23 Januari 2321, pukul 06.29 WIB.
**
“Apa yang kau lihat?” tanya Arunika yang melihat Nio menatap layar smartphone nya.
Smartphone milik Nio tersebut merupakan fasilitas yang diberikan pihak militer bagi para prajurit. Namun smartphone yang digunakan berbeda dengan smartphone yang umum digunakan karena lebih menggunakan sistem yang lebih sederhana.
Alasannya agar setiap prajurit dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa mengeluarkan dana yang besar.
Tapi tidak seluruh prajurit telah mendapatkan fasilitas ini.
“Cuma lihat video,” jawab Nio.
Arunika sedikit mengintip apa video yang sebenarnya Nio tonton.
Nio hanya melihat film yang menceritakan prajurit samurai sedang berlatih. Karena Nio ingin menerapkannya saat latihan, dia sudah banyak menonton film atau animasi tentang kependekaran.
“Ini sarapan mu,” kata Arunika sambil meletakkan sepiring nasi goreng dari nasi yang dibuat dari nasi sisa semalam.
“Iya, terimakasih,” jawab Nio sambil tetap melihat layar smartphone nya.
Kesal melihat Nio yang seakan ‘mengacuhkan’ Arunika, dia dengan cepat merebut smartphone dari tangan Nio.
“Oy, kembaliin !” kata Nio sambil berusaha merebut lagi smartphone nya.
Dengan ekspresi jahil Arunika menghindari semua gerakan Nio yang berusaha merebut lagi smartphone miliknya.
Nio akhirnya dapat meraih tangan Arunika yang memegang smartphone nya dan menggenggamnya cukup erat.
Nio memojokkan tubuh kakaknya di tembok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Arunika.
“Ni-Nio. Apa kamu…?” kata Arunika dengan kata yang berantakan.
“Berikan!” perintah Nio dengan wajah datar.
“Tapi….”
Nio teringat suatu hal saat sedang memojokkan kakaknya saat ini dan berkata, “Bukannya kakak bilang kalau mau diperlakukan seperti pacar?”
“Eh?” jawab Arunika dengan terkejut. Dia melanjutkan perkataannya, “Iya sih, tapi apa pacar melakukan hal seperti ini?”
“Nggak tahu, aku belum pernah pacaran soalnya.”
“Eh, apa itu benar?”
Dengan wajah heran karena pertanyaan kakaknya Nio menjawab, “Iya, berbeda dengan kakak. Aku ini tidak populer tahu.”
Setelah itu wajah Arunika terlihat lega dan tersenyum kecil. Senyum itu Nio artikan ada maksud tersembunyi.
Nio melepaskan cengkraman tangannya di tangan Arunika dan mengambil lagi smartphone nya.
Nio kemudian duduk dan mengambil sepiring nasi goreng yang belum ia sentuh. Kemudian Arunika juga duduk di samping Nio dengan bahu yang ditempelkan di tubuh Nio.
Tentu saja Nio terkejut, namun mencoba bertahan hingga 6 bulan kedepan.
Di dalam hati Nio berkata, “Tenang saja. 6 bulan lagi aku akan terlepas dari hubungan aneh ini.”
Nio kemudian melanjutkan sarapannya dengan ditemani kakaknya yang bersikap seperti kekasih sungguhan.
**
Nio berjalan ke tempat latihan, Komandan Regu memang seharusnya tiba di tempat latihan lebih cepat dari anggotanya.
Namun Nio bertemu dengan Nike dan Rika yang juga akan menuju ke tempat pengembangan senjata.
“Mau ke tempat latihan?” kata Nike dengan wajah sedikit menunduk.
“Iya,” jawab Nio singkat karena tahu itu hanya basa-basi yang dilakukan Nike.
Rika menatap tajam pada Nio dan kemudian membawanya sedikit menjauh dari Nike.
“Hei, lebih baik kau tidak membuat Nike ‘patah hati’,” bisik Rika.
Nio tidak mengerti dengan yang dikatakan Rika dan berkata dengan pelan seperti berbisik, “Hah, apa maksudmu. Memangnya aku melakukan apa?”
“Sudahlah. Kalau kau membuat Nike sedih kau akan menyesal,” ancam Rika.
Nio hanya menggelengkan kepalanya karena perilaku tidak jelas dari Rika itu.
Nio kemudian mendekati Nike lagi dan berkata, “Yang semangat ya, aku menanti senjata baru dari tim pengembangan senjata.”
Nike memalingkan wajahnya dari Nio yang membuatnya terkejut.
“I-iya, tunggu saja senjata baru dari kami,” kata Nike.
Beberapa saat kemudian muncul seseorang yang membuat Nio terkejut karena badannya yang tinggi dan kekar.
“Yo. sedang apa kalian disini?” tanya Surya yang sedang melakukan joging bersama anggota kompi nya.
“Kak Surya?” kata Nike terkejut karena kemunculan kakaknya yang tiba-tiba.
Surya memerintahkan anggotanya untuk melanjutkan sendiri joging yang mereka lakukan tanpa Surya.
“Ya, kota bawah tanah memang menakjubkan ya?. Aku bahkan tidak berkeringat disini,” kata Surya sambil mengusap keringat yang sedikit keluar di dahinya.
“Baru tahu apa ni orang?” batin Nio.
Surya melirik kearah Nio dengan tatapan tajam yang seketika membuat suasana yang Nio rasakan terasa mencekam. Bahkan Nio dapat melihat aura kuat dari diri Surya yang berbadan tinggi kekar.
Berbanding berbalik dengan Nio yang hanya memiliki tinggi badan standar anak SMA pada umumnya dan badan yang tidak terlalu berotot.
Tapi lirikan Surya terpusat pada bekas luka di pipi kanan Nio.
“Kau!” ucap Surya dengan tegas.
Nio menjawab dengan gugup, “Y-ya. Siap!”
“Apa kau pernah mengikuti perang sebelumnya?”
“Siap!, belum. Saat ini saya masih menjalani pelatihan.”
“Tapi kau memilki bekas pernah mengikuti pertempuran.”
Nio menyadari sesuatu dari perkataan Surya. Dia menyadari jika Surya menyinggung bekas luka di pipi kanannya.
“Itu bekas luka lama Nio kak,” ucap Nike.
Surya beralih lagi dengan Nio yang belum hilang kegugupannya.
“Ternyata begitu. Apa pangkatmu Nio?” tanya Surya.
“Siap. Saat ini saya berpangkat Sertu dan menjadi Komandan Regu 2,” jawab Nio.
Sekarang tatapan Surya berubah, seperti orang yang meragukan tentang kebenaran perkataan orang lain.
“Apa benar?” ucap Surya dengan nada meragukan.
Surya melihat Nio dengan sudut pandanganya seorang remaja kurus dan berwajah seperti orang yang tidak bisa diandalkan.
Selain itu dari sikap ‘siap’ Nio yang belum benar menandakan dia orang yang sering bermalas-malasan saat berlatih. Hanya ada ekspresi datar saat menghadap prajurit yang berpangkat lebih tinggi darinya, itu yang Surya lihat dari diri Nio. Tapi siapa yang tahu.
“Percaya nggak percaya deh,” batin Surya.
Surya kemudian berbalik kearah dia seharusnya melanjutkan joging yang ia lakukan.
“Nanti ketemu lagi ya Nike,” ucap Surya kemudian berlari kecil.
Nio menghela nafas lega setelah ‘raksasa’ itu menjauh darinya.
Ada banyak pertanyaan mengenai Surya yang tertampung di otaknya.
“Sikapku tadi udah sempurna belum ya?” batin Nio.
**
Nio 3 menit terlambat dari waktu yang ditentukan utuk berlatih. Tapi bukan itu yang membuatnya gelisah.
Ada Herlina yang sudah siap bergabung di latihan Regu 2.
Semua orang hanya menatap heran karena kedatangan Nio.
Salah satu anggota ini beRegurkata, “Maaf Komandan, bukannya kau ada jadwal berjaga hari ini?”
“Eh, yang benar?” kata Nio dengan ekspresi tidak percaya.
Dia kemudian berlari kearah papan pengumuman yang terpasang di tempat berlatih dan melihat jadwal berjaga.
Nio menemukan namanya. Dan benar saja hari ini adalah jatah Nio untuk berjaga.
Herlina mendekati Nio yang terlihat kesal dan berkata, “Tenang saja, musuh tidak akan memasuki kota ini setelah mereka dikalahkan Kompinya Kapten Surya.”
Herlina mengatakan itu dengan wajah senang yang membuat Nio kesal.
Dia tahu Surya memang lebih hebat darinya dalam segala hal, termasuk tinggi badan. Dan Nio untuk saat ini tidak dapat merubah fakta tersebut.
Dengan wajah murung dan malu dia berjalan kembali ke asramanya untuk mengambil perlengkapannya.
“Entah kenapa Nio tadi terlihat kesal,” gumam Herlina yang kemudian menggantikan sementara Nio sebagai Komandan di Regu 2.
**
“Oh, ternyata ada Bu Lisa disini,” ucap Nio setelah membuka pintu tanpa mengetuknya.
Sesaat setelah Nio beranjak dari asramanya Lisa datang untuk menemui Arunika yang tertunda kemarin.
“Jangan memanggilku ‘Bu’ lagi. Sekarang kita sudah seperti teman kan?” kata Lisa dengan wajah senangnya.
“Terserah saja,” kata Nio setelah mengenakan seragam lengkapnya.
Dia juga tidak melupakan senapan dan menaruh pedang di punggungnya.
“Apa kau akan berjaga?” tanya Arunika.
“Ya,” balas Nio.
Tanpa berkata apapun lagi Nio keluar dari asramanya dan menuju ke luar kota bawah tanah. Tepatnya Nio akan berjaga di gerbang masuk kota bawah tanah Kota Karanganyar.
“Sifatnya sedikit aneh bukan?” tanya Lisa.
“Benar, padahal tadi sikapnya masih seperti biasanya,” sambung Arunika.
Nio berlari sekencang yang ia mampu untuk segera tiba di gerbang masuk kota bawah tanah.
Di sana sudah ada 5 orang yang lebih dulu tiba. Nio datang terlambat karena lupa jadwalnya berjaga.
“Ah, Sertu. Kau terlambat,” kata prajurit dari Regu 6.
“Maaf. Sebenarnya aku tadi lupa kalau jadwal berjagaku itu hari ini,” balas Nio dengan sedikit tersenyum.
Semua orang di tempat berjaga yang semuanya dari Regu 6 tertawa kecil dan menempatkan diri di posisi berjaga masing-masing.
Suasana diluar hanya terlihat gedung-gedung yang hampir rubuh dan Gunung Lawu yang sedikit terlihat.
“Rasanya sudah lama tidak keluar,” batin Nio.
Beberapa jam berjaga memang tidak ada musuh atau hal yang membahayakan. Kebanyakan orang yang lewat adalah beberapa warga yang menawarkan makanan dan minuman gratis pada prajurit yang berjaga di depan kota bawah tanah.
Namun di dekat Kota Karanganyar ada sesuatu yang terbang dan mengarah ke kota bawah tanah. Mereka tidak menyerang wilayah yang dilalui karena terfokus pada Kota Karanganyar.
**
“Semuanya sudah siap?” kata Komandan pasukan dunia lain yang bertugas menginvasi Pulau Jawa.
“Sudah Komandan,” jawab bawahannya yang baru tiba dari memeriksa pasukan yang akan ditugaskan.
Di tanah yang lapang terlihat puluhan naga berbagai ukuran sedang bersiap bersama prajurit yang akan menungganginya.
Bagi orang-orang yang melihatnya pasti akan ketakutan saat melihat kadal terbang ini. Terutama penduduk dunia ini yang mempercayai jika naga hanya makhluk mitologi saja.
Seluruh prajurit ‘penunggang naga’ ini tentu saja terlihat bersemangat karena akan segera membalaskan kekalahan rekan mereka sebelumnya yang gagal menguasai Kota Karanganyar.
Padahal itu merupakan kesalah atasan mereka yang hanya mengirimkan 3 kompi ke Kota Karanganyar. Mereka masih terbuai dengan kemenangan beruntun yang didapatkan sehingga tidak memperhatikan keadaan musuh yang semakin berkembang dengan perlahan.
Namun tetap saja tidak ada pihak yang mau disalahkan di kejadian ini.
Komandan mereka yang akan mengikuti serangan balasan bersiap dengan perlengkapannya.
Kemudian dia berjalan ke arah naga yang berukuran paling besar dan berwarna hitam.
Jika dilihat dari fisiknya, naga bisa disamakan dengan ‘tank terbang’ karena sekujur tubuhnya tertutup sisik setebal kulit tank baja.
“Kepada seluruh pasukan penunggang naga, mari kita balas pasukan yang sudah mengalahkan rekan kita!” ucap komandan pasukan ini dengan nada keras.
“Ya…!” seluruh pasukan bersorak diatas naga masing-masing.
Dengan aba-aba tangan sang Komandan, pasukan ini terbang menuju Kota Karanganyar.
Mereka melewati banyak kota yang masih harus ditaklukan dan beberapa kota yang berhasil dikuasai.
Seluruh warga yang melihat pasukan penunggang kuda terbang rendah diatas mereka merasa merinding dan cepat-cepat masuk kedalam rumah masing-masing.
Tentu saja itu salah satu tujuan pengiriman pasukan penunggang naga, yaitu menyebarkan ancaman pada penduduk dan membuat penduduk merasa jika pasukan dunia lain sangat menakutkan.
Pasukan ini berangkat sebelum fajar dan hampir mendekati pusat Kota Karanganyar.
Sementara itu, Nio dan prajurit yang berjaga sedang asyik menyantap nasi bungkus yang diberikan beberapa warga pada mereka.
Mereka makan dengan lahap meski tidak semengenyangkan biskuit dari ransum yang bisa membuat kenyang seharian.
Tapi rasa dari nasi asli dan ikan asin yang dimasak dengan banyak sambal ini yang membuat mereka rindu dengan masakan rumah yang lama tidak dirasakan.
“Sertu, kau tidak makan lagi?” tanya salah satu prajurit yang menambah lagi nasi dan lauknya.
“Tidak, kalian saja yang melanjutkan makan,” jawab Nio sambil berdiri lagi dengan sikap ‘siap’.
Nio hanya melihat mereka makan dengan lahap dan berharap tidak melalaikan tugas berjaga mereka.
Beberapa saat kemudian ada sesuatu yang berukuran besar dan terbang mengarah ke kota bawah tanah.
“Apa itu?” tanya Nio.
“Ada apa Sertu?” tanya prajurit lain.
Nio menunjuk telunjuknya kearah makhluk terbang tersebut. Makhluk tersebut terbang semakin dekat dan mulai terlihat wujud aslinya.
Nio terkejut dan berkata, “Tekan tombol peringatan itu!”
Dengan cekatan prajurit yang masih makan meninggalkan makannya dan menekan sebuah tombol berwarna merah yang berada di samping gerbang.
Seluruh alarm peringatan di dalam kota bawah tanah berbunyi yang mengejutkan seluruh orang yang mendengarnya.
Seluruh prajurit segera berbaris setelah mengenakan perlengkapannya dan segera keluar dari kota bawah tanah.
“Hah, padahal baru mau istirahat,” gumam Surya yang harus ikut bersama prajurit lainnya.
Sementara itu di luar. Pasukan penunggang naga 5 km lagi tiba di kota bawah tanah.
Nio menunjukkan ekspresi takut dan ketidakpercayaan terhadap yang ia lihat dan berkata, “Itu naga ‘kan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
jangan ada incest lagi. saya harap
2022-01-02
1
meringis
2022-01-02
0
Fahrizal
semngat..
2021-02-05
3