Felix tetap akan mengambil foto si surkiti agar tuannya puas dengan perintah yang dijalankan. Dia merogoh ponselnya lalu memencet kamera.
"Sebentar, mau aku ambil gambarmu!" ujar Felix.
"Tuan, kenapa saya harus difoto segala?" tanya Prapto ketakutan.
"Mau aku berikan pada Kimmy!" ujar Felix asal. Dia sudah kepalang kesal pada lidah gadis yang telah membuatnya kesusahan. Ingin sekali mengubahnya menjadi bistik lidah. Setidaknya lebih bermanfaat dan mengenyangkan.
Mendengar nama Kimmy, satpam itu berbinar. Dia segera menyuruh Felix untuk menunggu dan membasahi rambutnya dengan air dispenser. Meski keliru menarik kait merah, dia tetap bersemangat merapikan rambutnya dengan jari tangan yang melepuh.
Felix terpaku melihat pria itu kelabakan menyiapkan segala sesuatu hanya untuk diambil fotonya. Padahal, Felix hanya akan mengambil dua bagian saja yaitu wajah dan tulisan di dada yang menunjukkan apa sebenarnya 'surkiti' itu kepada tuannya.
Selama setengah jam, Felix memasang kamera hingga posisi stand by, pria itu belum juga siap. Setelah siap dia berpose sekeren-kerennya seperti seorang binaragawan.
Felix mengerutkan dahi melihat kelakuan orang itu. Dia telah mendapatkan dua foto, wajah dan tulisan security yang di-zoom pula. Dia mengubah layar menjadi mode selfie dan membiarkan pria itu berpose najis gila bak Ade Ray hingga Cleopatra.
Lebih baik aku berfoto sendiri daripada memenuhi memory card-ku dengan foto orang gila ini.
Felix membiarkan pria itu bergaya sepuasnya. Dia pun memegang ponsel seolah sedang memotretnya.
"Sudah Tuan? Masih kurang banyak?" tanya Prapto masih sangat bersemangat.
"Sudah! Dari tadi!" jawab Felix.
Prapto mengernyitkan dahi.
Sementara sang manager duduk, melirik mereka sembari menahan tawa.
*
Suasana rumah mewah masih seperti hutan es saat perang dingin masih berlangsung. Semua orang di dalam rumah itu jadi ikut merasakan dinginnya. Tak ada kemesraan yang biasanya tuan dan nona mereka pamerkan di ruang tamu maupun di mana saja.
Bianca sedang menimang bayinya ketika seorang pelayan mengetuk pintu untuk mempersilakannya makan, karena makan siang telah disiapkan di ruang makan.
"Nona Bianca, makan siang telah siap. Silakan untuk menyantapnya. Air perasan daun pepaya yang disarankan untuk memperlancar asi juga sudah tersedia."
Bianca sedikit bergidik membayangkan pahitnya perasan daun itu.
"Emm ... terima kasih, Kakak Pelayan. Tolong bilang pada Tuan Muda agar segera makan siang di ruang makan."
"Baik, Nona."
Pelayan itu membungkuk dan mencari tuannya.
Key duduk dan berlatih menggunakan dumbell saat berada di ruang gym. Besi seberat enam kilogram itu diangkatnya dengan satu tangan, kemudian diayunkan pelan-pelan ke atas dan ke bawah.
"Tunggu Bianca, aku pasti lebih keren dan tampan pria yang kamu tanyakan ketampanannya itu. Pasti nanti kamu pun tak akan meragukan lagi ketampananku!"
Dia melirik ke arah kaca dan mematut dirinya dengan besi yang dipegang dengan satu tangan.
"Apa aku sudah kegemukan? Apa aku tak lagi keren, ya?"
Berkali-kali dia berceloteh sendiri di ruangan itu sembari menatap ke cermin.
"Tuan ...."
Key memutar kepalanya mengarah ke pintu, dimana seorang pelayan ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa?"
"Nona meminta anda untuk turun dan makan siang di ruang makan karena hidangan telah siap," ujarnya membungkuk.
Wajahnya tiba-tiba agak sumringah mendengar kata-kata si pelayan.
Dia perhatian lagi padaku! Dia ingin aku makan siang bersamanya.
Pria itu beranjak dari tempatnya duduk dan melewati si pelayan begitu saja, menuju ke ruang makan dengan sedikit berlari di tangga. Terlupa akan pria 'saingan'nya.
Saat tiba di ruang makan, bola matanya mengitari ruangan. Kosong.
"Hey pelayan! Dimana istriku?" tanya pria itu pada pelayan tadi yang memanggilnya.
"M-masih di kamar baby Kin, Tuan!" jawab si pelayan.
"Panggilkan dia!"
"B-baik, Tuan Key."
"Bagaimana bisa menyuruh makan siang tapi dianya sendiri tak berada di sini," gerutunya.
Pelayan bergegas berlari ke atas mencari nonanya. Dia kembali mengetuk pintu kamar baby Kin.
"Iya."
Terdengar suara dari dalam kamar. Sebentar kemudian, pintu terbuka dan wajah menyembul dari celahnya.
"Ada apa Kak Pelayan?" tanya Bianca.
"Maaf, Nona. Tuan Muda meminta Nona untuk turun dan makan siang di ruang makan," tuturnya membungkuk.
Bianca menghela napas, tapi kemudian mengatakan terima kasih dan akan turun sebentar lagi.
Dia masuk lalu mengunci box bayi dan membenahi kelambunya, kemudian keluar dari kamar. Wanita itu menuruni anak tangga dengan malasnya.
Sesampainya di ruang makan, dia mendapati suaminya sedang berada di sana, duduk dengan piring yang masih kosong di depannya. Wanita itu duduk di depan suaminya, terdiam.
"Mau sampai kapan seperti ini terus?" tanya Key.
"Aku kesal padamu," jawab Bianca.
"Soal jendela? Aku tidak tahu soal para wanita yang menggelar dada dan perutnya yang meluber-luber itu. Apalagi kamar mandi yang tak beratap, mana kutahu??" belanya sendiri.
Bianca masih mengerucutkan bibirnya.
Ugh, ingin kugigit bibir monyongmu itu!
Key menatapnya gemas. Wanita itu masih melengos melempar pandangannya ke sembarang arah.
Oh ya, dia wanita. Pasal satu, wanita itu selalu benar. Pasal dua, jika wanita salah, kembali ke pasal satu.
Pria itu memutar bola matanya. Berpikir untuk mengalah. Toh, mengalah bukan berarti kalah, kan? Meski teringat lagi soal level ketampanan si surkiti. Ah, surkiti lagi.
"Aku minta maaf, Sayang. Bukankah telah ada tukang yang membuat angin-angin pengganti jendela dan mereka sedang mengerjakannya?" ucap Key.
Bianca menghela napas. Ingin rasanya tersenyum, tapi dia hanya menatap ke arah suaminya. Di saat yang sama, Felix datang.
"Eh, aku akan mengajak Felix makan siang bersama."
Wanita itu beranjak dan melangkah cepat ke pintu, memanggil Felix.
"Felix!"
Pria itu menengok ke arah suara.
"Ayo, sini makan siang dulu, apa yang dihidangkan Hana terlalu banyak untuk kami makan berdua, Papa juga belum pulang ...."
Felix mengangguk, lalu berjalan mendekat. Kebetulan sekali perutnya juga sedikit lapar.
" ... Eh, Kakak Pelayan, tolong panggilkan Kimmy di ruang baca, suruh dia makan siang bersama kami!" ujarnya pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Baik, Nona."
Key melototi Felix, mengkode untuk bertanya bagaimana hasil kunjungannya ke hotel. Apa dia bisa mendapat gambar si Surkiti itu.
Felix segera mengeluarkan ponselnya. Dia membuka galeri dan menunjukkan foto close-up si Prapto dan gambar tulisan di dada. Namun, sebelum Key melihat itu, Bianca sudah ingin tahu apa yang mereka lihat.
"Kalian melihat apa?" tanyanya.
Key merebut ponsel Felix lalu menunjukkan foto itu pada Bianca.
"Ini yang namanya Surkiti, kan? Dari mananya tampan hingga kamu menanyakan ketampanannya pada Kimmy?"
"Tuan, itu satpam ...."
Bisikan Felix tak terdengar oleh Key.
Bianca menyipitkan matanya memperhatikan wajah di ponsel Felix.
"Lho, ini kan Prapto? Kamu tidak ingat Prapto? Dia satpam hotel, soal Surkiti, si Kimmy kan tidak bisa mengucapkan security!" jelas Bianca menatap ke wajah suaminya.
Bianca tertawa terbahak-bahak mengetahui kesalahpahaman itu.
Key mengerutkan dahi, dia menatap ke Felix yang langsung menatap ke langit-langit. Lepas tangan.
"Kenapa kamu tidak bilang?" desis Key pada Felix.
Felix kembali tertunduk.
Oh iya, dia adalah tuan muda. Pasal satu,Tuan muda selalu benar. Pasal dua, jika tuan muda salah, maka kembali lagi ke pasal satu.
Kimmy masuk ke ruang makan. Mereka berdua memandangnya kecut. Sementara Bianca tambah terbahak setelah melihat gadis itu datang.
Key berdiri dan menarik tangan Bianca, mengajaknya keluar rumah. Rasa ingin makannya tiba-tiba menghilang.
"Mau kemana?" tanya Bianca berhenti tertawa.
"Jalan-jalan!" ujar Key mengajaknya masuk ke mobil.
"Kimmy, jaga baby Kin, ya!" teriak Bianca dari luar ruang makan.
"Baik, Bos Nona!"
Masih dengan raut wajah kebingungan, Kimmy menanyakan perihal tuan dan nonanya pada Felix yang baru saja mengambil sebuah paha ayam goreng.
"Pak Bos Tuan dan Bos Nona kenapa, ya?"
Felix mengunyah ayam goreng, meletakkan sisanya, lalu mengambil tissue. Melemparkan tissue bekas itu ke tong sampah. Baru kemudian mengeluarkan ponselnya, mengirim gambar Prapto pada gadis itu tanpa menjelaskan sedikit pun.
Kimmy membuka gambar yang dikirim. Dia mengernyitkan dahi.
"Lanjutkan saja makan siangmu dengan si surkiti!" ujar Felix berdiri lalu mengeloyor keluar dari ruang makan.
Gadis itu mengangkat bahu, memiringkam bibirnya, makin tak mengerti.
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Ketemuan di pengadilan ya kalo ngelanggar!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Mom Dee🥰🥰
🤣🤣🤣🤣
2022-08-21
0
Ananda Yuyun
surkiti alias prapto bikin ngakak bak ade ray 😂😂😂
2022-01-15
0
Sri Astuti
🤣🤣🤣🤣
2021-12-21
0