25 Januari 2321, pukul 20.02 WIB.
**
Malam hari di asrama Nio penuh dengan kecanggungan antara kakak dan adik ini. Bahkan sekarang Nio tidak berani menatap Arunika saat makan malam.
Penyebabnya adalah pernyataan ‘sanksi’ dari Herlina yang mengatakan Nio harus mengikuti pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus.
“Hei, kenapa wajahmu murung begitu?” tanya Arunika yang sedari tadi melihat Nio selalu menunduk dan diam.
Karena sebelumnya Nio dan Arunika selalu bercanda dan bercerita satu sama lain dengan nyamannya.
Dengan nada lemah Nio berkata, “Kakak, setelah ini ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”
Arunika mengerutkan dahinya dan merasa yang dikatakan Nio nanti benar-benar hal yang serius. Namun serius pada Nio harus disertai dengan wajah yang murung atau bisa diartikan seperti itu.
Mereka berdua melanjutkan makan malam hingga waktunya pembicaraan serius diantara mereka.
**
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” kata Arunika yang duduk di depan Nio seperti sedang ‘menyidangnya’.
Nio masih menghindari tatapan pada Arunika dan duduk bersila sambil memainkan jarinya.
Tanpa rasa gugup atau semacamnya Nio berkata meski dengan ekspresi datar, “Langsung intinya saja, aku diperintahkan untuk mengikuti pelatihan Pasukan Pelajar Khusus. Aku juga belum tahu tempat pelatihannya. Karena ini sanksi yang Herlina berikan padaku, aku meminta persetujuan mu atas nama keluarga.”
“Pe-pelatihan menjadi pasukan khusus?” tanya Arunika dengan ekspresi terkejut yang benar-benar tak disembunyikan.
“Ya. Meski hal itu aku harus melanggar ‘janji itu’ ,” jawab Nio.
Karena jika Nio benar-benar mengikuti pelatihan menjadi PPK, dia terpaksa melanggar janji untuk tetap bersama Arunika hingga waktu ‘itu’ tiba. Meski 6 bulan waktu yang cukup lama, namun harus dikurangi dengan masa pelatihan menjadi PPK selama 4 bulan. Itu jika Nio diijinkan Arunika untuk melakukan pelatihan, jika tidak diijinkan mereka berdua tetap dapat melalukan ‘janji’ yang Arunika buat bersama Nio.
Kali ini Arunika yang tidak menatap wajah Nio, sebelumnya jika mereka berdua berbicara Arunika selalu menatap ke arah mata Nio.
Bahkan Arunika tidak berani untuk menoleh untuk sekedar melihat ekspresi Nio sekarang.
Badannya gemetar karena tahu pelatihan untuk menjadi pasukan khusus sangat berat dan menguras tenaga serta pikiran.
Meski itu akan menjadikan Nio prajurit yang kuat fisik serta mental , namun Arunika ingat dengan sifat Nio yang akan menjadi bahan pertimbangannya untuk mengijinkan atau tidaknya Nio mengikuti pelatihan.
Arunika membuka sedikit bibirnya dengan gemetar dan berkata, “A-apa kau janji tidak akan bermalas-malasan saat melakukan pelatihan?”
“Apa kakak mengijinkanku ikut pelatihan?” tanya Nio.
Nio sama sekali tidak berbinar-binar saat kakaknya bertanya seperti itu. Karena bukan berarti jika Arunika bertanya seperti itu dia akan mengikuti pelatihan.
“Jika kau berjanji dengan pertanyaan yang akan ku berikan, akan ku pertimbangkan,” ucap Arunika dengan serius.
“Baik, akan kujawab satu persatu pertanyaanmu,” jawab Nio.
“Apa kau tidak akan bermalas-malasan?”
“Tidak.”
“Apa kau siap melaksanakan semua pelatihan yang akan kau terima?”
“Aku siap.”
“Apa kau berjanji mendapatkan nilai sempurna di ujian pengetahuan umum?”
“Aku janji.”
“Apa kau bisa mendapatkan nilai 76 pada ujian matematika?”
“Aku si---, tunggu dulu. Memangnya di ujian umum ada mata pelajaran matematika?” tanya Nio dengan wajah terkejut.
Wajah terkejut Nio mampu membuat Arunika sedikit tersenyum meski ditutupi dengan tangannya.
Setelah itu Nio menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mengusap-usapnya karena mengetahui ada pelajaran matematika di ujian pengetahuan umum.
“Jangan katakan ada fisika dan kimia juga?” tanya Nio dengan cemas.
“Ada kok,” jawab Arunika dengan santainya karena suka reaksi Nio saat mendengar pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka dan hitungan.
Karena Arunika juga menyukai ekspresi Nio saat berhadapan dengan ketiga pelajaran tersebut. Karena Nio pasti akan mengeluh pusing yang luar biasa saat berhadapan dengan ketiga pelajaran itu.
Nio meletakkan dahinya ke atas meja dengan keras karena pasrah dengan ujian pengetahuan umum. Apa lagi dengan kehadiran ketiga mata pelajaran yang sangat amat ia benci itu.
Kecuali di ketiga mata pelajaran itu, Nio pasti akan mendapatkan nilai sempurna. Itu yang membuat Arunika heran.
Nio kemudian bangkit dan bertanya pada Arunika, “Kalau begitu, artinya kau mengijinkanku ikut pelatihan?”
Arunika terlihat mencoba tersenyum walau terkesan ‘terpaksa’ dan berkata, “Ya, asal kau bisa berjanji dan bertanggung jawab.”
Setelah itu Arunika bergeser dan mendekat ke Nio. Tentu saja Nio terkejut saat kakaknya menempel padanya.
Nio hanya bisa menikmati dan ikut bersandar dengan kakaknya. Kini mereka berdua saling bersandar di bahu satu sama lain.
Jika dilihat dari apa yang mereka lakukan, siapapun yang pertama kali melihat hal ini akan menganggap mereka berdua bukan kakak dan dan adik.
“Nio…?” tanya Arunika dengan nada sedikit ‘manja’.
Dengan gugup karena kakaknya menggunakan nada manja Nio menjawab, “A-apa?”
Arunika selanjutnya tidak berkata apa-apa lagi seakan dia hanya mencoba menggoda Nio saja.
Kemudian Arunika meletakkan kepalanya di pundak Nio yang membuatnya seketika terkejut dan merinding.
Di dalam hatinya dan dengan nada bahagia Nio berkata, “Kuharap pelatihan itu tidak pernah ada.”
**
26 Januari 2321, pukul 07.13 WIB.
**
Nio perlahan membuka matanya dan terpaksa berpisah dengan mimpi indahnya.
Hal yang Nio lakukan adalah melihat sekeliling asramanya dan mendapati satu hal yang sangat langka.
Nio tidur di bawah dengan keadaan terduduk dengan Arunika berada di sampingnya. Mereka berdua juga berada di satu selimut yang sama.
Nio dengan tatapan datar melihat kakaknya yang masih berada di alam mimpinya dengan wajah tersenyum.
“Apa yang dia mimpikan?” gumam Nio.
Dia kemudian menyingkir dari tempatnya tertidur dan segera menyiapkan diri untuk segera berlatih.
**
“Apa kau harus secepat itu meninggalkan kakakmu sendirian?” tanya Arunika dengan nada manjanya lagi.
“Hentikan kak, kau membuatku merinding,” ucap Nio dengan badan yang benar-benar merinding.
“Jahat sekali kau,” kata Arunika dengan kesal.
Nio hanya tersenyum miring dan melakukan hal yang membuat Arunika terkejut sekaligus senang.
“Aku pergi dulu ya kak?” ucap Nio setelah mencubit pipi Arunika.
Dia berlari begitu saja meninggalkan Arunika yang masih berdiri di depan pintu dengan tatapan kosong.
Kemudian Arunika menutup pintu sambil berkata, “Aku ingin merasakan itu lagi. cepatlah pulang Nio….”
Beralih ke Nio yang berusaha keras berlari ke tempat di tempelnya daftar nama yang Herlina tempel kemarin, yaitu di papan pengumuman.
Namun di depan papan pengumuman terlihat banyak prajurit dari seluruh regu berebut untuk menuliskan namanya di daftar nama.
Selain nama lengkap, mereka harus menuliskan tujuan bergabung dengan Pasukan Pelajar Khusus.
Nio kemudian menunggu hingga kerumunan itu sepi di kursi yang disediakan.
“Komandan, kenapa kau disini. Apa kau tidak akan bergabung dengan PPK?” tanya Arista yang tiba-tiba muncul dan berhenti di depan Nio.
“Tentu saja aku akan bergabung. Tapi kerumunan itu menghalangiku,” jawab Nio.
Arista kemudian duduk di kursi yang sama dengan Nio dengan memberi jarak di antara mereka. Karena Arista masih sadar jika Nio adalah Komandan regunya. Sangat berkebalikan dengan Nio yang dapat berbicara santai dengan Herlina yang merupakan Kapten dan Komandan Kompi 406.
Dengan wajah datar, Arista melihat kerumunan yang semakin ramai seiring dekatnya waktu latihan.
Sesaat kemudian Herlina tiba-tiba muncul dan duduk di antara Nio dan Arista.
“Bagaimana, apa kau mendapatkan ijin?” tanya Herlina dengan berharap jawaban yang membahagiakan dirinya dari Nio.
“Iya, aku mendapatkan ijin,” jawab Nio singkat.
Dengan begitu Herlina berhasil membuat Nio bergabung dengan Pasukan Pelajar Khusus meski dengan cara yang bisa dibilang licik.
“Ah, sudah sepi. Cepat tulis nama mu di daftar nama!” perintah Herlina dengan mendorong Nio.
“Iya iya,” jawab Nio kesal.
Nio berjalan ke papan pengumuman dengan Arista yang berjalan juga dibelakangnya.
Nio membalik lembaran dan menulis namanya di lembar kedua daftar nama pada kolom nomor 29. Tidak lupa dia memikirkan tujuan bergabung dengan PPK.
Namun dia tidak bisa berlama-lama berpikir karena Arista dan beberapa orang lain menunggu giliran untuk menuliskan nama mereka di daftar nama.
“Bodo amat lah,” ucap Nio dan menuliskan tujuannya.
Tujuan Nio bergabung dengan PPK adalah untuk melindungi keluarganya, itu juga yang ia tulis di daftar nama.
Nio kemudian meninggalkan papan pengumuman dan menuju tempat latihan meninggalkan Arista.
Arista menuliskan namanya di bawah nama Nio, sekaligus dia membaca tujuan Nio bergabung dengan PPK.
Dengan wajah sedih setelah membaca tujuan Nio dia berkata, “Enaknya yang masih punya keluarga.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
threesixty
kesan nya kayak beban nih cwek. kalo bisa ya sama smaa kuat lah. aduhhh . momen romen nya gak tepat. buni dah mau hancur masih mentingin perasaan
2023-07-27
0
Jungkook wife
"Istri yang Terabaikan" telah memberikan like nya. Ditunggu feedback nya ya. Mari saling mendukung.
2021-01-31
2
Mansyur
bagus Thor
2021-01-31
2