14. markas 1

Hari-hari berikutnya di jalani Hazri tanpa adanya gangguan, lancar dan normal. Sekarang banyak yang kenal dengan dia, seolah menjadi artis dadakan di daerah situ. Orang-orang masih saja bercerita tentang kehebatan Hazri menghajar Romi dan gerombolannya itu. Banyak yang tiba-tiba menjadi sok akrab dengan Hazri, sampai tanya ini tanya itu.

Kalau dihitung-hitung sudah seminggu Hazri menjadi juru parkir di pertokoan elektronik itu, dan sudah tiga hari sejak perkelahiannya dengan Romi dan gerombolannya. Waktu telah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Seperti biasa Hazri bersiap-siap untuk pulang kembali ke kontrakannya. Parkiran mulai sepi dan jalanan telah melengang.

Hazri pun menyeberang, berjalan menyelusuri jalan setapak di samping kampus putih. Sudah jarang yang melintas di jalan setapak jam-jam segitu. Dia berjalan santai, pandangan matanya tertuju pada gedung-gedung pencakar langit. Meskipun sudah tiga semester Hazri kuliah, hingga detik ini dia masih terkagum-kagum akan kemegahan gedung-gedung yang ada di kampus putih ini.

Hazri berhenti di luar pagar depan Fakultas tempatnya belajar. Hingga kini Hazri masih mencari seorang wanita yang membuatnya penasaran. Wanita yang memberikan semangat untuk terus menjalani hidupnya di Jogja setelah ibunya. Nama wanita itu terus tengiang dalam pikirannya. Zilfa.

“Seperti apa diri, Zilfa?” kata Hazri dalam hatinya sambil tersenyum.

“Bang...,” seorang menyapa Hazri.

Hazri tersadar dari lamunannya, dan langsung menoleh. Nampak Romi berdiri disampingnya.

“Mau apa lagi kamu?” tanya Hazri sambil berdiri. Tenang saja dia.

“Nganu, Bang,... aku cuma mau ngomong...,” wajah Romi terlihat melas.

Hazri memfokuskan tenaga dalam dan menatap mata Romi. “Silakan..., mau ngomong apa?” Hazri masih terlihat tenang tapi sebenarnya dia dalam keadaan siap kalau sewaktu-waktu akan diserang oleh Romi.

“Maaf, Bang, seharian tadi aku menunggu Abang. Tapi, kulihat Abang sedang sibuk, jadi mungkin aku baru bisa ngomong sekarang..”

Hazri masih terus memperhatikan Romi, menunggu kelanjutan dari omongannya.

“Aku mengaku kalah. Sekarang kami menjadi anak buah Abang.”

Hazri mengerutkan keningnya, tidak paham apa yang dimaksud Romi. “Anak buah apa maksudmu?”

Romi melirik penjual somay yang mengintip dari balik gerobak dorongnya. “Mungkin kita bisa bicara di sana, Bang?” Romi menunjuk sebuah tempat duduk dibawah pohon beringin. Ada dua pemuda yang duduk disana.

Hazri juga meirik penjual somay itu, kasihan juga gara-gara ketakutan. “Baiklah kalu kamu macam-macam, aku nggak akan segan-segan untuk membuatmu babak belur lagi.” gertak Hazri.

“Nggak, Bang. Sumpah. Mana berani, aku sudah kalah.” Romi mengangkat tangan sambil geleng-geleng kepala.

Mereka pun berjalan menuju tempat yang dimaksud Romi tadi. Penjual somay terlihat sedikit lega. Tapi, giliran dua pemuda itu yang nampak gelisah. Melihat kedatangan Romi semakin dekat, dua pemuda yang sedang asyik duduk di sana langsung pergi menjauh.

Inilah Jogja, meski telah larut malam. Setiap sudut kota Jogja masih ramai pemuda yang nongkrong. Tidak terkecuali di kampus putih. Terdapat sebuah panggung yang sering disebut sebagai panggung demokrasi oleh mahasiswa kampus putih. Setiap malam pasti selalu ramai dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi.

“Sekarang kamu ngomonglah. Jangan bertele-tele, aku mau pulang.” kata Hazri sambil menyenderkan punggungnya, capek juga seharian mengatur parkir.

Romi menghela napas panjang, lalu batuk-batu kecil. Pengaruh pukulan tenaga dalam Hazri tempo lalu masih tersisa ternyata. “Gini, Bang..., Abang sudah kalahkan aku, jadi sekarang kami anak buah Abang,” Romi mengulang kembali pernyataannya tadi.

“Iya aku sudah dengar itu tadi. Tapi apa maksudnya itu?”

“Sekarang Abang yang memberi perintah ke kami...,” Romi menjelaskan.

“Heh? Aku nggak mau memberi perintah siapa-siapa dan nggak mau diperintah siapa-siapa. Apa urusannya denganku?” tanya Hazri tegas.

Romi menghela napas, batuk-batuk lagi, “Tapi, Bang. Mereka pasti tidak patuh lagi padaku karena tahu kalau Abang sudah mengalahkan aku...,” desak Romi.

“Mereka adalah teman-temanmu. Itu bukan urusanku.”

Tiba-tiba terdengar deringan. “Sebentar, Bang,” Romi mengeluarkan HP dari saku jaket kulitnya.

Mata Hazri tertuju pada gerombolan mahasiswa yang bercanda lepas di panggung demokrasi. Bahagianya mereka tanpa harus memikirkan besok harus mengeluarkan uang berapa untuk makan, batin Hazri

“Iya, Mon, kenapa?” tanya Romi. “Kapan?” wajah preman ini tertunduk lesu. “Iya. Nanti aku ke sana.” Romi menutup HP sambil mengusap wajahnya.

Hazri memperhatikannya.

Romi menarik napas dalam-dalam, lagi-lagi dia terbatuk. Lama-lama Hazri kasihan juga melihatnya. Romi memandang Hazri, tatapannya sama sekali tidak garang, malah jelas kelihatan sedang kacau pikirannya.

“Ada apa?” tanya Hazri spontan.

“Anak buahku..., eh, anak buah Abang mati.” jawab Romi.

“Hah? Siapa yang mati?” Hazri kaget.

“Si Tengil. Tempo hari dia ikut aku nyerang Abang. Dia paling parah kena pukulan Abang...,” Romi mengeluarkan rokok menawarkan ke Hazri, tapi di tolaknya. “Ada empat orang lagi yang sedang sekarat sekarang...,” Romi mengisap rokoknya. Langsung terbatuk-batuk, tapi terus saja mengisap dalam-dalam. Nampaknya dia benar-benar sedang bingung dan resah.

Mata Hazri terbelalak, “Empat katamu?” jantungnya berdegub kencang. “Ya Allah, aku sudah membunuh orang.” teriaknya dalam hati.

Romi mengangguk.

“Bawa aku kesana! Cepat!” perintah Hazri.

Romi kaget mendengar perintah Hazri. Perasaan tadi bilang bukan urusannya, batin Romi.

“He,,Ayo cepat!” kata Hazri meninggi.

“I...iya, Bang...” Romi berlari ke dua pemuda yang sempat duduk di bawah pohon beringin ini. Mereka berbicara sebentar lalu menyerahkan motor mereka kepada Romi.

“Ayo, Bang,...” ajak Romi  di atas motor Supra X.

Begitu Hazri naik, motor segera melaju kencang membela dinginnya kota Jogja. Hazri tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Romi. Untuk jaga-jaga, ajian ‘Cakra Buana’ diaktifkan seperempat tenaga dalam. Motor terus melaju, melewati jalan-jalan tikus perkampungan kota. Romi hanya ngerem sedikit ditikungan-tikungan, selebihnya tancap gas terus. Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya menyendiri, terpisah agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Sepertinya bekas sebuah pabrik kayu yang tidak digunakan lagi tapi masih layak untuk ditinggali.

“Ini markas kita, Bang...” kata Romi.

Hazri melihatnya dengan seksama.

Secuil kopi

Yogyakarta juga merupakan Ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta di Jawa yang terkenal dengan Istana Sultan Yogyakarta atau Keraton Yogyakarta dimana keluarga Sultan masih tinggal di istana tersebut sampai sekarang . Istana ini juga terbuka untuk umum tetapi tidak semua bangunan, hanya beberapa bagian bangunan yang bisa dilihat oleh masyarakat.

Banyak bagian dari kota ini juga dihiasi dengan sentuhan budaya Jawa di mana orang tidak akan pernah melupakannya dan selalu ingat karakteristik yang ada. Ornamen-ornamen khas Jawa dapat kita temui di lampu-lampu jalananan , di bangunan atau gedung-gedung di sepanjang jalan dan lain-lain yang membuat kota ini menjadi unik dan cantik. Itulah mengapa kota ini disebut Culture City.

Terpopuler

Comments

Aya

Aya

Jogja,,, kota yg banyak kenangan buat ku

2021-03-12

1

lihat semua
Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!