4 Januari 2320, pukul 06.18 WIB.
Ini adalah waktu sebelum peristiwa besar terjadi, kehidupan semua orang di kota Karanganyar masih berjalan lancar dengan sedikit hambatan.
Hambatan tersebut hanya berupa bis umum yang mogok padahal belum tiba di tempat pemberhentian yang dituju, demo kecil-kecilan yang dilakukan organisasi kecil dengan tujuan menentang pembatasan pembelian bahan pokok.
**
Di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota Karanganyar seorang remaja laki-laki terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu dan keringat yang keluar dari seluruh tubuhnya.
Nio terlihat seperti mengalami mimpi yang buruk di tidurnya.
“Syukurlah kalau itu cuma mimpi,” gumam Nio.
Dengan badan yang gemetar Nio turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke dapur.
Dia berjalan sambil membayangkan mimpi yang dialaminya sambil bergumam, “Itu terlalu nyata, apa kejadian itu bakal terjadi?”
Nio sudah berada di dapur, di sana sudah ada seorang perempuan yang terlihat sudah bersiap dengan seragam kerjanya. Dia Arunika, kakak perempuan Nio sekaligus satu-satunya keluarga yang ia miliki.
“Pagi kak,” sapa Nio. Arunika menjawab sapaan Nio, “Pagi, cepat mandi terus sarapan!”. Sambil mengerucutkan bibirnya Nio berkata, “Oke.”
Arunika masih sibuk dengan tumpukan kertas didepannya yang ada sebuah cangkir berisi teh panas manis di sampingnya.
Nio berjalan perlahan kekamar mandi yang hanya berjarak 2 meter dari dapur sambil menggaruk perutnya yang gatal.
Nio melirik kebelakang ke arah kakaknya yang masih menuliskan nilai di kertas ulangan milik muridnya.
Arunika merupakan salah satu guru di SMA tempat Nio bersekolah. Dia sudah menjadi guru saat Nio masih kelas 3 SMP. Itu tepat dua tahun setelah Arunika lulus dari perguruan tinggi.
Nio dapat masuk ke SMA tempat kakaknya mengajar karena hasil usahanya sendiri, bukan karena keberadaan kakaknya di SMA tersebut. Meski dia harus bersaing dengan murid pintar lainnya, Nio akhirnya dapat lolos seleksi walau berada diurutan 201 dari 256 orang angkatan kelas 1 SMA 2 Karanganyar.
Kembali ke adik kakak ini.
Arunika menyeruput teh panasnya yang sudah menghangat. Dia melihat hal yang membuatnya jengkel.
“Cepat mandi!” gertak Arunika yang melihat Nio masih berdiri mematung dan masih menggaruk perutnya sambil melirik kakaknya.
“Galak amat sih,” gumam Nio. Dia tiba-tiba merinding saat kakaknya melirik tajam kearahnya sambil berkata, “Bisa diulang lagi kata itu?”
Nio dapat merasakan aura yang mencekam dari kakaknya walau hanya berkata santai seperti itu. Dia berpikir dari pada harus menghadapi kakaknya yang akan segera mengganas lebih baik Nio menuruti perintah Arunika sebelumnya.
Nio mengambil handuk yang tergantung di depan kamar mandi dan segera memulai kegiatan sebelum sekolahnya.
**
Saat sarapan Nio masih membayangkan kejadian yang ada di mimpinya. Saat teringat kakinya tertimpa bongkahan tembok yang besar dan membuat kakinya patah, Nio saat ini dapat merasakan yang ia alami di mimpinya.
Dia sedikit melirik kakaknya yang sudah selesai memberi nilai tugas muridnya. Keberadaan Arunika di depannya, membuat Nio merasa yakin jika mimpi hanyalah mimpi yang sangat tidak mungkin terjadi, tapi siapa yang tahu.
Setelah untuk beberapa menit dia terfokus dengan tumpukan kertas, Arunika kini beralih ke smartphone nya. Dia mencari situs berita dan mencari berita terkini.
“Kejadian itu lagi,” kata Arunika lirih.
“Ada apa?” tanya Nio yang penasaran dengan yang kakaknya baca. Arunika menjawab
“Berita orang yang berpakaian aneh itu,” jawab Arunika
Nio tidak bertanya lebih lanjut karena berita tersebut sudah beberapa minggu menjadi pemberitaan utama di Indonesia bahkan dunia.
Orang yang berpakaian aneh yang Arunika maksud adalah puluhan orang yang mengenakan semacam seragam prajurit zaman kerajaan.
Di Indonesia, pertama kali muncul orang berpakaian prajurit zaman kerajaan di wilayah Aceh Barat, Provinsi Aceh.
Pada awalnya 20 orang muncul dengan tiba-tiba dan membuat heran masyarakat yang melihat. Mereka hanya berjalan di jalanan kota dengan membawa pedang di genggaman tangan yang membuat masyarakat takut.
Polisi setempat yang mendapatkan laporan terdapat orang yang mengancam segera menuju tempat ke-20 orang tersebut berada.
Saat berusaha mengamankan ke-20 orang tersebut polisi justru mendapatkan perlawanan.
Mereka menyerang polisi dengan pedang dan membuat beberapa polisi dan warga terluka.
Beberapa jam setelah penyerangan, prajurit TNI melakukan pencarian terhadap ke-20 orang ‘misterius’ tersebut.
Namun setelah 1 minggu melakukan pencarian di seluruh provinsi Aceh tidak lagi di temukan ke-20 orang misterius tersebut, bahkan jejak sekecil sekalipun untuk menemukannya tidak ditemukan.
Setelah kejadian itu, pemerintah menganggap kejadian penyerangan tersebut sebuah aksi teror.
**
Nio dan Arunika berdiri di halte bus bersama puluhan orang lain. Bus yang akan mereka berdua tumpangi seharusnya tiba 10 menit yang lalu. Namun hingga sekarang Nio dan Arunika masih menunggu.
Arunika menghembuskan nafas panjang dan berkata, “Hah, aku bakal terlambat nih.”
“Kenapa enggak jalan saja?” sambung Nio.
Kemudian Nio mengambil smartphone nya dari saku celana dan memeriksa sudah jam berapa sekarang.
“Udah mau jam 7 nih,” kata Nio.
Karena dia juga sebentar lagi akan terlambat, Nio berlari tanpa memberitahu kakaknya. Arunika yang terkejut juga ikut berlari namun tak secepat Nio.
Nio dan Arunika memilih jalan pintas untuk segera tiba di sekolah. Saat berlari Nio melihat sesosok yang sedang berjalan santai.
“Duluan ya…,” kata Nio yang berlari mendahului Rio.
“Kenapa dia buru-buru gitu?. Emang sekarang jam berapa?” gumam Rio yang bingung melihat Nio berlari cepat.
Sesaat kemudian Arunika berlari mendahului Rio yang sedang memeriksa waktu saat ini di jam tangannya.
Saat melihat Arunika yang juga berlari, Rio merasa yakin dia juga akan terlambat.
**
Nio mulai berjalan saat hampir mencapai lingkungan sekolah, begitu juga Arunika.
“Kenapa ninggalin aku hah?” kata Arunika sambil memukul punggung adiknya itu hingga terbatuk-batuk.
Sesaat kemudian Rio tiba dengan keringat yang membasahi wajahnya.
Mereka bertiga berjalan bersama ke sekolah saat beberapa menit lagi bel masuk berbunyi. Bagi Arunika tiba di sekolah 5 menit sebelum jam berbunyi sudah termasuk terlambat.
Meski begitu untuk sekarang kantor guru masih kosong walau hari ini adalah hari Senin tahun ajaran baru.
**
Nio dan Rio duduk di tempat duduk masing-masing sambil mengatur nafas mereka.
“Habis ngapain kalian sampai mandi keringat begini?” kata Jo
“Menghindari omelan kakaknya Nio,” Canda Rio.
Nio hanya tertawa kecil sambil mengangguk perlahan.
Kemudian Rika mendatangi Nio yang masih terengah-engah untuk memenuhi kewajibannya sebagai bendahara kelas.
Tentu saja Nio cukup merasa kesal untuk saat ini, begitu juga Rio dan Jo
“Besok ku bayar uangnya,” kata Nio santai.
Tiba-tiba Rika memukulkan buku kas kelas ke meja Nio yang membuat seisi kelas terkejut.
Rika beralih ke Rio, namun jawaban yang ia terima sama dengan sebelumnya. Kali ini Rika memukulkan buku ke kepala Rio.
Sasaran kemudian adalah si ketua kelas, Jonathan. Jo terpaksa menyerahkan uangnya yang akan ia gunakan untuk jajan nanti siang.
“Apa yang kau ketawa kan hah!?” Teriak Rio sambil memegangi bagian kepalanya yang dipukul tadi.
Nio dan Jo tertawa puas melihat Rio yang kesakitan.
Beberapa saat kemudian bel berbunyi, semua murid keluar dari kelasnya dan menuju halaman sekolah untuk melaksanakan upacara.
**
“Kenapa aku bisa lupa kalau jam pertama pelajarannya kakak?” batin Nio.
Saat pelajaran Matematika entah kenapa suasana kelas menjadi sangat suram. Tidak ada sepatah katapun yang terdengar dari penghuni kelas.
Arunika berjalan santai menuju meja guru di depan kelas.
Penghuni kelas yang paling santai saat pelajaran ini tentu saja Nio. Bukan karena ia menguasai pelajaran matematika, itu karena ia sudah terbiasa setiap hari dimarahi kakaknya. Justru Nio sangat tidak menguasai pelajaran ini.
Mau diapakan oleh kakaknya saat tidak bisa mengerjakan soal didepan kelas, Nio tetap tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri.
Karena jawaban yang ia ucapkan akan tetap sama yaitu, “Bukannya kakak sudah tahu kalau aku bertemu angka-angka aja udah pusing?”
Setelah itu sebuah tendangan mendarat di bokongnya.
Itulah yang terjadi saat ini.
Namun entah kenapa Nio selalu mendapatkan nilai sempurna di semua pelajaran kecuali matematika. Arunika sendiri juga tidak mengerti tentang hal ini.
Setiap kali dihadapkan soal matematika, Nio akan mengeluh pusing yang hebat.
**
Bel istirahat siang berbunyi, Nio menyimpan bukunya di laci meja dan mengambil smartphonenya dari saku celana.
Nio membuka situs media sosial miliknya.
“Berita itu lagi,” gumam Nio yang lagi-lagi melihat berita tentang kemunculan orang berpakaian seragam prajurit zaman kerajaan.
Kali ini kemunculannya bukan di Indonesia, tapi di Korea Utara.
Jumlah orang berpakaian prajurit zaman kerajaan dapat ditangkap oleh tentara Korea Utara meski dengan perlawanan yang sengit. Kali ini sebanyak 10 orang dapat ditangkap, namun ini bukan jumlah sebenarnya karena kemungkinan ada beberapa orang lagi yang dapat melarikan diri.
“Ada apa?” tanya Jo yang baru kembali dari toilet bersama Rio.
“Berita itu lagi ya?” Tebak Rio.
Nio mengangguk dan melanjutkan membaca berita terbaru itu.
Ada satu hal yang aneh dari kemunculan orang-orang berpakaian prajurit zaman kerajaan. Seragam yang mereka kenakan sama dan yang membedakan hanya postur tubuh pemakainya saja.
Beberapa orang mengira mereka hanya sekumpulan ‘maniak’ yang mengaku berasal dari masa lalu, beberapa lagi mengaitkan mereka sebagai ‘tanda-tanda akhir zaman’.
Tentu saja lebih banyak yang tidak percaya dengan hal yang terakhir tersebut.
“Oh iya, Nio kamu bisa ambil buku baru di perpustakaan?” tanya Jo.
“Hanya aku?” jawab balik Nio dengan muka masam.
“Aku nggak mau bantu lho,” sambung Rio dengan wajah santai.
Ada alasan mengapa Rio tidak mau membantu Nio, dia sebelumnya sudah membantu Jo menjadi petugas upacara.
“A-aku mau bantu,” kata seorang murid perempuan yang duduk di belakang Nio.
“Beneran Nike?” jawab Nio dengan wajah seketika cerah karena ada seseorang yang mau membantunya.
Nike mengangguk sambil membenarkan posisi kacamatanya.
**
Setelah pembagian buku baru, bel berbunyi. Sekarang waktunya pelajaran Sejarah, guru pelajaran ini yang bernama Lisa memasuki kelas.
Pelajar membahas perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Pelajaran berjalan normal, setidaknya untuk saat ini. Kegiatan masyarakat juga masih berjalan seperti biasanya dengan beberapa hambatan.
Setidaknya Masyarakat Indonesia masih belum mengetahui hal yang menimpa negara tetangga.
Benda berbentuk spiral berwarna ungu gelap berukuran 12 meter muncul di beberapa tempat di bumi. Itu bukan fenomena badai atau semacamnya, bahkan ilmuan tidak mengetahui tentang hal ini.
Fenomena ini pertama kali di sejarah umat manusia.
Spiral ungu pertama muncul di gurun Sahara, hal itu seketika membuat cemas masyarakat benua Afrika. Tak lama kemudian gelombang kejut muncul dari spiral ungu dan menghancurkan semua yang ada dalam radius 1.100 kilometer.
9 spiral ungu mulai bermunculan di berbagai lokasi di bumi, antara lain; Laut Hitam, Samudera Hindia, perbatasan Amerika serikat dan Kanada, Laut Kaspia, Semenanjung Asia Tenggara, Samudera Atlantik Barat, semenanjung Skandinavia, Rusia dan Selat Karimata.
Gelombang kejut mulai menghancurkan tempat sekitar spiral ungu tersebut dalam radius 1.100 kilometer. Sedangkan spiral ungu yang muncul di laut lepas menyebabkan gelombang tinggi namun bukan tsunami.
Gelombang kejut dari spiral ungu yang muncul di Selat Karimata menghancurkan setengah wilayah Indonesia. Jutaan nyawa melayang dan kerugian tidak terhitung.
Tentu saja tempat sekolah Nio berada juga terkena dampaknya. Seluruh siswa tertimbun di reruntuhan bangunan. Hampir seluruh murid tewas, jumlah yang masih hidup belum diketahui.
Arunika yang baru kembali dari percetakan setelah memfotokopi buku miliknya hanya terhempas dan terkena puing bangunan yang berterbangan.
Dia kemudian tak bergerak, belum diketahui Arunika hanya pingsan atau hal yang lebih buruk.
Sementara itu di Korea Utara, tepatnya di penjara tempat 10 orang misterius itu ditahan terdengar tawa yang sangat keras dari sel tempat mereka berada.
“Waktunya sudah tiba bukan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Dhanu Von Manstein
calon penjabat non korupsi
2023-05-24
0
Egaega
sepertinya jawaban chapter sebelumnya ada disini mungkin? chapter sebelumnya masih belum paham
2022-08-03
0
Ivi
sulit dipahami.mungkin cuma author yg paham😒
2022-06-24
0