Derungan mesin motor Tiger terdengar begitu gagah seperti yang punya. Warna hitam diseluruh bodi motor menambah kesan misterius bagi motor dan yang menaiki kuda besi ini. Motor Tiger melaju sedang, tak perlu dipacu dengan cepat karena jarak antara kontrakan yang dijadikan markas Sodik dan teman-teman tidak begitu jauh dengan kos-kosan Hazri. Di jok depan Romi menunggu Hazri membuka pembicaraan. Namun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung membuka pembicaraan. Terpaksa Romi pun ikut diam sambil fokus mengendarai motor ketuanya ini.
Motor Tiger terus melaju, lewat jalanan penuh batu tepat di samping rel kereta api yang masih aktif. Motor terus melaju walaupun harus bergoyang-goyang tergelincir bebatuan. Motor Tiger yang dinaiki Hazri dan Romi belok kiri masuk ke jalan Sapen, kemudian melewati palang pintu kereta api lurus dan masuk ke gang Gowok. Kos Hazri tak sulit ditemukan walaupun memang harus memasuki gang-gang kecil. Dari luar nampak kos yang bergaya tempo dulu dengan tanaman yang tertata rapi dan asri. Yang punya kos memang senang dalam hal menata tanaman. Terdapat berbagai bunga, seperti mawar, melati dan anggrek sehingga saat bunga-bunga itu mekar aroma harumnya bisa tercium hingga ke kamar kos Hazri. Motor Tiger di parkir tepat di depan kamar kos Hazri. Tak banyak kamar di tempat ini hanya ada tiga kamar yang langsung menghadap ke rumah pemilik kos. Meskipun hanya tiga kamar, Hazri tidak begitu akrab dengan tetangga kamar kos. Disebabkan kedua tetangga kamar kos Hazri adalah pekerja, yang berangkat pagi dan baru balik ke kos malam hari. Ini sangat bagus bagi Hazri, sehingga tidak banyak urusan Hazri yang diketahui.
Hazri mengambil kunci disaku celana dan membuka pintu. Setelah memastikan motor ketuanya ini terparkir dengan tepat Romi ikut masuk.
“Buat kopi sendiri ya Rom,!” perintah Hazri sambil menuju lemari yang ada di sudut kamar.
“Sejak kapan Abang buatin akau kopi?” niat Romi bercanda untuk mencairkan suasana, malah yang diajak bercanda tetap cuek.
Melihat tidak ada respon, Romi meraih gelas memasukkan dua sendok kopi Lampung dan satu setengah gula. Masalah air panas tidak perlu merebus terlebih dahulu, ada dispenser yang siap 24 jam. Saat air panas bertemu dengan kopi maka seketika aroma khas kopi Lampung langsung menyeruak memenuhi ruangan, aroma yang dapat menenangkan otot-otot yang tegang.
Tidak lama Hazri duduk di atas kasur, di tangan kanannya sudah ada beberapa kertas dan kwitansi, banyak betul mirip tesis anak S2. Sementara Romi asyik mencari-cari buku bacaan yang tertata rapi di rak. Tidak begitu banyak buku yang ada disana, bahkan raknya tidak penuh. Hanya terdapat beberapa buku bacaan tebal dan beberapa kitab kuning yang terlihat lebih berdebu ketimbang buku lainnya. Dapat disimpulkan kitab kuning itu jarang bahkan tidak pernah disentuh oleh Hazri. Bagaimanapun juga Romi paham bahwa ketuanya dulu ini pernah menempuh pendidikan disalah satu Pondok Pesantren di Jombang sana. Namun jika diperhatikan secara seksama, buku bacaan tersebut mempunyai tingkat kesulitan yang berat. Tidak sembarang orang yang mampu memahami buku bacaan itu. Salah satunya yakni Dunia Sophie, sebuah buku filsafat yang disajikan dengan gaya novel. Santai tapi berat untuk dipahami.
Dunia Sophie karya Joestin Gaarder ini adalah sebuah novel tentang sejarah filsafat sejak awal perkembangannya di Yunani hingga abad kedua puluh. Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1991 dalam bahasa Norwegia dengan judul Sofie’s Verden dan hingga kini diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia.
Menyajikan sejarah filsafat dalam bentuk novel adalah suatu hal yang unik. Dengan cara ini filsafat yang terkesan sulit dan berat untuk dipelajari dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Ini penting karena bagaimanapun, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh filosofis sebenarnya merupakan kepentingan semua orang, bukan hanya para filosof yang mempelajarinya secara akademis.
Oleh karen itu tidak heran jika buku ini laris luar biasa di setiap negara yang telah menerbitkan edisi terjemahannya. Di Jepang, novel ini diterbitkan oleh NHK Japan Broadcast Publishing pada akhir Juni 1995 dan berhasil terjual 1,6 juta eksemplar hanya dalam waktu 6 bulan. Hanser Verlag di Jerman menerbitkan edisi Jermannya pada Agustus 1993 dan hingga kini telah memasarkan sebanyak 1,5 juta eksemplar untuk pembaca Jerman. Edisi Prancisnya diterbitkan oleh Du Seuil pada Maret 1995 dan laku lebih dari 800.000 eksemplar. Rata-rata di setiap negara yang telah menerjemahkannya, novel ini terjual lebih dari 200.000 eksemplar dan ia pernah menduduki posisi pertama.di daftar bestseller dunia pada tahun 1995, mengalahkan novel The Celestine Prophecy karya James Redfield yang konon telah mengubah hidup banyak orang.
Lebih jauh lagi, novel ini dapat membuat seseorang berani memperjuangkan hidup yang bermakna. Karena, betapapun, hidup yang tidak bermakna adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.
Diambilah novel tersebut oleh Romi. Dia ingin tahu buku yang sangat digemari teman-teman se kampusnya itu. Romi menghempaskan tubuhnya ke kasur, lalu meringis. Lupa kalau pinggangnya ada bekas sayatan pisau yang masih basah.
“Bacaan berat semua ini.” gerutu Romi menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Diletakkan begitu saja novel dengan tebal kurang lebih 500 halaman itu disampingnya.
Hazri masih terus mencari berkas yang diperlukan.
“Okey, ketemu...” kata Hazri seketika saat berkas yang dicari telah ketemu. “Ayo Rom!”
“Wah cepet banget, Bang...” agak kecewa Romi, baru saja mau memejamkan mata. “Ini kopi aja belum keminum, Bang”
“Nanti aja diminumnya.” Perintah Hazri. Dasar Romi orangnya tidak sabaran maka kopi yang masih ngebul diseruputnya, alhasil lidahnya langsung tebal karena kepanasan.
“Huahhhh,,,panasss...”
Hazri tersenyum melihat kecerobohan anak buah sekaligus sahabatnya ini.
“Kita kemana Bang?” tanya Romi sambil terus mengibas-ngibas lidahnya.
“ATM.”jawab Hazri singkat
“Yang di kampus putih?”
“Iya, lebih dekat.”
Mesin motor Tiger kembali menyala, perlahan keluar dan melaju membela jalanan yang mulai ramai dengan anak SMA pulang sekolah.
“Enaknya jadi anak SMA, tugasnya cuma belajar sama pacaran, lah kita harus berkecimpu di dunia hitam perkampusan.” Kata Romi saat palang pintu rel kereta api tertutup, suara sirine menandakan akan ada kereta lewat.
Hazri masih tetap cuek, disudut matanya dia memperhatikan segerombolan anak SMA muda-mudi bercanda di dalam angkutan umum. Pikiran Hazri mulai menerawang. Perlahan-lahan kenangan di markas Sodik yang tadi sempat terputus karena kedatangan Romi muncul kembali. Wajah emak hadir...
***
“Nak, masih ingin pergi ke Jogja?” tanya Maemunah.
Hazri tertegun, seminggu lalu Emak tegas melarang niatnya untuk kuliah ke Jogja. Hazri menatap ibunya, Maemunah balas menatap sang buah hati dengan sentuhan lembut yang hanya bisa diterjemahkan oleh seorang ibu. Hazri merasakan seluruh tubuhnya lemas tidak berdaya.
“Kalau Emak melarang, aku akan mengurungkan niat untuk pergi..,”jawabnya pelan.
Maemunah memeluk erat anak laki-lakinya itu, “Pergilah, Nak, jika itu maumu. Emak disini merestuimu...”
Seketika Hazri menangis. Tiba-tiba niatnya untuk pergi kuliah ke Jogja hilang, ia tidak ingin meninggalkan keluarganya disini, terutama Emaknya. “Tidak, Mak, aku tidak akan pergi...”
Emak terus memeluknya dengan erat. Menangislah keduanya.
“Pergilah, Nak. Raih mimpimu disana.”
Jiwa dan raga Hazri melayang-layang tak tentu arah. Kini giliran dia yang memeluk ibunya dengan erat. Seakan tidak rela melepaskannya...
Sekedar info
Sophie Amundsen (Sofie Amundsen dalam versi Norwegia) adalah seorang gadis remaja berumur empatbelas tahun yang tinggal di Norwegia pada tahun 1990. Dia tinggal bersama ibunya dan hewan-hewan peliharaannya. Ayahnya adalah seorang kapten kapal tanker minyak, yang menghabiskan sebagian besar waktunya berlayar. Ayahnya tidak muncul dalam buku ini.
Sophie menjalani kehidupan sebagai gadis biasa, yang secara mengejutkan terganggu pada awal buku ini, saat dia menerima dua pesan misterius di kotak posnya (Siapakah dirimu? Dari mana asalnya dunia?), bersama dengan sebuah kartu pos yang dialamatkan kepada : 'Hilde Møller Knag, d/a Sophie Amundsen'. Tak lama kemudian, dia juga menerima sebuah paket berisi pelajaran filsafat
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Liana
bagus,kata katanya rapi dan mudah mengerti
2021-03-17
0
Irga Intan Iswa Nanda
cerita nya 👍👍👍👍
2021-03-16
0