17 Januari 2321, pukul 16.16 WIB.
**
Pasukan yang telah selesai berlatih berkumpul membentuk lingkaran yang juga sebagai pembatas kedua orang ini.
“Kenapa mereka berdua sering sekali melakukan ini?” tanya seorang prajurit dari Regu 3.
“Nggak tahu, tapi pertarungan komandan dengan dia cukup menarik kan?” balas rekannya.
“Ya begitulah,” jawab temannya.
Semua orang dari masing-masing kompi yang menyaksikan latih tanding ‘lagi’ antara Nio dan Herlina mengatakan semacam itu.
Bahkan ada beberapa yang bertaruh untuk kemenangan salah satu dari mereka berdua.
Yang pasti uang yang ditaruhkan hanya recehan 500 rupiah dan 1000 rupiah. Lebih dari itu para prajurit akan kehabisan uang yang dimiliki.
Karena para prajurit tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan fasilitas yang disediakan di kota bawah tanah.
Asrama, makanan dan kebutuhan lainnya terpenuhi di tempat ini. Setidaknya untuk bahan makanan para prajurit menanam dan mengurus bahan makanan sendiri.
Mari kembali ke Nio dan Herlina yang sudah siap dengan perlengkapan masing-masing.
Terutama untuk Nio. Dia harus memakai perlengkapan tempur lengkap agar tak terluka lagi saat berhadapan dengan Herlina.
Sedangkan Herlina hanya memerlukan pelindung lengan tanpa pelindung lainnya agar pergerakannya tidak terhambat.
Meski para prajurit di pasukan utama yang berada di kota bawah tanah mengakui jika kempampuan tempur langsung Nio cukup hebat, namun hal itu tak cukup untuk membuat Herlina ‘berkeringat’.
Rata-rata lama mereka berdua bertarung sekitar 5 menit saja. Dengan Nio tanpa kemenangan sama sekali.
Hal yang ia dapatkan hanya badan yang penuh keringat dan luka baru.
“Baiklah, aku yang akan menjadi wasit kali ini. peraturannya masih sama yaitu jika salah satu dari kalian menjatuhkan pedang maka dia yang akan kalah,” jelas Komandan Regu 6 yang menjadi wasit latih tanding kali ini.
Karena saat Nio dan Herlina pertama kali melakukan latih tanding mereka berdua hampir melakukan pertarungan habis-habisan sebelum Arunika menegahi pertarungan mereka berdua.
“Siap!” jawab Nio dengan tegas.
“Saya siap!” jawab Herlina dengan tegas juga.
Semua prajurit yang menyaksikan mulai bersorak. Hanya beberapa orang yang tidak menyaksikan ini karena sudah bosan karena menilai jika Nio akan kalah lagi.
“Pasti Nio yang kalah lagi,” kata Jo.
“Belum tentu, kenapa Nio terus-terusan terima kalau dia kalah terus?” jawab Rio.
Mereka berdua kemudian kembali ke kamar asrama masing-masing tanpa menyaksikan latih tanding itu.
Kebanyakan yang menonton pertandingan ini lebih mendukung Herlina yang lebih memiliki kemenangan.
Di pihak Nio tidak satupun yang mengunggulkannya. Hanya beberapa orang saja yang mengharapkan jika Nio tidak melempar balok kayunya lagi.
Wasit mulai mengangkat tangannya dan kemudian menurunkan dengan cepat sambil berkata tegas, “Mulai!”
Nio masih berada ditempatnya sambil mengarahkan balok kayunya kedepan setara dengan dada.
Herlina berlari cepat ke arah kiri Nio dan bersiap melakukan tebasan horizontal.
“Heh, ternyata kau sudah berkembang ya?” celetuk Herlina saat serangannya dapt di tahan oleh Nio.
“Makanya belajar!” jawab Nio sambil mendorong balok kayu bersama Herlina kebelakang. Dia sudah sangat kesal dengan jawaban Nio dan berkata, “Jangan salahkan aku kalau kau tidak jadi mendapatkan sekardus mi instan.”
Mendengar kata ‘mi instan’ membuat semangat Nio memuncak. Meski itu hanya bualan Herlina namun dia berhasil membuat Nio bertarung dengan sungguh-sungguh dengannya.
Saat mereka melakukan latih tanding pertama kali Nio seperti mayat hidup yang bahkan tidak menghindari serangan paling lemah dari Herlina.
Sekarang dia berkata dalam hatinya, “Sialan, kenapa aku menerima tantangannya lagi.”
Nio baru tersadar kesalahannya. Karena terbuai dengan iming-iming mi instan yang cukup untuk persediaan sebulan dia menerima begitu saja tantangan dari Herlina.
Nio harus menyelesaikan latih tanding ini apapun hasil akhirnya.
Nio melakukan serangan balasan dengan menebaskan balok kayu ke kaki Herlina. Namun Herlina dapat melompat kebelakang menghindari serangan Nio yang sedang berkata, “Cih.”
Herlina tersenyum puas dan melakukan serangan balasan dengan menebaskan dengan cepat balok kayunya.
Itu cukup membuat Nio kesusahan dan harus menangkis serangan cepat yang bertubi-tubi dari Herlina.
Kesabaran Nio sudah mencapai batasnya karena terlalu kelelahan.
Nio menendang horizontal ke arah kaki Herlina yang tidak siap dengan serangan itu. Akibatnya Herlina terjatuh kebelakang dan bahu kiri Nio harus rela terkena serangan dari Herlina.
Balok kayu yang Herlina pegang tentu saja terjatuh.
Semua orang yang menyaksikan terkejut dengan Nio yang berhasil menjatuhkan Herlina.
Nio merasa puas dan mengacungkan ujung balok kayunya ke depan wajah Herlina dan berkata, “Sekarang hasilnya 12-1 kan?”
Nio merasa puas dengan 1 poin yang ia peroleh meski masih kalah 11 poin dari Herlina.
“Baiklah, aku kalah,” kata Herlina.
Wasit mengumumkan nama pemenangnya dengan nada tak percaya, “Pe-pemenangnya Nio.”
Semua orang hanya mengeluh dengan kekalahan komandan pasukan mereka.
Tidak ada orang yang bertaruh dengan kemenangan Nio. Tentu saja uang mereka harus diserahkan kepada Nio selaku pemenangnya.
“Mungkin tidak hanya sekardus mi instan yang akan kamu terima,” kata Herlina sambil meraih tangan Nio yang diulurkan kearahnya.
“Apa maksudmu?” tanya Nio.
“Melihat kehebatanmu sekarang mungkin Tentara Pelajar akan terpandang,” jawab Herlina sambil tersenyum.
“Kau yang lebih hebat dari ku,” bantah Nio dan melanjutkan perkataannya, “Aku hanya berlatih pedang dengan melihat video saja.”
Herlina menahan tawanya dan berkata, “Aku tidak peduli kau berlatih dengan cara apa.”
Nio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil meresapi apa yang ia katakan barusan.
Itu perkataan yang payah dari seorang Nio.
“Sudahlah, aku mau pulang saja,” kata Herlina sambil melambaikan tangannya kearah Nio.
Nio juga beralih dari tempatnya dan kembali ke asrama.
Saat berjalan ia berpapasan dengan Nike dan Rika yang baru kembali dari tempat Pengembangan Senjata.
Karena Nike dan Rika serta beberapa orang lainnya bekerja untuk mengembangkan senjata. Tujuannya hanya agar mendapatkan perlindungan dari pasukan dunia lain yang semakin mengancam.
“Kau pasti habis bertanding dengan Kapten lagi kan?” tanya Rika.
Sementara Nike masih terlihat malu-malu dan memilih mengalihkan pandangannya dari Nio dengan ekspresi gugup.
“Ya, tapi kali ini aku menang,” jawab Nio dengan bangga.
“Hah, apa kau bercanda?” kata Rika yang tidak percaya dengan perkataan Nio.
“Tanya saja pada Herlina,” jawab Nio dengan ringan.
Nio beralih ke Nike yang terlihat tersenyum sendiri.
Nike merasa senang percaya dengan Nio yang berhasil memenangkan latih tandingnya.
“Hei Nike apa kau percaya dengan perkataan Nio itu?” tanya Rika dengan wajah meledek Nio.
“Y-ya begitulah,” jawab Nike sambil tersenyum malu kearah Nio.
“Tuh, Nike saja percaya,” kata Nio dengan wajah senang dan berkata lagi, “Dah ya, aku mau pulang dulu.”
“Ya,” jawab Nike dan Rika bersamaan.
**
Asrama Nio berada di dekat dengan perkebunan bawah tanah.
Asrama ini merupakan bangunan dua lantai dan terdapat 12 ruangan kamar bagi prajurit Tentara Pelajar.
Kamar Nio berada di paling ujung lantai dua.
Saat memasuki kamarnya, Arunika tidak berada di ruangannya.
“Aku lupa,” kata Nio dengan sedih.
Kemudian dia beralih ke perkebunan yang masih ada beberapa orang disitu.
Salah satunya adalah Arunika yang sedang memetik cabai.
“Nio, kenapa kau sudah pulang?. Apa kau tidak latih tanding lagi dengan Komandan?” tanya Arunika dengan nada menggoda.
“Sudah, dan aku kali ini menang,” kata Nio dengan wajah bangga.
Sambil tersenyum Arunika berkata, “Benarkah, dengan apa aku bisa percaya dengan perkataan mu?”
“Tanya saja pada komandan,” kata Nio dengan nada kesal karena kakaknya juga terlihat tidak mempercayai perkataannya.
“Iya-iya aku percaya,”kata Arunika sambil mengangkat ember yang penuh dengan cabai rawit berwarna merah.
“Ayo pulang,” ajak Arunika.
“Iya. Biar aku saja yang bawa,” kata Nio sambil merebut ember berukuran sedang yang dipegang kakaknya.
Arunika tidak menolak dan membiarkan Nio membantunya membawakan ember yang memang berat karena berisi penuh cabai.
Arunika mengrus perkebunan karena tidak ada kegiatan lagi yang ia lakukan selama bersama Nio di kota bawah tanah.
Tidak ada sekolah yang tersisa di masa sekarang. Pendidikan hanya terpusat pada pendidikan kewarganegaraan dan militer bagi yang bergabung dengan Kesatuan militer.
Arunika sebenarnya tidak dapat berada di kota bawah tanah khusus militer. Namun karena statusnya yang merupakan keluarga prajurit dia dapat diijinkan tinggal di asrama bersama Nio.
Semua prajurit yang masih memiliki keluarga juga tinggal bersama keluarganya. Namun masih banyak prajurit yang kehilangan keluarganya saat penyerangan pasukan dunia lain.
Nio salah satu orang yang beruntung di tempat ini.
Nio meletakkan ember berisi cabai ke penyimpanan khusus bahan makanan di asrama ini. masing-masing asrama memiliki perkebunan sendiri, itu sebabnya ada penyimpanan makanan di asrama tersebut.
**
Nio duduk di depan kakaknya di meja makan.
Ruangan asrama cukup kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur dan tempat memasak. Untuk urusan mandi dan buang air disediakan pemandian khusus. Tentu saja tempatnya dibedakan bagi perempuan dan laki-laki.
Meja makan diletakkan samping bawah tempat tidur. Itu artinya tanpa kursi.
Dan jika selesai makan meja akan di simpan di ujung ruangan untuk tempat tidur bagi Nio. Dia tidak akan membiarkan kakaknya tidur di lantai.
“Kudengar tadi ada pertemuan, memangnya membahas apa?” tanya Arunika di sela-sela makan malam mereka.
Nio terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya nanti.
“Kau harus menjawab jujur,” sambung Arunika dengan raut wajah seperti saat memasuki mode gurunya yang mengerikan bagi Nio.
Sambil menghela nafas Nio menjawab pertanyaan kakaknya, “6 bulan lagi kami akan dikirmkan menghadapi pasukan musuh.”
Tangan Arunika seketika lemas dan membuat Sendok yang ia pegang terjatuh.
“Apa kau bercanda, aku tahu kau suka bercanda tapi jangan kelewatan seperti itu!” gertak Arunika.
“Aku tidak bercanda,” jawab Nio dengan berat hati.
Setelah itu air mata Arunika mengalir yang membuat Nio merasa bersalah karena telah menjawab jujur.
“Tenang saja, aku akan kembali hidup-hidup,” kata Nio
Namun perkataan Nio sama sekali tidak membuat Arunika tenang.
Arunika mendekat kesamping Nio dan menempelkan bahunya di bahu Nio.
Dia masih khawatir dengan Nio meski dia menyaksikan perkembangan Nio sejak memasuki militer dan berda di kesatuan Tentara Pelajar.
Namun Nio bagi Arunika masih seorang remaja berusia 18 tahun yang hanya tahu cara berkelahi asal-asalan.
“Selama 6 bulan itu, jangan biarkan aku menjadi kakakmu,” kata Arunika yang membuat Nio terkejut.
“Apa maksudmu?” tanya Nio karena dia merasa kakaknya berbicara hal yang membuatnya akan sedih.
“Perlakukan aku seperti pacar atau semacamnya,” jelas Arunika.
Nio tersenyum dan berkata, “Eh!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Nothing
Wow ... keren, Thor👍 ide cerita ini dari anime gate kah? Konsepnya soalnya hampir mirip ... perang dengan dunia lain.
Ahh ... iya, gwe penikmat incest. Kakaknya itu brocon kah?
2021-06-30
6
Alice(*˘︶˘*).。.:*♡
hm iri 🤣🤣🤣
aku juga pengen punya kakak kaya gitu😌😌😅
2021-03-08
4