Memasuki bulan keenam, baby Kin makin gemuk dan sehat. Hari itu Bianca mulai menyiapkan segala keperluan makanan pendamping ASI.
"Sayang, nanti kita belanja, ya? Besok tepat enam bulan usia Kin. Aku mau memberinya makanan pendamping ASI yang pertama. Mm ... apel, pir, alpukat, melon, pisang, atau pepaya?"
Key terperangah mendengar semua buah yang disebutkan istrinya.
"Salak sekalian. Dia bahkan belum tumbuh gigi, kenapa kamu kasih buah-buah seperti itu?" ujarnya, protes.
"Buah itu aku jadikan puree, dihancurkan memakai blender, bukan aku seselin gitu saja ke mulutnya ...." jelas Bianca manyun.
Harus sabar menghadapi manusia lugu di depannya ini, yang dia tahu hanya mencari uang dan mengatur perusahaan saja. Selebihnya nol. Terutama dalam hal wanita, apalagi bayi.
"Oh ... ya sudah, nanti aku antar ke supermarket. Ajak sekalian si Kimmy buat gendong Kin kalau kamu lelah, Sayang."
"Iya, makasih, Sayang."
"Jangan lupa upahnya nanti malam!" ujar Key.
"Iya, iya, mau berapa ronde?"
"Dua belas," jawab Key.
"Hah, berasa gelas."
"Maksudnya?"
"Selusin."
*
Sore yang indah di awal bulan, mobil yang berisi dengan empat orang, seperti kencan bersama, karena di depan sepasang lelaki dan perempuan, yang di belakang sepasang suami istri. Si Suami yang memangku anak lelakinya.
Baby Kin tak berhenti mengoceh pelan saat melihat jalanan. Kedua orang tuanya bersuka ria menyambut ocehan dengan pertanyaan yang tak jelas.
"Oh, jadi kamu mau makan bakso pedas?" tanya si daddy.
"Mam mamam mam ...." jawab Kin yang diangkat oleh Key menghadap padanya.
"Apa? Ayam geprek?"
"Mam mam mam ...." jawab Kin lagi, seolah paham apa yang dikatakan daddy-nya.
"Ohh ... mau sambal pete?"
"Da da da ...."
"Sambal pete buat Daddy?"
"Ma ... ma ...." Kin melirik ke mommy-nya.
"Oh, buat Mommy, iya kasih Mommy sambal petenya."
Bianca menggelengkan kepala mendengar pembicaraan mereka. Gesrek.
Bayi itu mengulum jemari kemudian menepukkannya ke wajah daddy, hingga wajah pria itu basah oleh liur si bayi. Jika jemarinya sudah kering, bayi itu kembali mengulum jari, lalu mengulangi tepukannya.
Namun, tak ada kemarahan, hanya gelak tawa ketiganya. Mereka bertiga asyik dengan dunianya sendiri.
Dua manusia di depan pun asyik dengan dunianya.
Kimmy berdendang sembari mengetuk-ngetuk dashboard, sementara Felix memakai headset-nya, tak tahan dengan suara cempreng Kimmy. Padahal dia sengaja menyetel lagu Korea di mobil, tapi Kimmy mengikuti juga dan terdengar hanya seperti gumaman menyebalkan di telinga Felix. Tambah lagi, gadis itu menirukan gerakan anggota boyband Korea yang nge-dance di layar depannya. Kadang wajahnya cengar-cengir menirukan mimik penyanyi.
"Kenapa pakai headset, Bos Pelix?" tanya Kimmy.
"Apa?" Felix tak dengar dan hanya memberi isyarat.
Kimmy tak kalah memberi isyarat menunjuk ke telinga. Felix melepas headset-nya sebentar.
"Karena dengar mantra-mantra dukun!" ujarnya seraya membenahi lagi headset-nya, lalu menatap ke depan lagi.
Kimmy pun tak menggubris dan melanjutkan kembali dance-nya, dengan jari tangan yang dilebar-lebarkan, menggoyang kepalanya, kadang menatap, mendekatkan mata ke layar, melotot ke arah Felix.
Felix mendengus kesal, lalu mengerem dadakan mobil itu hingga kepala Kimmy terbentur jok. Namun, sebelum gadis itu protes, warga jok belakang sudah protes duluan.
"Felix!! Yang benar nyetirnya!!"
Pria itu tak jadi terkekeh. Lupa jika ada tuan, nona dan tuan muda kecil di belakang.
*
Sesampainya di supermarket, Felix menurunkan mereka berempat, lalu mencari tempat parkir.
"Kimmy, kami akan masuk dulu. Kamu tunggu Felix, tolong gendong baby Kin, ya?" titah Bianca.
Bianca telah tahu pasti, jika belanja, dia membutuhkan banyak waktu dan pasti bayinya akan sangat bosan.
Bianca memberikan bayinya ke Kimmy yang siap dengan selendangnya. Dia memilih selendang kuno yang biasa digunakan orang-orang untuk menggendong bayi. Selain praktis, juga enak dipakai.
"Sayang, sama Kak Kimmy dulu, ya? Mommy mau masuk belanja dulu," pesan Bianca menciumi Kin.
"Kimmy, ajak Baby Kin main. Setelah itu, kalian bisa pesan makan dulu. Kamu duluan saja sama Felix, ya? Aku akan menyusul dengan Tuan Key. Nanti kirim pesan saja lewat ponsel, kamu makan dimana," ujar Bianca.
"Baik, Bos Nona!"
Kimmy berbinar, dia sudah lapar, dan ingin makan di restoran mall. Kali ini keinginannya terwujud. Dia menimang dan menepuk-nepuk pantat baby Kin lembut sambil menunggu Felix.
Pria itu datang dari arah parkiran, melihat sebentar ke arah Kimmy yang menunggu di depan. Menatapnya sambil tertawa dalam hati.
"Dia sudah seperti bodyguard bersepatu boots dan memakai celana pendek tapi menggendong anak!" gumamnya tertawa.
Felix sendiri tak sadar bahwa dia sedang membawa sebuah tas bayi.
"Eh, pria berdasi bawa tas bayi. Keren!" celetuk seorang pengunjung mall dengan temannya.
Felix menepuk jidatnya sendiri. Ia lalu mempercepat langkahnya menyusul Kimmy.
"Ayo!" ajaknya masuk.
"Bos Nona minta kita makan dulu, Bos Pelix!" ujar Kimmy. Semula dia ingin mengajak Baby Kin bermain. Namun, Baby Kin telah tidur dalam pelukannya.
Semua mata memandang mereka. Pasangan yang berkostum cool, tapi dengan selendang dan tas bayi, membuat mata terasa aneh saat memandangnya. Belum lagi Kimmy membawa pistol di ikat pinggang.
Semua yang ingin menertawakan jadi berpikir dua kali.
"Apa? Makan denganmu?" tanya Felix.
Kimmy mengangguk. Felix yang semula ingin menolak, tiba-tiba merasa iba saat melihat gadis itu menggendong Kin yang semakin berat. Berat badan bayi itu sekarang meningkat menjadi sepuluh kilogram. Akan sangat kelelahan jika membuatnya berjalan mengitari mall.
Felix menghela napas dan akhirnya menuruti Kimmy, mendahuluinya masuk ke restoran meski sambil berdecak.
"Silakan Tuan dan Nyonya," sambut pelayan di depan pintu.
Tuan dan Nyonya katanya?
Felix mengerutkan dahi dan melotot.
"Makasih," jawab Kimmy pada si pelayan, seolah kata-kata itu tak masalah baginya.
Mereka duduk di kursi yang kosong. Kimmy perlahan duduk agar tak membuat baby Kin terbangun dan menangis. Seorang pelayan mengantarkan menu.
"Silakan Tuan, Nyonya."
"Hey! Aku bukan ...."
"Bos, mau makan apa?" tanya Kimmy memotong ucapan Felix.
Felix mendengus, "Apa terserah!"
Melayangkan pandang ke sembarang arah.
"Dua sup jamur dengan nasi ya, Kak!" ujar Kimmy kemudian. Perutnya sudah lapar.
"Aku tak suka sup jamur!" protes Felix.
"Tadi kata Bos, terserah ...."
"Iya, tapi yang aku suka!"
"Aku tidak tahu yang Bos Pelix sukai, kan?"
"Ugh, ayam bakar!"
"Ya sudah, Kak, yang satu ganti ayam bakar, ya?"
Pelayan itu mengangguk-angguk, "Minumnya apa, Nyonya?"
"Apa, Bos?" tanya Kimmy.
"Terserah!"
"Dua jeruk hangat, Kak!"
"Kok jeruk?"
"Tadi Bos bilang terserah ...."
"Capuccino," ujar Felix.
"Maap, Kak. Satu jeruk hangat, satu kacupino."
Pelayan tersenyum mendengarnya.
"Baik, mohon ditunggu, Nyonya."
"Makasih, Kak."
Kimmy menatap jengkel pada pria di depannya.
'Terserah' itu kata andalan wanita, tapi kenapa pria ini susah ditebaknya melebihi wanita??
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Sri Astuti
sangat menghibur
2021-12-21
0
iyut_PAntes
felix rese
2021-10-09
0
Marcellina Dwi Putri
hadir lagi
2021-08-17
0