Suasana di dalam ruang kerja mendadak suram. Kimmy merasakan sesuatu yang menjengkelkan terjadi di sana. Dia hanya berpura-pura menatap ke layar komputer dan hanya sesekali melirik ke arah bos nonanya yang masih mengintip-intip ke jendela dan berdecak kesal.
Kimmy pun sangat ingin tahu apa yang bisa dilihat dari jendela itu, apakah gadis mandi lagi atau apa? Sepertinya sesuatu yang menyebalkan untuk seorang wanita.
Setelah menutup tirai, akhirnya bos nonanya beranjak juga dari tempat itu karena merasakan kencangnya payudara yang harus dikeluarkan isinya untuk si bayi. Dia keluar dari ruangan itu tanpa berbicara apapun pada Kimmy dan segera memompa asinya di kamar.
Kimmy berjingkat mendekati jendela baru yang dipindah ke sudut. Dia menyibakkan tirai agar jelas melihat di sana. Tiap sudut ditelitinya dengan bola mata. Akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuat dia menutup mulutnya yang menganga.
"Habislah Pak Bos Tuan ...."
Gadis itu menggelengkan kepala lalu kembali duduk dan merapikan semua file bos nonanya di atas meja. Dia lalu keluar dari ruangan dan menyiapkan mobil untuk berangkat ke hotel.
"Bos Nona, saya mau pergi ke hotel dulu. Ini saja kah yang akan dikirimkan?" ujar Kimmy menunjukkan file itu.
"Iya, hanya itu, Kimmy. Hati-hati, ya? Nanti jangan lama-lama di sana, cepatlah pulang. Aku butuh bantuanmu memeriksa laporan di rumah."
"Baik, Bos Nona."
Kimmy bergegas mengambil kunci mobil lalu berjalan ke depan dimana mobil telah siap di halaman. Gadis itu menyalakan mobil, lalu menghidupkan tape mobil dan menyetel lagu barat kesukaannya.
"Wen ampoling lop ...."
Gadis itu bersenandung kecil mengikuti alunan lagu, kemudian melaju melewati gerbang yang sudah dibuka oleh satpam. Sebentar dia menjalankan mobilnya pelan lalu membunyikan klakson pada satpam kemudian keluar dari gerbang.
*
Bianca menimang anak kesayangannya, memandikan bayi itu dengan air hangat yang telah disiapkan oleh pelayan.
"Halo, Sayang ... mandi, ya?" sambutnya pada baby Kin.
"Oh ... kamu pup, Sayang?" Bianca melihat ke popoknya, bayi usia seminggu itu masih berkali-kali pup, dan itu wajar. Baby Kin bisa pup empat sampai enam kali sehari.
Dia membersihkan pantat bayinya dengan hati-hati. Baby Kin sangat nyaman berada di tangan ibunya.
"Habis ini mandi, lalu bobok, ya? Biar tidak rewel, lalu minum susu lagi. Kamu suka kan minum asi?"
Bayi itu seolah tahu dengan ucapan ibunya, mengerjapkan matanya dan menguap lebar, tapi tetap memandang ke wajah sang ibu. Pandangan bayi itu masih kabur, dia hanya mampu menangkap bayangan ibunya.
Bianca menciumi wajah anaknya sebelum melepas seluruh pakaian si bayi. Usai si bayi telanjang, wanita itu mengangkatnya dengan tangan di tengkuk dan di punggungnya. Rasa perih di jahitan tak lagi ia rasakan, apalagi melihat anak itu tumbuh sehat. Seorang ibu akan rela melakukan apapun demi keselamatan dan kesehatan sang bayi. Bianca mengingat saat dia mengerahkan tenaga dan menahan sakitnya sewaktu melahirkan.
Dia tersenyum mendekap sang bayi lalu membawanya ke kamar mandi yang telah dialasi dengan keset karet agar Bianca tak terpeleset saat memandikan baby Kin.
Air yang hangat dia cipratkan dulu ke kaki bayi kemudian mengusap wajah bayi itu, lalu seluruh tubuhnya diguyur air hangat. Sedikit sabun diusapkan ke tubuh Kin kemudian dibilas.
"Bangun tidur, kuterus mandi ... tidak lupa menggosok gigi ...."
Bianca berdendang seraya memandikan Kin. Dia telah pandai membalikkan tubuh bayinya juga agar punggung bayi dapat diusap dengan sabun.
Memandikan baby Kin hanya sebentar. Dia mendekapnya dengan handuk agar hangat, lalu membawanya ke dalam kamar untuk dipakaikan baju. Tangis keras saat mengangkatnya dari air malah membuat Bianca semakin gemas.
"Ah ... nanti masuk angin kalau kamu lama-lama di air, Sayang!"
Wanita itu kembali menciumi anaknya lalu meletakkan di atas handuk tebal yang telah disiapkan di atas tempat tidur.
Baby Kin telah wangi, bau semerbak minyak khas bayi memenuhi ruangan.
Bianca menyusui bayi yang mulai merengek itu, dia cepat menghisap asi-nya lalu tertidur pulas setelah asi di sisi kanan terasa kosong lagi.
Bianca menggendong baby Kin saat tidur lalu membawanya ke bawah di taman belakang. Dia tahu, para pelayan terkadang ingin sekali menyentuh dan mencium bayi itu, tapi seolah terbatasi.
"Hai Kakak pelayan, aku lagi bobok!" sapa Bianca mewakili baby Kin pada para pelayan yang sedang bekerja.
Mereka segera melepas semua yang dipegang. Sapu, serbet, gayung, sendok, pengki dan sebagainya, hanya untuk mengerumuni bayi merah itu.
"Aih, lucunya ...." seru mereka.
Mereka hanya berani melihat baby Kin dari jarak satu meter dan tak berani menciumnya. Hanya begitu saja mereka sudah sangat senang.
"Lihat, hidungnya seperti Tuan Key!"
"Wajahnya mirip ... Nona Bianca!"
"Kadang mirip Tuan Key kalau dari samping!"
Begitu hebohnya mereka hingga tak menyadari kehadiran Tuan Key dari depan. Pria itu pulang awal karena merindukan anaknya.
Tak disangka Bianca malah membawa anaknya berjalan keluar tanpa memperhatikan suaminya.
"Hey, Sayang! I'm here, aku di sini!" ujarnya menunjuk dirinya sendiri.
Namun, Bianca tetap berjalan lurus. Ngambeg.
"Kenapa dia??" tanya Key pada pelayan yang ternyata telah bubar mengambil kembali apa yang mereka tinggalkan tadi.
"K-kami tidak tahu, Tuan!"
"Huh! Apa dia tidak curhat pada kalian??"
Mereka saling berpandangan, dan nyatanya tak satupun yang mengerti masalahnya. Kenapa Nona mereka ngambeg.
Pria itu mendengus kasar, kemudian berbalik dan tak memperpanjang masalah.
Key memilih untuk menunggu di kamar. Dia mengganti bajunya dengan baju rumah agar nyaman menggendong baby Kin nantinya.
Tak lama, terdengar tangis bayi. Sepertinya mewakili perasaan kesal ibu yang menggendongnya ke dalam. Wanita itu segera menenangkan bayinya, kemudian meletakkannya di box. Lalu menemui sang suami.
"Sayang, kenapa sih?" tanya Key.
"Sini!" ujar Bianca meminta Key untuk mengikutinya ke ruang kerja. Di sana Felix hanya terpaku melihat kedua tuan dan nonanya seperti sedang tak baik.
"Lihat!"
Bianca menjewer telinga Key.
Pria itu meneliti setiap sudut yang bisa terlihat dari jendela. Dia terbelalak saat melihat pemandangan di balkon yang agak jauh ada beberapa perempuan bersantai habis bersenam di balkon, sebagian memamerkan perut dan dadanya yang berkeringat, tak perduli meskipun banyak mata memandang, acara rebahan itu tetap berjalan, membelakangi jendela, tapi tetap terlihat garis pembelah pepaya gantungnya. Sebagai kejutan lagi di bawah, sebuah kamar mandi tanpa atap, yang entah sadar atau tidak si pemiliknya, meski agak jauh terlihat jelas dari atas ketika para wanita kost mandi, dari jendela baru yang biasanya tak ada.
"S-sayang, aku tidak tahu kalau ada kamar mandi di bawah sana! Lalu itu yang mandi siapa!"
"Mau aku tanyakan siapa dia?"
"Eits, tidak, tentu tidak Sayang .... Aku bisa ...."
"Bisa tanya sendiri?"
"Bukan begitu ...."
Jadi, kamu suka mengintip wanita kost?? Tadi aku tanya ke sebelah, ternyata itu kost-kostan wanita!" ujar Bianca.
"B-bukan, maksudku ...."
"Hana!! Ambilkan pisau! Tiba-tiba aku ingin makan sosis!" teriak Bianca.
"I-iya, iya, Sayang. J-jangan makan sosis. Aku akan panggilkan tukang untuk memindahkan lagi jendela itu." Dia melirik pada Felix dan mendekat.
"Tuan ...."
"Pokoknya buat jendela yang tak ada orang mandinya, Felix! Kamu tidak mau kan melihatku sunat lagi?" desis Key dengan kepala miring mendekati wajah Felix.
Felix menghela napas, Dimana lagi posisi jendela baru, kenapa jendela itu selalu bermasalah dengan orang mandi??
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Arnie Srie
😂😂😂
2022-04-18
0
Sri Astuti
o la la
2021-12-21
0
Sri Astuti
o la la
2021-12-21
0