“Dik, Bang Hazri di sini?” Romi tiba-tiba ada di sebelah Sodik. Nampak begitu lesu dan banyak pikirannya.
“Loh, Bang? Nggak kelihatan datangnya...,” sapa Sodik. Bau alkohol menyeruak dari mulutnya saat bicara tadi.
“Bang Hazri di sini?” tanya Romi sekali lagi
“Ada di dalam kamar. Sedang istirahat kayaknya.”
Romi segera beranjak masuk ke dalam kontrakan, Sodik mengikuti dari belakang meninggalkan Najib dan anak-anak lainnya yang mulai bersiap-siap hendak berangkat ke kampus. Maklum masih mahasiswa baru jadi takut terlambat. Berbeda dengan Hazri, Sodik, dan Romi sebagai mahasiswa lama mereka lebih santai, terlambat 10-20 menit bukan soal bagi mereka.
“Ada apa, Bang?” Sodik bertanya.
Romi menggeleng. Tidak menjawab sambil terus berjalan menuju kamar yang dimaksud oleh Sodik.
Setibanya di depan kamar, Romi mengetuk pintu. “Bang...” belum ada jawaban. Hening, sepertinya sedang tidur. “Bang Hazri...”
Di dalam kamar, lamat-lamat Hazri mulai tersadar dari lamunanya.
“Bang....” pintu kembali diketuk Romi, kali ini agak sedikit lebih kencang.
“Iya, masuk...” ujar Hazri dari dalam kamar
Romi membuka pintu dan langsung masuk, Sodik masih mengikuti Romi dari belakang.
“Siang, Bang,” sapa Romi dengan nada dan ekspresi wajah yang lesu.
Hazri bangkit dari posisi tidur lalu mengangguk. “Duduk, Rom !” tanpa ikut disuruh Sodik pun mengikuti Romi untuk mengambil posisi duduk. “Ada apa Rom?”
Romi menghela napas panjang, mencoba mengeluarkan segala beban yang ada. “Begini, Bang, kayaknya kita ada sedikit masalah dengan Pak Day..”
Hazri tertegun, “Pak Day?”
Romi mengangguk cepat.
“Kau keluar dulu, Dik, ini urusannya Romi,” kata Hari kepada Sodik.
Sodik mengangguk. Dengan sigap dia keluar sambil menutup pintu.
Hazri mengambil gelas dan mengisinya dengan Vodka yang dari tadi belum disentuhnya, lalu diberikan ke Romi. Sementara Hazri mengambil rokok dan menyulutnya, dihisapnya dalam-dalam dan dikeluarkan. Asap pun membumbung memenuhi ruang ini. Tanpa menunggu perintah Romi pun mengambil rokok dan ikut menyulutnya. Maka ruangan yang tidak begitu luas dipenuhi dengan asap rokok, untungnya masih ada ventilasi yang membantu sirkulasi udara.
“Bagaimana, Rom? Ada masalah apa yang bisa kau laporkan?” Hazri mulai membuka diskusi.
“Begini, Bang, kita sudah membelikan barang elektronik bodong untuk kampus biru seperti yang dipesan Pak Day, kualitas juga sama seperti yang diminta KW 2. Bahkan sudah dikirim pula seperti perintah Abang. Anak-anak Baret yang kawal...,” Romi berhenti sejenak menghisap rokoknya, kali ini lebih santai. Hazri menunggu kelanjutannya.
“Sampai di situ urusan aman terkendali. Uang aparat sudah kukasih. Semua aparat tutup mata sampai ke kampus biru.”
Hazri sedikit bernapas lega. Tadinya dia pikir ada masalah dengan aparat yang bersangkutan. “Terus, kenapa?”
“Besoknya, berarti kemarin, aku ke kampus biru sama Ridwan mau nagih bayaran ceritanya...,” Romi memandang Hazri. “Begitu kan perintah yang Abang berikan?”
“Iya, lanjut...” jawab Hazri
“Itulah. Cuma waktu sampai di kampus biru, disana kami nggak diperbolehkan masuk...”
“Nggak boleh masuk gimana, Rom?” ekspresi wajah Hazri agak heran. Padahal untuk urusan masuk ke kampus-kampus yang ada di Jogja selama ini aman-aman saja. Asal satpamnya tahu itu anggota Kopen maka segala urusan lancar.
“Kampus Biru dijaga ketat sama anggota-anggotanya Kapri. Kami bilang hendak ketemu Pak Day, mereka malah marah-marah, pakek bentak pula. Katanya Pak Day tidak bisa diganggu untuk saat ini.”
“Kapri siapa?” tanya Hazri
“Itu loh organisasi yang dulu sempat Abang hajar karena menghalangi masuk ke kampus orange.” jawab Romi sambil meneguk minuman yang disodorkan Hazri tadi.
Hazri mengingat-ingat. “Yang anaknya pada sok jago itu?”
Romi mengangguk.
“Lah satpamnya bagaimana saat melihat ini?” tanya Hazri lagi.
“Satpamnya hanya berdiri melihat tanpa ada respon. Entah takut atau memang sudah disogok untuk tidak ikut campur.” jawab Romi menjelaskan. Rokok di tangannya sudah habis. Romi mengambil lagi kemudian menyulutnya. Sementara rokok di tangan Hazri telah habis sejak tadi, namun dia enggan untuk menyulut lagi. Dia lebih memilih memperhatikan penjelasan dari Romi.
Hazri mulai mendidih, ekspresi wajahnya menegang. “Anak kemarin sore dah sok-sokan jadi jagoan tuh Kapri...” Hazri mengumpat. “Kau bilang urusan kita nagih bayaran ke Pak Day bukan yang lainnya?”
“Sudah, Bang. Malah salah satu anggotanya ngomong katanya nggak pakai bayar-bayaran, Pak Day nggak mau bayar. Pokoknya nggak ada urusan lagi sama Kopen.”
“Brengsek!, kurang ajar betul mereka..” Hazri kesal.
“Nggak tahan aku sama Ridwan, kesal banget lihat lagaknya yang sok jago itu. kuhajar dia. Teman-temannya datang...jadi. Delapan lawan dua. Aku kesabet pisau, sementara Ridwan mengenaskan. Untung kami masih bisa kabur.”
Romi memperlihatkan beberapa luka lebam yang ada di wajah dan luka sayatan di pinggang kanannya. Lumayan parah walaupun nggak sangat. “Aku nggak apa-apa. Ridwan yang kritis.”
“Dimana dia sekarang?”
“Aku bawa ke Sarjito. Parah benar dia, kepalanya bocor kena pukulan balok kayu. Kata dokter kemungkinan dia akan gagar otak. Itu pun kalau dia bisa selamat Bang.”
“Ha? Kurang ajar..” Hazri semakin kesal.
“Tiga anak Baret aku suruh jaga-jaga disana.” Lanjut Romi.
Hening suasana. Ruangan yang tidak begitu luas itu semakin pengap.
“Jadi, kita belum dapat duit dari Day?” Hazri menegaskan.
“Belum, Bang. Makanya aku datang kesini melapor.”
Hazri menelpon Day lewat HP. Diputus..., dicobanya lagi, diputus kembali. sampai tiga kali. “Setan alas! Kemana ****** sialan itu!” makinya sambil melihat menu WA. Kosong, tidak ada pesan masuk.
Hening kembali suasana siang ini. Hazri diam, mencoba mengingat-ingat kembali semua proses, dimulai dari awal saat dia dan Day bernegosiasi sebulan yang lalu. Tahap demi tahap diingatnya kembali, siapa tahu ada kesalahan dari pihaknya. Nihil, dia tidak menemukannya, semuanya berjalan sesuai kesepakatan. Romi juga diam sambil memainkan gelas minumannya yang sudah dia teguk separuh tadi.
“Menurutmu, siapa yang buat masalah?” tanya Hazri.
“Pak Day!” jawab Romi tegas tanpa berpikir panjang.
“Kau siap?”
“Kapan pun Abang perintah.”
“Ayo!” Hazri beranjak keluar ruangan, diikuti Romi di belakangnya.
Melihat kemunculan Hazri dengan wajah yang dingin seperti bongkahan es balok, dingin dan keras. Sodik paham bahwa bosnya ini sedang marah besar.
“Ada apa Bang?” tanya Sodik memberanikan diri.
“Dik, kita punya urusan. Kau dan anak buahmu yang ada di kontrakan ini bersiap-siaplah. Tetap waspada dan siaga. Tunggu sampai perintahku selanjutnya. Mengerti?”
“Siap, Bang,” jawab Sodik cepat. Romi di samping Hazri memberi isyarat tangan mengepal. Dia pun mengangguk paham.
“Ada yang ditanyakan?” tanya Hazri mencoba memastikan kesiapan anak buahnya ini.
Sodik menggelengkan kepala, “Jelas, Bang.”
“Oke, aku sama Romi pergi dulu.”
Sodik menganggukkan kepala diikuti dengan kepergian Hazri dan Romi. Mereka berdua menuju sepeda motor Tiger yang terpakir di depan rumah kontrakan ini. “Biar aku yang bawa Bang.” Ujar Romi. Hazri pun menyerahkan kunci motor Tiger hitamnya ke Romi.
“Ke tempat kosku dulu...”
Sekedar info
Honda Tiger 2000 pernah berjaya di masanya. Motor sport touring Honda ini lahir sebagai kasta tertinggi dari model di jajarannya setelah GL Pro dan Mega Pro. Selama masa hidupnya dengan rentang dua dasawarsa Tiger punya lima generasi. Tapi bagi pecinta Tiger klasifikasinya dibuat lebih ringkas hanya tiga, yaitu Tiger Lawas ( Tilas), Tiger Lama ( Tilam), dan Tires (Tiger Revo).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Ridho Widodo
masuk kalo bisa perangnya yg seru...
2023-09-21
0
AbhiAgam Al Kautsar
sementara cerita belum nyambung
2023-02-19
0
Solihat
hmmp jd inget waktu dlu punya pacar orang kaya d kampung punya motor tiger jg
bersa jd c'wek paling cantik aq waktu itu 😁😁
2021-05-20
1