Hazri turun dari moto. Aroma tajam minuman keras menyambut kedatangannya. ‘Cakra Buana’ diperiksa, aman. Dia mengikuti Romi masuk ke dalam rumah itu. Pemuda-pemuda berandalan yang ada disana terkejut melihat kedatangan mereka. Sontak mereka berdiri dan mengangguk takzim. “Bang...,” sapa pemuda-pemuda itu hampir bersamaan. Hazri pun spontan mengangguk tanpa menjawab sapaan mereka.
“Kesini, Bang.”
Romi dan Hazri masuk ke sebuah ruangan. Gelap. Udara di dalam ruangan itu terasa begitu panas dan pengap. Lampu dinyalakan, betapa kagetnya Hazri...
Empat pemuda tergeletak di lantai beralasan kasur lantai penuh dengan bercak darah. Wajah mereka pucat pasih, mata mereka terpejam, bekas-bekas darah mengering di sekitar mulut dan bawah hidung mereka. Tidak terdengar suara, masih ada gerak napas yang nampak melemah. Tersendat-sendat tanpa irama. Romi tidak berbohong, mereka semua sekarat...
Romi memandang Hazri, “Bagaimana, Bang?”
Hazri menghela napas lalu memeriksa satu persatu para pemuda korban dari ajian ‘Rogo Kumitir’ ini. “Masih ada harapan, namun....” Hazri terdiam. “Itu sangat tipis sekali..”
Romi menghela napas, bayangannya menerawang kalau dia akan kehilangan anak buahnya lagi.
“Buka semua jendela, hidupkan kipas angin itu kalau bisa. Setel yang paling kencang.” perintah Hazri kemudian.
Romi mengangguk. Seorang anak buah yang tadi sempat ikut masuk ke dalam ruangan segera membuka semua jendela yang ada seperti perintah Hazri. Romi pun bergegas menyalakan kipas angin, dua sekaligus dalam setelan paling kencang.
“Aku kira mereka kedinginan karena selalu menggigil. Makanya jendela aku suruh tutup dan kipas angin dimatikan,” kata Romi tanpa ada yang bertanya.
Hazri mengangguk-angguk. “Luarnya memang dingin, tapi dalamnya panas membakar. Sekarang, tolong ambilkan aku air putih sebotol dan gelas. Sekalian suruh perempuan-perempuan di kamar belakang itu untuk pergi. Kesambar ilmuku baru tahu rasa mereka kalau tetap disana..” kata Hazri tegas.
Hazri hanya menggertak. ‘Rogo Swara’ dari awal sudah melapor perihal ini sejak dia datang tadi. Kesal saja Hazri. Padahal ada yang lagi sekarat disini, mereka malah asyik cekikikan. Romi kaget, bagaimana Hazri tahu tentang mereka? Padahal, ruangan bekas gudang itu terpisah jauh dari markas utama, nyempil di sudut halaman belakang. Dia saja tidak tahu tentang apa yang sedang terjadi disana.
“Baik, Bang.” kata Romi cepat. “Simon, carikan apa yang dibutuhkan Bang Hazri dan bawa ke sini secepatnya. Aku mau ngurus mereka yang ada di gudang belakang sana...,” perintah Romi kepada seorang pemuda yang ikut masuk tadi. Namanya Simon, tangan kanan Romi selama ini. Dia juga yang ngasih kabar ke Romi waktu di kampus putih tadi.
Simon mengangguk dan segera secepat mungkin dia pergi mencarikan semua yang diminta Hazri.
Romi melangkah cepat ke ruang belakang itu. Brak! Pintu ditendang keras. Lalu terdengar maki-makiannya... “Jalang! Pergi kalian semua!” bentak Romi. Perempuan-perempuan itu berteriak-teriak sambil kabur tunggang-langgang. Romi membentak dan menempelengi anak buahnya yang ketangkap basah. “Kurang ajar kalian!...teman lagi sekarat malah...” lalu Plak Bluk Plak Bluk....tamparan dan tendangan mendarat tanpa ampun.
Sementara itu, Hazri memeriksa kembali kondisi para pemuda yang tergeletak itu. Dia menggelengkan kepala, mengeluh dalam hati. Semoga saja belum terlambat...
“Ini, Bang.”
Simon masuk membawa sebotol air minum besar dan gelas. Sesaat kemudian Romi masuk juga. Hazri meletakkan botol air dan gelas itu di dekatnya, dan geleng-geleng kepala. “Ini parah. Mereka kena langsung seperti kamu waktu itu.” katanya pelan kepada Romi. “Aku akan mencobanya. Tapi, aku hanya bisa berusaha. Masalah takdir bukan aku yang pegang.” katanya kembali sambil melihat para korban itu.
“Sekarang kalian keluarlah dari ruangan ini. Dan usahakan menjauh. Jangan ada yang masuk sampai aku selesai, mengerti?” Hazri menegaskan.
“Baik, Bang.” jawab Romi. Dia, Simon, dan semua anak buahnya termasuk yang kena pukul tadi keluar. Duduk menunggu di bawah pohon depan ruangan. Hening, tidak ada yang berani bicara.
Hazri menutup pintu ruangan, duduk merenung sejenak. Dia tahu, ini akan sangat melelahkan bagi dirinya, karena ini akan menguras tenaga dalam yang sangat banyak untuk menyembuhkan ke empat pemuda ini. Kalau saat Hazri dalam kondisi lemah diserang oleh Romi maka dia pasti tumbang. Tapi, kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa mencabut energi ‘Rogo Kumitir’ yang bersemayam di tubuh mereka ini? Jika dibiarkan, paling lama mereka akan bertahan hanya dalam waktu lima hari kedepan.
Tidak! Aku tidak mau menjadi seorang pembunuh. “Ya Allah, mohon perlindungan-Mu...,” kata Hazri dalam hati.
Kalau digambarkan. Di dalam tubuh keempat pemuda korban ‘Rogo Kumitir’ itu ada semacam gumpalan energi supranatural yang berasal dari tenaga dalam Hazri. Energi itu terus memantul-mantul liar kesana-kemari tanpa terkontrol membentur organ-organ dalam tubuh inangnya. Seperti bola karet yang memantul-mantul dalam wadah tertutup, tapi tidak bisa berhenti. Terus memantul dan menghancurkan.
Saat Romi terkena pukulan yang serupa waktu itu, Hazri langsung menariknya keluar gumpalan energi itu dengan tenaga dalamnya. Karena baru terkena maka tubuh Romi masih mampu menahan guncangan energi yang tidak stabil itu. Lain dengan kasus empat pemuda ini, kondisi tubuhnya sangat lemah. Bagaimana tidak, selama empat hari organ-organ dalamnya dihajar terus-menerus oleh bola energi itu. Hazri tidak mungkin mendorongnya secara langsung, bisa jebol sekalian organ dalam mereka kalau dipaksa. Apa boleh buat, dia harus menariknya secara perlahan, sedikit demi sedikit.
Hazri membuka baju, menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan mulai konsentrasi. Saat ini tenaga dalamnya telah aktif seperempat, dia tinggal menggenjotnya sampai penuh. Sesaat kemudian pemuda ini telah mengumpulkan energi alam murni yang ada disekitarnya. Tenaga dalamnya pun naik perlahan-lahan.
Hazri pun kini telah siap. Luapan energi alam murni yang dibungkus dengan tenaga dalamnya itu membuat mahasiswa semester awal ini bercucuran keringat ditengah hembusan kipas angin. Dia menuangkan air ke dalam gelas lalu memegangnya dengan tangan kiri. Telapak tangan kanan diletakkan di atas permukaan gelas berisi air itu. Hazri sedang mengalirkan energi alam murni. Tampak kemudian air dalam gelas itu bergejolak seperti mendidih. Tapi dingin, bukan panas. Itulah energi dingin alam murni. Seperti juga saat merasakan hembusan angin yang menyejukkan itulah salah satu bentuk energi alam murni.
Hazri meminumkan air yang terdapat energi alam murni itu ke setiap korban. Hanya dua orang yang masih bisa minum sedikit, dua yang lainnya buka mulut saja susah. Maka kedua korban yang tidak bisa membuka mulut itu, Hazri mengusapkan air itu ke sekujur tubuhnya terutama bagian dada sambil ditekannya. Seketika, perlahan-lahan keduanya mulai bisa membuka mulut. Air energi alam murni itu dibagi-bagi, diminumkan sedikit demi sedikit kepada semua korban sampai habis. Sekarang sudah mulai terdengar suara erangan-erangan mereka.
Romi dan teman-temannya yang menunggu di depan ruangan sayup-sayup mendengar erangan-erangan itu. Mereka nampak gelisah. Kaki Romi terus bergerak sambil tangannya memainkan rokok. Entah sudah berapa bungkus yang dia hisap, terus sambung-menyambung. Walaupun terus batuk dia tidak peduli.
Di dalam ruangan, Hazri menutup ajian ‘Cakra Buana’. Dia lebih memfokuskan tenaga dalamnya pada ajian ‘Rogo Sukmo’. Konsentrasi. Perlahan-lahan kedua tangannya mulai berwarna keperakan dan terus keperakan. Akhirnya ajian ‘Rogo Sukmo’ sudah siap dalam tingkat tenaga dalam penuh. Sejak di Jogja, inilah pertama kalinya Hazri mengatifkan penuh tenaga dalamnya. Tubuh pemuda itu terselimuti asap tipis terutama kedua tangannya.
Secuil kopi
Dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755, Tugu Jogja menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti yang merupakan semangat persatuan rakyat serta penguasa untuk melawan penjajah pada masa itu. Semangat persatuan yang disebut golong gilig ini tergambar pada bangunan tugu yang berbentuk silinder (gilig) pada tiang dan bentuk bulat (golong). Oleh karena itu, tugu ini juga dinamakan Tugu Golong Gilig.
Beragam mitos juga turut menyelimuti Tugu Pal Putih, seperti yang beredar di kalangan wisatawan juga mahasiswa. Banyak wisatawan yang percaya suatu saat akan kembali mengunjungi Yogyakarta jika berfoto di depan tugu. Mitos lainnya adalah dapat mempercepat waktu menyelesaikan kuliah jika mahasiswa dapat memeluk bagian tugu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
silviaanugrah
hai thor, aku datang bawa 15like.
smngt up & smg ceritanya sukses yah, aku slalu tunggu feedback-nya. saling support. ☺✨
2021-03-13
1