Itulah awalnya. Jauh-jauh dari Jombang, Hazri tidak pernah mimpi bakal jadi preman di Jogja. Ibunya pun tidak mungkin mengharap itu, demikian pula teman-teman kontrakannya. Tapi, kenyataan berkata lain, suka atau tidak, nyatanya Hazri sekarang telah terlibat di dunia hitam kota pelajar. Apapun alasannya.
Empat bulan Hazri banyak belajar dari Romi tentang seluk-beluk dunia barunya ini. Walau telah dilantik sebagai Sang Tigernya Kopen, Hazri tidak lantas berlagak sok tahu atau sok berkuasa. Dia sadar kalau memang belum punya pengalaman tentang dunia barunya ini. Maka, belajar langsung dari yang berpengalaman adalah cara terbaik agar cepat paham.
Romi cocok dengan gaya kepemimpinan Hazri. Karena dia dulu pernah mengalami fase belum pengalaman maka Romi mengerti kalau Hazri sekarang sedang belajar darinya, walaupun ketuanya ini tidak berbicara terus terang. Pendapat dan masukkan selalu disampaikan Romi tanpa rasa sungkan. Dengan begitu Hazri bisa lebih cepat paham .
Dari hasil belajarnya, Hazri akhirnya bisa mengerti kalau Kopen belum terhitung kelompok preman papan atas di Jogja saat ini. Mungkin bisa dikatakan masih masuk papan tengah bawah. Di kawasan kampus putih mereka memang cukup dikenal, tapi lebih ke Rominya, bukan Kopen itu sendiri. Di tempat lain malah lebih parah, nama Kopen hampir tidak populer walaupun orang-orangnya ada di sana dan tidak bisa di bilang sedikit.
“Menurutmu kenapa bisa seperti itu Rom?”
“Entalah, Bang. Dari dulu susah kalau untuk ngangkat. Cuma yang di kawasan kampus putih yang lumayan.” jawab Romi.
Hazri manggut-manggut. Dia menerima rokok yang disodorkan Romi. Sekarang Hazri sudah merokok dan minum sedikit-sedikit untuk penyesuaian.
“Kalau menurutku, itu karena mereka terlalu bergantung dengan adanya dirimu.”
“Maksudnya, Bang?” Romi menghisap dalam-dalam rokoknya.
“Ya, coba kamu pikirkan, selama ini segala urusan apa-apa mesti kamu gitu.”
Romi berpikir sebentar. “Bisa jadi juga itu Bang, tapi aku kan ketuanya waktu itu jadi apa-apa ya harus aku yang turun tangan dong...”
Hazri menghembuskan asap rokoknya sambil tersenyum ringan. “Benar. Tapi jadi kamu yang akhirnya capek sendiri. Lama-lama nggak kepegang tuh. Akhirnya seperti jalan sendiri-sendiri.”
“Lah kan ada ketua wilayah?”
“Nah itu, ketua wilayahnya juga sangat tergantung padamu. Mereka nggak berani mengambil keputusan sendiri. Mau tidak mau persoalan kecil atau besar, diserahkan semua ke kamu, nunggu keputusanmu. Betul, kan?”
Romi diam sejenak. Dimainkannya batang rokok sambil meresapi apa yang dikatakan Hazri.
“Hehehe... kalau dipikir-pikir bener juga, Bang. Mereka semua takut kepadaku, sedang aku khawatir kehilangan mereka. Ujung-ujungnya organisasi malah nggak berembang karena aku sibuk loncat sana loncat sini...” Romi senang akhirnya bisa tahu masalah Kopen tidak berkembang selama ini, walaupun tahunya saat dia tidak menjabat ketua lagi.
“Jadi, solusinya bagaimana ini, Bang?” tanya Romi.
“Sederhana. Buat komitmen bagi-bagi tugas, laksanakan dengan benar. Itu saja. Tapi, bagi-bagi tugasnya harus sesuai dengan porsinya. Jangan sampai kejadian lagi sang Tiger mesti turun tangan lagi ngurusin juru parkir, hehehe...” canda Hazri.
“Hahaha...sang Tigernya saja dibuat sampai mencret apalagi kucing pasarnya...” Romi menertawai dirinya sendiri.
Mereka tertawa-tawa sebentar, mengendurkan saraf yang tegang.
Seperti itulah mereka biasa bertukar pikiran dan pendapat. Hazri, Romi, dan para ketua wilayah. Maka, pemahaman Hazri pun terus bertambah seiring perjalanannya dalam memimpin Kopen. Dia juga meminta pendapat para anggota lainnya tentang rencananya membentuk semacam unit khusus dalam organisasi Kopen.
“Pasukan khusus itu sangat dibutuhkan. Angkatan darat punya Kopassus, angkatan laut punya Denjaka, di udara ada Paskhas, polisi pun punya Brimob. Jadi seharusnya Kopen juga punya dong...,” kata Romi mendukung Hazri.
Hazri tersenyum melihat Romi antusias mendukung rencananya itu. “Bagaimana yang lain?” tanya Hazri kepada para ketua wilayah.
“Masalahnya apa nanti tidak menimbulkan rasa kecemburuan antar anggota, Bang?” tanya Ajay.
“Heleh apanya yang dicemburuin..., emangnya cantik?” canda Romi.
Semua tertawa. “Cantik itu bukan soal.” Tomi ikut berkomentar. “Kalau aku sih yang penting bempernya. Muka karung goni pun sikat...”
Mereka semua tertawa.
“Kalau kamu, Yu, bagaimana?” Hazri bertanya kepada Wahyu. Ketua wilayah satu ini sangat pendiam, paling cuma cengar-cengir. Dia paham karena logatnya yang lucu, karena menggunakan bahasa daerah asalnya Kebumen, ngapak. Wajahnya memang angker, badannya gedeh asal jangan suruh ngomong saja. Tapi jangan salah dia jago silat juga, walaupun tak sehebat Hazri. Hanya dasar-dasarnya saja. Makanya dia dipilih Romi menjadi salah satu ketua wilayah. “Lumayan, buat gertak-gertak...,” kata Romi tentang Wahyu kepada Hazri dulu.
“Cocok itu, Bang. Di kelompok silat kampung inyong ya pada bae, ada orang-orangan kayak kui...,” jawab Wahyu polos.
Mendengar omongan Wahyu itu makin keraslah tawa teman-temannya. Wahyu terpaksa ikut tertawa kecut. “Kira-kira inyong termasuk orang-orangan kui ora, Yu.” canda Romi malah terlihat aneh dengan logatnya itu.
“Sudah...sudah...,” kata Hazri menengahi sambil menahan tawa. “Jadi, kamu setuju tentang rencana ini, Yu?” tanya Hazri sekali lagi.
Wahyu mengangguk. Nyengir saja, tidak berani ngomong lagi.
“Oke, yang lain bagaimana?” Hazri bertanya ke semua yang hadir.
Akhirnya semua sepakat tentang pembentukan unit khusus ini. Bagi Hazri, ini adalah sebuah rencana penting untuk bisa membawa Kopen lebih maju. Dia akan menempatkan unit itu menjadi semacam rotor penggerak yang menggerakkan rangkaian untuk berjalan dan sampai sasaran. Jumlah anggota Kopen yang ada sekarang tidak bisa dikatakan sedikit, dengan bermacam model, kelakuan, dan polahnya. Kuantitas terbilang banyak dan mudah ditemukan, masalahnya menemukan kualitas ini yang sedikit susah.
Sulit bagi Hazri untuk bisa mengangkat kualitas para anggotanya itu jika hanya dia dan para ketua wilayah saja yang bergerak. Maka, Hazri memerlukan agen-agen khusus yang ditempatkan di seluruh wilayah, mereka yang sehari-harinya terlibat di organisasi di wilayah-wilayah itu. Dengan begitu Hazri dan para ketua wilayah bisa fokus mengurus tugas utamanya masing-masing.
“Jadi, unit khusus ini tidak dipisahkan, bukan di kandangin sendiri. Malah jadi salah kalau seperti itu. Justru mereka ini dibaurkan untuk menjadi panutan yang lain...,” kata Hazri menjawab pertanyaan Ajay. “Memang, akan aku kasih seragam, biar kelihatan gagah, tapi bukan untuk dipakai sehari-hari seperti seragam dinas. Dipakainya nanti kalau ada tugas yang memerlukan penampilan. Sehari-hari, mereka seperti anggota lain, cuma sikapnya juga beda dikit, yang ini profesional punya. Seperti itu gambaranya.”
Romi dan yang lain mengangguk-angguk mulai paham dengan rencana Hazri. Dia kagum kepada Hazri yang dinilainya cukup cerdas dalam memimpin. Sekian tahun Romi memimpin belum pernah untuk kepikiran kesana. Yang dia tahu hanya ‘pubarta’ alias pukul baru tanya. Pantas Kopen susah berkembang.
“Perlu dinamain nggak nih, Bang?” tanya Sobir.
“Harus itu. Biar cepat, aku tetapkan saja, namanya Baret. Bukan singkatan. Baret, begitu saja...,” jawab Hazri.
“Baret...keren tuh, seperti identitas TNI ditentukan warna baretnya...,” Simon berkomentar, yang lain kompak langsung setuju, tidak ada yang keberatan.
“Sekalian aku tetapkan hal ini, perhatikan. Secara umum, ketua Baret adalah aku sebagai ketua Kopen. Siapa pun yang menjadi ketua Kopen maka dia adalah ketua Baret. Nah, untuk pegang sehari-hari yang pegang komando adalah Romi. Katakanlah, dia Panglimanya. Biar sama gagahnya. Maksudnya begini panglima Baret adalah Romi dan dia melapor ke aku sebagai ketua Kopen. Tapi, perlu diingat, di luar itu kita bertujuh adalah pimpinan Baret. Sebab kita yang mendirikannya hari ini.”
Mereka pun riuh bertepuk tangan menyambut keputusan ketuanya ini.
“Aku panglima sekarang, Hahaha...” Romi tertawa diikuti yang lain. Tidak ada kecemburuan yang terlihat.
Secuil kopi
Baret adalah sebuah topi berbentuk bulat, pipih, dan lembut, biasanya terbuat dari tenunan, wol rajutan tangan, katun rajutan, flanel wol, atau serat akrilik.
Produksi massal baret dimulai pada abad ke-19 di Prancis dan Spanyol, negara-negara yang tetap terkait. Baret biasanya dipakai sebagai bagian dari banyak seragam unit militer dan polisi di seluruh dunia, serta oleh organisasi lainnya.
Baret yang dimiringkan ke kiri memiliki arti bahwa pasukan yang mengenakannya mempunyai tugas keamanan, pengamanan dan penegakan hukum.
Sedangkan untuk posisi baret yang dimiringkan ke kanan menandakan bahwa pasukan tersebut berada dalam kesiapan tinggi dan siap tempur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments