri di benakku saat aku membangun gedung itu. Kamu ngga bisa hilang dari pikiranku..." kata Sebastian.
"Aku yang masih 17 tahun, ngga bisa hilang dari pikiran kamu... Bagaimana kalau sekarang? Aku yang 27 tahun?!"
"Iya mungkin akan kuubah jadi tanggal lahir kamu aja...kesannya aku suka sama lolita." Sungut Sebastian.
"Kenapa harus aku? Ngga ada wanita lain?!"
"Kamu sendiri? Kenapa harus aku? Banyak pria tampan yang masih muda di sekeliling kamu..." balas Sebastian.
Milady menarik napas panjang.
"Bagaimana aku bisa lupa saat pertama..." dengus wanita itu. Milady tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kamu harus bisa melupakan, karena transaksi sudah selesai dan kontrak tidak di perpanjang. Kamu sendiri yang memutuskannya...kamu sendiri yang kesal." gerutu Sebastian. "Memangnya kamu pikirin bagaimana perasaanku selama ini mencari kamu dan penyesalan kenapa aku yang dulu begitu polosnya menerima keputusan kamu untuk berpisah?!"
Pria itu menatap Milady dengan kilatan mata menahan amarah.
Ia tidak terbiasa di tolak.
Dan wanita ini pernah menolaknya.
Milady tertegun mendengar curahan hati Sebastian.
Namun hanya bisa menunduk sambil mengaduk tehnya.
Seperti Sebastian, Ia juga merasa menyesal...
Apakah sudah tidak bisa diperbaiki lagi?
Tapi Milady keburu gengsi bertanya ke Sebastian.
Pria itu terang-terangan menolaknya barusan.
Jadi daripada harga dirinya semakin jatuh, mulai sekarang, hubungan mereka sebatas profesionalisme saja.
"Kenapa aku?" tanya Milady
"Apa?" tanya Sebastian.
"Kenapa kamu memilih aku untuk jadi pasangan Trevor?"
"Apa lagi? Karena kamu satu dari sekian banyak wanita yang bisa dekat dengan Trevor selain Ayumi dan Meilinda."
"Ada banyak wanita di sekeliling Trevor."
"Ada banyak wanita mengelilingi Trevor, tapi berapa banyak yang ia sambut baik? Berapa banyak yang bisa mendekat?"
Milady menaikan alisnya.
"Maksud kamu apa sih?" tanyanya tidak mengerti.
Sebastian menelisik wanita itu.
Tampaknya Trevor menyembunyikan phobianya dengan cukup baik. Sampai-sampai orang terdekatnya bisa tidak tahu.
"Mulai sekarang, perhatikan..." Sebastian membelai dagu Milady dan mengangkat wajah wanita itu dengan lembut agar mata mereka bisa bertatapan.
"...Coba perhatikan ada berapa wanita yang bisa berbicara dengan Trevor, dan mendekatinya..."
"Eh...?" desah Milady.
"Berapa banyak wanita yang bisa mengobrol akrab dengannya? Bagaimana sikapnya ke wanita lain?" sahut Sebastian.
"Tunggu... apa sih maksud pertanyaan kamu?"
Sebastian menghela napas tidak sabar.
"Coba diingat..." sahut pria itu sedikit menekan Milady. "Selain kamu, ada tidak wanita lain yang bisa mendekati Trevor seakrab kamu?"
Secara otomatis ingatan Milady flashback ke masa lalu.
Trevor memiliki 5 orang sekretaris, semuanya laki-laki.
Awal Milady berjumpa dengannya sangat tidak baik, Trevor menolaknya tapi tidak bisa membuangnya karena ia butuh Milady yang jenius.
Milady memiliki seorang sahabat di kantor, Selena yang merupakan Asisten Bram. Pasti sedikit banyak Selena pernah berbincang dengan Trevor karena mereka sering juga terlibat proyek yang sama dan satu ruangan.
tapi...
Berapa kali Trevor berbincang dengan Selena?
Tidak pernah.
Mereka hanya sekedar saling sapa. Berbincang pun biasanya beramai-ramai dan Trevor selalu disebelah Bram, menjauhi Selena.
Lalu ada beberapa notaris rekanan mereka yang perempuan. Trevor selalu menjadi orang yang paling dihindari karena sikapnya yang judes. Itu sebabnya Bram selalu membawa Trevor saat bertemu notaris yang perempuan.
Dan sikapnya terhadap para karyawan wanita... Selalu bikin kesal, sok galak, antipati...
"Ya Tuhanku..." desis Milady sambil memekik perlahan dan menutup mulutnya yang kaget, karena baru menyadari.
Mungkinkah Trevor...
Sebastian mengangguk.
"Aku memeriksakan mental Trevor ke psikiater saat ia 10 tahun karena menurutku sikapnya aneh saat berhadapan dengan guru wanita. Ia jadi sering ngamuk dan tantrum, ia juga pernah lari histeris menghindari gurunya. Hasil tesnya... ia mengidap Anxiety disorder jenis gynophobia..."
"Gynophobia?!" Milady langsung searching di internet mengenai jenis phobia.
Lalu setelah membaca keterangannya ia kembali memekik kaget.
Sebastian bersandar di sandaran sofa sambil menengadahkan kepalanya, menghembuskan asap dari cerutunya.
Tampak wajah sedihnya menunjukan penyesalan mendalam.
"Kalau saja... 33 tahun yang lalu aku bersikeras mempertahankan hak asuhnya... Mungkin phobia Trevor tidak akan terjadi." sahut Sebastian.
"Waktu itu kupikir... Trevor masih bayi, masih butuh ibunya. Dan lagi, ada neneknya yang tinggal serumah. Ia akan diurus dengan baik di sana... Tapi setelah neneknya meninggal, Ratna, mantan istriku... Seringkali memukul Trevor. Saat itu anak itu 4 tahun. Dan aku tidak menyadarinya karena sedang melanjutkan sekolah di luar negeri..."
Milady menyimak cerita Sebastian dengan jantung berdebar-debar karena kaget.
"Aku segera pulang saat ayah menelpon. Trevor pingsan dengan pergelangan tangan tersayat... Anak umur 4 tahun bisa berpikiran untuk bunuh diri...saat itu seluruh hak asuh Trevor beralih padaku, aku membawanya ke Amerika sambil melanjutkan study. Selama itu dia home schooling. Penyakit Trevor belum ketahuan karena semua gurunya laki-laki."
Sebastian menunduk sambil tersenyum sedih.
"Aku tidak menikah lagi... Aku juga trauma dengan pernikahan. Dan lagi saat itu fokusku hanya Trevor dan kesehatan mentalnya. Aku tidak bisa menuntut Ratna karena dia dinyatakan tidak waras... ?yang bisa kulakukan hanya menjauhkan dia dari ibunya."
"Kenapa kalian bercerai?" tanya Milady.
Sebbastian meletakkan cerutunya di asbak granit di depannya, lalu melipat tangannya, berusaha mengingat masa lalu.
"Aku dijodohkan dengan Ratna saat 17 tahun. Masih kelas 2 SMA. Kami sama-sama tidak saling mencintai. Dia punya pacar, dan aku juga jatuh cinta dengan orang lain... Setelah lulus, kami menikah atas dasar bisnis. Tapi saat Trevor berusia satu tahun kami bercerai karena dia ketahuan selingkuh."
"Kamu... Sepertinya saat itu lega."
"Iya... Aku lega."
"Tanpa tahu kalau itu awal dari segala mimpi buruk..." Sahut Milady.
Sebastian mengangguk.
"Setelah study selesai, aku berniat untuk memperluas bisnis ayah... Jadi perhatianku teralihkan. Trevor dimasukan ke sekolah umum agar dia bisa lebih berinteraksi dengan anak seumurannya...dan seminggu di sana, ia mulai menunjukan gejala aneh. Ia mengamuk saat di dekati dan berusaha berlindung dari wali kelasnya."
"Wali kelasnya wanita?"
"Iya. Ibu-ibu berjilbab dan wajahnya lembut. Tutur katanya juga sopan. Tadinya kupikir dia punya dua kepribadian, mungkin tanpa sepengetahuan kita dia menekan Trevor berlebihan... Tapi ternyata hasil tes menunjukan sebaliknya."
Sebastian menghela napas.
"Jadi sampai lulus setaraf SMA, dia harus home schooling lagi." sambungnya.
Pria itu menyesap kopinya.
Milady mengelus lengannya yang merinding.
Ia tidak menyangka...
Trevor yang bertingkah cuek dan selalu menanggapinya dengan santai, ternyata menyembunyikan sesuatu yang besar.
Sebastian melanjutkan ceritanya.
"Saat ia akhirnya jatuh cinta dengan Ayumi... Aku pun lega. Perusahaan mulai tumbuh, bisnis mulai membaik. Ayah melepaskan sahamnya dan aku baru saja membuka cabang usaha retail ke sembilan di Jepang. Saat itu... Usianya 24 tahun. Ia juga mulai bisa berinteraksi dengan lawan jenis walaupun harus menahan ketakutannya mati-matian... Ia bisa mendaftar kuliah. Dan Ayumi waktu itu selalu di sampingnya. Jadi aku tidak ada kekuatiran apapun. Saat itu... Aku mulai berpikir untuk diriku. Untuk mencari pendamping hidup..."
"Dan kita bertemu..."
"Iya..." Sebastian tersenyum masam. "Aku... Entah bagaimana. Karena sudah lama tidak berpikiran untuk percintaan, aku tidak tahu harus mencari kemana."
"Kamu tahu situs itu dari mana?" tanya Milady.
"Dari klien. Waktu itu iseng bertanya... Dia petinggi Yakuza, tapi pendampingnya cantik-cantik dan wajahnya mereka blasteran semua."
Milady menghela napas. Ia bisa saja... Astaga... Ia bisa saja mendapatkan klien seorang mafia! Entah bagaimana keselamatan dirinya...
Haruskah ia bersyukur?
Sebastian terkekeh mengingat masa lalu.
"Aku waktu itu untung-untungan saja. Karena rekomendasi dari petinggi Yakuza, situs itu sudah pasti tidak akan berani menipu, bisa habis mereka kalau ketahuan...Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau..."
"Aku ngga sesuai dengan perkiraan kamu?"
"Iya... Ngga sesuai... Yang muncul di depanku saat itu malah bukan manusia, tapi seorang Dewi..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
another Aquarian
manis banget mereka.. seakan memang sudah sewajarnya seperti itu..
2025-04-05
0
Sulaiman Efendy
INGAT UMUR PAK YAN, NGEGOMBAL AZA...😂😂😂😂😂
2023-10-18
0
YK
jatuh cinta sama emaknya Dimas.... 🤣🤣🤣🤣
2023-07-06
1