25 Januari 2321, pukul 07.21 WIB.
**
“Kak, bisakah kau memulai hari tidak dengan cemberut?” ucap Nio memohon.
Arunika tidak menjawab apapun dan memalingkan wajahnya dari Nio dengan pipi mengembung. Namun Nio terlihat tidak kesal atau semacamnya, dia justru mendekati Arunika.
“Hey, apa yang kau lakukan!?” kata Arunika dengan kesal saat sebuah jari telunjuk menusuk-nusuk pipi kanannya yang menggembung.
Nio dengan wajah bahagia terus menekan pipi kanan Arunika. Sementara itu pada Arunika hanya menunjukkan wajah yang mulai memerah hingga ketelinga.
Arunika segera menyingkir dari Nio sambil menutupi wajahnya dengan tudung jaket milik Nio yang ia pakai.
Nio tidak bisa melihat apa yang terjadi pada kakaknya dan memilih menghabiskan sarapannya yang tinggal sekali lahap saja.
“Tapi kakak kalau lagi cemberut lucu juga,” batin Nio.
Sedangkan Arunika mencoba mencuri lirikan ke arah Nio agar tidak diketahui kalau dirinya melirik Nio.
**
Setelah meminum habis air minumnya Nio segera mengenakan perlengkapannya.
Setelah semua siap Nio berpamitan pada kakaknya yang sudah mulai tenang dengan mengatakan, “Aku berangkat dulu ya kak?”
“Y-ya. Kalau sudah selesai cepat pulang!” jawab Arunika dengan malu-malu.
Tetap saja, Nio tidak mengerti dengan kakaknya saat ini.
Setelah diri Nio menghilang dari hadapannya, Arunika tersenyum bahagia dan berkata, “Andaikan kita bukan saudara, tapi kau belum boleh tahu rahasia itu….”
Nio menuruni anak tangga dan berjalan menuju tempat pertemuan karena hari ini ada pemberitahuan penting dari Kapten Kompi 406, Herlina.
Saat berjalan Nio mendengar suara gemerincing dari saku kiri baju seragamnya. Nio berhenti sejenak untuk memastikan sumber suara yang mirip dengan uang koin.
“Kenapa aku masih membawa ini?” kata Nio yang memegang sebuah sisik naga yang ia pungut.
Dia kemudian memasukkan sisik naga itu kekantong baju seragamnya. Saat berjalan memang masih terdengar suara gemerincing tapi tidak Nio hiraukan.
**
“Jadi aku terlambat ya?” kata Nio setelah membuka pintu ruang pertemuan.
Di dalam ruang pertemuan, seluruh tempat duduk sudah terisi hampir penuh dengan prajurit yang ada di kota bawah tanah.
Terlihat ada beberapa tempat kosong di barisan paling depan, lokasi yang paling Nio benci sejak sekolah.
Nio menjadi pusat perhatian orang-orang diruangan ini karena menjadi satu-satunya Komandan Regu yang terlambat.
Beruntung tidak ada Surya dan anggota Kompinya yang menghadiri pertemuan ini. Namun hal itu tidak mengubah kemungkinan untuk Nio mendapatkan hukuman, apapun itu bentuknya.
Nio berjalan ke tempat duduk yang masih kosong di barisan paling depan. Terlihat dari ekspresinya Nio sangatlah terpaksa duduk di barisan paling depan.
Namun sebelum Nio meletakkan pantatnya di kursi, Herlina mendekati Nio dengan wajah kesal.
“Kok bisa ya, ada orang yang datang terlambat tanpa perasaan bersalah sedikitpun?” sindir Herlina pada Nio.
“Mohon maaf jika saya datang terlambat, Kapten!” ucap Nio dengan terpaksa karena dia harus melakukan itu.
“Push up 20 kali, setelah itu kau baru boleh duduk!”
“Siap!”
Nio pindah ke depan tempat duduk dan mulai bersiap melakukan hukuman yang akan ia lakukan. Nio melakukan push up dengan disaksikan seluruh orang di ruangan ini.
“Dia memang tidak berubah ya?” batin Rio yang duduk bersama anggota regunya.
“Dasar dia, setidaknya kurangi sifat malasmu itu kek!” batin Jo yang duduk bersama rekannya.
Saat memasuki hitungan ke-12 Nio terlihat mulai melambat dan wajahnya terlihat kelelahan. Kemudian dia melanjutkan push up dengan mengerahkan kekuatan yang tersisa.
Setelah selesai melakukan hukuman, tanpa bicara apapun lagi Nio menuju ke tempat duduknya.
Dia duduk di samping anggota Regunya yang seorang perempuan yang bernama Arista.
Arista tersenyum kearah Nio yang terlihat sangat kelelahan, Nio membalas senyum Arista dengan wajah lelah.
“Baiklah, saatnya memulai pertemuan. Pertemuan hari ini membahas mengenai seleksi untuk membentuk Pasukan Pelajar Khusus (pembaca dapat menyingkatnya dengan PPK).
Herlina kemudian melanjutkan perkataannya, “Sebenarnya tidak ada paksaan bagi kalian yang ingin menjadi bagian Pasukan ini, yang terpenting adalah kalian siap melakukan apa saja dalam perang ini. Tentu saja bukan hanya semangat saja yang diperlukan, tapi keberanian dan kesetiaan.”
Nio yang masih mengatur nafasnya yang terengah-engah mendengarkan perkataan Herlina yang sangat semangat itu dengan sedikit kurang fokus.
“Apa!” Nio tiba-tiba terkejut begitu saja saat Herlina menggebrak mejanya dengan keras.
Seluruh orang diruangan ini tentu saja juga terkejut.
“Ingat, penyeleksian dilakukan pada tanggal 28 Januari! Bagi yang ingin bergabung silahkan mempersiapkan diri!” ucap Herlina dengan menambah tinggi nadanya saat mendapati Nio yang terlihat tidak fokus.
Dia sedikit tersenyum saat berhasil membuat Nio terkejut.
**
Pertemuan telah selesai dan berlangsung dengan lancar meski ada satu hambatan. Yakni Nio yang membuat pertemuan tadi sempat tertunda sebentar.
Nio melihat Herlina berjalan ke papan pemberitahuan yang berada di depan ruang pertemuan dengan membawa selembar kertas.
Nio mendekati Herlina dan berkata, “Apa itu?”
Selembar kertas tersebut berisi daftar nama yang masih kosong dan kolom untuk mengisi tujuan bergabung dengan PPK. Itu adalah daftar nama prajurit yang ingin bergabung dengan PPK.
“Daftar nama, apa kau akan bergabung?” kata Herlina setelah menempelkan daftar nama.
“Entahlah,” jawab Nio ragu-ragu.
“Kuharap kau bergabung dengan PPK.”
“Kenapa?”
“Kekuatanmu pasti akan dibutuhkan.”
“Kau berlebihan, aku push up 20 kali saja sudah kelelahan.”
Mereka berdua kemudian berjalan menjauhi tempat pertemuan dengan sedikit tertawa dan menuju tempat latihan.
Namun tiba-tiba Nio merinding karena orang disampingnya menatapnya dengan tajam dan mengancam. Seakan ada hal penting yang Nio lupakan, Herlina menatap tajam Nio
“Apa kau lupa hal kemarin?” kata Herlina dengan mata melotot.
Nio terkejut karena melupakan hal penting yang ia tinggalkan kemarin dan dengan menunduk rendah Nio berkata, “Mohon maaf sebesar-besarnya!”
Herlina kemudian menyeret Nio ke ruangannya untuk melakukan hal yang harusnya dilakukan kemarin. Namun ternyata Nio lebih mementingkan kakaknya dibandingkan hal ini.
**
Diruangan kerja Herlina, ada mereka berdua disini. Diluar ruangan ini hanya beberapa prajurit yang berlalu lalang dengan urusannya masing-masing.
“Duduklah!” perintah Herlina dengan nada biasa yang membuat Nio terintimidasi.
“Baik,” jawab Nio lemas.
Herlina duduk di tempatnya dengan Nio berada di hadapannya.
Di dalam hati Nio berkata, “Kayaknya bakal dapat hukuman deh.”
“Sersan Nio, kenapa kau meninggalkan pasukan waktu itu?” tanya Herlina dengan tatapan tajam.
“Siap!, waktu itu aku menyelamatkan diri dari kejaran 3 orang musuh dan melawan mereka bersama Tania,” jawab Nio dengan gugup.
“Tania?, bukannya dia berada di regu penembak jitu?”
“Ya, karena Tania terlambat mundur bersama yang lain dia akhirnya menaiki gedung yang ada di dekatnya dan membantu saya.”
“Apa kau tahu, meski yang kau lakukan menyelamatkan diri dan melakukan perlawanan, meninggalkan Regu itu akan mendapatkan sanksi?”
“Ya, aku tahu. Aku siap menerima hukuman apapun itu.”
Herlina membuka laci mejanya dan mengambil sebuah buku catatan. Dia membuka-buka halaman dan kemudian menemukan halaman yang memuat hukuman yang akan Nio terima sesuai dengan kesalahan yang ia buat.
Nio meneguk ludahnya sendiri hingga jakunnya bergerak naik turun. Selain itu keringat dingin mulai keluar dari dahinya yang menambah suram suasana yang ia rasakan sekarang.
Namun Nio tidak tahu jika hukuman yang akan terima hanya kejahilan Herlina saja.
“Sersan Satu Nio, sebagai hukuman atas kesalahanmu kau harus bergabung dengan Pasukan Pelajar Khusus!” ucap Herlina tiba-tiba.
“Hah!?” balas Nio.
Nio diam sejenak untuk memikirkan apa dia akan menerima hukuman ini atau tidak. Karena jika ia menerima hukuman ini Arunika akan menyambutnya dengan wajah ‘mode guru’ yang mengerikan.
“Apa aku bisa membicarakan ini dengan kakakku terlebih dulu?” tanya Nio.
“Boleh, tapi besok kau harus memberikan jawabannya,” balas Herlina yang membuat Nio lega.
**
Diruangan Pengembangan Senjata, beberapa orang terlihat senang atas terciptanya sesuatu hal yang baru.
Seseorang menaiki robot tempur yang baru saja disempurnakan dalam waktu singkat ini. Beberapa orang yang terlihat berlumuran minyak dan oli terlihat bahagia juga karena kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil.
Beberapa robot tempur yang belum sempurna juga akan selesai jadi dengan teknologi yang sama dengan robot tempur yang tadi.
Orang yang mengendalikan robot tempur mulai menggerakkan lengan robot naik turun. Dan itu berhasil dan membuat seluruh orang bahagia.
“Coba langkahkan kakinya,” ucap salah satu orang yang merupakan kepala Pengembangan Senjata.
Orang yang mengendalikan robot tempur menarik tuas yang merupakan bagian untuk mengendalikan kaki robot.
Saat kaki kanan robot berdiri dan melakukan langkah awalnya, hal itu membuat seluruh orang di tempat ini semakin bahagia.
“Baiklah, saat nya melakukan penyempurnaan!” ucap Kepela Pengembangan Senjata.
“Ya…!”
Di tempat yang terpisah, beberapa orang yang mengembangkan senapan dan peluru khusus juga terlihat senang saat mereka berhasil membuat peluru dan senapan khusus yang dapat menembus baju besi prajurit dunia lain.
“Peluru dan senapan khusus ini pasti akan membuat kekuatan militer kita semakin kuat” ucap Kepala Pengembangan Senjata.
Bobot senapan yang sidikit berat daripada senapan yang banyak digunakan oleh prajurit membuat Nike kesusahan untuk menentengnya.
Namun dia dengan senang mengatakan, “Akhirnya aku dapat membuat Nio semakin kuat.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Fahrizal
ceritanya suka bikin gk bosen baca nya
2021-02-11
3
TK
keren 👍
2021-01-30
3
Jungkook wife
"Istri yang Terabaikan" telah memberikan like. Mari saling mendukung terus ya, ditunggu feedback nya. Terimakasih.
2021-01-30
1