21 Januari 2321, pukul 09.41 WIB.
**
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Herlina dengan mata melebar.
Dia baru saja tiba di depan asrama Nio dengan alasan yang sudah jelas.
Terlihat Nio sedang menggandeng tangan Arunika dengan wajah bahagia. Tapi Herlina tampak tidak bahagia dengan yang dilihatnya.
“He-Herlina?. Kenapa kamu kesini?” tanya Nio.
Herlina membawa sekardus mi instan untuk Nio yang belum ia berikan sejak melakukan latih tanding beberapa hari yang lalu.
“Aku hanya ingin memeberikan ini,” jawab Herlina sambil menaruh kardus mi instan di depan Nio.
Herlina melangkah mundur 3 langkah dan berkata, “Su-sudah ya. Aku pergi dulu.”
Kemudian dengan cepat Herlina menuruni tangga asrama prajurit laki-laki tempat Nio dan Arunika berada.
Beberapa orang yang melihat komandan mereka bersikap aneh mulai menatap ke arah asal Herlina, yaitu asrama Nio.
Salah satu orang yang melihatnya adalah Rio yang kebetulan lewat didepan asrama ini. Dia melihat ke atas ke arah Nio dan Arunika yang terlihat memperdebatkan sesuatu.
“Semoga saja dia tidak punya hubungan terlarang,” kata Rio dengan sedikit tersenyum.
“Kenapa Kapten?” tanya salah satu prajurit yang melihat.
“Tanya saja pada Sertu Nio,” jawab rekannya.
(Informasi: pangkat Nio setelah berada di pelatihan selama setahun adalah Sersan Satu atau Sertu. Setelah melihat perkembangannya, pihak Tentara Pelajar mengangkat dia menjadi Komandan Regu 2 yang merupakan salah satu satuan di Kompi 406. Herlina saat ini berpangkat Kapten dan menjabat Komandan Kompi 406 Tentara Pelajar yang berada di kota bawah tanah Kota Karanganyar. Rio berpangkat sama dengan Nio yaitu Sertu. Sementara itu Jo berpangkat Sersan Dua atau Serda. Rika dan Nike menjadi pekerja di pengembangan senjata.)
**
Arunika mengikuti Nio ke tempatnya berlatih dengan diam-diam. Setelah merasa kesal dengan kedatangan Herlina di asrama Nio dan berdebat dengan Nio dia berencana memata-matai adiknya tersebut.
Beberapa prajurit dan pekerja yang melihat gerak-gerik Arunika yang memang menarik perhatian.
“Kenapa dia berbicara dengannya lagi?” gumam Arunika yang melihat Nio sedang berbicara dengan Herlina.
Nio terlihat tersenyum canggung saat berbicara dengan Herlina.
“Aku benar-benar tidak berniat menganggu kalian,” kata Herlina yang berkali-kali mengatakan kata yang sama.
“Ya, itu juga salahku yang membuatmu salah paham,” jelas Nio sambil menggaruk belakang kepalanya.
Arunika melihat mereka berdua tertawa kecil dengan tangan yang menutupi mulut.
3 anggota Regu 2 yang melihat Arunika yang bersikap mencurigakan mendekati dan menepuk bahunya dengan lembut.
Bersikap mencurigakan yang Arunika lakukan hanya mengintip dari balik bangunan seorang Nio yang sedang bercengkrama dengan Herlina.
Tentu saja Arunika terkejut dan segera berbalik badan.
“Apa yang anda lakukan?” tanya salah satu dari ketiga anggota Regu 2.
“Ti-tidak. Saya tidak melakukan apa-apa,” jawab Arunika.
Mereka bertiga justru terlihat lebih mencurigai Arunika yang menjawab pertanyaan dengan gugup tersebut.
Tentu saja beberapa orang yang melewati tempat Arunika berada saat ini melihat mereka dengan tatapan bertanya-tanya.
“Kalau begitu mari ikut dengan kami,” ucap salah satu dari ketiga orang tersebut.
Arunika tentu saja terkejut dan berkata, “Eh?”
**
Nio dan Jo berjalan dari kantin.
Nio dan Jo membawa sekantong plastik penuh dengan nasi bungkus dan minumannya yang berupa teh hangat yang dibungkus di plastik bening berukuran sedang.
Seperti bungkus minuman yang sering Nio beli sewaktu istirahat saat sekolah sebelum terjadinya perang ini.
“Tadi pagi aku lihat kau dan kakakmu sedang bertengkar,” kata Jo yang membuat Nio terkejut. Hingga dia bertanya dengan panik, “Hah, jadi kau melihatnya?”
“Ya. Terus aku juga lihat Kapten berjalan dari asrama mu,” sambung Jo yang membuat Nio semakin terkejut.
Nio berjalan dengan wajah murung bersampingan dengan Jo yang menyadari hal itu.
Jo tidak akan menanyakan lebih lanjut masalah yang dihadapi Nio saat ini. yang dia pikirkan adalah anggota Regu 2 yang sudah menunggu makanan karena waktu istirahat tinggal 15 menit lagi.
Meski Jo memikirkan Jo yang terlihat murung itu.
Saat mereka berdua mendekat ke tempat anggota Regu 2 beristirahat, mereka semua langsung menyerbu kantong plastik yang dibawa.
Semua mengambil masing-masing satu bungkus nasi dan minuman hingga tidak tersisa.
Nio memakan bersama anggotanya yang lain sambil bersandar di tembok pembatas antar bangunan.
Jalan di kota bawah tanah masih berupa tanah yang dipadatkan. Karena itu semua anggota Regu 2 makan bersama tanpa alas namun masih dapat makan dengan lahap.
Bukan berarti mereka semua melupakan hal yang akan terjadi 6 bulan lagi. Semuanya mungkin tampak ceria sambil makan makanan masing-masing, namun masing-masing pribadi terasa takut dengan waktu yang tersisa 6 bulan lagi.
Tidak terkecuali dengan Nio yang harus meninggalkan kakaknya untuk melaksanakan tugas itu. Bisa saja di medan perang nanti dia akan terbunuh atau mengalami hal buruk lainnya, tapi siapa yang tahu.
**
Di Kota Karanganyar wilayah Kecamatan Jumapolo.
Kompi 32 dari Pasukan Utama sedang berhadapan dengan 3 kompi pasukan dunia lain.
Semua saling adu pedang dan menembak dengan senapan dan panah. Adu pedang pasukan kompi 32 dapat membuat pasukan dunia lain ini terkejut.
“Bagaimana bisa mereka menguasai teknik berpedang?” tanya komandan kompi pasukan dunia lain yang mengawasi dengan 3 orang prajurit dari atas gedung.
“Akhirnya ketemu juga,” ucap seseorang yang sampai di atas gedung ini sendirian meninggalkan pasukannya yang masih melawan pasukan dunia lain.
Tujuannya sudah jelas, yaitu mengalahkan komandannya.
“Siapa kau?” tanya komandan kompi pasukan dunia lain.
“Bicara bahasa Indonesia kek,” ledek komandan kompi 32.
Dia meledek komandan kompi pasukan dunia lain yang bertanya dengan bahasa yang tidak ia mengerti apa artinya.
Sudah jelas bahasa yang dia gunakan adalah bahasa dari dunia lain.
“Sialan kau!. Semua serang dia!” perintah komandan kompi pasukan dunia lain.
Tanpa menjawab apapun bawahannya berlari kearah komandan kompi 32 sambil mencabut pedang dari sarungnya masing-masing.
“Padahal yang kuincar komandannya,” keluh komandan kompi 32.
Dia kemudian menggenggam erat pedangnya dan menahan satu serangan yang mengarah ke lehernya.
“Eh?” gumam komandan kompi 32 karena terkejut karena kepala satu prjurit dunia lain yang tiba-tiba pecah.
Dari seberang gedung tempat dia berada ada seorang prajurit perempuan dengan senapan runduknya.
Itu adalah penembak jitu kompi 32. Dia sudah menggunakan peluru khusus meski belum sempurna.
Komandan kompi 32 tersenyum dan berbalik menyerang 2 prajurit dunia lain yang masih berdiri dengan wajah terkejut yang tertutup topeng besi.
“Sialan kau…!” teriak kedua prajurit dunia lain itu.
“Berisik tahu…!” komandan kompi 32 juga ikut berteriak kemudian menebaskan pedangnya ke tangan salah satu prajurit dunia lain.
Pedang miliknya belum cukup tajam untuk membelah pelindung tangan prajurit dunia lain. Namun efek yang ditimbulkan juga tak kalah parah. Tangan prajurit dunia lain mengeluarkan darah yang tidak sedikit.
Sebagai serangan terakhir, si penembak jitu menembakkan satu peluru yang mengenai kepala prajurit dunia lain yang terluka. Sekarang hanya tinggal satu orang.
Namun sebelum komandan kompi 32 satu langkah mendekat kearahnya, dia sudah lebih dulu membuang pedangnya dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
Komandan kompi 32 memberi tanda menggunakan jari tangannya yang seperti bahasa isyarat pada si penembak jitu untuk melakukan pengawasan jika sewaktu waktu prajurit dunia lain itu hanya melakukan tipuan.
“Sekarang hanya tinggal kau,” kata komandan kompi 32 dengan tatapan mengintimidasi.
Tentu saja komandan kompi pasukan dunia lain ini ketakutan sambil berkata, “Menjauh. Menjauh kau !”
Meski dengan wajah yang tertutup topeng besi, terlihat ekspesi ketakutan yang mendalam dari komandan kompi pasukan dunia lain itu.
“Menyerahlah, dan kau akan tetap hidup,” kata Komandan kompi 32 sambil memberi isyarat tangan diangkat karena tidak tahu bahasa dunia lain dari ‘menyerah’.
Sambil mengangkat kedua tangannya komandan kompi dunia lain berkata, “Iya, a-aku menyerah.”
Komandan kompi 32 memerintahkannya untuk berbalik dan menghadap bawah gedung tempat kedua pasukan saling serang.
“A-apa?” kata salah satu prajurit dunia lain yang melihat komandannya sudah mengangkat kedua tangan.
“Kita kalah?” sambung prajurit dunia lain yang lainnya.
Pasukan kompi 32 bersorak atas keberhasilan komandan mereka yang membuat komandan musuh menyerah.
Si penembak jitu kemudian turun dari gedung tempat ia berada untuk melindungi komandannya.
Semua pasukan kompi 32 memerintahkan pasukan dunia lain ini untuk melepaskan baju besi dan senjata milik mereka dan mengumpulkannya di satu tempat.
Dari suaranya saja baju besi milik pasukan dunia lain itu sangat berat dan tebal, tapi siapa yang tahu.
Semua pasukan kompi 32 selanjutnya memerintahkan semua prajurit dunia lain itu untuk meletakkan tangan dibelakang tangan dan mengikatnya dengan erat kedua tangan dan kaki.
Si penembak jitu menghampiri komandannya yang sedang memantau dan berkata, “Selamat komandan Surya.”
“Ah, tidak-tidak. Kau juga membantuku Tania,” ucap Surya dengan malu-malu.
Meski dia memiliki badan yang kekar, sifat Surya kadan bisa lembut seperti perempuan juga.
Sedangkan Tania memiliki wajah dingin dan jarang tersenyum.
“Baiklah, selanjutnya kita menuju kota bawah tanah Karanganyar!” ucap Surya dengan tegas.
Semua anggotanya yang masih lengkap dengan keadaan yang beragam membalas dengan tegas juga, “Baik!”
Mereka semua menggiring prajurit dunia lain yang menyerah menuju kota bawah tanah Karanganyar.
Sebagian lagi menaiki kendaraan lapis baja yang hanya melukai 4 prajurit dunia lain di pertempuran tadi.
Didalam hati Surya berkata, “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, adikku.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 277 Episodes
Comments
Patrick Vngst
typo kan,
*Nio
2023-09-23
0
Patrick Vngst
kesannya kek Mio kepergok selingkuh njir😭
2023-09-23
0
Rey Joentak
mantap ni tor... tor orang solo nih kayaknya
2022-04-17
1