22 Januari 2321, pukul 05.30 WIB.
**
“Pukul berapa perkiraan mereka tiba?” tanya Herlina pada yang hari ini mereka harus bangun lebih awal.
“Mana aku tahu,” jawab Nio sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar karena masih mengantuk.
“Kau ini memang tak bisa diharapkan.”
“Terimakasih,” celetuk Nio.
Suasana kota bawah tanah memang masih cukup sepi, hanya beberapa orang yang memilih bangun lebih awal.
Terutama untuk Nio dan Herlina yang harus menyambut kedatangan Kompi 32 yang beberapa jam lagi tiba di kota bawah tanah Kota Karanganyar.
Itu artinya Nio meninggalkan kakaknya yang masih tertidur dan pergi tanpa berpamitan dengan Arunika.
Namun bukan itu hal yang ia khawatirkan. Karena psikis kakaknya mulai membaik setelah dikurung di ‘White Room’. Meski hanya beberapa jam dikurung ditempat itu Arunika sempat lupa bagaimana cara memegang sendok saat makan malam.
Yang Nio khawatirkan jika ia tiba-tiba ditantang lagi oleh Herlina untuk melakukan latih tanding meski itu hal yang tak mungkin untuk sekarang.
Kebetulan di tempat ini yang merupakan pusat bagi pasukan Tentara Pelajar kota bawah tanah Kota Karanganyar hanya ada Nio dan Herlina.
Komandan Regu yang lain belum muncul. Padahal sudah ada kabar jika seluruh pasukan akan melakukan penyambutan bagi Kompi 32.
Diantara mereka berdua hanya ada hening. Tidak mungkin ada dingin di kota bawah tanah.
“Hei. Kau sudah sarapan?” tanya Herlina memecah keheningan antara mereka berdua.
“Belum,” jawab Nio singkat.
Nio hanya melirik ke sekeliling sambil menopang dagu dengan wajah mengantuk.
Herlina kemudian masuk kedalam ruangannya di tempat ini. Nio tidak berniat untuk menanyakan apa yang akan kemana dan apa yang akan Herlina lakukan.
Dia hanya berharap kakaknya saat bangun nanti tidak lupa siapa dirinya sendiri.
Sesaat kemudian Herlina kembali dengan membawa sebungkus biskuit dari paket ransum.
Satu bungkus biskuit itu cukup untuk membuat kenyang seharian.
Sambil melemparkan satu bungkus biskuit untuk Nio Herlina berkata, “Ini untukmu.”
Nio dengan sigap menangkap satu bungkus biskuit itu dan berkata, “Terimakasih.”
Mereka berdua makan bersama di pagi yang sepi di kota bawah tanah.
**
“Maaf aku terlambat,” kata Rio setelah berlari cepat dari asramanya.
Jam tangan Herlina menunjukkan sudah pukul 06.05 WIB. Itu setengah jam lebih lambat dari waktu yang ditentukan yaitu pukul 05.30 WIB.
Sekitar pukul tersebut kebanyakan orang masih tertidur dan pada kegiatan memulai hari masing-masing.
Yang berkumpul disini masih Komandan Regunya nya saja. Para anggotanya harus tiba pukul 06.15 WIB.
Karena itu waktu perkiraan Kompi 32 tiba di kota bawah tanah.
**
Untuk sementara Kota Karanganyar dalam kondisi aman.
Pasukan pendukung dari Kompi lain mulai menjaga di titik yang diperkirakan menjadi jalur pasukan dunia lain melalui Kota Karanganyar.
Meski untuk waktu dekat pasukan musuh tidak diperkirakan mendekat ke kota ini setelah kekalahan pasukan mereka baru-baru ini.
“Ah, sepertinya kita salah jalan,” ucap Surya setelah melihat ulang petanya.
“Hah!?” ucap seluruh anggota Kompi 32.
Seluruh orang mengerumuni komandan mereka dengan wajah kesal. Beberapa orang lagi menjaga tawanan agar tidak kabur.
“Komandan, kuharap anda bertanggung jawab. Aku sudah sangat lelah sekarang,” ucap salah satu anggotanya.
“Y-ya. Aku minta maaf,” jawab Surya sambil melipat petanya lagi. Dia berkata lagi, “Aku kan bukan orang kota ini. memangnya diantara kalian ada yang berasa dari Kota Karanganyar?”
Semua orang hanya saling tatap kemudian menggeleng dengan serempak. Tapi ada satu orang yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi karena badannya yang paling pendek dari yang lain.
“Heh, kenapa nggak bilang dari tadi?” kesal Surya saat baru mengetahui asal Tania yang dari Kota Karanganyar.
“Maaf,” jawab Tania singkat dengan wajah datarnya.
Surya mendekati Tania sambil membuka lagi petanya dan berkata, “Jadi, kau tahu tempat ini dimana?”
“Ya,” jawab Tania.
Semua orang kembali berjalan dengan Tania yang kali ini memimpin jalan.
Sementara itu para tawanan terlihat kebingungan dengan kejadian tadi.
“Ada apa memangnya?” tanya salah satu tawanan.
“Tidak tahu, tapi sepertinya komandan mereka terlihat kesal,” jawab rekannya.
“Tapi aku juga heran dengan mereka.”
“Kenapa?”
“Kenapa mereka bersikap baik dengan kita?”
Semua tawanan yang mendengar pertanyaan rekannya juga memikirkan pertanyaan yang sama.
Terlihat beberapa warga yang tidak berada di kota bawah tanah berdiri di pinggir jalan bersorak atas keberhasilan Kompi 32.
Sorakan mereka berupa pujian dan segala hal yang baik dan ditujukan pada seluruh prajurit Kompi 32.
Tentu saja hal itu membuat para tawanan merasa tertekan dan hanya bisa menunduk saat melewati para warga.
Melihat itu Surya memerintahkan beberapa anggotanya untuk mendekat padanya dan memberi perintah, “Kalian jaga para tawanan dari para warga. Aku takut jika para warga berbuat yang tidak-tidak.”
“Siap!” jawab anggotanya yang diberi perintah dengan tegas.
10 orang berjaga di sekeliling tawanan dan menghalau warga yang mendekat pada tawanan dan ingin melakukan sesuatu pada mereka.
“Tolong jangan mendekati tawanan!” perintah prajurit yang menjaga tawanan.
Mereka menghalau para warga yang ingin memukul dan semacamnya dengan susah payah. Bahkan beberapa dari mereka juga terkena pukulan yang tadinya diarahkan ke tawanan.
Namun mereka tidak bergeming dan dengan cepat kembali berdiri dan menjaga lagi para tawanan.
Ada hal lain yang dirasakan para tawanan.
“Kenapa mereka seakan-akan menjaga kita?” tanya salah satu tawanan.
“Mereka mungkin sudah benar-benar sudah gila karena perang ini,” jawab rekannya.
Prajurit Kompi 32 yang mendengar mereka bercakap-cakap mengatakan sambil menggunakan kode tangan untuk diam, “Kalian jangan berbicara lagi!”
Tentu saja tawanan tidak mengerti apa yang dia ucapkan.
Surya memanggil prajurit unit komunikasi untuk mendekat padanya.
Sebelumnya ia bertanya pada Tania, “Apa sudah dekat tempatnya?”
“Perkiraan setengah jam lagi kita tiba,” jawab Tania.
“Siapkan komunikasi ke kota bawah tanah kota ini!” perintah Surya. Prajurit unit komunikasi menjawab dengan tegas, “Siap, mohon tunggu sebentar.”
Surya mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Sementara prajurit yang ia perintahkan menyambungkan komunikasi ke markas kota bawah tanah Kota Karanganyar sedang menyiapkan peralatannya.
Dia mulai mencari saluran yang pas dan memeriksa jangkauan frekuensi jangkauan radionya agar tidak terlalu luas dan keluar wilayah Kota Karanganyar.
Saat sambungan tersambung ke unit komunikasi kota bawah tanah Kota Karanganyar dia segera menemui Surya.
“Silahkan,” ucapnya sambil memberikan alat pengirim pesan suara yang berbentuk mirip dengan telepon rumah.
Dia mulai berbicara dan memberi tahu perkiraan kedatangan pasukannya.
Komunikasi itu hanya berlangsung selama kurang dari satu menit. Karena memang sangat sulit berkomunikasi dengan tempat yang berada di bawah tanah.
**
“Mana mereka?” ucap Nio dengan wajah lemas karena terlalu lama menunggu.
Seluruh prajurit di kota bawah tanah sudah berkumpul dan membentuk satu Kompi.
Beberapa saat kemudian orang-orang dari tempat produksi senjata bergabung dengan pasukan yang menyambut kedatangan Kompi 32.
Tentu saja Rika dan Nike ikut menyambut Kompi 32.
Mereka melihat Nio yang berbaris dengan gestur tubuh seperti orang yang dipaksa melakukan ini saat masih dalam keadaan setengah sadar.
“Dia memang tidak berubah ya?” tanya Rika pada Nike.
“Memangnya apa sifatnya Nio?” tanya balik Nike.
“Ya, bukannya dia sedikit pemalas, dan tidak mau melakukan sesuatu sendirian?”
“kupikir tidak seperti itu kok.”
Rike masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena dia merasa ada sesuatu dibalik perkataan Nike.
Wajah Nike terlihat bahagia walau berada di barisan paling belakang seperti akan menyabut orang yang paling ia tunggu-tunggu kedatangannya. Didepan mereka merupakan para Tentara Pelajar.
Beberapa keluarga prajurit yang tinggal disini juga ikut menyabut meski berada di tempat yang sedikit jauh dari barisan.
Arunika juga ikut meski dengan keadaan yang sedikit kebingungan.
“Arunika!?” sapa seseorang yang membuat Arunika terkejut.
Dia menoleh kearah suara yang memanggilnya. Dia adalah orang sangat Arunika kenal saat masih menjadi guru.
“Lama tidak bertemu,” sapanya.
“Tunggu sebentar, biar kuingat-ingat dulu,” kata Arunika sambil memegangi keningnya.
“Jahat sekali kau melupakanku” keluhnya.
“Ah, Lisa!”
“Kenapa kau ini sampai lupa sahabat sendiri?”
“Setelah ini aku ceritakan padamu.”
Beberapa saat kemudian gerbang bawah tanah terbuka. Itu adalah satu-satunya jalur ke kota bawah tanah ini, kecuali jika ada seseorang yang menggali tanah di tempat lain dan menemukan jalur lain ke kota bawah tanah.
Terlihat rombongan yang berisi ratusan orang yang berjalan dengan ekspresi bermacam-macam. Kebanyakan dari mereka berekspresi kelelahan dan semacam itu.
Namun berbeda dengan tawanan yang terlihat masih tertekan dengan suasana ini.
Seluruh orang bersorak saat barisan Kompi 32 melewati mereka. Para prajurit menyanyikan yel-yel dengan semangat yang bertema menyambut.
Nike melihat rombongan dengan berjinjit seperti ada seseorang yang ia cari.
Tania menoleh kekanan dan kekiri mencari seseorang yang sangat ingin ia temui setelah terpisah saat penyerangan setahun lalu.
Begitu juga dengan Surya yang dengan badan tingginya pasti dengan mudah menemukan seseorang yang ia cari.
“Itu dia!” kata Surya saat melihat seseorang dari barisan paling belakang.
Seorang gadis berambut pendek dan berkaca mata adalah orang yang Surya cari.
Surya meninggalkan barisannya dan memecah kerumunan orang dengan paksa.
Dia berhenti di depan orang yang lebih pendek darinya dan berkata, “Akhirnya aku dapat melihatmu lagi, Nike.”
Nike dengan wajah terharu segera memeluk kakaknya, “Kakak lama sekali pulangnya.”
Rika yang ada di samping Nike hanya bisa melihat pertemuan mereka berdua dengan wajah kebingungan.
Mari beralih ke Tania yang masih mencari seorang laki-laki.
Padahal laki-laki itu berbadan cukup tinggi dan berada di barisan paling depan. Bisa saja Tania bertanya pada prajurit lain keberadaan orang itu.
Namun Tania segera menemukan orang itu yang masih menyanyikan yel-yel dengan wajah malasnya.
Nio yang menyadari keberadaan Tania menghentikan nyanyiannya dan segera mendekati Tania yang hanya diam ditempatnya berdiri.
“Lama tidak bertemu, Tania,” ucap Nio.
“Kau sekarang lebih tinggi ya, Nio?” balas Tania.
“Ya, begitulah.”
“Tapi sepertinya sifat malasmu tidak menghilang.”
“Masa?” ucap Nio dengan menahan tawa.
Herlina dan Rio yang melihat Nio berbicara dengan seorang gadis merasa heran. Namun Rio juga mengenali siapa Tania dan ikut mendekat ke Nio dan Tania berada.
“Tania, aku senang bisa melihatmu lagi,” ucap Rio dengan wajah senang.
“Oh, Rio rupanya,” kata Tania dengan ekspresi datar yang membuat Rio sedih.
“Aku heran, kenapa kau bisa berbicara normal saat bersama Nio sih ?” tanya Rio.
“Tidak tahu,” balas Tania.
Nio sendiri juga merasa bingung karena sifat Tania yang bisa berbicara Normal saat bersama Nio.
Satu lagi, Tania adalah salah satu orang selain Arunika yang mengetahui bekas luka di pipi kanan Nio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
pasti biskuitnya nggak ada rasa
2022-01-02
0
inoe ayah Rafa
emg pipi Nio kenapa Thor?
2021-03-18
8
Alice(*˘︶˘*).。.:*♡
ho....
2021-03-08
3