Delapan bulan usia Kin sekarang dengan kesibukan Bianca yang begitu bersemangat membuatkan menu untuk baby Kin yang semakin lahap makan dengan kenaikan berat badan yang stabil. Bayi itu sudah merangkak dan sekarang dia mulai berdiri, merambat. Agak lebih cepat pada bayi umumnya.
Seringkali saat jam makan, bayi itu duduk di kursi makannya yang aman dan melahap beberapa potong sayur dan buah sendiri. Begitu mudahnya anak itu memasukkan sayur dan buah kukus ke dalam mulutnya.
Bianca membiarkan bayi itu melahap makannya sendiri untuk melatih motoriknya.
"Eh, habis ... pintarnya anak Mommy ...." puji Bianca saat makanan di depan Kin habis.
Ponsel Bianca berbunyi. Dia mengangkat video call dari Susan dan mendekatkan pada baby Kin.
"Halo, Aunty Susan!" sambut Bianca.
"Halo, Kin .... Wah, lagi makan, ya?" tanya Susan.
"Iya, Aunty ...."
"Mam ... mam ...." ujar baby Kin.
"Mam apa, Kin?" tanya Susan lagi.
"Brokoli sama kentang kukus, Aunty ...." jawab Bianca mewakili baby Kin.
"Gimana kabar Aunty?" tanya Bianca.
"Baik, di sini baru musim dingin, salju dimana-mana."
"Uuuuh pasti dingin sekali ya, Aunty. Kin pengen mainan bola salju ...."
"Dingin, Kin ...."
Bayi itu ingin meraih ponsel, "ga ... ga ...."
"No, Sayang ...."
Susan tertawa melihat keduanya. Mommy dan anak yang saling berebut ponsel.
"Ya sudah, Kak Bianca. Aku ada kuliah setengah jam lagi. Sampaikan salamku untuk semua ya ...."
"Ya, Tante Susan!" Bianca masih menjauhkan ponselnya dari gapaian tangan Kin.
Susan tergelak.
"Daaaagh, Kin Sayang!"
Gambar Susan melambaikan tangan di layar ponsel makin membuat Kin penasaran ingin mendekat.
"Daaagh, Aunty!"
Seperti dugaan, Kin menangis kencang karena ponsel tak bisa diraihnya. Tambah lagi gambar tantenya telah menghilang.
"Eh, udah, jangan nangis. Yuk Mommy ajak lihat marmut di belakang!"
Mendengar kata marmut, Kin mulai berhenti terisak.
Bianca tersenyum dan menggendong Kin yang telah selesai makan, lalu membawanya ke kebun belakang.
"Mu ... Mu ...."
"Iya, marmut ...." ujar Bianca menjawab ucapan Kin.
Bayi itu merosot turun ke rumput-rumput saat sampai di halaman belakang. Saat keempat marmut itu dilepas, dia mulai merangkak ceria mencoba mengejar marmut, melupakan peristiwa perebutan ponsel. Bayi memang mudah melupakan sesuatu.
*
Petang itu, Key yang telah pulang dan membersihkan diri, melepas rindu pada Kin dengan menggendong bayi itu.
"Sayang, aku ke kamar mandi dulu. Kamu jaga baby Kin, ya?" pinta Bianca.
"Tenang saja Sayang, nikmati waktumu di kamar mandi."
Dengan mantap Key mengatakan akan menjaga bayi imut itu. Bianca tersenyum senang. Dia bersyukur memiliki suami yang mau menjaga anaknya, walaupun suaminya sibuk bekerja pagi hingga petang.
Bianca masuk ke kamar mandi. Mungkin berendam akan menghilangkan penatnya di rumah.
Wanita itu menuang bubble bath aromateraphy ke dalam bath tub-nya yang berisi air hangat, lalu ia masuk dan menikmati waktu. Berdendang sebuah lagu romantis. Hingga hampir terlelap.
Setengah jam kemudian, Bianca tersentak menyadari betapa lama dia berendam. Wanita itu pun segera beranjak dari benda cekung yang panjangnya sama dengan rata-rata panjang tubuh manusia dewasa itu lalu memakai handuk kimono ungunya. Bianca tak mendengar apapun di kamar. Sepertinya semua berjalan lancar dan tenang.
Ya, begitu tenang hingga Bianca membuka pintu kamar mandi dan terbelalak melihat suaminya telah meringkuk di dalam tudung kelambu bayi, dan si bayi tidur menungging di sebelah kelambu.
"Oalah ... beginilah kalau pria suruh menjaga anaknya!"
Dia mendekati si bayi dan membenahi posisi tidurnya. Betapa kagetnya melihat bayi itu telah digambari. Alisnya ditebalkan dengan posisi alis marah, serta kumis tebal yang menghias antara hidung dan mulutnya.
"Dasarr Key Bajraa!!!" geram wanita itu kesal.
Baru berapa menit, ternyata pria itu sudah aneh-aneh dengan si bayi.
Pria itu mengusap mata dengan kedua tangan saat menyadari istrinya telah selesai berendam. Wangi lavender menyeruak dari tubuhnya.
"Hey, pria. Kenapa anak ini kamu gambar-gambari seperti ini?? Ya Tuhan ...."
Bianca mengomel, untunglah pensil alis hitam itu mudah dibersihkan. Wanita itu menggeleng, kenapa pria ini menjadi sungguh iseng kelakuannya.
"Habisnya dia lucu," jawab Key terkekeh senang.
Memang benar ya, kadang beda pola asuh seorang ibu dengan seorang ayah. Ibu penuh kehati-hatian sementara ayah kadang bisa pengawuran.
Bianca melipat kelambu itu, karena alat pengusir nyamuk berfungsi dengan baik di kamar. Kelambu lipat yang dibelinya tidak pernah dipakai sama sekali. Baru kali ini dipakai main-main oleh suaminya.
Kemudian, Bianca meletakkan bayi itu di tengah tempat tidur. Setelah selesai, dia berjalan ke arah lemari untuk berganti dengan piyama.
Tiba-tiba pria yang sedari tadi memperhatikan, sudah berada di belakangnya memeluk dengan erat.
"Sayang, maukah kamu menjepitku malam ini?" bisiknya di telinga Bianca. Membuat gadis itu kegelian.
Dengan cepat Key membuka handuk kimono sebelum Bianca menjawab pertanyaanya. Dia tak memberi kesempatan wanita itu untuk berkelit.
Key membalikkan tubuh Bianca menghadap padanya, menempelkan tubuh sang istri ke tubuhnya, lalu melumatt bibir wanita itu. Bianca tak dapat menolak, dia membalas ciuman Key. Mereka terbuai dalam ciuman yang semakin dalam.
Hingga terasa si tongkat ajaib telah berdiri ingin menunjukkan keajaibannya. Bianca melepas semua yang menempel di tubuh suaminya hingga tak ada sehelai pun benang yang menempel. Mereka berbaring di sebelah anaknya yang tertidur pulas. Tempat tidur itu cukup luas untuk mereka.
"Sayang ...."
Desahan Bianca membuat Key makin gencar menghisap beberapa bagian tubuh wanita itu, hingga bercak merah tercetak di kulit Bianca yang mulus. Gejolak itu telah sampai di ubun-ubun. Key membuka sisa pakaian dalam yang menutupi dua area rawan seorang wanita.
Terlihatlah sekarang dua chocochips di ujung dua wadah kenyal yang makin membesar karena telah memproduksi beberapa mililiter susu setiap harinya. Sedangkan di bawah, sebuah roti manis yang berdenyut, siap untuk diberi topping sosis dan mayonaise.
Dua wadah kenyal dihisap pelan oleh Key, membuat pemiliknya bergerak kaget. Beda sekali saat si kecil mungil yang menghisap. Kali ini bayi tua itu menarik chocochips dengan begitu kuat. Dia menghisap sedikit susu, menyadari susu itu milik anaknya lalu melanjutkan hisapan ke bawah. Kembali mencetak bercak-bercak di kulit wanita yang sedang mendesah itu.
Mereka berdua terlibat permainan yang menyenangkan, ketika gigitan itu telah memenuhi hampir seluruh tubuh, si pria sudah akan mengakhiri permainan dengan memasukkan sosis kaku bekunya ke dalam.
Sosis itu bersiap menumpang ke roti manis, dan sedang menempatkan posisinya di lubang roti yang pas untuk sosis bekunya. Keduanya tersenyum mesra, berciuman dan merasakan sesuatu di bawah. Hampir saja masuk hingga ....
"Oek!! Oek!! Oek!!" Tangis pecah bayi yang kehausan itu memecah konsentrasi.
"Aaaarggh!!"
Denyutan seketika berhenti. Keduanya langsung lemas tanpa berhasil melepas apa yang mereka inginkan malam itu.
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Ananda Yuyun
sosisnya kena prank 😂😂😂 ntar mlm ronde ke 2 di lanjut daddy 😆😆
2022-01-15
0
iyut_PAntes
aku sylalu suka sama bahasanya author yg ini
2021-10-11
0
Munce Munce
nanggung bikin pusing 🤣🤣🤣
2021-10-10
0