Hari-hari berikutnya di jalani Hazri tanpa adanya gangguan, lancar dan normal. Sekarang banyak yang kenal dengan dia, seolah menjadi artis dadakan di daerah situ. Orang-orang masih saja bercerita tentang kehebatan Hazri menghajar Romi dan gerombolannya itu. Banyak yang tiba-tiba menjadi sok akrab dengan Hazri, sampai tanya ini tanya itu.
Kalau dihitung-hitung sudah seminggu Hazri menjadi juru parkir di pertokoan elektronik itu, dan sudah tiga hari sejak perkelahiannya dengan Romi dan gerombolannya. Waktu telah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Seperti biasa Hazri bersiap-siap untuk pulang kembali ke kontrakannya. Parkiran mulai sepi dan jalanan telah melengang.
Hazri pun menyeberang, berjalan menyelusuri jalan setapak di samping kampus putih. Sudah jarang yang melintas di jalan setapak jam-jam segitu. Dia berjalan santai, pandangan matanya tertuju pada gedung-gedung pencakar langit. Meskipun sudah tiga semester Hazri kuliah, hingga detik ini dia masih terkagum-kagum akan kemegahan gedung-gedung yang ada di kampus putih ini.
Hazri berhenti di luar pagar depan Fakultas tempatnya belajar. Hingga kini Hazri masih mencari seorang wanita yang membuatnya penasaran. Wanita yang memberikan semangat untuk terus menjalani hidupnya di Jogja setelah ibunya. Nama wanita itu terus tengiang dalam pikirannya. Zilfa.
“Seperti apa diri, Zilfa?” kata Hazri dalam hatinya sambil tersenyum.
“Bang...,” seorang menyapa Hazri.
Hazri tersadar dari lamunannya, dan langsung menoleh. Nampak Romi berdiri disampingnya.
“Mau apa lagi kamu?” tanya Hazri sambil berdiri. Tenang saja dia.
“Nganu, Bang,... aku cuma mau ngomong...,” wajah Romi terlihat melas.
Hazri memfokuskan tenaga dalam dan menatap mata Romi. “Silakan..., mau ngomong apa?” Hazri masih terlihat tenang tapi sebenarnya dia dalam keadaan siap kalau sewaktu-waktu akan diserang oleh Romi.
“Maaf, Bang, seharian tadi aku menunggu Abang. Tapi, kulihat Abang sedang sibuk, jadi mungkin aku baru bisa ngomong sekarang..”
Hazri masih terus memperhatikan Romi, menunggu kelanjutan dari omongannya.
“Aku mengaku kalah. Sekarang kami menjadi anak buah Abang.”
Hazri mengerutkan keningnya, tidak paham apa yang dimaksud Romi. “Anak buah apa maksudmu?”
Romi melirik penjual somay yang mengintip dari balik gerobak dorongnya. “Mungkin kita bisa bicara di sana, Bang?” Romi menunjuk sebuah tempat duduk dibawah pohon beringin. Ada dua pemuda yang duduk disana.
Hazri juga meirik penjual somay itu, kasihan juga gara-gara ketakutan. “Baiklah kalu kamu macam-macam, aku nggak akan segan-segan untuk membuatmu babak belur lagi.” gertak Hazri.
“Nggak, Bang. Sumpah. Mana berani, aku sudah kalah.” Romi mengangkat tangan sambil geleng-geleng kepala.
Mereka pun berjalan menuju tempat yang dimaksud Romi tadi. Penjual somay terlihat sedikit lega. Tapi, giliran dua pemuda itu yang nampak gelisah. Melihat kedatangan Romi semakin dekat, dua pemuda yang sedang asyik duduk di sana langsung pergi menjauh.
Inilah Jogja, meski telah larut malam. Setiap sudut kota Jogja masih ramai pemuda yang nongkrong. Tidak terkecuali di kampus putih. Terdapat sebuah panggung yang sering disebut sebagai panggung demokrasi oleh mahasiswa kampus putih. Setiap malam pasti selalu ramai dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi.
“Sekarang kamu ngomonglah. Jangan bertele-tele, aku mau pulang.” kata Hazri sambil menyenderkan punggungnya, capek juga seharian mengatur parkir.
Romi menghela napas panjang, lalu batuk-batu kecil. Pengaruh pukulan tenaga dalam Hazri tempo lalu masih tersisa ternyata. “Gini, Bang..., Abang sudah kalahkan aku, jadi sekarang kami anak buah Abang,” Romi mengulang kembali pernyataannya tadi.
“Iya aku sudah dengar itu tadi. Tapi apa maksudnya itu?”
“Sekarang Abang yang memberi perintah ke kami...,” Romi menjelaskan.
“Heh? Aku nggak mau memberi perintah siapa-siapa dan nggak mau diperintah siapa-siapa. Apa urusannya denganku?” tanya Hazri tegas.
Romi menghela napas, batuk-batuk lagi, “Tapi, Bang. Mereka pasti tidak patuh lagi padaku karena tahu kalau Abang sudah mengalahkan aku...,” desak Romi.
“Mereka adalah teman-temanmu. Itu bukan urusanku.”
Tiba-tiba terdengar deringan. “Sebentar, Bang,” Romi mengeluarkan HP dari saku jaket kulitnya.
Mata Hazri tertuju pada gerombolan mahasiswa yang bercanda lepas di panggung demokrasi. Bahagianya mereka tanpa harus memikirkan besok harus mengeluarkan uang berapa untuk makan, batin Hazri
“Iya, Mon, kenapa?” tanya Romi. “Kapan?” wajah preman ini tertunduk lesu. “Iya. Nanti aku ke sana.” Romi menutup HP sambil mengusap wajahnya.
Hazri memperhatikannya.
Romi menarik napas dalam-dalam, lagi-lagi dia terbatuk. Lama-lama Hazri kasihan juga melihatnya. Romi memandang Hazri, tatapannya sama sekali tidak garang, malah jelas kelihatan sedang kacau pikirannya.
“Ada apa?” tanya Hazri spontan.
“Anak buahku..., eh, anak buah Abang mati.” jawab Romi.
“Hah? Siapa yang mati?” Hazri kaget.
“Si Tengil. Tempo hari dia ikut aku nyerang Abang. Dia paling parah kena pukulan Abang...,” Romi mengeluarkan rokok menawarkan ke Hazri, tapi di tolaknya. “Ada empat orang lagi yang sedang sekarat sekarang...,” Romi mengisap rokoknya. Langsung terbatuk-batuk, tapi terus saja mengisap dalam-dalam. Nampaknya dia benar-benar sedang bingung dan resah.
Mata Hazri terbelalak, “Empat katamu?” jantungnya berdegub kencang. “Ya Allah, aku sudah membunuh orang.” teriaknya dalam hati.
Romi mengangguk.
“Bawa aku kesana! Cepat!” perintah Hazri.
Romi kaget mendengar perintah Hazri. Perasaan tadi bilang bukan urusannya, batin Romi.
“He,,Ayo cepat!” kata Hazri meninggi.
“I...iya, Bang...” Romi berlari ke dua pemuda yang sempat duduk di bawah pohon beringin ini. Mereka berbicara sebentar lalu menyerahkan motor mereka kepada Romi.
“Ayo, Bang,...” ajak Romi di atas motor Supra X.
Begitu Hazri naik, motor segera melaju kencang membela dinginnya kota Jogja. Hazri tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Romi. Untuk jaga-jaga, ajian ‘Cakra Buana’ diaktifkan seperempat tenaga dalam. Motor terus melaju, melewati jalan-jalan tikus perkampungan kota. Romi hanya ngerem sedikit ditikungan-tikungan, selebihnya tancap gas terus. Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya menyendiri, terpisah agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Sepertinya bekas sebuah pabrik kayu yang tidak digunakan lagi tapi masih layak untuk ditinggali.
“Ini markas kita, Bang...” kata Romi.
Hazri melihatnya dengan seksama.
Secuil kopi
Yogyakarta juga merupakan Ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta di Jawa yang terkenal dengan Istana Sultan Yogyakarta atau Keraton Yogyakarta dimana keluarga Sultan masih tinggal di istana tersebut sampai sekarang . Istana ini juga terbuka untuk umum tetapi tidak semua bangunan, hanya beberapa bagian bangunan yang bisa dilihat oleh masyarakat.
Banyak bagian dari kota ini juga dihiasi dengan sentuhan budaya Jawa di mana orang tidak akan pernah melupakannya dan selalu ingat karakteristik yang ada. Ornamen-ornamen khas Jawa dapat kita temui di lampu-lampu jalananan , di bangunan atau gedung-gedung di sepanjang jalan dan lain-lain yang membuat kota ini menjadi unik dan cantik. Itulah mengapa kota ini disebut Culture City.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Aya
Jogja,,, kota yg banyak kenangan buat ku
2021-03-12
1