Romi ikut Hazri di mobil Avanza yang dia sewa saat balik dari pemakaman Ridwan. Hendak ambil mobilnya di kampus orange. Dia pegang kemudi. Najib dipesan mengambil sendiri motornya di kos Hazri. Sepanjang perjalanan perjalanan, Hazri memandangi terus cincin barunya. Romi sesekali melirik ke Hazri.
“Dikasih kakeknya Ridwan, Bang?”
“Iya.”
“Ampuh enggak?”
Hazri melepas cincin itu dan diberikan Romi. Maksudnya supaya Romi mencobanya sendiri. “Aduh, panas, Bang!” dia berseru kaget saat menyentuhnya. Cincin itu terjatuh ke lantai bawah mobil. Hazri memungutnya sambil terkekeh.
“Kok bisa panas ya, Bang?” tanya Romi.
“Iyalah. Cincin kiai dipakai penjahat, hehehe...”
Romi garuk-garuk kepala. “Ya, Abang kan malah biangnya.”
Giliran Hazri yang meringis. Romi tertawa.
“Ganti ikatannya dengan emas, Bang, biar kelihatan lebih berwibawa.”
Hazri menggelengkan kepala. “Lebih cocok seperti ini, natural.”
“Masak kuningan? Jadul, nanti jari Abang hijau.”
“Cuci tangan beres kan.”
“Yaelah, Bang. Susah bener diajak bergaya modern dikit.”
Hazri hanya tersenyum.
Kemudian hening. Hazri menyalakan rokok diikuti Romi, hening tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Sesampainya di Gejayan, Hazri meminta Romi membawa masuk mobinya ke parkiran kampus orange. Mereka memarkirkan mobil di bawah pohon ringin besar yang rindang. Hazri mengecilkan suara radio yang tadi sempat menemani. Hazri ingin ngomong serius dengan Romi.
“Bagaimana lukamu, Rom?” tanya Hazri.
“Mendingan, Bang. Sudah agak keringan.”
“Aku sudah membuat rencana untuk Pak Day. Besok jam delapan kita ketemu di kontrakan. Panggil semua ketua wilayah, kita matangkan rencananya. Jangan ada yang tidak bisa datang, tunda semua acara lain. Pokoknya semuanya harus lengkap, mengerti?”
“Baik, Bang. Laksanakan.”
“Itu saja dulu Rom.”
“Siap, Bang!. aku cabut duluan.” sambut Romi bersemangat.
Hazri mengangguk.
Romi turun dari mobil dan menuju ke parkiran motor yang tidak jauh. Hazri mengamati langkah gagah Panglima Baret itu. Kemudian Hazri menghidupkan kembali mobilnya dan segera keluar dari lingkungan kampus orange.
Lepas dari kampus orange, Hazri teringat Dewi. Dia pun mengontaknya. Dewi adalah teman Tika. Dulu Tika yang mengenalkan Dewi saat Hazri terlihat murung akibat di tinggal seorang perempuan. Tika juga tidak tahu siapa perempuan itu, Hazri sangat rapat menyimpan rahasianya. Dewi seorang mahasiswi kedokteran, lebih tepatnya dokter gigi di kampus orange.
“Halo Mas Hazriku...,” sapa Dewi terdengar.
“Halo juga Cantik, sedang apa ini?” balas Hazri.
Dewi menggeram manja. “Emm..sedang mikirin dirimu...”
“Sama dong kita...”
Keduanya tertawa.
“Dewi bisa periksain gigiku?” goda Hazri.
“Ah, beraninya cuma periksa gigi. Periksa yang lain berani enggak?” tantang dewi nakal.
Hazri tertawa. “Siapa takut...apa yang mau diperiksa, Neng?”
Dewi balas tertawa nakal. “Apa aja juga boleh, Dewi siap untuk giliran di periksa Mas.”
“Beneran nih?”
“He.em, asal dikasih hadiah. Hihihi ...”
“Hadiah? Boleh...boleh.”
Tawa Dewi semakin terdengar manja. Hazri yakin, saat ini gadis itu pasti sedang menggoyang-goyangkan tubuh sintalnya. Hazri menahan gejolak hati dengan membayangkan seraya menarik napas panjang.
“Mas, kemarin kan udah janji...” Dewi merengek.
“Janji yang mana ya?” goda Hazri.
“Eeemh....masak lupa sih?”
“Janji, janji...sebentar...” Hazri mencoba mengingat. “Oh, iya, bagaimana kalau nanti malam?” Hazri melihat kalender di HPnya. Besok tanggal merah.
“Yahhhh...,besok aku kan masuk kuliah, Mas.”
“Rajin amat, Neng. Besok hari Buruh Nasional cantik.”
“Eh, libur ya?” Dewi bersemangat. Baru ingat dia kalau besok tanggal merah. Peringatan hari buruh nasional. Meskipun Hazri adalah ketua sebuah organisasi kampus, tapi dia jarang untuk turun ke jalan menyuarakan suara rakyat. Organisasinya lebih memilih jalan lain yang jarang di masuki oleh organisasi lainnya. Lembah hitam perkampusan.
“Okey, nanti malam aku jemput di Nanamia Mantirejon jam delapan malam.”
“Okey, Mas.”
Hazri mesem. Sialan diputus duluan. Setelah ditimbang sejenak Hazri memutuskan untuk membawa Dewi ke Villa Kayu di daerah Bantul untuk nanti malam. Hazri pun menghubungi pemilik Villa itu.
Hazri biasa menginap di sana jika ada urusan di Bantul. Para pengurus Villa Kayu mengenalnya dengan baik, mulai dari manager sampai tukang sapu. Bagi mereka, Hazri ramah, tidak macam-macam maunya. Dan, tipnya selalu banyak....
Selepas Villa Kayu, Hazri menghubungi seseorang lagi. “Halo, Ko’ Ling?” sapa Hazri.
“Halo, Bang Hazri, hehehe....tumben nih?” terdengar sapa teman lama Hazri yang berprofesi sebagai pedagang emas.
“Ko’, aku ada uang sekitar satu setengah miliaran, ceritanya mau aku sulap menjadi emas. Bisa nggak ya, Ko’?” tanya Hazri. Saldo rekening Hazri di beberapa bank memang berjumlah satu setengah miliar. Itu uang pribadi Hazri bukan termasuk uang organisasi. Bisnis yang selama ini dia dan temannya jalani memang menjanjikan .
“Wah bisa, Bang, sangat bisa itu, hehehe...kebetulan banyak stok barang bagus, Belanda, dua puluh empat karat, murni.” Ko’ Ling senang mendapat orderan.
“Bisa dapat berapa batang, kalau uang satu setengah miliar?”
“Kira-kira...satu boks lah, Bang.”
“Berat itu?”
“Hehehe...lumayanlah.”
Hazri berfikir sejenak menimbang kembali rencananya. Ko’ Ling tahu kalau Hazri adalah biang kerok kampus, maka ia cepat menangkap apa yang sedang Hazri pikirkan.
“Mau dipendam?” tebak Ko’ Lim. Maksudnya hendak disimpan atau disembunyikan.
“Iya, Ko’.” jawab Hazri singkat.
“Kalau mau dipendam, mending langsung tanam saja di Bank Singapura.”
“Memang bisa seperti itu?”
“Tenang, itu bisa sekali, Bang. Kalau abang tertarik, nanti bisa saya bantu itu.”
“Bagaimana caranya?”
Ko’ Ling menjelaskan secara garis besar tentang deposit barang di Bank Singapura. Hazri menyimak dengan serius.
“Begitulah kira-kira. Nanti Bang Hazri tinggal menerima sertifikat bukti kepemilikan barang itu.” kata Ko’ Ling.
“Bakalan aman nggak tuh?”
“Terjamin, Bang. Emang di sini? Bisa digondol tikus....hehehe”
Hazri diam kembali, dia mempertimbangkan tawaran dari Ko’ Ling ini.
“Kalau maunya dipendam lama lebih baik ambil paket seumur hidung. Kita cuma membayar sekali saja, nggak perlu repot memperpanjang sewa deposit boks. Memang jatuhnya lebih mahal, tapi jangka panjang maka hitungannya akan menjadi murah...,” Ko’ Ling mencoba meyakinkan Hazri.
Hazri masih terdiam.
“Bagaimana, Bang Hazri?”
“Kalau aku nanti mati?”
“Jangan khawatir, Bang. Harta itu otomatis akan jatuh ke ahli waris. Pihak Bank Singapura yang akan mengurus semuanya, ahli waris tinggal terima beres saja. Kemarin anak-anaknya Lion, langgananku yang punya toko elektronik besar di Semarang, menerima warisan bapaknya dari Bank Singapura itu. Terima di tempat, nggak pakek ribet biaya tambahan segala. Saya juga simpan untuk masa depan anak-anak.” Ko’ Ling terus mencoba meyakinkan Hazri.
“Baiklah,” kata Hazri setuju.
“Nah gitu, Bang,...Pokoknya nyimpen emas itu keputusan yang bijaksana. Harganya susah turun. Beda kalau nyimpen banyak istri, kita yang bakalan turun mesin nanti...hahaha” Ko’ Ling senang. Dengan begini dia bakalan mendapat bonus dari Bank Singapura itu.
“Sebentar, Ko’. Aku mau tanya serius. Kamu tidak sedang berniat mempermainkan saya, kan?”
“Wedyan...emang ada yang berani mempermainkan, Abang? Mau mampus dia? Nggak, Bang, dijamin. Sumpah, saya nggak bakalan main-main.” kata Ko’ Ling dengan serius.
Hazri tersenyum kecut. “Terima kasih, Ko’. Jadi, dengan begini kita punya komitmen. Lusa aku transfer uangnya, segala macam biaya ambil disitu. Sisanya jadikan emas semua terus pendam di Bank Singapura. Begitu ya, Ko’?”
“Iya, Bang. Saya akan kirim orang ke kos Bang Hazri bawa formulinya. Nanti saya akan ambil kalau sudah diisi.”
“Okey. Syaratnya apa saja Ko’?”
“Untuk Bang Hazri cukup foto copy KTP tiga lembar. Yang lain biar orang-orang saya saja yang ngurus. Mereka sudah kenal baik dengan pihak Bank Singapura.”
“Terima kasih banyak bantuannya, Ko’ Ling.”
“Terima kasih kembali. Bang Hazri juga sering membantu saya, kan?”
Mereka ngobrol-ngobrol ringan sebentar dan memutuskan teleponnya.
Selanjutnya, Hazri menelpon salah satu manager bank yang menyimpan tabunganya, memberitahu perihal rencananya untuk transfer uang lusa. Beres semua.
Hazri pun memacu mobil yang disewanya. Dia ingin segera sampai di kosnya, bersiap untuk acara nanti malam. Sebab, gejolak nafsunya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Mas Hazri.” panggil ibu kos setelah Hazri turun dari mobilnya.
“Inggeh bu, ada apa?” tanya Hazri.
“Ini tadi ada yang nganterin surat buat Mas Hazri.” ibu kos memberikan surat beramplop coklat besar.
“Terima kasih, nggeh bu.”
“Sama-sama, Mas.”
Hazri segera masuk kamar, duduk di samping meja kecil sambil mempelajari brosur dan formulirnya. Lalu, mengambil pulpen dan mengisi data yang diperlukan.
“Kang Tejo...,” panggil Hazri saat melihat Kang Tejo.
Kang Tejo menghampiri. “Ada apa, Mas?”
“Kang, tolong foto copykan KTP saya ini tiga lembar ya. Di toko depan, kalau nggak salah ada.” Hazri menyerahkan KTPnya dan memberikan uang yang lebih dari cukup kepada Tejo. “Cepat ya, Kang...”
Tejo segera melaksanakan apa yang diminta Hazri.
Hazri mengecek formulir yang dia tulis tadi. Untuk ahli warisnya dia menetapkan Tuginah, ibunya. Dan Fatimah, adiknya. Setelah dirasa semuanya cukup, formulir pun ditandatangani. Secarik kertas kecil bertuliskan nomor rekening Ko’ Ling dilipat dan di masukkan ke dompet.
Tidak beberapa lama Tejo datang menyerahkan foto copy KTP. Hazri mengklip foto copy KTP itu ke formulir kemudian memasukkan kembali semuanya ke amplop coklat. Dia menghubungi Ko’ Ling, memberitahu bahwa semuanya sudah siap dan bisa diambil besok.
Hazri meminum dua gelas besar air putih yang diambilnya dari dispenser. Pintu ditutup dan dikunci, lampu dimatikan. Hazri melepas semua pakaiannya, telanjang bulat. Dia berdiri tegak dengan mendekapkan kedua tangannya di depan dada. Konsentrasi. Dia mau mengunci ajiannya agar tidak tidak keluar sembarangan saat dia sedang tidak sadar bersama Dewi nantinya.
Ajian-ajian ilmu silat Ki Ageng memang bisa langsung aktif jika nyawa pemiliknya terancam atau tidak sadar. Misalnya saat Hazri akan ditusuk seseorang maka ‘Cakra Buana’ akan langsung aktif melindunginya sampai dia sadar bahaya itu. Masalahnya, ‘tidak sadar’ dalam arti lain juga bisa memicu aktifnya ajian-ajian ini. Dewi pernah hampir pingsan saat melihat wajah Hazri yang katanya mirip seperti macan, atau saat dia terkejut melihat kedua tangan Hazri memutih keperakan secara tiba-tiba.
“Kok ngeyel si?” Hazri heran ajiannya tidak bisa dikunci. Dicobanya beberapa kali sama saja gagal. Kenapa ya? Tiba-tiba Hazri ingat sesuatu. Cincin yang diberikan kakek Ridwan, cincinya Ki Ageng yeng melingkar di jari manisnya. Ini mungkin? Hazri melepas cincin itu dan menyimpannya di lemari. Proses penguncian dilakukannya sekali lagi, langsung berhasil. Ternyata energi cincin batu hijau itu selaras dengan ajian yang dimilikinya bahkan bisa menambah kekuatannya. Hazri mengangguk-angguk paham lantar dia bergegas mandi.
Sekedar info
Emas Antam sendiri adalah emas batangan yang diproduksi oleh PT. Antam (Aneka Tambang), Tbk yang memiliki ciri-ciri khusus yang sulit untuk dipalsukan. Dalam masing-masing emas Antam sendiri, ada sebuah sertifikat yang menjelaskan tentang dimensi emas, berat emas, kadar kemurnian emas, serta nomor seri dari emas tersebut
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agus anas
cerita ini mirip novel Kun fa yakun, cuma beda nama pemeran
2025-03-13
0
Zuniati Rahardjo
kayaknya ibunya maemunah adiknya namanya siti....
2021-06-28
0
Mrs Sunshine
ceritanya bgus👍👍👍👍
2021-05-20
0