18 Januari 2321, pukul 07.12 WIB.
**
Kantung mata yang muncul dan mata yang masih terbuka, itulah kondisi Nio saat ini. padahal beberapa menit lagi ia harus menjalani latihan.
Dia tidak dapat tertidur karena perkataan kakaknya semalam.
“Kakak sudah gila,” gumam Nio sejak semalam.
Dia sudah berpikir kejadian sebelumnya yang menyebabkan kakaknya seperti ini.
Mungkin bagi sebagian orang kejadian itu merupakan keajaiban dan berharap menjadi kenyataan. Bahkan jika orang itu Nio.
Namun Nio justru menyesalinya dan meratapi kondisinya sekarang yang dipeluk erat oleh Arunika.
“Kakak, bangunlah,” ucap Nio dengan nada sedikit tinggi agar kakaknya segera bangun.
Hanya erangang yang ditunjukkan Arunika yang membuat Nio semakin kesal.
Dia kemudian mendorong Arunika menjauh darinya menggunakan kaki. Karena semalam Arunika tertidur di samping Arunika layaknya sepasang suami istri.
Kejadian seperti itu merupakan hal yang ingin Nio lupakan dan berharap tidak terjadi lagi malam ini.
Penyesalan Nio yang lain adalah dia berkata jujur kepada Arunika padahal dia bisa saja berbohong meski Arunika mendesaknya.
Tapi Nio sudah terlanjur bergabung dengan militer. Perintah atasan merupakan hal yang wajib dipatuhi.
Dan waktu Nio hanya tersisa 6 bulan. Meski dia yakin akan pulang hidup-hidup tapi siapa yang tahu ada apa di medan perang nanti.
**
“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanya Arunika kesal dengan selimut masih ia kenakan.
“Sudah, tapi kakak yang tidak mau bangun,” balas Nio.
Arunika melipat selimut yang ia gunakan bersama Nio.
Siapapun yang melihat kejadian semalam akan merasa salah paham.
Nio mengambilkan sepiring nasi dan lauk yang ia masak sebelum kakaknya terbangun. Dia tidak mempunyai waktu untuk pergi membeli makanan di kantin yang disediakan.
Setidaknya Nio dapat memasak masakan yang mudah seperti sambal dan ayam goreng.
“Ini sarapan mu, sebentar lagi latihan akan dimulai. Aku pergi dulu ya kak?” ucap Nio setelah mengenakan perlengkapannya.
“Y-ya. Hati –hati,” jawab Arunika dengan wajah murung sambil memainkan nasi didepannya.
Nio tidak melihat ada masalah dengan kakaknya, dia dapat pergi berlatih dengan tenang.
**
Di permukaan kota bawah tanah.
Sebagian besar Pulau Jawa berhasil dikuasai pasukan dunia lain. Tepatnya setengah wilayah Indonesia dikuasai pasukan dunia lain dalam waktu setahun.
Itu waktu yang terbilang singkat untuk yang namanya ‘penaklukan’.
Setidaknya Indonesia sedikit beruntung karena masih memiliki wilayah yang masih bisa dipertahankan.
Seluruh negara di semenanjung Asia Tenggara sudah dikuasai pasukan dunia lain, kecuali negara Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam yang terpisah dengan daratan utama Asia Tenggara.
Hanya beberapa negara kuat yang bisa mempertahankan negaranya walau menderita kerugian dalam seluruh hal yang cukup besar.
“Hanya 6 bulan waktu yang kita berikan pada seluruh kesatuan Tentara Pelajar. Apa itu waktu yang cukup?” tanya Ferry yang kini menjabat Laksamana Besar TNI AL.
Dia diangkat menjadi pimpinan tertinggi di kesatuan AL setelah mengalahkan armada laut musuh yang keluar dari spiral ungu di Selat Karimata. Sebanyak 25 kapal perang pasukan dunia lain yang keluar dari spiral ungu di Selat Karimata dapat dihancurkan dengan armada yang Ferry pimpin.
Jumlah itu cukup untuk membuat armada laut pasukan dunia lain mudur dan masuk kembali kedalam spiral ungu yang entah ada apa dibaliknya.
“Selama alat itu masih bisa dikembangkan pasukan muda itu akan segera ‘matang’,” jawab Jendral Besar TNI AD. Panggil saja Sucipto.
“Kebanyakan dari mereka berada di kesatuan AD, aku jadi iri,” celetuk Marsekal Besar TNI AU. Panggil saja Prasetyo atau Setyo.
Tiga orang yang berpangkat paling tinggi di masing-masing kesatuan tertawa kecil di dalam ruangan pertemuan yang kecil ini.
Ini merupakan bangunan khusus pemerintahan darurat sekalugus sebagai markas besar TNI saat ini.
Belum ada kabar pasti dari pasukan yang berada di daerah yang ditaklukan pasukan dunia lain.
Semua prajurit yang selamat hanya bisa berpikir buruk dengan rekan mereka yang erada di daerah lain yang ditaklukan pasukan dunia lain.
Yaitu berkhianat atau mati. Hal itu cukup wajar jika dilihat situasi sekarang.
Karena tujuan Pasukan dunia lain memang ingin menjajah dunia ini. Jadi mereka memerlukan pasukan dengan jumlah besar. Untuk memperolehnya mereka akan mengambilnya dari wilayah yang berhasil ditaklukan.
Itu memang terjadi di luar negara Indonesia. Setidaknya para warga negara ini masih memiliki semangat juang untuk melawan penjajah dari dunia lain meski tahu apa akhirnya.
Tidak perlu ditanyakan apa yang terjadi. Tentu saja para laki-laki yang melawan akan tewas dan jika selamat akan dipaksa menjadi tentara pasukan dunia lain.Sedangkan para perempuan akan dirampas dan dijadikan ‘pemuas’.
Setidaknya di beberapa wilayah Indonesia ada beberapa pasukan yang selamat melakukan perjuangan dengan cara bergerilya.
Itu cukup untuk membuat pasukan dunia lain kerepotan meski tidak mengurangi jumlah tentaranya.
**
Nio mendekati Herlina yang sedang beristirahat setelah melakukan latihan bersama Regu 2.
Regu 2 sedang beristirahat, sementara Regu lainnya masih melakukan latihan menembak dengan senapan khusus. Setelah ini adalah giliran Regu 2 yang melakukan latihan menembak.
Senapan khusus tersebut merupakan alat latihan. Senapan itu tidak akan mengeluarkan peluru namun jika akan menimbulkan efek dorongan seperti menembakkan peluru asli.
Alasan saat melakukan latihan menembak tidak menggunakan peluru asli karena sedang dalam pengembangan.
Karena baju besi para prajurit pasukan dunia lain semakin sulit ditembus dengan peluru biasa karena itu diadakan penelitian tentang komposisi dari baju besi milik prajurit dunia lain yang berhasil didapatkan.
“Mana janjimu kemarin?” tanya Nio pada Herlina dengan nada kesal.
“Ah, benar juga,” jawab Herlina dengan entengnya tanpa sedikitpun rasa bersalah.
“Hah, sudah kuduga kalau itu cuma bualanmu saja,” ucap Nio dengan kesal kemudian meninggalkan tempatnya istirahat.
Herlina hanya tersenyum tipis karena ‘rencananya’ berhasil. Bukan rencana membuat Nio kesal, tapi rencana lain yang ia pikir akan membuat Nio terkejut.
“Semua berkumpul, sebentar lagi kita akan melakukan latihan menembak!” Ucap Nio dengan tegas kepada anggotanya yang masih beristirahat.
Diantara mereka masih ada yang makan nasi bungkus,salah satunya Jo yang merasa kesal karena makananya yang belum habis dan masih harus melakukan latihan lagi.
Jo melihat ada yang berubah dari Nio setelah mendapatkan pangkat Sersan Satu dan berposisi sebagai Komandan Regu.
Nio menurut sudut Jo mulai memiliki sifat berani namun lembut. Begitu juga yang dilhat dari Arunika dan teman-teman Nio.
Mereka berpikir jika Nio sudah melupakan hal yang hampir membuatnya hampir mati ‘lagi’.
Setelah membuang bungkus nasi yang sudah tidak ada isinya Jo segera menghampiri Nio.
“Gimana perasaanmu sekarang?” tanya Jo.
“Biasa, memangnya kenapa?” jawab Nio dan bertanya kembali kepada Jo.
“Tidak. Hanya saja sekarang kau kurasa mulai berubah,” kata Jo.
Nio menjawab, “Tidak, aku masih Nio yang kau kenal kok. Tapi kuanggap itu pujian dan akan kujadikan semangat.”
Jo hanya tersenyum tipis mendengar jawaban teman sekaligus atasannya itu.
“Dasar, dia benar-benar sudah berubah. Tapi luka di pipinya memang mengerikan sih,” gumam Jo yang juga membicarakan bekas luka di pipi kanan Nio.
Tidak ada yang tahu bagaimana Nio mendapatkan luka itu, kecuali Arunika dan seseorang.
**
Latihan untuk hari ini sudah selesai, namun Nio harus mengerjakan sesuatu atas perintah Herlina.
“Kenapa dia suka sekali memerintah?” gumam Nio yang menyindir Herlina yang suka memerintah bawahannya.
“Biar ku bantu,” kata Jo yang menghampiri Nio yang mengangkat kotak berisi senapan ‘palsu’ sendirian. Tentu saja kotak itu sangat berat hingga membuat Nio harus menggunakan gerobak roda satu untuk memindahkan kotak yang cukup besar ini.
“Terima kasih,” ucap Nio
Mereka berdua kemudian menuju ruangan penyimpanan senjata yang tak jauh dari tempat latihan menembak.
Di Sana sudah ada Herlina yang menyambut Nio dan Jo. Tapi dia terlihat kesal saat Nio ke tempat ini bersama Jo, bukan sendiri.
“Taruh saja disini!, sekarang biar aku yang membantu Nio memindahkan kotak ini,” kata Herlina.
“Baik!” balas Jo dengan tegas.
Jo kemudian meninggalkan mereka berdua dan menuju ke asramanya.
Hal itu kembali membuat Nio kesal karena harus bersama Herlina lagi. Sementara itu Herlina terlihat tersenyum bahagia saat ada Nio disampingnya.
“Baiklah, kita harus memasukkan kotak berat ini kan?” tanya Herlina yang dijawab dengan nada kesal Nio, “Benar.”
Herlina hanya membantu memegangi kotak agar tetap seimbang dan Nio yang mendorong gerobak memasuki ruang penyimpanan.
Mereka berdua cukup kesusahan karena berat dan besarnya kotak. Butuh beberapa menit bagi mereka mengembalikan kotak berisi senapan kembali ketempat nya.
Nio dan Herlina merasa lega setelah perjuangan yang memang berat itu.
“Kamu memang benar-benar mau mi instan sekardus kan?” tanya Herlina dengan nada sedikit menggoda.
“Tidak juga,” jawab Nio datar.
“Ayo ikut aku,” kata Herlina sambil menarik tangan Nio.
“Kemana?” tanya Nio.
“Ke asrama ku,” jawab Herlina dengan tenangnya.
“Hah?!” ucap Nio dengan wajah tidak percaya.
Herlina benar-benar membawa Nio ke asramanya yang memang dikhusukan untuk prajurit perempuan.
Ada beberapa prajurit perempuan yang melihat Nio bersama Herlina, terutama anggota yang berada di Regu 2 yang Nio pimpin.
“Sertu Nio, sedang apa kau disini?” tanya anggota Nio.
“Tidak tahu, tanya saja pada Herlina,” jawab Nio sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram kuat Herlina.
“Ayo masuk,” kata Herlina sambil menarik Nio lagi.
“Woy, tunggu!” kata Nio sambil berusaha menahan Herlina.
Orang-orang yang berada di sekitar asrama prajurit perempuan hanya melihat mereka berdua.
“Apa Kapten berpacaran dengan dia?” tanya seseorang.
“Nggak woy!” sanggah Nio dengan berteriak.
Sementara itu Herlina hanya tersenyum mendengar ada yang mengatakan itu.
Beberapa saat kemudian seseorang mengatakan, “Apa yang kalian lakukan?”
Mata Nio melebar mendengar suara yang bernada bertanya biasa itu.
Perlahan dia melihat kearah suara itu berasal.
“Ka-kak,” kata Nio dengan wajah ketakutan.
Wajah Arunika yang datar justru menurut Nio lebih menakutkan daripada saat berada di ‘mode guru’ nya.
“Pulang!” perintah Arunika pada Nio.
“Tunggu dulu---,” kata Herlina tanpa melanjutkan katanya karena tatapan tajam Arunika.
“A-aku hanya mau memberi Nio hadiah saja,” lanjut Herlina.
“Anda bisa memberinya di rumah,” balas Arunika sambil menarik baju Nio.
Herlina hanya berdiri di tempatnya sambil menatap datar kearah Nio yang semakin menjauh bersama Arunika.
Rencana Herlina hari ini gagal.
**
Sesampainya di asrama Nio terkejut saat Arunika menutup pintu dengan keras.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut.
“Ka-kakak, apa yang kau lakukan?” tanya Nio.
Arunika masih membenamkan wajahnya ke dada Nio dan memegang kerah baju Nio dengan kuat.
“Aku hanya ingin bersamamu, di waktu yang tinggal sedikit ini---,“
“6 bulan menurutku itu waktu yang singkat. Setelah itu kau harus mengikuti peperangan yang apapun bisa terjadi dan entah kapan selesainya---,“
“Aku, aku hanya tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang kumiliki---,” ucap Arunika sambil menangis yang mungkin terdengar oleh penghuni asrama yang lain.
“Nio?” tanya Arunika karena merasa tidak percaya dengan yang dilakukan Nio.
“Tenang saja, ini yang kakak mau kan?” jawab Nio sambil mengeratkan pelukannya pada Arunika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Egaega
🤨🤨📸📸
2022-08-03
0
⭐Lilia◽sherly⭐
ya semoga saja mereka (nio&arunika)tidak ada hubungan terlarang
2021-09-10
2
⭐Lilia◽sherly⭐
what!!!!?
2021-09-10
2