Tiga hari Hazri memikirkan rencananya. Selama itu, dia lebih banyak diam di kamarnya. Hazri sadar, jika rencana ini tidak berjalan dengan baik maka persoalannya akan kacau karena melibatkan warga negara asing. Selain itu, dia juga tahu bahwa Pak Day yang memiliki nama asli Haraday Susoku adalah salah satu anggota dari mafia Jepang, Yakuza. Bukan tidak mungkin jika anggotanya terluka atau terbunuh mereka akan membalas.
Hazri mengangguk-angguk, membayangkan langkah-langkah yang akan dijalankan. Tinggal satu masalah, dimana akan ditempatkan Pak Day ini setelah diciduk? Hazri mengingat-ingat tempat yang mungkin untuk itu, kemudian geleng-geleng kepala. Tidak ada yang cocok. Bagusnya tempat yang sulit diduga, belum banyak diketahui, tetapi letaknya strategis. Dimana itu? Hazri geleng-geleng kepala lagi, buntu disini. Dia berharap nanti ada masukan dari teman-temannya.
Rokok dinyalakan dan diisap dalam-dalam lalu dihembuskan. Asapnya mengepul banyak membuat perih mata. Saat rokok itu telah habis diisap, dia menenggak habis kopi yang tersisa meninggalkan ampas lalu beranjak mandi.
Baru selesai mandi, HP Hazri berbunyi. Romi.
“Yap Rom....?
“Bang, Ridwan barusan meninggal...,” kata Romi di seberang sana.
Hazri tertegun sebentar. “Kapan, Rom?”
“Barusan Bang. Kondisinya terus memburuk, dokter angkat tangan.”
“Terus memburuk?”
“Iya, Bang. Kemarin-kemarin napasnya masih ada sepotong-potong, terakhir tinggal secuil-secuil terus habis. Garisnya lurus.”
Hazri merasa gerah walau barusan selesai mandi dan kipas angin menyala.
“Terus rencanamu bagaimana?”
“Rencananya aku mau bawa jenazahnya ke kampung halamannya, Klaten. Biar dikubur oleh keluarganya disana. Oh iya, tadi aku juga melarang dokter untuk mengotopsi jasadnya.”
“Betul itu. Segera kamu bawa Ridwan ke kampung halamannya. Kirim satu anak buahmu yang tahu kampung halaman Ridwan ke kosku.”
“Siap, Bang.”
Klik. Pembicaraan diputus.
Hazri memejamkan mata, kemarahannya kepada Pak Day semakin memuncak. Dia segera berpakaian lalu mengambil segebok uang dari lemarinya, dimasukkan dalam amplop coklat. Sarapan pun terpaksa ditunda.
Setelah memanaskan mesin mobil Avanza yang dia sewa kemarin, sebenarnya teman-teman Hazri sudah menyarankan untuk membeli mobil, tapi selalu dia tolak. Terlalu mencolok untuk sekelas mahasiswa memiliki mobil. Hazri menunggu kedatangan anak buah Romi yang akan mengantar ke tempat Ridwan. Tidak lama terdengar raungan motor yang mendekat. Najib nongol.
“Pagi, Bang.” sapa Najib.
“Kau rupanya, Jib, masukkan motormu.”
Najib mendorong motornya masuk ke halaman parkir kos. Setelah itu Hazri menyerahkan kunci mobil Avanza. “Bisa nyetir mobil kan?”
“Bisa, Bang.”
“Tau tempatnya?”
Najib mengangguk.
Mereka masuk ke mobil. Dan mobil Avanza melaju menuju jalan raya.
“Ridwan punya keluarga?” tanya Hazri di perjalanan
“Ada, Bang. Kakak perempuan umur 25 tahun.”
“Ibu bapaknya?”
“Sudah meninggal, Bang. Ada juga kakeknya, sudah tua sekali. Sudah nggak bisa turun dari tempat tidur. Ridwan pernah cerita, bingung kakeknya itu nggak mati-mati. Eh keburu dia yang mati sekarang..”
“Jadi, keluarga Ridwan cuma Kakek sama Kakak perempuannya itu?”
“Yang saya tahu begitu, Bang.”
Selanjutnya hening. Tidak ada lagi pembicaraan sampai tiba di tujuan.
Romi menyapa Hazri. “Sudah hampir dimasukin jenazahnya Bang...,” ujarnya.
Hazri manggut-manggut. “Kau wakili aku ya.” perintah Hazri.
Romi mengangguk maklum. Beberapa kali Hazri datang ke pemakaman anak buahnya yang meninggal, baik yang normal maupun meninggal karena saat menjalankan tugas. Tapi Hazri selalu tidak mendekat ke lubang kubur. Melihat dari kejauhan saja.
Para anak buahnya mengira sikap Hazri ini berkaitan dengan pantangan ilmunya. Padahal bukan seperti itu. Hazri takut saja melihat prosesi pengkuburan jenazah, dia selalu ngeri membayangkan apa yang akan dialami jenazah di dalam kuburnya. Perasaan ini muncul sesaat setelah dia menjadi biang kerok kampus. Padahal dulu dikampung halamannya, dia sering ikut membantu mengurus jenazah. Dari mulai memandikan hingga menguburkan jenazah.
“Mana kakaknya Ridwan? Bawa kemari...”pinta Hazri.
Romi pun menghampiri seorang perempuan muda yang berdiri dekat lubang kuburan sambil menahan tangisnya. Romi bicara sebentar lalu membawa perempuan itu ke Hazri. “Ini, Bang,” kata Romi. Kakak Ridwan menyalami Hazri. Usianya masih muda, hanya saja wajahnya yang kelihatan agak tua. Mungkin karena tekanan hidup.
Pemakaman telah usai. Hazri, Romi, dan beberapa anak buahnya jalan kaki menuju rumah Ridwan diantar kakak perempuanya. Jarak antara pemakaman dan rumah Ridwan lumayan jauh. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai rumah Ridwan. Di atas dipan bambu di dalam rumah kecil semi permanen itu tergolek lemah seorang lelaki tua renta.
Hazri menghampiri kakek yang diduga sebagai kakeknya Ridwan. Saat menyentuh tangannya, betapa kaget Hazri karena ternyata orang tua ini masih mempunyai sisa-sisa tenaga dalam. Hazri sadar maka dia pun mengerahkan tenaga dalam ke mata dan pendengarannya, lalu menatap tajam sang kakek. Dari sela-sela kelopak matanya yang keriput, kakek membalas menatap Hazri. Hazri merapal ajian ‘Rogo Swara’. Perlahan-lahan Hazri bisa mendengar perkataan orang tua ini. Suaranya terdengar sangat tipis.
“Nak, tolonglah aku. Lepaskan ilmuku ini. Aku tak sanggup melepaskanya sendiri...tolongggg.” rintih sang kakek.
“Kenapa dilepas, Kek?” tanya Hazri.
“Aku tidak sanggup menanggungnya. Ilmu ini abu-abu, kalau kamu mau ambillah, kalau tidak buanglah. Tolonggg nak....tolong aku.”
Hazri menghela napas. “Baiklah kek, akan saya coba.”
Kakek itu memejamkan matanya. Hazri menarik napas panjang lagi.
“Rom, suruh orang-orang keluar dari ruangan ini.” bisik Hazri kepada Romi yang ada disampingnya.
Romi segera menjalankan perintah ketuanya ini. Orang-orang disuruh keluar ta terkecuali kakak perempuan Ridwan.
“Suruh untuk anak buahmu jaga. Jangan ada yang boleh masuk. Tutup semua pintu dan jendela. Kau temani aku di dalam, siapa tau aku butuh bantuan.” bisik Hazri kemudian.
Romi mengangguk paham dan menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjaga di sekitar rumah, agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam. Apa pun itu yang terjadi. Setelah mengecek semuanya aman, Romi masuk ke ruangan menemani Hazri.
“Beres, Bang.” ujar Romi setelah mengunci pintu.
Hazri menganggukkan kepala dan bersiap. Romi berdiri menjauh di sudut ruangan saat melihat Hazri berkonsentrasi.
“Kakek sudah siap?”. bisik Hazri.
“Sudah, Nak..”
“Kakek tau resiko yang akan terjadi nanti?”
“Iya, Nak. Lakukanlah, kalau pun nanti aku mati itu lebih baik dari pada tersiksa seperti ini.”
Hazri mengangguk, lalu menoleh ke Romi.
Romi mengangguk, tanda siap.
Hazri melepas ‘Rogo Swara’ karena sudah tidak dibutuhkan, lalu merapal ‘Rogo Sukmo’ dengan tenaga dalam penuh. Romi melihat kedua tangan Hazri berubah keperakan sebatas siku. Romi ikut tegang melihat kejadian ini, walaupun sering melihat tapi selalu membuat Romi takut. Sesaat kemudian Hazri melakukan gerakan silat, meliuk-liuk seperti kungfu. Romi belum pernah melihat gerakan ini sebelumnya.
“Hup!” Hazri memegang kaki kakek Ridwan itu. Sang kakek pun bergelinjang di atas dipan. Perlahan telapak tangan Hazri bergerak ke arah kepala menyusuri tubuh sang kakek. Seperti sedang menarik sesuatu, Hazri terus menarik. Sang kakek semakin bergelinjang, dipan yang di tempati sang kakek berderit kencang hingga terdengar keluar rumah. Kakak perempuan Ridwan semakin khawatir dengan kondisi kakeknya. Romi pun ikut semakin tegang melihat adengan ini.
“Hap!” Hazri menarik lepas tangan dari kepala sang kakek. Kakek Ridwan menggelinjang kencang lalu lemas lunglai. Matanya terpejam.
“Rom! Bawa aku ke kebun sekarang! Cepattt!” kata Hazri terangah-engah.
Dengan sigap Romi menuntun ketuanya ini, dia membuka pintu yang mengarah ke kebun depan rumah. Orang-orang segera ribut melihat siapa yang keluar rumah dengan tergopoh-gopoh, maklum warga desa selalu heboh.
“Jangan ada yang mendekat!” bentak keras Romi.
Anak buah Romi segera dengan sigap mengamankan daerah agar orang-orang yang berkerumun tidak mendekat.
“Ke pohon itu...” suara Hazri melemah.
Romi menuntun Hazri ke pohon manggis yang sedang berbuah lebat. Kedua tangan Hazri semakin berwarna perak kelam. Dia meringis kesakitan. Romi semakin cemas.
“Ini, Bang pohonya” kata Romi saat mereka berada di depan pohon manggis itu.
Hazri menganggukkan kepala. “Lepaskan aku, dan cepatlah menjauh!” bentak Hazri. Walaupun Romi khawatir, mau tidak mau dia menjauh.
Segera Hazri melakukan gerakan kungfu seperti tadi, kemudian...Brak! Dia menghantamkan kedua tangannya ke pohon. Buah manggis berjatuhan...Hazri melakukan gerakan seperti tadi sekali lagi...dan Brak! Hazri menghantam untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Buah manggis semakin banyak berserakan.
Hazri berdiri tegak, menarik nafas dalam-dalam, mendekapkan telapak tangan di depan dada. Perlahan-lahan tangan Hazri kembali normal. Dia menoleh ke arah Romi, lalu tersenyum. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Kau tidak apa-apa, Rom?” tanya Hazri masih tersenyum.
“Yang harusnya tanya itu aku, Bang.” Romi masih tertegun.
Hazri tersenyum, “Perintahkan anak buahmu untuk jaga pohon ini. Jangan ada yang makan buahnya!” pinta Hazri.
“Memang kenapa kalau sampai termakan, Bang?”
“Mungkin akan gila yang makan, bisa juga mati.” jawab Hazri enteng.
Romi semakin takut dan mewanti-wanti anak buahnya, jangan sampai kecolongan. Romi memanggil Najib, dia memerintahkan persis seperti yang diminta Hazri. Perintah beres. Hazri dan Romi bergegas masuk ke rumah Ridwan.
Tampak di dalam rumah kakek Ridwan sudah siuman bahkan sekarang bisa duduk di dipan. Orang-orang berkumpul heran. Kakek ini tersenyum melihat kedatangan Hazri dan meminta Hazri untuk duduk di samping beliau. Kakek pun memeluk Hazri sambil menangis sesegukan.
“Terima kasih, Nak.” kata kakek pelan.
Hazri mengangguk, turut bahagia.
“Kek, pohon manggis di depan punya siapa?” tanya Hazri.
Kakek hanya bisa menunjuk dadanya, mulutnya masih tertahan tangis.
Hazri paham. “Harus ditebang, Kek. Saya membuangnya di situ.”
Si kakek manggut-manggut. Dia paham dan mempersilakan untuk menebang pohon tersebut.
Lalu, Hazri memandang kakak perempuan Ridwan. “Ridwan sudah pergi, sekarang apa yang akan kalian rencanakan”
Kakak perempuan Ridwan menggeleng lemah.
Hazri menghela napas. “Kalau berjualan mau? Jualan apa saja yang penting dapat untung. Bisa kan?”
“Tapi kami tidak punya modal.”
“Itu gampang. Rom...tolong ambilkan jaketku.” kata Hazri.
Romi bergegas mengambilkan jaket yang dimaksud Hazri. Romi terharu elihat kondisi kakak perempuan karibnya ini. Dia semakin mantap untuk tidak menikah, khawatir jika istrinya akan mengalami nasib yang sama dikemudian hari.
“Ini ada tabungan Ridwan yang dititipkan ke saya, walau dia tidak tahu. Lumayan buat modal dagang. Jangan dipakai untuk hal lain...”Hazri memberikan amplop itu ke kakak perempuan Ridwan.
Kakak perempuan Ridwan menerima dengan air mata yang berlinang.
“Sekarang kalian bisa melanjutkan hidup, Ridwan pasti bangga melihat kalian.”
Kakak perempuan Ridwan tersenyum di ikuti Hazri dan Romi tersenyum juga. Walau Hazri sudah lama menjadi biang kerok kampus, namun Romi masih sering merasa kalau ketuanya ini bukan penjahat murni. Hazri memang bisa kejam kepada musuhnya, tapi di lain waktu dia bisa lembut sekali. Lebih lembut dari mereka yang mengaku alim.
“Rom, ada anak buahmu yang asli orang sini?” tanya Hazri.
“Ada, Bang. Si Feri.” jawab Romi.
“Panggil dia kemari.”
Romi memanggil. Feri segera datang.
“Fer, pohon manggis yang di depan rumah itu harus ditebang. Buahnya dikumpulkan terus dibakar. Jangan ada yang makan!.....”
“Nanti bisa gila bahkan mati...” sahut Romi sedikit tersenyum. Feri gemetaran takut.
Hazri tersenyum. “Batangnya boleh kau potong-potong jadikan kayu bakar. Sisa dahan kering, ranting, daun-daunnya kumpulkan dan bakar. Paham?” Hazri menjelaskan.
“Paham, Bang.” Feri segera meminjam gergaji mesin ke penduduk setempat. Dia meminta teman-temannya untuk mengamankan area.
Di sana Najib termangu di atas tanah, memandang pohon manggis itu. “Mati pohon ini...lihat, Fer, batangnya kering, daunnya pada layu.” katanya kepada Feri yang berdiri di sebelah memegang golok.
Feri tertegun. “Kita harus menebangnya. Ini perintah Bang Hazri.”
“Ayo lah, merinding lama-lama aku melihatnya.” kata Najib yang memang masih percaya tahayul.
Mereka pun mulai bekerja. Suara gergaji mesin meraung-raung. Masyarakat sekitar semakin ramai menonton, tapi tidak ada yang berani mendekat. Mereka baru boleh membantu setelah pohon itu tumbang.
“Kumpulkan semua manggisnya, jangan ada yang makan! Bisa mati kalian jika nekat makan!” teriak Feri mengingatkan. “Buang semua ke lubang!” tunjuk Feri ke lubang yang sudah disiapkan. “Daun dan rantingnya jangan sampai ketinggalan.”
Gergaji mesin terus meraung, mencabik-cabik batang pohon manggis itu. Asap mengepul dari lubang tanah tempat pembakaran. Beberapa ibu-ibu menyapu serpihan kayu dan sisa-sisa daun. Dikumpulkan dan dimasukkan semua ke lubang pembakaran. Bersih tidak tersisa.
Feri tersenyum puas lalu menemui Hazri. “Selesai, Bang”
Hazri mengangguk. “Ayo kita cek, Rom.” ajaknya ke Romi.
Ketika hendak beranjak, kakek Ridwan berdiri dan ingin ikut. Semua orang dibuat heran. Kakek yang bertahun-tahun tidak bisa bangun dari dipannya itu kini bisa berjalan ke halaman depan rumahnya, walaupun agak tertatih-tatih. Hazri menuntun beliau.
Balok kayu tertumpuk rapi disamping rumah. Buah, daun, ranting pun sudah bersih dibakar. Hazri lega, lalu ia menuntun kembali kakek itu ke dalam rumah.
“Apa Ageng masih hidup?” tanya si kakek.
Betapa kagetnya Hazri, dilihatnya wajah sang kakek. “Kakek kenal dengan Ki Ageng?”
Kakek itu mengangguk. “Aku, Ageng, dan teman-teman lain pernah menyerang markas Jepang di Ambarawa. Tadi waktu melihatmu menghantam pohon itu, aku teringat Ageng. Dengan ilmu itu dia mampu menjebol dinding benteng waktu kami hendak melarikan diri setelah mengobrak-abrik markas....,” suara kakek itu terdengar putus-putus.
Hazri menghela napas. “Ki Ageng sudah lama meninggal, Kek. Saya cucu muridnya.”
Mata kakek yang sudah berwarna kelabu keputihan itu pun berkaca-kaca. Di sela-sela keriput matanya mengalir air mata.
“Ya Allah...,Ageng sahabatku telah engkau panggil. Teman-temanku yang lain juga sudah menghadap-Mu. Istriku, anak-anak, dan cucuku hari ini, kenapa Engkau melupakan aku?” rintihnya.
Kakek itu turun dari dipan, berjalan tertatih kekamar. Mengambil sesuatu didalam lemari, kakek itu mengambil bungkusan putih dan diserahkan ke Hazri. “Terimahlah Nak, ini milik Ageng...”kata beliau.
Hazri membuka bungkusan itu dan mengeluarkan sebuah cincin akik berbatu hijau dengan titik hitam di tengahnya. Energi tubuh Hazri segera bereaksi mengecek kesesuaian energi yang terdapat di cincin ini. Dia diam sejenak, memejamkan mata, dan aman. Energinya tidak masalah. “Terima kasih, Kek.”kata Hazri
Sang kakek mengangguk pelan. “Itu cincinnya Ageng, dulu dia berikan saat kami hendak berpisah. Namun selama ini aku tidak bisa memakainya, tubuhku langsung lemas.”
Hazri paham. Energi cincin ini adalah putih yang akan berbenturan dengan energi kakek Ridwan yang abu-abu. Aliran ilmu kanuragan kakek ini memang campuran antara putih dan hitam.
Hazri memandangi cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Dia membayangkan Ki Ageng saat memakainya dulu. Hazri memang tidak pernah melihat wajah Ki Ageng karena tidak ada fotonya. Namun, menurut penuturan ayahnya dan keluarganya bahwa dia mirip dengan Ki Ageng, hanya kurang coklat.
“Kek seperti apakah Ki Ageng?” tanya Hazri iseng-iseng.
Kakek itu memandang Hazri dengan seksama . “Saat itu dia mirip kamu, Nak, cuma rambutnya sedikit panjang dan kulitnya agak coklat. Iya, mirip denganmu...,”dia mengangguk-angguk.
Hazri tersenyum puas. Mereka ngobrol ringan sebentar. Kemudian Hazri pamit. Lalu memeluk kakek Ridwan dan mencium tangan beliau. Sang kakek membalas memeluk Hazri.
Sekedar info
Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Semenanjung Malaya dan menyebar ke Kepulauan Nusantara. Tumbuh hingga mencapai 7 sampai 25 meter.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
angger aplod
mantap.. bos
2021-05-30
0
Rosiyatun
bgs bgt crt ny kasih hadiah ahhh
2021-03-18
1