Tidak...pikir Sebastian.
Ia menghadang Milady saat ini, bukan dengan tujuan terpikat lebih dalam dengan bidadari ini.
Dengan rasa sesal, ia harus mengatakan hal ini, dan ia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk yang ada, termasuk membuat wanita ini jadi benci padanya.
Jadi ia mendekati Milady, merebut rokok yang terselip di jemari wanita itu dan membuangnya ke lantai lalu menginjaknya.
Bendera perang telah ditabuh.
Sebastian ingin Milady waspada terhadapnya.
Dan benar saja, wanita itu langsung tegang.
“Kamu tahu dengan pasti keinginan saya menemui kamu sekarang.” Sahut Sebastian, dengan sedikit geraman. ”Langsung saja saya katakan, jangan sekali-sekali terucap dari bibir kamu...”
"Saya mengerti." Potong Milady tegas.
Sebastian menghela napas. Sepanjang kariernya, bahkan hidupnya, hanya dua orang yang berani memotong pembicaraannya. Adiknya...Meilinda, dan kini...
Wanita ini.
Namun Milady berbeda dengan keunikannya sendiri. Ia bisa seirama dengan Sebastian. Ia mampu menangkap maksud Sebastian dengan cepat.
Apa memang benar, tidak harus dengan kata-kata karena mereka langsung bonding? Serasi? Atau memang kepandaian Milady yang di atas rata-rata? Ia menjadi staff ahli di usia semuda ini, pasti ada kelebihan yang dimilikinya.
Sekali lagi, Sebastian langsung terpikat. Persis seperti waktu itu.
Terpikat pada orang yang sama, dan cintanya yang seharusnya mulai terkikis akibat perjuangannya melupakan sosok ini 10 tahun lamanya, dalam satu waktu menjadi buyar dan sia-sia.
"Sebastian, tidak ada orang yang suka aibnya tersebar... Apalagi, saya adalah pihak yang dirugikan apabila hal itu tersebar. Dan kamu juga jangan merasa karena uang kamu, keluarga saya hidup dengan layak. Saya menjual sesuatu yang berharga dengan harga yang menurut saya pantas..." Kata Milady di depannya ini, berusaha mengumpulkan keberaniannya kembali.
Nada suaranya gemetar menahan emosi.
"Seberapa dekat kamu dengan Trevor?" Tanya Sebastian akhirnya.
Miladi menatapnya sinis.
Sebelah alisnya terangkat.
"Serius kamu tanya itu? Setelah sekian lama?" Sahut Milady.
"Memang kata-kata apa yang kamu harapkan?"
Milady diam.
Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping, menatap orang-orang yang berlalu lalang di antara mereka.
Banyak pasangan...
Banyak juga yang menyendiri...
Namun semua tampak diliputi kedamaian, terlihat dari raut wajah mereka.
Jadi,
Hanya Milady yang gundah?
"Entahlah... mungkin seperti... " Milady menatap Sebastian. "Apa kamu kangen sama saya, atau semacam itu."
"Kita berdua sudah tahu jawabannya." Gumam Sebastian sambil menatap lantai.
Ia tidak kuat menatap Milady lebih lama, bisa-bisa ia langsung memeluk wanita itu, sampai tulangnya yang terlihat rapuh patah.
Kita berdua sudah tahu jawabannya.
Lalu sekarang apa yang sedang mereka berdua lakukan?
Kenapa Sebastian malah mundur darinya?
suasana seperti apa ini? Apa Sebastian sedang mempermainkannya?
Ah! Menyebalkan...
Apa sih yang Milady inginkan dari Sebastian? Ingin agar pria itu menyatakaan cinta padanya?! Walaupun keinginan itu memang ada, apakah pantas secepat ini diutarakan?
Terdengar celaan dari bibir Milady.
"Hubungan saya dengan Trevor selain rekan kerja... Boleh dibilang cukup dekat, seperti saudara." kata Milady.
"Jadi kamu tahu mengenai Ayumi." Geram Sebastian.
Milady menatap Sebastian,
"Saya berbohong kalau saya bilang tidak tahu. Tapi kami jarang membicarakannya, bukan kepentingan saya. "sahut Milady. menantangnya.
Sebastian menatap Milady. “Saya berharap kamu bisa bekerja sama dengan saya , sekarang.”
Milady tersenyum kecut. “Kamu ingin pernikahan ini terjadi, dan ingin agar saya membuat Trevor jatuh cinta pada saya. Kamu berniat memanfaatkan kelemahan Trevor yang mengira bahwa dengan menikahi saya, ia akan bebas bertemu dengan Ayumi karena saya dianggap sekutu.” Tebak Milady. Ia berani bertaruh itu yang akan dikatakan pria selicik Sebastian.
“Kamu pintar, seperti biasanya.” Sebastian mendekati Milady. Ia menatap lurus ke mata coklat Milady yang sayu.
Astaga, bibir ini. Pikir Sebastian.
Otaknya masih sangat mengingat bagaimana rasa manis yang tercipta saat bibir mereka saling memanggut.
"Kamu menghilang..." Sahut Sebastian. Perkataan itu bagaikan godam yang langsung membentur kepala Milady.
"Ya. Saya berpikir hubungan kita tidak perlu diperpanjang. Jujur saja, karena Saya mencintai orang yang salah, dan terjadi di waktu yang salah dengan cara yang salah. Jadi, saya menghilang." Jawab Milady
Sebastian sekali lagi terpaku.
Apa yang wanita ini katakan?!
Mencintai orang yang salah...
Apa yang dimaksud dengan 'orang' disini, adalah Sebastian?
Kenapa kepala Sebastian langsung sakit.
Dan bagian bawah tubuhnya merespon dengan cara yang salah.
"Kamu sedang bercanda? Ini ngga lucu." Desis Sebastian.
"Saya tidak pernah bercanda, dan sama sekali tidak menganggap jual diri sebagai sesuatu yang lucu.” Sahut Milady sambil menunduk.
Lalu ia teringat suati hal yang ingin dia tanyakan dari tadi.
“Ngomong-ngomong ada yang saya mau tanyakan... Apa arti persahabatan bagi kamu? Melihat teman satu genk kamu bangkrut, kamu bahkan tidak tergerak menolong?"
Sebastian tersenyum sinis.
"Malik tidak pernah cerita..."
"Ayah saya tidak pernah menghubungi kamu? Setipis itu pertemanan kalian yang sudah terjalin selama...berapa tahun? 30 tahun? 40 tahun?"
Oke, itu salah Sebastian. Ia sebenarnya tahu, tapi Sebastian diam saja. Tapi ia melakukannya dengan suatu tujuan, karena ia memiliki sedikit perasaan benci ke Malik Adara karena kesalahan masa lalu. Walaupun mereka saat ini sudah berdamai, namun pertemanan mereka tidak lagi bisa sama.
Dan keberadaan mereka disini, itu salah mereka berdua.
Milady tidak mencari tahu untuk siapa dia bekerja selama ini, dan Sebastian tidak mencari tahu siapa saja orang yang ia pekerjakan.
Namun saat ini, entah kenapa, pria itu bersyukur.
Sekaligus mengumpat serapah.
"Gunakan daya tarik kamu untuk memikat Trevor, kalian sudah lama kenal pasti bisa menjalani pernikahan dengan dengan lancar. Saya ingin Trevor melupakan Ayumi."
Milady menarik napas panjang.
"Tidak bisa semudah itu, Tuan Besar... hubungan mereka sudah terjalin cukup lama. Mereka masih menjadi kekasih sampai sekarang, apakah itu bukan pertanda kalau Ayumi tidak menyimpan dendam apapun terhadap perlakukan kamu ke ayahnya?"
Sahut Milady.
Sebastian mendengus.
"Hubungan Ayumi dan Tadashi cukup dekat... sejak kematian Tadashi, istrinya shock dan jantungnya kambuh beberapa hari kemudian meninggal. Dalam waktu seminggu, Ayumi yatim piatu. Apakah ada seorang anak yang sangat menyayangi orang tuanya, tidak menaruh dendam terhadap 'pembunuh'nya?!" Sebastian menjelaskan.
Milady terdiam.
Ia memikirkan teori Sebastian.
Sesaat mereka berdua merenung.
"Tragis yah..." Desis Sebastian.
Ia meraih jemari lembut Milady, lalu mengangkatnya ke arah wajahnya, lalu mengecup punggung tangan Milady dengan perlahan .
Milady merasakan getaran itu.
Saat saraf di tangannya merasakan gesekan pada kulit asing yang tersimpan di memori sebagai sesuatu yang sangat ia rindukan. Lalu mengirim sinyal ke otaknya untuk mengaktifkan anggota tubuh lain yang memproduksi hormon, membuatnya merasa tegang di bagian intimnya.
Berkedut tak menentu karena merindukan suatu rasa yang telah lama hilang.
"... Padahal Saya sudah lama cari kamu... sampai saya depresi dan memutuskan untuk bekerja tanpa henti. Berharap waktu akan kembali, saat kamu mengucapkan kata berpisah, seharusnya saya mencegah kamu pergi." Sebastian menatap Milady dengan pandangan menerawang.
"...pada akhirnya kita dipertemukan kembali, kamu tetap bukan menjadi milik saya." Ia terkekeh namun terasa hambar.
"Saya sering membayangkan kamu, saat saya merasa kesepian, atau saat saya berada di titik jatuh paling bawah. Lalu... Sedang apa kamu saat itu... dengan siapa... Rasanya, bagaikan menyebrangi jembatan terbakar. Kamu menyiksa saya selama 10 tahun ini..."
"Itu kan salah kamu sendiri." Sahut Milady. "Menganggap dunia ini berputar untuk kamu."
Sebastian menatapnya tajam.
Milady merasa semua yang diucapkan Sebastian barusan adalah omong kosong. Akhirnya ia terbakar emosi.
Pria ini sudah merendahkan dirinya, dengan cara yang halus namun masih bisa terbaca oleh Milady. Berpura-pura menjadi korban, playing victim, padahal dirinyalah sumbangsih terbesar bagi ketidakstabilan kehidupannya sendiri.
Kita lihat hai si pria angkuh, sampai kapan kamu tahan melihat saya menjadi milik orang lain. Yang namanya pernikahan pasti ada adegan intim kan, walaupun pernikahan pura-pura, Milady juga akan membangun hubungan lebih dalam, agar terlihat lebih meyakinkan. Bukan tidak mungkin Trevor akan jatuh cinta padanya.
"Saya usahakan yang terbaik..." Sahut Milady yang mati-matian menguasai dirinya tetap terlihat tenang.
Lalu ia meninggalkan Sebastian, berjalan kembali ke ruangan anggrek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Vlink Bataragunadi 👑
bagaimana mungkin yg begini aja bikin aku bapeeerrr (╯3╰)
2022-11-29
1
Bagja
uuhh kebayang rasanya gmn🤭🤭
2022-10-08
1
w⃠Amy ✰͜͡ṽ᭄
hemm kira2 jadi gak ya nikah sama Trevor, atau justru nikahnya sama sebastian
2022-06-17
1