Jamur

Di ruang lain, Kimmy sedang mengerutkan dahinya. Antara bingung dan resah. Baru saja dia menerima pesan dari sang ibu, bahwa uang bulanan yang dia kirimkan tiap bulan pun masih kurang. Jika hanya untuk membiayai ketiga adiknya, sekiranya lebih dari cukup untuk biaya sekolah di desa. Padahal gajinya di rumah mewah ini tiga kali lipat upah minimum regional kota besar, dan dia bahkan mengirimkan uang tiga perempat dari gajinya.

"Aneh, padahal bulan-bulan kemarin biasa saja sih, kenapa sekarang bisa kurang?" gumamnya.

Kimmy menghentikan pekerjaannya, dan mengetik sesuatu, menanyakan untuk apa uang itu. Namun, mamanya tak memberi jawaban dengan cepat. Berkali-kali dia menelepon, tapi tak juga diangkat oleh wanita itu. Kimmy menjadi cemas dengan berbagai praduga dalam benaknya.

Dia mematikan komputer, lalu mengendorkan otot-ototnya yang tegang. Benar bekerja tak boleh memegang ponsel, kalau kamu ingin pekerjaanmu cepat selesai, kecuali memang, pekerjaan yang berhubungan dengan benda pipih itu.

Kimmy memilih untuk berjalan-jalan di luaran kompleks. Bianca telah mempercayai Kimmy, bahwa gadis itu tak akan melepas tanggung jawab. Jika dia keluar pasti hanya untuk menyegarkan otaknya saja. Jadi terkadang Kimmy keluar tanpa ijin Bianca.

*

"Mama, rendang jengkol sudah diangetin sama kakak pelayan, yuk kita makan!" ajak Bianca.

"Eh, yuk. Kebetulan Mama pusing denger harga-harga tasmu."

"Pusing denger harga apa lapar?"

"Eh iya, dua-duanya."

"Ugh, Mama .... Eh, Ma, ngomong-ngomong, ini daster yang kupakai seharga lima juta aja, lagi diskon pas itu, trus ada sabuk yang lagi diskon, murah Ma, sejuta lima ratus doang. Ya aku beli deh enam biji!" cerocosnya hingga sampai di ruang makan.

"Bi, udah deh, kamu bisa diem nggak? Mama cocol sambel mulut diskonmu itu!"

Bianca terbahak melihat mamanya yang pasti meratapi uang yang disebutnya itu. Mereka menikmati makan siang bersama berdua dengan penuh kebahagiaan.

*

"Mama sering-sering ke sini, ya? Kalau bisa pindah ke sini," rengek Bianca saat wanita itu berpamitan pulang.

"Ngomong seenak jidat, pindah kan butuh banyak urusan. Lagian Mama bisa insomnia tidur di rumah ini, kalkulator Mama jebol ngitungin pengeluaran di sini. Ah, sayang amat!"

"Lah, buat apa Ma uang Key yang bejibun itu, daripada dihabisin rayap kan mending kutukar sama pernak-pernik."

Bu Sinta menghela napas.

"Iya sih, tapi kan ya .... Ah gimana sih Mama ngomongin kamunya, Bi ... tapi syukur kamu bisa seperti ini, garis takdirmu bagus sekali. Banyak yang iri padamu."

"Iya sih ...." ujar Bianca menerawang mengingat semua hal yang telah dia miliki selama setahun lebih itu. Namun, mamanya tak mengetahui apa yang dia alami sebelum memiliki hati Key. Hanya dianggap pembantu. Namun syukurlah semua itu telah berlalu.

"Kok malah ngelamun? Sudah ya, Bi. Jaga kesehatanmu dan Kin. Jangan stres, agar asi-mu tetap lancar," pesan wanita paruh baya itu.

"Eh, iya Ma. Ini uang buat Mama."

Bianca membuka tas mamanya lalu memasukkan segepok uang merah ke dalamnya.

"Aih, banyak sekali!"

"Buat beli tas atau baju, Ma."

Bu Sinta sangat terharu dengan anaknya. Meski dia pun tak akan membeli semua itu, tapi diterimanya uang yang diberikan oleh Bianca.

"Makasih ya, Bi."

"Iya, Ma. Hati-hati ya, Ma?"

Sopir pribadi membukakan pintu mobil, mempersilakan wanita itu untuk masuk dan menutupkannya.

Bianca menatap kepergian mobil itu. Kerinduan akan mamanya terbayar sudah meski versi anggota keluarga belum lengkap.

"Dari mana kamu, Kimmy?" tanya Bianca melihat Kimmy datang masuk ke gerbang saat akan berbalik masuk rumah.

"Jalan-jalan ke taman, Bos Nona," jawabnya.

"Oh, ya sudah. Yuk, masuk!" ajak Bianca.

Wajah Kimmy yang periang terkadang tak menyiratkan kegundahannya.

Seorang pelayan telah datang membawa satu plastik pesanan Bianca. Dia menyerahkannya pada nonanya.

"Nona, ini pesanan anda. Beberapa keping pilis dan gelang dlingo bangle."

Dia mengulurkan plastik itu ke tangan Bianca dengan sopan.

"Makasih," ucap Bianca saat menerimanya.

Pelayan membungkuk dan berlalu dari hadapan Bianca. Wanita itu kemudian memanggil Kimmy.

"Kimmy, tolong pakaikan gelang ini di tangan Kin. Lalu, kalau yang kepingan ini, beri sedikit air hangat jangan kelembekan, tempelkan di ubun-ubunnya."

"Saya mengerti, Bos Nona!"

Kimmy yang notabene adalah gadis desa, sedikit banyak tahu tentang hal itu.

Dia segera melakukan perintah bos nonanya.

*

Malam itu, Key pulang bersama Pak Anton dan Felix. Mereka melangkah dengan cepat ke dalam rumah.

Felix terbiasa pulang jika rumah telah beres. Dia menunggu sesaat sebelum pulang. Jam menunjukkan pukul sembilan. Namun sepertinya Bianca telah terlelap. Tak seperti biasanya, malam itu begitu dingin dan membuatnya cepat terlelap di samping baby Kin.

Key mengendap masuk ke kamar. Dia mencium bau aneh di dalam kamar. Asing sekali.

"Ah, mereka tertidur dengan manisnya. Pasti dia kelelahan menjaga bayiku. Mmm ... bau apa ini? Aneh sekali??" gumamnya sembari mencium-cium bau di dalam kamarnya sendiri.

Biasanya bau lemon atau apel yang terasa, sekarang entahlah, dia tak bersahabat dengan bau ini.

Dia mendekat ke bayinya pelan-pelan. Bau itu semakin tercium dan Key terperanjat melihat apa yang ada di ubun-ubun bayinya.

Key berlari cepat keluar. Lelah tak dirasakan lagi ketika cemas melihat bayinya. Dia memanggil Felix untuk menelepon dokter Gerry, dokter keluarga mereka.

Key sangat cemas. Felix segera menelepon dokter dan untung saja dalam waktu sepuluh menit, dokter itu telah datang.

"Dokter, cepat periksa bayiku!"

Key berlari ke kamar, lalu membangunkan Bianca. Wanita itu kebingungan melihat suaminya seperti kebakaran jenggot menggegerkan seluruh isi rumah.

"Ada apa dengan baby Kin?"

Tangis bayi itu makin membuat Key cemas.

"Dia pasti tak nyaman!" ujar Key.

Key yang belum berani menggendong baby Kin, seketika berani juga menggendongnya dan membawanya ke dokter Gerry meski baby Kin menangis kencang.

Semua mengintip dari sela pintu, melihat kejadian itu. Para pelayan hampir saja menangis melihat baby Kin yang menangis kencang karena daddy-nya. Sedangkan Bianca tak sempat mengejarnya.

"Dokter! Lihatlah ubun-ubunnya! Bayiku jamuran!!" teriaknya kencang.

Tiba-tiba hening melanda.

Felix mengerutkan dahi. Para pelayan bengong dan menjatuhkan apa yang mereka pegang.

Dokter pun tak dapat berkata-kata, hanya menelan saliva. Tak tahu apa yang akan dia jelaskan.

Baby Kin tiba-tiba diam seolah menyadari keheningan itu.

Hanya terdengar langkah Bianca pelan menuruni tangga.

"Itu ... pilis," ujar Bianca memecah keheningan.

"Apa?? Kenapa kalian diam saja!! Dia terkena jamur sipilis!!" teriak Key makin cemas.

Bianca menepuk jidat sendiri mendengar suaminya menciptakan nama penyakit baru.

******

Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Terpopuler

Comments

Arnie Srie

Arnie Srie

Ya Tuhan... sakit perut sibuat Key.... 😂😂

2022-04-19

0

Ananda Yuyun

Ananda Yuyun

Pilis di kata jamur sipilis Daddy mah bikin ngakak bertubi2 😂😂😂

2022-01-15

0

Olis Kholisoh

Olis Kholisoh

asli dah beberapa kali baca novel ini pasti ketawa ngakak,

2021-12-20

0

lihat semua
Episodes
1 Kehidupan Baru
2 Kerja Bersama
3 Nifas
4 Jendela Lucknut
5 Jendela Lucknut Lagi
6 Susah Bicara Denganmu!
7 Berbaikan
8 Kunjungan Teman
9 Bahasa Asing
10 Kata Orang Dulu
11 Jamur
12 Tengkurap
13 Sudah Seperti Pasangan
14 Belanja
15 Kelakuan Daddy
16 Satu Tahun Baby Kin
17 Cuti
18 Psikopat
19 Sampai Rumah
20 Persoalan Keluarga Kimmy
21 Juragan Burhan
22 Mendatangi Rumah Juragan
23 Terpaksa Menikah
24 Ketinggalan
25 Terpaksa Menikah 2
26 Pesan Tio
27 Wanita Ini?
28 Tidur Sekamar
29 Pinjam Baju
30 Menjemput Tuan Key
31 Pulang Ke Desa
32 Mengantar Pengantin Baru
33 Apartemen
34 Hari Kedua di Apartemen
35 Chatting
36 Pertemuan
37 Kekesalan Vs Kebahagiaan
38 Satu Kamar (Lagi)
39 Omelete
40 Pembalasan
41 Pandai Memasak
42 Panas
43 Saatnya Kembali Bekerja!
44 Chef
45 Ganti Jadwal
46 Belanja Sore
47 Coklat
48 Topa
49 Siapa Cemburu?
50 Ponsel Baru
51 Menunggu Chef
52 Bebas Tugas
53 Masa Lalu Felix
54 Rencana Amoy
55 Minuman
56 Bertemu
57 Menyadari Sesuatu
58 Ayah Biologis
59 Paling Tampan
60 Kenapa Felix?
61 Kapan?
62 Rumah Siapa?
63 Kamuflase
64 Sayang
65 Undangan Pernikahan
66 Persiapan Ke Pesta
67 Pesta Pernikahan
68 Bonus Liburan Felix
69 Bulan Madu?
70 Takut
71 Berenang
72 Aku Mau!
73 Belanja
74 Sibuk
75 Hamil?
76 Tak Menyangka
77 Bos Nona Lelah
78 Penjelasan
79 Kejutan
80 Persiapan Resepsi
81 Checking
82 Meriah
83 Sama
84 Ngidam
85 Cari Rumah Baru
86 Memilih Brosur
87 Peresmian Rumah Baru
88 Usai Acara
89 Tak Mau Parfum
90 Belanja
91 Bulan Ke-9
92 Bareng
93 Panik Oh Panik
94 Lahir
95 Pulang ke Rumah
96 Suka
97 Ternyata Benar
98 Nonton Bioskop
99 Tugas Akhir
100 Persiapan
101 Selamat Susan!
102 Gantungan Kunci
103 Membantu Orang
104 Reuni
105 Identitas Susan
106 Bertemu
107 Keinginan Susan
108 Ingin Bertemu
109 Pengakuan
110 Panti Asuhan
111 Panti Asuhan (2)
112 Kehangatan Di Panti Asuhan
113 Pekerjaan Susan
114 Yoshua Pulang
115 Operasi Adele
116 Jemputan
117 Romantis?
118 Warung Makan
119 Ketahuan
120 Kado
121 Dapat Email
122 Mulai Bekerja
123 Cincin
124 Pencarian
125 Penyelamatan
126 Oalah, Yon.
127 Aku Belum Siap!
128 Maukah Kamu?
129 Ketiban Durian
130 Kapan Kamu Melamar Adikku?
131 Kamu Nanti Lamaran, Lho!
132 Lamaran
133 Sebelum Pernikahan
134 Pernikahan
135 Tangkap Buket Bunga!
136 PENGUMUMAN
137 PROMO BUKAN UP
138 NOVEL BARU DI NT
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Kehidupan Baru
2
Kerja Bersama
3
Nifas
4
Jendela Lucknut
5
Jendela Lucknut Lagi
6
Susah Bicara Denganmu!
7
Berbaikan
8
Kunjungan Teman
9
Bahasa Asing
10
Kata Orang Dulu
11
Jamur
12
Tengkurap
13
Sudah Seperti Pasangan
14
Belanja
15
Kelakuan Daddy
16
Satu Tahun Baby Kin
17
Cuti
18
Psikopat
19
Sampai Rumah
20
Persoalan Keluarga Kimmy
21
Juragan Burhan
22
Mendatangi Rumah Juragan
23
Terpaksa Menikah
24
Ketinggalan
25
Terpaksa Menikah 2
26
Pesan Tio
27
Wanita Ini?
28
Tidur Sekamar
29
Pinjam Baju
30
Menjemput Tuan Key
31
Pulang Ke Desa
32
Mengantar Pengantin Baru
33
Apartemen
34
Hari Kedua di Apartemen
35
Chatting
36
Pertemuan
37
Kekesalan Vs Kebahagiaan
38
Satu Kamar (Lagi)
39
Omelete
40
Pembalasan
41
Pandai Memasak
42
Panas
43
Saatnya Kembali Bekerja!
44
Chef
45
Ganti Jadwal
46
Belanja Sore
47
Coklat
48
Topa
49
Siapa Cemburu?
50
Ponsel Baru
51
Menunggu Chef
52
Bebas Tugas
53
Masa Lalu Felix
54
Rencana Amoy
55
Minuman
56
Bertemu
57
Menyadari Sesuatu
58
Ayah Biologis
59
Paling Tampan
60
Kenapa Felix?
61
Kapan?
62
Rumah Siapa?
63
Kamuflase
64
Sayang
65
Undangan Pernikahan
66
Persiapan Ke Pesta
67
Pesta Pernikahan
68
Bonus Liburan Felix
69
Bulan Madu?
70
Takut
71
Berenang
72
Aku Mau!
73
Belanja
74
Sibuk
75
Hamil?
76
Tak Menyangka
77
Bos Nona Lelah
78
Penjelasan
79
Kejutan
80
Persiapan Resepsi
81
Checking
82
Meriah
83
Sama
84
Ngidam
85
Cari Rumah Baru
86
Memilih Brosur
87
Peresmian Rumah Baru
88
Usai Acara
89
Tak Mau Parfum
90
Belanja
91
Bulan Ke-9
92
Bareng
93
Panik Oh Panik
94
Lahir
95
Pulang ke Rumah
96
Suka
97
Ternyata Benar
98
Nonton Bioskop
99
Tugas Akhir
100
Persiapan
101
Selamat Susan!
102
Gantungan Kunci
103
Membantu Orang
104
Reuni
105
Identitas Susan
106
Bertemu
107
Keinginan Susan
108
Ingin Bertemu
109
Pengakuan
110
Panti Asuhan
111
Panti Asuhan (2)
112
Kehangatan Di Panti Asuhan
113
Pekerjaan Susan
114
Yoshua Pulang
115
Operasi Adele
116
Jemputan
117
Romantis?
118
Warung Makan
119
Ketahuan
120
Kado
121
Dapat Email
122
Mulai Bekerja
123
Cincin
124
Pencarian
125
Penyelamatan
126
Oalah, Yon.
127
Aku Belum Siap!
128
Maukah Kamu?
129
Ketiban Durian
130
Kapan Kamu Melamar Adikku?
131
Kamu Nanti Lamaran, Lho!
132
Lamaran
133
Sebelum Pernikahan
134
Pernikahan
135
Tangkap Buket Bunga!
136
PENGUMUMAN
137
PROMO BUKAN UP
138
NOVEL BARU DI NT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!