21 Januari 2321, pukul 22.21 WIB.
**
Saat ini Kompi 32 masih dalam perjalanan menuju kota bawah tanah Kota Karanganyar. Meski dengan berjalan kaki antara Kecamatan Jumapolo ke kota bawah tanah hanya memerlukan waktu 5 jam, tapi mereka juga harus beristirahat.
Apalagi beberapa rekan mereka yang terluka harus menerima perawatan.
Kompi ini juga masih mengurus tawanan yang mereka dapatkan. Mengolah dan memberi makanan kepada tawanan merupakan hal yang menguras perbekalan.
Namun mereka tidak mungkin untuk meninggalkan prinsip prajurit, yaitu tidak boleh menyiksa dan melecehkan tawanan.
Hal itulah yang membuat para prajurit dunia lain yang tertawan menjadi heran. Padahal mereka semua yang tersisa 86 orang sudah bersiap menerima segala perlakuan dari pihak pemenang yakni Kompi 32.
Sisa dari pasukan dunia lain yang kalah memilih kabur.
Perlakuan yang mereka terima hanyalah tangan dan kaki yang terikat kuat hingga mustahil untuk dilepaskan tanpa alat.
Salah satu prajurit dunia lain berkata dengan bahasa dunianya, “Kenapa mereka baik kepada kita?”
“Entahlah, mungkin orang dunia ini sudah gila semua karena perang ini hingga memperlakukan musuh dengan baik,” jawab rekannya.
“Jadi mental mereka lemah semua. Hanya karena perang seperti ini mereka dapat gila,” jawabnya.
Beberapa prajurit dunia lain tertawa kecil karena perkataan rekannya.
Mendengar itu, prajurit Kompi 32 yang berkumpul mengitari api unggun menatap mereka dengan tajam. Tatapan itu oleh prajurit dunia lain diartikan sebagai ancaman jika mereka tertawa lagi akan dibunuh.
Terutama Surya yang memiliki tatapan paling tajam karena masih mengantuk.
“Aku mau cepat-cepat sampai kesana…,” ucap Surya dengan nada seperti orang yang masih mengantuk.
Bukan hanya Surya yang mengantuk, semua prajurit Kompi 32 juga mengalami hal yang sama karena harus bergantian berjaga.
Karena pasukan dunia lain bisa saja muncul dengan tiba-tiba mengingat jumlah mereka di pulau Jawa sendiri diperkiraan sekitar 100.000 orang.
Itu artinya ada ratusan ribu prajurit dunia lain yang berada di Indonesia dengan tujuan menguasai negara ini. Tujuan mereka memang ingin menguasai dunia ini.
“Sabar Komandan, kami ini bukan anda yang bisa berjalan 100 km non stop,” ucap salah satu prajurit Kompi 32.
Seluruh orang tertawa kecuali prajurit dunia lain karena tak paham bahasa Indonesia yang diucapkan prajurit Kompi 32.
“Kau ini. Aku ini masih manusia seperti kalian tahu!” kata Surya dengan kesal.
Seluruh anggota Kompi 32 tertawa semakin keras, kecuali Tania yang duduk sedikit jauh dari rekannya. Disampingnya ada senapan runduk yang membuatnya menjadi salah satu penembak jitu terbaik Indonesia masa ini.
Namun julukan itu tidak membuatnya senang sama sekali mengingat kondisi yang memang tidak dalam masa damai. Berbeda dengan 300 tahun yang lalu yang hanya terdapat sebuah pandemi.
Entah apa alasan Tania duduk berjauhan dari rekannya yang mengitari api unggun yang dibuat cukup jauh dari bangunan agar tidak membakar bangunan sekitar.
Didalam hati Tania berkata, “Aku juga ingin segera bertemu dengan dia.”
**
Kabar jika kompi 32 berhasil mengalahkan 3 Kompi musuh yang berjumlah 300 orang sudah tersebar di seluruh negeri. Itu menandakan jika masih ada harapan untuk mengalahkan pasukan yang sulit dikalahkan.
“Apa kau tahu komandan mereka?” tanya Jo kepada Nio yang menanyakan komandan Kompi 32.
“Tidak. Memangnya kau tahu?” jawab Nio sambil melepaskan perlengkapannya.
“Tidak. Karena itu aku bertanya padamu,” jawab kesal Jo.
Setelah itu mereka berdua keluar bersama dari pemandian.
Nio lebih memilih mandi setelah latihan dan membuatnya pulang telat.
Namun dia sepertinya tidak tahu apa yang terjadi dengan kakaknya, Arunika.
Itu sebabnya Nio dapat melangkah menuju asramanya dengan tenang sambil menyapa anggota Regunya yang berpapasan dengannya.
Saat membuka pintu asrama dia mendapati lampu yang belum dinyalakan dan membuatnya tersandung sesuatu.
“Kakak…,” panggil Nio. Namun tidak ada jawaban dari Arunika meski dia sudah memanggil berkali-kali.
“Dimana sih dia?” gumam Nio yang kemudian keluar dari asramanya lagi.
Nio bertanya pada setiap orang yang ia temui, namun jawaban yang ia terima selalu sama. Mereka yang Nio tanyai selalu menjawab kalau tidak melihat kakaknya.
“Padahal penghuni kota bawah tanah ini tidak sampai 3.000 orang,” kesal Nio sambil berlari kecil ke seluruh kota bawah tanah untuk menemukan kakaknya
**
“Bagaimana?” tanya kepala penjara ruangan yang lebih umum disebut ‘penjara’.
“dia terus menjawab kalau dirinya bukan mata-mata pasukan dunia lain,” jelas penjara penjara yang bertugas menginterogasi Arunika.
Dia memantau Arunika yang dikurung di ruangan yang serba berwarna putih.
Ruangan yang serba putih itu cukup membuat Arunika hampir stres. Selain itu Arunika juga menghadapi berbagai pertanyaan yang tidak perlu ia jawab karena dia memang tidak melakukan hal yang disebut ‘spionase’.
Arunika hanya duduk di pojok ruangan putih sambil memeluk kakinya dengan badan yang gemetar.
Didalam hati Arunika berkata, “Nio….”
**
Nio berada di depan penjara sambil mengatur lagi nafasnya.
“Kenapa anda disini Sertu?” tanya seseorang yang mengejutkan Nio.
Dia salah satu anggota Nio yang bertugas menjaga malam ini.
“Ah kamu. Kamu lihat kakakku tidak?” tanya Nio dengan nafas memburu yang membuat rekannya tersebut terkejut.
“Sa-saya tidak tahu kakak anda. Memangnya seperti apa kakak anda?” tanyanya.
Nio menyebutkan satu per satu ciri-ciri Arunika. Rekan Nio memegang dagunya yang tumbuh janggut tipis sambil mengangguk pelan saat Nio menyebutkan satu persatu ciri-ciri kakaknya.
Namun sesaat kemudian dia melebarkan matanya karena menyadari sesuatu dan berkata, “Ja-jadi dia kakak anda?”
“Benar, jadi kau melihatnya?” tanya Nio dengan wajah senang.
Rekan Nio dengan badan gemetar menunjuk ke arah bangunan penjara, “Dia ada di situ.”
Tanpa pikir panjang Nio berlari ke arah penjara dan membuka pintu dengan kasar sambil berkata, “Hah!, kenapa dia ada di sana?”
“Permisi, apa kakakku ada disini?” tanya Nio saat tiba di meja penjara yang terdapat monitor didepannya.
“Ah Sertu rupanya. Saya tidak tahu kakak anda,” ucap penjara penjara saat bertemu dengan Nio.
Nio cukup terkenal di kota bawah tanah karena sering di tantang Kapten Herlina.
Lupakan itu, sekarang Nio terlihat kesal sambil berkata, “Katanya anggotaku melihat kakakku dibawa kesini!”
Penjara dan kepala penjara yang baru tiba terkejut dengan perkataan Nio.
“Apa dia kakak anda?” tanya kepala penjara yang menunjukkan Nio monitor yang memperlihatkan Arunika dalam keadaan yang menyedihkan.
“Ya, itu dia. Ya ampun, kenapa dia bisa dibawa kesini,” kata Nio sambil memegangi wajahnya yang penuh keringat.
“Mohon maaf sebelumnya, rekan anda mengira jika kakak anda adalah mata-mata pasukan dunia lain,” jelas kepala penjara. Tentu saja Nio terkejut dan berkata, “Hah!?”
Kepala penjara kemudian memerintahkan bawahannya untuk mengantar Nio ke ruang kurungan.
Nio tahu apa efek dari ruangan kurungan yang dibuat serba putih. Itu adalah salah satu metode penyiksaan modern yang sangat berbahaya.
Metode penyiksaan ruang putih atau lebih dikenal dengan ‘Kamar Putih’ mengharuskan tahanan tinggal di sel atau kotak yang memiliki dinding benar-benar putih.
Segala sesuatu di ruangan itu harus berwarna putih seperti pakaian tahanan, pintu dan lampu. Makanan yang disajikan adalah nasi putih diatas piring putih.
Selain itu ruangan sel harus kedap suara agar tahanan tidak dapat berbicara dengan siapapun.
Dampaknya pada tahanan adalah memeberikan rasa takut yang lebih dari sekedar rasa takut. Dan itu akan berdampak langsung pada otak.
Itulah yang Nio khawatirkan pada kakaknya yang bisa saja Arunika lupa siapa Nio, bahkan dirinya sendiri.
Penjaga penjara membuka pintu yang berwarna putih dengan cepat karena dibelakangnya ada Nio dengan tatapan mengintimidasi.
Pintu putih sudah terbuka, ruangan memancarkan sunar yang menyilaukan.
Didalamnya ada Arunika yang menatap datar kearah Nio yang segera memasuki ruangan.
“Nio!” ucap Arunika yang belum lupa siapa nama adiknya.
“Syukurlah,” ucap Nio sambil membantu kakaknya berdiri.
Kepala penjaga dan penjaga benar benar ketakutan karena pangkat Nio yang lebih tinggi dari mereka. Dan karena hal itu bisa saja Nio berbuat yang tidak-tidak.
Keadaan Arunika memang tanpa luka, tapi efek penyiksaan ini akan memberikan luka mental jika diterapkan dalam waktu lama pada tahanan.
Mereka berdua kemudian keluar ruangan serba putih ini.
Setelah itu Nio menunggu kakaknya yang sedang berganti baju di ruangan lain.
Meski pangkat Nio Sersan Dua dan lebih rendah dari Kapten, tapi itu sudah termasuk tinggi bagi Tentara Pelajar.
“Ayo pulang,” kata Arunika setelah mengganti pakaian dan mendapatkan cara untuk mengurangi efek Ruang Putih dari ahli jiwa.
“Ya,” ucap Nio sambil berjalan di samping kakaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
typo bang. Nio sersan satu bang
2022-01-02
0
anjay propaganda
2022-01-02
0
Mamad S
tadi sersan sekarang letnan gimana sih
2021-04-29
3