23 Januari 2321, pukul 16.57 WIB.
**
Surya memeriksa jam tangannya karena hari sudah mulai sore. Gedung-gedung menghalangi matahari yang mulai terbenam.
Sementara itu Tania sudah berada di atap gedung yang setinggi 5 lantai. Di sana dia bersembunyi di balik tembok pembatas atap karena pasukan naga terbang dengan ketinggian setara tinggi gedung Tania berada.
Sebanyak 15 dari 28 ekor naga yang masih hidup terbang, sementara sisanya berjalan diiringi beberapa prajurit yang berjalan kaki juga.
Setelah pasukan penunggang naga melewatinya, Tania mulai memposisikan senapan runduk nya.
Dia melepas magasin yang kosong dengan magasin yang masih terisi penuh peluru. Kali ini Tania tidak membidik naganya, tetapi prajurit yang menunggangi naga.
Karena naga sudah terbang melewatinya, dan Tania tidak dapat membidik mata naga karena itu. Tania mengira jika efek yang ditimbulkan saat menembak bagian belakang tubuh naga tidak sama saat dia menembak bagian dada naga tadi.
Tania mengatur nafasnya agar tetap tenang sambil mengatur bidikan.
Satu peluru ditembakkan yang mengejutkan pasukan penunggang naga yang ada di bawah terkejut karena kerasnya suara ledakan.
Satu prajurit penunggang kuda terkena peluru yang ditembakkan Tania, dia mati seketika dengan peluru menembus baju besinya. Prajurit itu terjatuh dari naganya yang terbang setinggi gedung lima lantai dan mendarat di aspal dengan keras.
Naga yang prajurit itu tunggangi terbang tidak terkendali dan terbang berlawanan arah dari tujuan yang ditetapkan. Sesekali naga itu menabrak tubuh naga yang lainnya dan membuat kacau formasi.
Melihat itu Komandan pasukan ini tentu saja sangat geram dan berkata, “Jangan hiraukan naga yang lepas, tujuan kita sudah di depan mata!”
**
Nio berlari sudah cukup dari pasukan utama berada, dan prajurit musuh masih mengejarnya.
“Apa mereka tidak ada sasaran lain?” ucap Nio saat berlari.
Tapi situasi ini sebenarnya menguntungkan Nio. Karena dia mengira pasukan dunia lain tidak dilatih untuk bertempur di tengah kota.
Dan itu terjadi pada pasukan penunggang naga yang kebingungan mencari keberadaan pasukan utama.
Jarak Nio dengan 3 prajurit yang mengejarnya tidak terlalu jauh. Meski prajurit musuh mengenakan baju besi yang terlihat berat, tapi kecepatan lari mereka tidak berkurang.
Bahkan mereka berlari secepat Nio yang mengenakan pakaian tempur standar TNI dengan tambahan sebuah pedang di punggungnya.
Itulah yang membuat Nio kesal dan gugup karena mereka dapat mengimbangi kecepatan larinya.
Nio berada di dekat perempatan, dia memilih belokan ke arah kiri dan melihat sebuah mobil terparkir.
Dia segera bersembunyi di bawah mobil tersebut dan membiarkan 2 prajurit yang mengejarnya berlari.
“Kemana dia?” kata salah satu prajurit musuh yang berhenti tepat disamping mobil tempat Nio bersembunyi.
Nio melihat dia mengatur nafas setelah mengejarnya, selain itu Nio melihat celah pada prajurit itu.
Ada bagian di kaki prajurit itu yang tidak terlindungi pelindung besi, yaitu bagian kaki yang tidak sepenuhnya tertutup sepatu besinya dan hanya tertutup pelindung dari kain saja.
Sebelum prajurit itu pergi, Nio segera mencabut pedang di punggungnya dan menusukkannya pada bagian kaki prajurit musuh yang bisa dibilang tidak terlindungi itu.
Tapi ada masalah lain yang membuat Nio berkata, “Sial, ternyata kuat juga!”
Nio mengeluh karena kain pelindung kaki prajurit musuh cukup sulit ditembus.
Bahkan prajurit itu terlihat hanya sedikit kesakitan kemudian mengintip kebawah mobil.
“Tidak ada siapa-siapa, tapi kupikir tadi ada yang mencoba menusuk kakiku,” ucap prajurit itu dengan kebingungan.
Tapi Nio masih berada di dekat tempatnya tadi, yaitu di belakang prajurit musuh.
“Apa!?” ucap prajurit musuh dengan terkejut karena baru menyadari Nio yang sudah berada di belakangnya sambil mengacungkan senapannya.
“Menyerah!” ucap Nio.
Tapi tetap saja prajurit dunia lain itu tidak mengerti apa yang Nio katakan dan menyerang Nio setelah mencabut pedangnya dari sarungnya.
Nio memilih menghindari serangan pedang prajurit itu dengan melompat kesamping.
“Gawat juga kalau kena,” gumam Nio saat melihat aspal terkelupas terkena serangan pedang musuh yang meleset.
Prajurit itu kembali menyerang Nio dengan mengayunkan pedangnya ke arah kepala Nio.
Dengan cepat Nio melepaskan tembakkan beruntun kearah kepala prajurit musuh yang terlindungi helm besi.
Namun prajurit itu terlihat memberontak dan merasakan kesakitan yang parah. Itu wajar, karena beberapa peluru yang Nio lepaskan mengenai wajah prajurit itu.
Beberapa saat kemudian prajurit itu tersungkur ke aspal dan tak bergerak lagi. itu baru kemungkinan karena prajurit itu setelah tersungkur memang terlihat bergerak.
Nio menunggu beberapa detik untuk memastikan jika prajurit itu benar-benar tidak bergerak.
Untuk memastikannya sekali lagi Nio menggoyangkan tubuh prajurit itu dengan pedangnya, dan dapat dipastikan jika prajurit itu sudah tak bergerak.
Untuk memastikannya sekali lagi Nio melepaskan helm prajurit musuh. Dia dapat melihat wajah musuhnya yang penuh dengan darah.
Nio menatap datar prajurit musuh dan mengarahkan senapannya ke kepala prajurit itu. Sebagai serangan terakhir dan membuat prajurit musuh benar-benar mati, Nio melepaskan dua tembakan yang menembus kepala prajurit itu.
Disekitar kepala prajurit musuh tersebut tergenang darah dari kepalanya yang ‘berlubang’ karena tembakkan dari Nio.
Nio mengeluarkan sebuah buku kecil yang selalu ia bawa saat berlatih dan menuliskan sebuah angka 1 di sebuah halaman kemudian berkata, “Satu. Dan semoga saja ini yang terakhir.”
Nio kemudian berlari ke arah sebelumnya dia berlari agar tak bertemu dengan prajurit yang mengejarnya tadi.
**
Seluruh prajurit di pasukan utama terkejut saat seekor naga hitam berukuran cukup besar muncul dari balik gedung.
“Apa mereka belum pernah melihat gedung?” gumam Herlina saat melihat sayap naga itu menyerempet sisi gedung yang menyebabkan dia terbang tak terkendali.
Hal itu cukup memecah suasana yang semula tegang.
“Mana Nio?, kenapa dia belum kembali?” tanya Herlina.
“Bukan hanya dia, tapi Tania juga belum kembali,” kata Surya.
Prajurit yang bertugas mengendalikan peluru kendali anti-tank mulai mengoperasikan senjata tersebut.
Mulai mengatur arah bidikan hingga remote kontrol untuk mengendalikan peluru kendali. Namun mereka masih menunggu perintah dari kedua Kapter tersebut yang masih mengkhawatrikan masing-masing seorang anggotanya, yakni Nio dan Tania.
Surya kemudian mendekati barisan prajurit yang sudah siap dengan peluru kendali. tugas mereka ada yang membidik dan menembakkan peluru kendali dan ada yang mengendalikan peluru kendali dengan remote kontrol yang berbentuk seperti joystick.
“Bidik naga yang berwana hitam itu!” perintah Surya pada salah satu prajurit yang bertugas menembakkan peluru kendali.
Dia membidik naga yang masih terbang itu dengan penuh perhitungan. Dia sudah siap untuk menembak, namun Surya belum memberi perintah untuk melakukannya.
“Tembak…!” Perintah Surya dengan tegas.
Satu peluru kendali melesat dan meluncur lurus kearah naga hitam yang ditunggangi Komandan pasukan musuh itu.
Prajurit yang mengendalikan peluru kendali melihat pergerakan peluru dari monitor kecil didepannya.
Naga itu dapat menghindari peluru kendali yang hampir mengenai badannya, namun bukan berarti berakhir begitu saja.
“Ini seperti game simulasi saja,” gumam prajurit yang mengendalikan peluru kendali.
Dia menggerakkan joystick dengan lincah dan menggerakkan peluru sesuai pergerakan naga yang diincarnya.
Sementara itu, Herlina mengambil pimpinan kedua Kompi ini.
“Seluruh pasukan, bidik prajurit musuh yang berlari. Penembak Jitu, kalau bisa incar bagian celah di helm mereka!” perintah Herlina.
“Siapkan tembakkan beruntun pendek. Tembak!” lanjutnya.
Seluruh prajurit memilih tempat menembak paling baik menurut mereka, itu artinya mereka harus menyebar. Semua prajurit mengganti mode menembak ke dalam tembakkan beruntun pendek.
Seluruh prajurit mengikuti perintah Herlina yaitu menembak beruntun pendek.
Mereka melepaskan tembakkan ke arah prajurit musuh yang berjalan perlahan dengan perlindungan tameng untuk menahan tembakan, namun itu belum cukup.
Tameng mereka belum cukup kuat untuk menahan laju peluru, namun baju besi merekalah yang bisa menahan laju peluru.
Namun itu hanya berlaku bagi peluru dengan kaliber standar pada senapan seluruh prajurit. Masih ada penembak jitu yang memiliki peluru yang dapat menembus kulit tank setebal 2 cm.
Penembak jitu juga memilih tempat yang cocok untuk menembak. Ada yang memilih di tengah jalan, di samping pohon dan disamping mobil yang ditinggal pemiliknya.
Mereka masih menunggu perintah selanjutnya dari Herlina.
“Tembak!” perintah lagi Herlina yang diikuti rentetan tembakkan dari seluruh prajurit.
Penembak jitu juga melakukan tembakkan yang menyasar celah helm yang dikenakan prajurit musuh.
Satu per satu peluru dari penembak jitu dilepaskan dan melesat ke sasaran. Beberapa peluru memang meleset dari target awal, namun bukan berarti tidak mengenai prajurit musuh.
2 peluru dari penembak jitu mengenai sasaran yang menyebabkan prajurit yang terkena peluru mati seketika. Sisanya menembus baju besi prajurit lain dengan efek yang sama.
Prajurit masih menghujani musuh dengan peluru dari magasin yang mereka bawa. Tapi senapan tidak dapat digunakan untuk menembak terus menerus. Semua hal yang diciptakan manusia ada batasnya, kecuali pada hal tertentu.
Penembak jitu terus menembak hingga prajurit musuh yang berjalan kaki tersisa 5 prajurit yang kemudian berlari mendekati penembak jitu.
Penembak jitu tentu saja mundur setelah prajurit yang tersisa berlari semakin mendekati mereka. Prajurit di belakang mereka melakukan tembakkan perlindungan meski tidak terlalu berguna.
**
Naga hitam berhasil di lumpuhkan, namun pasukan belum bisa mendekati naga yang sudah berada di darat itu.
Karena prajurit penunggang naga yang lain mulai bermunculan dari tempat yang sama saat naga pertama muncul.
Salah satu prajurit penunggang naga mendarat dan menjemput Komandannya yang ikut terjatuh dengan naganya. Prajurit yang lain menjemput rekannya yang mengendalikan naga yang ditumpangi Komandannya.
Surya memerintahkan untuk menyiapkan serangan berikutnya.
“Tembak!” perintah Surya saat 6 peluru kendali beserta pengendalinya sudah siap.
Peluru kendali di lepaskan dan bergerak sesuai dengan sasarannya, tentu saja dengan pengendalinya sasaran akan lebih mudah terkena serangan.
Pasukan penunggang naga yang mengetahui diri mereka diserang segera mengendalikan naga mereka agar menyingkir dari jalur lintasan peluru kendali yang mengarah pada mereka.
Pasukan penunggang naga menyebar yang membuat serangan 6 peluru kendali hanya 3 yang mengenai naga yang terbang.
Namun itu cukup membuat Komandan mereka geram dengan serangan peluru kendali yang membunuh beberapa naga yang ia kirim untuk melakukan serangan balasan.
**
Nio mendengar suara ledakan dari asal pasukan utama berada, itu menandakan jika mereka telah berhadapan dengan pasukan penunggang naga.
Namun Nio memiliki masalah lain, 4 prajurit dunia lain muncul dihadapannya dan mengejarnya.
Di samping kanan dan kiri Nio hanya ada bangunan yang mustahil bagi Nio untuk melarikan diri kecuali mengambil jalur sebelumnya dia berlari.
Dia berbalik kemudian berlari, namun 2 prajurit yang mengejarnya tadi muncul dan sudah cukup dekat. Sekarang Nio benar-benar terkepung.
“Apa itu!?” ucap Nio dengan terkejut karena terdengar suara ledakan dari atas salah satu gedung.
Sesaat kemudian beberapa prajurit yang mengejarnya berhenti karena mendengar suara ledakan dan teman mereka yang tiba-tiba tewas dengan kepala mengeluarkan darah dari celah helmnya.
“Apa-apaan ini?” tanya seluruh prajurit yang mengejar Nio.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tembakkan lagi yang menewaskan satu prajurit musuh lagi.
“Sepertinya itu dari Tania, tapi dari mana dia menembak?” tanya Nio didalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
ZONNA ANNTER
lanjut thor
2021-09-17
0
Fahrezi R.N.P.
aha... “Gate” reference 🗿
2021-07-03
1
jho
up
2021-04-07
3