7. KA logawa

Sinar  matahari menerobos celah jendela yang tidak tertutup gordennya, jatuh tepat di wajah Hazri yang masih tergolek di tempat tidur. Dia menggeliat, menutupi wajahnya dengan bantal. Namun, sinar matahari makin terik bersinar, perlahan-lahan menyebar ke seluruh tubuh. Panas, Hazri pun bangun. Duduk di tepian tempat tidur menggosok-gosok mata. Sesaat kemudian jam beker berdering lembut, pukul sepuluh pagi.

“Wuaahhm...” Hazri bangkit mengambil segelas air dari dispenser lalu meminumnya sekaligus. Sebatang rokok disulut, kemudian jendela dibuka lebar agar udara dalam kamar berganti dengan yang segar. Hazri keluar duduk di bangku teras menyegarkan mata dan pikiran. Rokok dihisap dalam-dalam dan dihembuskan kembali. Diseberang jalan sekelompok anak SD bermain bola di tanah kosong. Bukan tanah yang lapang, sekedar tanah kapling bongkaran rumah yang sudah dirapikan, tapi belum dibangun kembali. Bisa dipakai bermain bola karena diuruk dengan tanah sehingga rata permukaannya.

Hazri tersenyum saat tim kiri berhasil menjebol gawang lawan. Si pencetak dol lari berkeliling tanah lapang sambil berteriak menunjukkan bahwa dia yang mencetak gol. Tangannya mengacung ke atas sambil melambai-lambai bak permainan bola kelas nasional. Rekan-rekannya satu dim bersorak sambil memeluk dirinya. Lumayan riuh....

Hazri berdecak kagum menyaksikan kesederhanaan dan kepolosan bocah-bocah itu. Dasarnya mereka hanya mencari kebahagiaan dengan permainan ini bukan kompetisi.  Kalau terjadi perkelahian atau perdebatan, itu hanya sekedar hiasan. Hazri kembali menghisap rokoknya dan menghembuskannya. Mencoba mengingat kapan terakhir dia merasa gembira seperti bocah-bocah ini. Entalah..., yang ada sekarang yang ada hanyalah dunia gelap kampus. Saling terkam, saling sikut, kalau perlu saling pukul bahkan saling tikam menjadi hal yang lumrah. Hazri menyenderkan badannya setelah bocah-bocah itu pergi. Menatap lebih jauh keseberang sana. Terlihat atap kampus putih tempatnya belajar. Belajar? Hazri tidak yakin selama ini dia belajar, yang dia lakukan malah kebanyakan berbisnis dengan para cukong yang merangkap menjadi dosen. Lamat-lamat pikirannya kembali ke 5 tahun yang lalu....

***

Tttuuutttt...tttutttttt.....tttuuuuuutt

Bunyi klakson yang berasal dari kereta Api Logawa 187 berbunyi kelelahan. Perjalanan dari stasiun Jember dengan tujuan akhir stasiun Purwokerto memang perjalanan yang lumayan panjang. Kini perjalanannya telah sampai dipertengahan jalan. Stasiun Jombang. Disini Hazri ditemani sang ibu menunggu sedari tadi.

Hazri mengangkat ransel disamping tempat duduknya, air mineral berada di kantong sisi kiri ransel, cukup untuk menghilangkan rasa haus selama perjalanan nanti. Saat Hazri mencangklongkan ransel, ia melirik ibunya. Ada butiran air mata disudut kelopak mata sang ibu.  Hazri menarik napas panjang, jika ia tidak meminta ke Jogja mungkin tidak akan ada air mata ibunya yang jatuh, tidak akan ada rasa menyesal dalam dadanya, dan dia bisa terus bersama ibunya di kampung. Tapi keputusan ibunya sudah bulat untuk melepas Hazri ke dunia luar sana.

“Semuanya sudah dibawa Zri?” ibu berdiri dan  memastikannya.

Hazri hanya mengangguk, suaranya tertahan. Kalau saja ruang tunggu itu sepi mungkin Hazri akan  menangis kencang.

“Uang yang ibu kasih dicukup-cukupkan ya, nanti kalau ada rezeki lebih ibu akan kirim lagi”

Mendengar itu Hazri semakin goyah. Hazri memeluk erat dan meyakinkan anak bungsunya akan baik-baik saja. Dicium kening ibunya, memberi tanda tidak perlu khawatir.

Kereta api mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Perjalanan dari Jombang menuju Lempuyangan tujuan Hazri akan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Suasana di dalam kereta api sudah penuh tinggal menyisakan beberapa bangku kosong yang menunggu si pemesan tiket datang.

Hazri membalas lambaian tangan ibu yang berada di depan pintu masuk. Pengantar memang tidak diperkenankan masuk. Tatapan ibunya memancarkan kesedihan yang teramat dalam meskipun kini tidak ada liangan air mata yang menggenang. Dada Hazri tiba-tiba kembali sesak. Tubuhnya seperti melayang. Ini pertama kalinya bagi Hazri berpergian sendiri tanpa ibunya. Ingin rasanya dia melompat melewati rel-rel dan kembali ke ibu yang mulai tidak terlihat. “Emak....” desahnya. Kereta api  membawa Hazri semakin menjauh. Lambaian tangan ibunya sudah tidak terlihat, yang tersisa hanya tulisan papan nama “STASIUN JOMBANG” yang ikut mengecil.

Hazri masuk ke gerbong, langkah kakinya sedikit melemah. Hazri meletakkan tas bawaannya, mengambil minum dan duduk agak jauh dari tempat meletakkan tasnya. Untung saja dia duduk di pinggir jendela. Dengan begini dia tidak akan bosan sepanjang perjalanan nanti. Di depan Hazri duduk terdapat sepasang suami istri. Bangku kereta api kelas ekonomi memang dibuat saling berhadapan antara satu penumpang dengan penumpang lainnya. Berbeda dengan bangku kereta api kelas bisnis dan eskutif yang dibuat untuk menghadap satu arah saja.  Kalau dilihat dari wajah kedua penumpang di depannya umur mereka berdua sudah cukup tua. Hazri membalas senyuman saat pria tua itu tersenyum kepadanya, sementara sang wanita tertidur pulas bersender jendela. Sepertinya mereka berdua sudah lama naik kereta api Logawa ini.

“Mau kemana dek?” tanya pria tua itu.

“Ke Lempuyangan pak.” Jawab Hazri sembari duduk.

“Jogja ya?”

“Inggeh, pak.” Hazri tersenyum.

Hening kemudian. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel cukup terasa di kaki.

“Kalau pajenengan mau kemana?” Hazri membuka pembicaraan.

“Saya nanti turun di Purwosari. Solo dek.”

“Pulang kampung?.”

“Oww tidak...kami mau berobat disana.” Senyum pria ini tak kalah menawan.

“Loh sakit apa pak?” sambung Hazri

Namun pria tua itu hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Hazri. Ini membuat Hazri menjadi tidak enak. Dia merasa telah menyinggung pria tua ini tentang penyakit yang dideritanya. Jika dilihat pria tua ini kelihatan baik-baik saja, mungkin istrinya karena dari tadi istrinya tidur.

Kereta terus melaju, melewati stasiun-stasiun kecil tanpa berhenti. Sesekali kereta berbelok menampakkan lokomotif dari sudut jendela tempat Hazri duduk. Pemandangan masih sama semenjak keberangkatan tadi, hamparan sawah bekas panen raya. Yang tertinggal kini hanya jerami-jerami menunggu diambil untuk makanan ternak.

“Tehnya pak...atau kopi mungkin?” terlihat mbak pramugari kereta menawarkan ke pria tua itu. Di tangan pramugari terdapat nampan yang berisi berbagai jenis minuman dingin maupun hangat. Pria tua itu menggelengkan kepala dan tersenyum sambil mengangkat air mineral yang dia bawa.

“Mungkin anaknya ?” kata pramugari itu sambil menunjuk ke arahku.

Spontan aku langsung menjawab, “Ndak Mbak, saya juga masih ada”

“Baiklah kalau begitu, selamat menikmati perjalanan kalau ada yang diperlukan bisa hubungi kami.” kata mbak pramugari itu sambil pergi. Senyumannya begitu manis. Anehnya hanya bangku kami yang ditawari minum. Lainnya hanya dilewati begitu saja.

“Kamu sudah dimana Zri?”

Sebuah pesan masuk di HP Hazri.

“Oke, nanti kalau sudah sampai di Stasiun Lempuyangan kabari lagi ya!, biar dijemput anak-anak”

“Iya nanti aku kabari lagi”

Hazri menghela napas. Ia bersyukur setibanya nanti di Jogja dia tidak bingung lagi untuk mencari tempat tinggal. Ada Iqbal kenalannya di FB sewaktu Hazri mencari info tentang kos di Jogja. Kebetulan Iqbal masih kurang orang untuk menempati sebuah rumah yang dikontrakan. Semakin banyak orang yang tinggal maka semakin murah nanti mereka untuk iuran. Urusan kenyamanan tidur, tidak begitu diperhatikan Hazri. Baginya asal bisa menyenderkan badan dan tidak kehujanan maupun kepanasan semua beres.

“Banyak yang bilang kami ini mengidap sakit, namun seperti yang adek lihat sendiri. Kondisi kami berdua baik-baik saja.” pria tua itu mulai membuka pembicaraan. Hazri pun memasukkan HPnya di saku baju.

Hazri terlihat setuju dengan pendapat pria tua ini. Memang mereka terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka di tubuh mereka.

“Maaf...itu ibunya sakit?” tanya Hazri memberanikan diri untuk bertanya meyakinkan apa yang dia lihat.

“Istri saya memang ndak kuat kalau naik kendaraan umum. Baru naik saja sudah mabuk.” tangkas pria tua itu sambil mengelus rambut istrinya. Yang dielus hanya menggeliat sesaat dan kembali tertidur untuk meredahkan pusingnya.

Hazri tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. Meskipun diusia senjanya mereka masih menampakkan keharmonisan rumah tangganya.

“Tadi adek mau ke Jogja ya?” tanya pria tua itu kembali.

“Inggeh pak.”

“Hati-hati dengan orang Jogja. Mereka masih memegang tradisi dan kepercayaan. Nanti adek bisa diapa-apain.” jelas pria tua itu. Kalimat itu membuat Hazri sedikit takut. Di negeri ini,  beberapa daerah terkenal dengan hal-hal berbau mistis, dan tidak dipungkir lagi Jogja merupakan salah satunya. Beberapa guru Hazri di sekolah dulu juga sempat membahas  hal seperti ini saat Hazri memberitahu tujuannya untuk kuliah di Jogja.

Hazri segera menghilangkan pikiran negatifnya tentang kota yang akan dituju. Hazri lebih membayangkan bagaimana nanti dia dapat belajar memakai toga saat lulus dan melihat wajah bangga ibunya.

“Inggeh pak, nanti saya akan hati-hati.”

“Tapi jangan menganggap semua tempat di Jogja berbahaya.” tegas pria tua itu.

“Saya dan Istri saya dulu pernah ke Jogja dan mengunjungi suatu tempat.”

Hazri tersenyum.

“Kalau ndak salah tempat itu bernama Ambarrukmo.”

“Ambarrukmo?” Hazri mengulangi nama tempat itu kembali.

“Iya, suatu tempat yang membuat saya berkesan.” kata pria tua itu sambil tersenyum.

“Suatu saat nanti saya akan mengunjungi tempat itu.” Hazri menimpali. Ia ingin membuat pria tua itu bangga akan tempat yang direkomendasikannya.

“Oww iya dari tadi saya belum memperkenalkan diri. Saya Harzri pak.” Hazri mengulurkan tangan.

“Saya Sigit dan ini istri saya Astuti.” pria tua itu menjabat tangan Hazri.

Obrolan meraka masih terus berlangsung. Obrolan ringan yang lumayan dapat menemani Hazri menikmati perjalanan pertamanya naik kereta api.

Tiga jam telah berlalu. Pemandangan di luar jendela telah berganti dengan rumah serta bangunan-bangunan tinggi. Baru pertama kali ini Hazri melewati kota yang asing baginya. Lama-kelamaan Hazri mulai bosan dengan pemandangan kota, dia lebih memilih pemandangan sawah dari pada deretan rumah kalau disuruh memilih. Kepala Hazri mulai berat matanya mulai mengantuk. Tanpa menunggu lama Hazri pun tertidur.

Sinar matahari yang mengenai tubuh Hazri lamat-lamat membangunkannya. Tanpa ia sadari kereta telah berhenti di sebuah stasiun. Ia melihat sebuah papan nama dari jendela kereta api.

“Stasiun Purwosari” desis Hazri.

Seketika Hazri kaget. “Bukankah ini tempat berhenti pak Sigit.”

Hazri melihat kedepan, Pak Sigit dan Bu Astuti istrinya sudah tidak ada ditempatnya. Hazri mencoba mencari menengok kedepan dan kebelakang. Kosong. Tidak ada hingga, Hazri melihat di peron seorang pria yang joget-joget sambil melambaikan tangannya. Di sampingnya ada seorang wanita yang dengan sabar menggandeng, wanita itu sempoyongan akibat kepalanya yang pusing.

“Pak Sigit?” desis Hazri saat melihat pria yang joget-joget di peron itu.

 Sekedar info

Logawa adalah salah satu rangkaian kereta api kelas ekonomi unggulan yang melayani rute Jember-Purwokerto. Dulu sebelum juni 2011 diteruskan sampai Cilacap dengan bantuan lokomotif Feeder. Nama kereta ini berasal dari sungai yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Stasiun pemberhentian kereta api ini antara lain Klakah, Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Sidoarjo, Wonokromo, Surabaya Gubeng, loknya berputar di stasiun Surabaya Gubeng kemudian diteruskan ke Mojokerto, Jombang, Kertosono,Nganjuk, Madiun, Paron, Sragen, Solo Jebres, Purwosari, Klaten, Yogya Lempuyangan, Wates, Kutoarjo, Kebumen,Karanganyar, Gombong, dan Kroya. Dulu dari Stasiun Kroya, rangkaian dibagi 2, ada yang melanjutkan perjalanan ke Cilacap, ada juga yang melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Dengan arah sebaliknya, gerbong-gerbong yang datang dari Stasiun Cilacap dan Purwokerto akan disatukan di Stasiun Kroya, lalu berjalan ke timur. Mulai juni 2011 kereta Api Logawa tidak lagi menuju Stasiun Cilacap, hanya sampai Purwokerto. Pemerjalanan kereta api ini hanya dilakukan pada siang hari

Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!