24 Januari 2321, pukul 10.42 WIB.
**
Di luar kota bawah tanah dua Regu pasukan berbaris dengan membawa perlengkapan masing-masing. Regu tersebut adalah Regu 2 dan Regu 6 yang akan bertugas menguburkan naga yang mati di tempat yang cukup jauh dari kota bawah tanah. Tentu saja Nio yang merupakan Komandan Regu 2 ikut di pekerjaan ini.
Karena tidak mungkin menguburkan jasad naga di dekat area kota bawah tanah karena akan membahayakan penghuninya jika salah memilih lokasi untuk menggali. Selain itu bisa saja jasad naga yang akan membusuk di bawah tanah akan menyebarkan penyakit kepada penghuni kota bawah tanah.
Selain naga, beberapa jasad prajurit musuh juga harus dikuburkan. Namun yang menjadi masalah adalah beberapa warga yang menolak jika tanah sekitar mereka dijadikan makam bagi musuh.
**
Nio menenteng sekop di pundaknya layaknya tukang gali kubur. Itu memang tidak salah karena Nio akan menggali kubur bagi naga-naga dan prajurit musuh. Selain itu dia dan seluruh prajurit memakai masker.
Alasan semua prajurit yang akan menguburkan naga-naga ini adalah bau tidak sedap yang dikeluarkan dari daging naga yang baru mati kemarin.
Bau busuknya bahkan lebih menyengat dari apapun yang ada di dunia, setidaknya itu menurut Nio.
Namun sebelum mengubur tubuh naga dan prajurit musuh, Nio dan prajurit lainnya harus menaikkan ‘bongkahan’ tubuh naga keatas truk.
“Kenapa berat banget sih?” gumam Nio yang mengangkat telapak kaki naga sendirian.
Seluruh prajurit yang mengangkat bagian tubuh naga juga merasakan hal yang sama dengan Nio. Kecuali saat mengangkat tubuh naga yang masih utuh harus menggunakan alat.
“Kalau kau terus bergumam kerjaan mu tambah berat nantinya,” ucap Jo yang mendahului Nio sambil membawa lengan naga di pundaknya.
“Iya-iya,” jawab Nio dengan senyum miring.
Ada satu orang yang hanya mengawasi dari samping truk pengangkut tubuh naga, yaitu Herlina.
Tujuannya disini bukan untuk mengawasi prajurit yang mengangkat tubuh naga, tetapi ingin menemui Nio.
Ada hal penting yang ingin disampaikan Herlina pada Nio.
**
Seluruh tubuh naga sudah dimuat diatas truk, begitu juga jasad prajurit musuh yang diangkut truk yang berbeda. Namun tidak segera diberangkatkan ke tempat untuk mengubur yang sudah ditentukan sebelumnya. Padahal bau busuk sudah menganggu kenyamanan para prajurit.
Setelah menghirup udara segar setelah beberapa menit harus menghirup bau busuk, Nio menemui Herlina yang sudah menunggu.
Sambil berkacak pinggang dan senyuman yang mengintimidasi Herlina berkata pada Nio, “Setelah ini kau harus menemui ku di ruangan ku.”
Perkataan itu cukup membuat Nio merinding dan tersenyum miring.
“Baik,” jawab Nio lemas.
Kemudian dia berjalan ke truk pengangkut prajurit untuk kemudian menuju tempat mengubur jasad prajurit musuh dan naganya.
Herlina juga segera memasuki kota bawah tanah untuk menyiapkan ‘hal’ yang akan diterima Nio setelah melakukan tugasnya.
**
Arunika tidak tidur sejak semalam karena mengkhawatirkan Nio yang belum kembali ke asramanya sejak pertempuran usai. Itu sebabnya tatapan Arunika terlihat sangat kosong dan membuat Lisa yang menemaninya merasa gelisah.
Karena Nio memilih tidur di sekitar area berlatih dan tidak sempat mandi. Alasan lain karena Nio merasa tidak akan diterima kakaknya kalau belum mandi.
“Kenapa Nio belum pulang juga?” gumam Lisa karena khawatir dengan keadaan Arunika.
“Pertempurannya sudah selesai kan?. Jadi mana Nio?” tanya Arunika dengan datar.
Lisa sudah memakai berbagai cara agar Arunika tidak terlalu mencemaskan Nio.
Namun Lisa harus memakai alasan lain termasuk berkata, “Ni-Nio mungkin lanjut latihan, jadi tidak sempat pulang.”
“Apa dia tidak punya rasa lelah!?” jawab Arunika semakin kesal.
Namun sebaliknya, ternyata Lisa semakin kesal kepada Nio.
“Sialan, cepatlah pulang bodoh!” batin Lisa dengan menahan kepalan tangannya.
**
Tempat mengubur naga dan prajurit musuh berada di Kecamatan Jumapolo, masih termasuk bagian dari Kota Karanganyar.
Tempat ini semula lapangan umum yang sering dijadikan tempat bertanding sepak bola dan juga tempat upacara seluruh sekolah di kecamatan ini.
Di sebelah barat lapangan ada sebuah SMA yang sudah hancur akibat serangan pasukan dunia lain. Ternyata ada beberapa prajurit yang pernah bersekolah di SMA tersebut.
Mereka menatap sedih puing-puing yang menggunung yang sebelumnya sebuah bangunan SMA.
Namun disebelah timur lapangan ada sebuah desa, tapi berjarak sekitar 100 meter dari lapangan. Jadi dirasa cukup aman untuk mengubur jasad prajurit dan para naga.
Beberapa tentara menurunkan dengan hati-hati jasad prjurit musuh dan meletakkannya di tempat yang akan di jadikan kuburan prajurit itu.
Beberapa prajurit lainnya menurunkan tubuh naga dengan menaruhnya di gerobak yang dipinjamkan warga sekitar untuk mempermudah pekerjaan prajurit.
Beberapa warga terlihat memilih menonton ketimbang membantu karena takut dengan rupa naga yang memang seperti komodo namun lebih 'sangar'. Selain itu bau busuk dari daging naga memang sangat mengganggu yang membuat para warga enggan membantu untuk mengubur tubuh naga.
Nio bersama beberapa prajurit lainnya membuat lubang untuk mengubur tubuh naga yang paling besar yang masih berada di atas truk penangkut.
Dengan cangkul dan sekop mereka mulai membuat lubang. Membuat lubang untuk mengubur tubuh naga membutuhkan tenaga yang besar. Ditambah mereka melakukan itu sambil memakai masker yang menghambat mereka untuk menghirup oksigen. Pasti para prajurit akan lebih cepat lelah.
Namun hal itu sepertinya tidak akan terjadi, justru seluruh prajurit terlihat gembira. Mereka gembira saat dua buah excavator tiba di lapangan. Alat berat tersebut merupakan milik BPBD yang sebelumnya digunakan untuk membereskan puing-puing bangunan sekolah yang berada di barat lapangan ini.
Nio dan prajurit lainnya keluar dari lubang yang baru digali sedalam 60 cm dengan diameter 6 meter.
Mereka menyaksikan excavator mulai menggali lubang dan menuangkan tanah galian ke truk pengangkut yang di bawa pasukan sebelumnya.
“Hei lihat,” kata Jo kepada Nio saat dirinya melihat beberapa anjing mengerumuni bagian tubuh naga yang saling terpisah termasuk sebuah kepala naga.
“Mungkin anjing-anjing itu hanya akan memakan daging naga,” ucap Nio sambil sesekali membuka maskernya untuk menghirup udara yang sedikit tercemar bau busuk
“Apa daging naga memang bisa dimakan?” tanya Jo.
“Nggak tahu,” jawab Nio singkat.
Memang benar beberapa anjing yang muncul mengigit daging naga yang sudah tidak terlindungi dengan sisik kerasnya.
Anjing-anjing itu mengoyak daging naga dan memakannya bersama dengan berebutan. Nio dan lainnya hanya menyaksikan hal itu.
Sesaat kemudian muncul beberapa ekor lagi anjing liar yang juga hendak memakan daging naga yang akan dikubur.
Anjing-anjing tersebut memilih bagian tubuh naga yang belum tersentuh oleh anjing yang sudah lebih dulu tiba.
Untuk beberapa saat memang tidak ada hal aneh, hanya ada puluhan ekor anjing liar yang memakan daging naga tanpa menghiraukan baunya yang busuk.
Namun beberapa menit kemudian ada keanehan pada anjing-anjing tersebut.
“Hei, kenapa anjing-anjing itu?” tanya Nio yang melihat anjing-anjing liar tersebut berperilaku aneh.
Prajurit yang lain juga merasa ada yang aneh dengan anjing-anjing liar itu. Beberapa prajurit mendekati untuk melihat yang terjadi pada anjing-anjing liar itu.
Puluhan anjing liar itu terlihat tumbang ke tanah dan kejang-kejang. Nio dan beberapa prajurit lainnya segera mendekati puluhan anjing liar yang sudah tidak bergerak.
“Mereka sudah mati?” tanya Jo.
“Sepertinya iya,” jawab Nio.
Anjing-anjing liar itu memang benar-benar sudah mati dengan darah keluar dari seluruh lubang di tubuh mereka.
“Apa daging naga ini memang beracun?” tanya Jo.
“Kalau ingin tahu kenapa tidak memakannya?” celetuk Nio.
“Komandan seharusnya yang lebih dulu mencobanya kan?” jawab Jo dengan senyum miringnya.
Nio tersenyum kecut setelah mendapatkan jawaban dari Jo.
**
Kegiatan mengubur prajurit musuh dan naga sudah selesai. Tubuh naga yang besar dan berbau busuk memerlukan lubang yang dalam juga. Itulah mengapa tujuan pembuatan lubang sedalam 5 meter itu.
Puluhan anjing liar yang mati karena memakan daging naga juga dikuburkan satu tempat dengan naga.
Prajurit musuh juga sudah dikuburkan dengan diberi tanda balok kayu untuk menandakan jika gundukan tanah pendek ini adalah sebuah makam.
Pasukan juga memberi tanda jika lapangan ini sudah menjadi makam prajurit musuh dan naga. tentu saja disertai tanda jika warga sekitar dilarang untuk memasuki area ini.
Selesai melaksanakan tugas, seluruh prajurit menaiki kembali truk pengangkut untuk kembali ke kota bawah tanah.
Sebelumnya beberapa potong daging naga dibawa untuk dilakukan penelitian terhadap kandungan yang ada dan kenapa bisa membuat anjing mati.
“Nio, cepat naik…!” ucap Jo yang sudah berada di truk pengangkut dan melihat Nio memungut beberapa benda.
Benda yang Nio pungut dari sekitar makam naga adalah 3 buah sisik naga yang berwarna hitam dan mengkilap. Nio memasukkannya ke dalam kantong baju seragamnya yang berada di sisi kiri.
Truk pengangkut prajurit yang seharusnya Nio naiki terdengar sudah melaju pelan meninggalkan Nio.
Nio terkejut melihat truk yang sudah sedikit menjauh dan berteriak, “Tunggu woy…!”
**
Sesampainya di kota bawah tanah Nio segera berlari ke asramanya, tempat Arunika menunggunya.
Ekspresi yang Nio tunjukkan tentu saja bahagia meski baru sehari meninggalkan kakaknya untuk melawan pasukan penunggang naga dunia lain.
Sebenarnya Nio ingat dengan perintah Herlina yang mengharuskannya untuk segera menuju ke kantor Helrina.
“Bodo amat lah,” batin Nio karena berniat melanggar perintah dari Kaptennya itu.
“Kakak, aku pulang,” ucap Nio dengan lantang dan tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Lisa yang masih berada di asrama Nio terkejut, namun lebih terkejut dengan reaksi Arunika yang tiba-tiba melesat kearah Nio.
“Kenapa kau tidak langsung pulang hah?” ucap Arunika dengan meremas pundak Nio yang lebih tinggi dari tubuhnya itu.
“Y-ya aku ada tugas yang lain. Dan setelah ini aku harus menemui Herlina,” jawab Nio sambil menahan sakit di bahunya karena masih diremas oleh Arunika.
“Untuk apa?”
“Nggak tahu, mungkin aku akan mendapatkan hukuman,” jawab Nio dengan senyum kecut.
Lisa terlihat juga ikut berdiri dan menyambung pembicaraan dengan berkata, “Memangnya kau melanggar apa sampai kau mengira akan dihukum?”
“Mungkin pelanggaranku sudah banyak,” jawab Nio dengan senyum miris.
Sementara itu di tempat lain, yaitu tempat Herlina menunggu Nio.
Perempuan itu dengan mengepalkan tangannya seperti siap akan diarahkan ke seseorang dan berkata dengan nada geram, “Kenapa dia tidak segera kesini hah!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Oschar Migerz
arunika jijik kesekali kulihat. kakak tapi tidak perperilaku seperti seorang kakak. malahan minta di perlakukan seperti seorang pacar. betul2 menjijikan
2021-09-06
2
M.A.I
kok tadi penunggang kuda kalo gak salah baca
2021-06-09
1
Fahrizal
seru thor ceritanya
2021-02-10
1