Sinar matahari menerobos celah jendela yang tidak tertutup gordennya, jatuh tepat di wajah Hazri yang masih tergolek di tempat tidur. Dia menggeliat, menutupi wajahnya dengan bantal. Namun, sinar matahari makin terik bersinar, perlahan-lahan menyebar ke seluruh tubuh. Panas, Hazri pun bangun. Duduk di tepian tempat tidur menggosok-gosok mata. Sesaat kemudian jam beker berdering lembut, pukul sepuluh pagi.
“Wuaahhm...” Hazri bangkit mengambil segelas air dari dispenser lalu meminumnya sekaligus. Sebatang rokok disulut, kemudian jendela dibuka lebar agar udara dalam kamar berganti dengan yang segar. Hazri keluar duduk di bangku teras menyegarkan mata dan pikiran. Rokok dihisap dalam-dalam dan dihembuskan kembali. Diseberang jalan sekelompok anak SD bermain bola di tanah kosong. Bukan tanah yang lapang, sekedar tanah kapling bongkaran rumah yang sudah dirapikan, tapi belum dibangun kembali. Bisa dipakai bermain bola karena diuruk dengan tanah sehingga rata permukaannya.
Hazri tersenyum saat tim kiri berhasil menjebol gawang lawan. Si pencetak dol lari berkeliling tanah lapang sambil berteriak menunjukkan bahwa dia yang mencetak gol. Tangannya mengacung ke atas sambil melambai-lambai bak permainan bola kelas nasional. Rekan-rekannya satu dim bersorak sambil memeluk dirinya. Lumayan riuh....
Hazri berdecak kagum menyaksikan kesederhanaan dan kepolosan bocah-bocah itu. Dasarnya mereka hanya mencari kebahagiaan dengan permainan ini bukan kompetisi. Kalau terjadi perkelahian atau perdebatan, itu hanya sekedar hiasan. Hazri kembali menghisap rokoknya dan menghembuskannya. Mencoba mengingat kapan terakhir dia merasa gembira seperti bocah-bocah ini. Entalah..., yang ada sekarang yang ada hanyalah dunia gelap kampus. Saling terkam, saling sikut, kalau perlu saling pukul bahkan saling tikam menjadi hal yang lumrah. Hazri menyenderkan badannya setelah bocah-bocah itu pergi. Menatap lebih jauh keseberang sana. Terlihat atap kampus putih tempatnya belajar. Belajar? Hazri tidak yakin selama ini dia belajar, yang dia lakukan malah kebanyakan berbisnis dengan para cukong yang merangkap menjadi dosen. Lamat-lamat pikirannya kembali ke 5 tahun yang lalu....
***
Tttuuutttt...tttutttttt.....tttuuuuuutt
Bunyi klakson yang berasal dari kereta Api Logawa 187 berbunyi kelelahan. Perjalanan dari stasiun Jember dengan tujuan akhir stasiun Purwokerto memang perjalanan yang lumayan panjang. Kini perjalanannya telah sampai dipertengahan jalan. Stasiun Jombang. Disini Hazri ditemani sang ibu menunggu sedari tadi.
Hazri mengangkat ransel disamping tempat duduknya, air mineral berada di kantong sisi kiri ransel, cukup untuk menghilangkan rasa haus selama perjalanan nanti. Saat Hazri mencangklongkan ransel, ia melirik ibunya. Ada butiran air mata disudut kelopak mata sang ibu. Hazri menarik napas panjang, jika ia tidak meminta ke Jogja mungkin tidak akan ada air mata ibunya yang jatuh, tidak akan ada rasa menyesal dalam dadanya, dan dia bisa terus bersama ibunya di kampung. Tapi keputusan ibunya sudah bulat untuk melepas Hazri ke dunia luar sana.
“Semuanya sudah dibawa Zri?” ibu berdiri dan memastikannya.
Hazri hanya mengangguk, suaranya tertahan. Kalau saja ruang tunggu itu sepi mungkin Hazri akan menangis kencang.
“Uang yang ibu kasih dicukup-cukupkan ya, nanti kalau ada rezeki lebih ibu akan kirim lagi”
Mendengar itu Hazri semakin goyah. Hazri memeluk erat dan meyakinkan anak bungsunya akan baik-baik saja. Dicium kening ibunya, memberi tanda tidak perlu khawatir.
Kereta api mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Perjalanan dari Jombang menuju Lempuyangan tujuan Hazri akan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Suasana di dalam kereta api sudah penuh tinggal menyisakan beberapa bangku kosong yang menunggu si pemesan tiket datang.
Hazri membalas lambaian tangan ibu yang berada di depan pintu masuk. Pengantar memang tidak diperkenankan masuk. Tatapan ibunya memancarkan kesedihan yang teramat dalam meskipun kini tidak ada liangan air mata yang menggenang. Dada Hazri tiba-tiba kembali sesak. Tubuhnya seperti melayang. Ini pertama kalinya bagi Hazri berpergian sendiri tanpa ibunya. Ingin rasanya dia melompat melewati rel-rel dan kembali ke ibu yang mulai tidak terlihat. “Emak....” desahnya. Kereta api membawa Hazri semakin menjauh. Lambaian tangan ibunya sudah tidak terlihat, yang tersisa hanya tulisan papan nama “STASIUN JOMBANG” yang ikut mengecil.
Hazri masuk ke gerbong, langkah kakinya sedikit melemah. Hazri meletakkan tas bawaannya, mengambil minum dan duduk agak jauh dari tempat meletakkan tasnya. Untung saja dia duduk di pinggir jendela. Dengan begini dia tidak akan bosan sepanjang perjalanan nanti. Di depan Hazri duduk terdapat sepasang suami istri. Bangku kereta api kelas ekonomi memang dibuat saling berhadapan antara satu penumpang dengan penumpang lainnya. Berbeda dengan bangku kereta api kelas bisnis dan eskutif yang dibuat untuk menghadap satu arah saja. Kalau dilihat dari wajah kedua penumpang di depannya umur mereka berdua sudah cukup tua. Hazri membalas senyuman saat pria tua itu tersenyum kepadanya, sementara sang wanita tertidur pulas bersender jendela. Sepertinya mereka berdua sudah lama naik kereta api Logawa ini.
“Mau kemana dek?” tanya pria tua itu.
“Ke Lempuyangan pak.” Jawab Hazri sembari duduk.
“Jogja ya?”
“Inggeh, pak.” Hazri tersenyum.
Hening kemudian. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel cukup terasa di kaki.
“Kalau pajenengan mau kemana?” Hazri membuka pembicaraan.
“Saya nanti turun di Purwosari. Solo dek.”
“Pulang kampung?.”
“Oww tidak...kami mau berobat disana.” Senyum pria ini tak kalah menawan.
“Loh sakit apa pak?” sambung Hazri
Namun pria tua itu hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Hazri. Ini membuat Hazri menjadi tidak enak. Dia merasa telah menyinggung pria tua ini tentang penyakit yang dideritanya. Jika dilihat pria tua ini kelihatan baik-baik saja, mungkin istrinya karena dari tadi istrinya tidur.
Kereta terus melaju, melewati stasiun-stasiun kecil tanpa berhenti. Sesekali kereta berbelok menampakkan lokomotif dari sudut jendela tempat Hazri duduk. Pemandangan masih sama semenjak keberangkatan tadi, hamparan sawah bekas panen raya. Yang tertinggal kini hanya jerami-jerami menunggu diambil untuk makanan ternak.
“Tehnya pak...atau kopi mungkin?” terlihat mbak pramugari kereta menawarkan ke pria tua itu. Di tangan pramugari terdapat nampan yang berisi berbagai jenis minuman dingin maupun hangat. Pria tua itu menggelengkan kepala dan tersenyum sambil mengangkat air mineral yang dia bawa.
“Mungkin anaknya ?” kata pramugari itu sambil menunjuk ke arahku.
Spontan aku langsung menjawab, “Ndak Mbak, saya juga masih ada”
“Baiklah kalau begitu, selamat menikmati perjalanan kalau ada yang diperlukan bisa hubungi kami.” kata mbak pramugari itu sambil pergi. Senyumannya begitu manis. Anehnya hanya bangku kami yang ditawari minum. Lainnya hanya dilewati begitu saja.
“Kamu sudah dimana Zri?”
Sebuah pesan masuk di HP Hazri.
“Oke, nanti kalau sudah sampai di Stasiun Lempuyangan kabari lagi ya!, biar dijemput anak-anak”
“Iya nanti aku kabari lagi”
Hazri menghela napas. Ia bersyukur setibanya nanti di Jogja dia tidak bingung lagi untuk mencari tempat tinggal. Ada Iqbal kenalannya di FB sewaktu Hazri mencari info tentang kos di Jogja. Kebetulan Iqbal masih kurang orang untuk menempati sebuah rumah yang dikontrakan. Semakin banyak orang yang tinggal maka semakin murah nanti mereka untuk iuran. Urusan kenyamanan tidur, tidak begitu diperhatikan Hazri. Baginya asal bisa menyenderkan badan dan tidak kehujanan maupun kepanasan semua beres.
“Banyak yang bilang kami ini mengidap sakit, namun seperti yang adek lihat sendiri. Kondisi kami berdua baik-baik saja.” pria tua itu mulai membuka pembicaraan. Hazri pun memasukkan HPnya di saku baju.
Hazri terlihat setuju dengan pendapat pria tua ini. Memang mereka terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka di tubuh mereka.
“Maaf...itu ibunya sakit?” tanya Hazri memberanikan diri untuk bertanya meyakinkan apa yang dia lihat.
“Istri saya memang ndak kuat kalau naik kendaraan umum. Baru naik saja sudah mabuk.” tangkas pria tua itu sambil mengelus rambut istrinya. Yang dielus hanya menggeliat sesaat dan kembali tertidur untuk meredahkan pusingnya.
Hazri tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. Meskipun diusia senjanya mereka masih menampakkan keharmonisan rumah tangganya.
“Tadi adek mau ke Jogja ya?” tanya pria tua itu kembali.
“Inggeh pak.”
“Hati-hati dengan orang Jogja. Mereka masih memegang tradisi dan kepercayaan. Nanti adek bisa diapa-apain.” jelas pria tua itu. Kalimat itu membuat Hazri sedikit takut. Di negeri ini, beberapa daerah terkenal dengan hal-hal berbau mistis, dan tidak dipungkir lagi Jogja merupakan salah satunya. Beberapa guru Hazri di sekolah dulu juga sempat membahas hal seperti ini saat Hazri memberitahu tujuannya untuk kuliah di Jogja.
Hazri segera menghilangkan pikiran negatifnya tentang kota yang akan dituju. Hazri lebih membayangkan bagaimana nanti dia dapat belajar memakai toga saat lulus dan melihat wajah bangga ibunya.
“Inggeh pak, nanti saya akan hati-hati.”
“Tapi jangan menganggap semua tempat di Jogja berbahaya.” tegas pria tua itu.
“Saya dan Istri saya dulu pernah ke Jogja dan mengunjungi suatu tempat.”
Hazri tersenyum.
“Kalau ndak salah tempat itu bernama Ambarrukmo.”
“Ambarrukmo?” Hazri mengulangi nama tempat itu kembali.
“Iya, suatu tempat yang membuat saya berkesan.” kata pria tua itu sambil tersenyum.
“Suatu saat nanti saya akan mengunjungi tempat itu.” Hazri menimpali. Ia ingin membuat pria tua itu bangga akan tempat yang direkomendasikannya.
“Oww iya dari tadi saya belum memperkenalkan diri. Saya Harzri pak.” Hazri mengulurkan tangan.
“Saya Sigit dan ini istri saya Astuti.” pria tua itu menjabat tangan Hazri.
Obrolan meraka masih terus berlangsung. Obrolan ringan yang lumayan dapat menemani Hazri menikmati perjalanan pertamanya naik kereta api.
Tiga jam telah berlalu. Pemandangan di luar jendela telah berganti dengan rumah serta bangunan-bangunan tinggi. Baru pertama kali ini Hazri melewati kota yang asing baginya. Lama-kelamaan Hazri mulai bosan dengan pemandangan kota, dia lebih memilih pemandangan sawah dari pada deretan rumah kalau disuruh memilih. Kepala Hazri mulai berat matanya mulai mengantuk. Tanpa menunggu lama Hazri pun tertidur.
Sinar matahari yang mengenai tubuh Hazri lamat-lamat membangunkannya. Tanpa ia sadari kereta telah berhenti di sebuah stasiun. Ia melihat sebuah papan nama dari jendela kereta api.
“Stasiun Purwosari” desis Hazri.
Seketika Hazri kaget. “Bukankah ini tempat berhenti pak Sigit.”
Hazri melihat kedepan, Pak Sigit dan Bu Astuti istrinya sudah tidak ada ditempatnya. Hazri mencoba mencari menengok kedepan dan kebelakang. Kosong. Tidak ada hingga, Hazri melihat di peron seorang pria yang joget-joget sambil melambaikan tangannya. Di sampingnya ada seorang wanita yang dengan sabar menggandeng, wanita itu sempoyongan akibat kepalanya yang pusing.
“Pak Sigit?” desis Hazri saat melihat pria yang joget-joget di peron itu.
Sekedar info
Logawa adalah salah satu rangkaian kereta api kelas ekonomi unggulan yang melayani rute Jember-Purwokerto. Dulu sebelum juni 2011 diteruskan sampai Cilacap dengan bantuan lokomotif Feeder. Nama kereta ini berasal dari sungai yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Stasiun pemberhentian kereta api ini antara lain Klakah, Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Sidoarjo, Wonokromo, Surabaya Gubeng, loknya berputar di stasiun Surabaya Gubeng kemudian diteruskan ke Mojokerto, Jombang, Kertosono,Nganjuk, Madiun, Paron, Sragen, Solo Jebres, Purwosari, Klaten, Yogya Lempuyangan, Wates, Kutoarjo, Kebumen,Karanganyar, Gombong, dan Kroya. Dulu dari Stasiun Kroya, rangkaian dibagi 2, ada yang melanjutkan perjalanan ke Cilacap, ada juga yang melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Dengan arah sebaliknya, gerbong-gerbong yang datang dari Stasiun Cilacap dan Purwokerto akan disatukan di Stasiun Kroya, lalu berjalan ke timur. Mulai juni 2011 kereta Api Logawa tidak lagi menuju Stasiun Cilacap, hanya sampai Purwokerto. Pemerjalanan kereta api ini hanya dilakukan pada siang hari
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments