Setelah 5 jam perjalanan, kereta api Logawa 187 akhirnya telah sampai di tujuan Hazri, Stasiun Lempuyangan. Begitu sadar Hazri segera bangkit dan berjalan menuju tempat tasnya. Terlebih dahulu Hazri memberikan senyum kepada kedua penumpang yang menggantikan tempat duduk Pak Sigit dan Istrinya tadi. Masih belum percaya Hazri tentang apa yang dia alami barusan. Apa yang terjadi dengan Pak Sigit? Kenapa?dan siapa Pak Sigit?. pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Hazri.
Hazri berjalan menelusuri bangku penumpang. Siapa tahu dia akan mendapat jawaban tentang Pak Sigit. Namun kebanyakan penumpang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Bercanda dengan anak, ngobrol dengan temannya sambil tertawa kencang, hingga terdapat diantara mereka yang menahan mual akibat mabuk kendaraan. Terpaksa Hazri mengehela nafas panjang.
Setelah melewati beberapa rel tibalah Hazri di depan pintu keluar. Hazri mencoba mencari-cari orang yang bernama Iqbal. Tidak ditemukan.
“Kalau tidak bisa ketemu dengan Iqbal bisa gawat ini.” kata Hazri dalam hati.
“Mas aku sudah di depan pintu keluar” Hazri mengetik SMS.
“Okey, aku ke sana. Jangan ke mana-mana.” sebuah SMS masuk setelah beberapa saat.
Hampir lima menitan Hazri menunggu. Tiba-tiba seseorang menyapa Hazri.
“Hazri?” kata seseorang itu.
“Iya, Mas Iqbal?” tanya Hazri balik.
Iqbal menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Selamat datang di Jogja.”
“Terima kasih mas, ramai juga ternyata. Beda dengan Jombang.” ujar Hazri
Iqbal tersenyum. “Kelasnya beda. Ayo kita cari makan dulu.”
Hazri mengikuti Iqbal masuk ke sebuah warung di antara deretan warung pinggir stasiun Lempuyangan. Sambil menunggu makanan siap disajikan, Iqbal menghubungi temannya.
“Halo, Ren? Ya, di stasiun Lempuyangan. Tolong kabari anak-anak. Ini aku sama Hazri teman kita yang baru. Kita mau makan dulu. Setengah jam lagi. He-eh, iya. Okeyy...”
Selesai menelepon, Iqbal memandang Hazri. “Ayo makan...”
Iqbal terlihat makan dengan lahap. Berbeda dengan Hazri yang kelihatan sedikit tidak nafsu makan.
“Kenapa Zri?” tanya Iqbal saat melihat Hazri yang kurang bernafsu makan.
Hazri tersenyum, “Ndak kok mas.”
“Terlalu manis ya buat kamu?” Iqbal melirik sambil menahan tawanya.
“He-eh..”
“Hahaha....” tawa Iqbal tidak bisa tertahan lagi. “Nanti kalau sudah lama di Jogja pasti akan terbiasa lidahnya. Bahkan ketagihan.”
Hazri meringis, “Mana bisa ketagihan sama makanan seperti kolak pisang buatan Emak ini. Mending sambel terasi sama ikan asin.” kata Hazri dalam hati.
“Kamu tahu kenapa makanan di Jogja bisa berasa manis?” tanya Iqbal sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.
Hazri menggelengkan kepala sambil menyuapkan makanan ke mulutnya walaupun dengan sedikit paksaan.
“Zaman dahulu, sewaktu masa penjajahan orang-orang kolonial Belanda. Mereka menanam mereka menanam pohon tebu di sekitaran Jawa Tengah dan Jogja. Selain menanam para penjajah Belanda membuat banyak pabrik penggilingan tebu atau pabrik gula. Ada sekitar 50 pabrik gula di Jogja pada waktu itu.”
“50 mas?” Hazri terkejut. 50 pabrik gula itu bukan sedikit.
Iqbal mengangguk, “Alhasil mereka banyak mempekerjakan banyak penduduk pribumi pada waktu itu. Namun upah bagi para pekerja pada waktu itu bukan uang Zri. Kamu tahu apa..?”
“Tebu mas?” jawab Hazri.
Iqbal terkekeh, “Kalau tebu mereka bisa tanam sendiri Zri, bukan tebu. Pada waktu itu upah bagi para pekerja adalah gula yang mereka produksi.”
Hazri manggut-manggut.
“Nah....karena upahnya gula, lama-kelamaan menumpuk. Mau dijual tapi ke siapa? Lawong semuanya juga punya gula. Akhirnya dimasukkanlah gula-gula itu ke masakan yang mereka masak sebagai bahan tambahan. Dan walahhhh....manis lah makanan yang ada di Jogja ini sampai sekarang.” Iqbal mengakhiri ceritanya dengan senyuman.
Hazri ikut tersenyum, akhirnya dia tahu kenapa masakan di Jogja bisa manis. Seperti yang dia makan saat ini.
Mereka pun melanjutkan makan.
Tadinya Iqbal mengira akan sempat mengajak Hazri berkeliling kota Jogja sebelum nanti ke kontrakan. Tapi, karena ada janji dengan temannya mau tidak mau Iqbal harus menunda acara keliling kota Jogja dengan Hazri.
Beberapa waktu kemudian....
Iqbal dan Hazri duduk di halte Trans Jogja menunggu bus tujuan Kampus Putih. Kontrakan yang akan mereka tinggali di dekat situ. Beberapa orang terlihat juga sedang menunggu bus tujuannya masing-masing. Hazri masih tertegun melihat keramaian kota Jogja. Sudah beberapa bus Trans Jogja yang melintas, tapi Iqbal tidak berdiri dan naik ke bus itu. Orang di halte itu tinggal sedikit, sudah naik pada bus masing-masing. Dan kejauhan tampak bus berwarna hijau muda kekunigan bergerak mendekat nampak di depan kaca terdapat kode bus itu. 4B. Kali ini Iqbal berdiri, bersiap naik. Bus ini pun berhenti.
“Ayo Zri,,!” ajak Iqbal ke Hazri.
Hazri mengangguk. “Sekarang saatnya untuk membuat lembaran kesuksesan” kata Hazri dalam hati.
“Hidup di Jogja akan sedikit berat Zri. Kamu harus hati-hati.” pesan Iqbal saat mereka berdua telah masuk bus.
“Ingat pesanku. Jangan pernah kamu temui ibumu kalau kamu belum berhasil, nanti ibumu akan sedih dua kali. Terserah kamu mau jadi apa di Jogja nanti setelah lulus kuliah, yang penting kepala. Jangan kacung terus...” Iqbal menasehati sambil menepuk-nepuk pundak pemuda yang sudah dianggap sebagai adiknya ini.
Hazri tertawa kecil. “Yang penting kepala...”
Iqbal tertawa bangga. “Nah itu baru semangat..”
Hazri semakin mantap melangkahkan kakinya untuk kuliah di Jogja. Terlebih dia sudah diterima sebagai mahasiswa di Kampus Putih dengan jurusan yang lumayan menjadi unggulan. Jurusan Jurnalistik. Minggu depan adalah masa orientasi mahasiswa, tidak kebayang bakalan seramai apa acara itu. Hazri yakin bukan hanya dia yang jauh-jauh datang ke Jogja untuk kuliah, pasti masih banyak anak-anak lain yang sama seperti Hazri.
Bus mulai beranjak jalan. Hazri duduk tepat di belakang supir sementara Iqbal memilih berdiri walaupun terdapat kursi kosong. Bus beberapa kali berhenti, menepi ke halte menaikkan dan menurunkan penumpang. Lalu, bus pun melaju kembali....
Hazri menikmati pemandangan sepanjang jalan. Saat melintasi jalan perkotaan Jogja, rentetan rumah mewah dan objek wisata yang ramai oleh pengunjung. Dia semakin terpesona dengan keramaian kota Jogja. Hazri termangu-mangu saat melihat jalan aspal kota Jogja. Alangkah mulus dan tertata rapi. Pohon-pohon menghias indah di sepanjang jalanan. Mobil-mobil mewah berseliweran.
Setengah jam berlalu, bus Trans Jogja akhirnya berhenti di halte tujuan Iqbal dan Hazri. Para penumpang turun bergantian. Sebenarnya, Hazri agak heran karena kondektur tidak meminta ongkos kepadanya di perjalanan tadi, seperti penumpang lainnya. Maka dia bermaksud membayar ongkos langsung ke supirnya.
“Sudah, sudah....sudah aku bayar tadi Zri.” kata Iqbal saat Hazri hendak membayar ongkos perjalanan.
Hazri mengangguk-angguk. “Kalau begitu terima kasih, Mas.”
Iqbal membalas mengangguk.
Untuk menjaga-jaga, Hazri merapal ajian ‘Cakra Buana’ dengan tenaga sekedarnya. Dahulu sewaktu di kampung halaman, Hazri sudah diajari oleh ayahnya silat Ki Ageng menjelang umur empat tahun. Saat berumur sembilan tahunan Hazri sudah menguasai semua ilmu silat Ki Ageng. Berikut semua ajian-ajiannya. Dan ‘Cakra Buana’ adalah ajian tertinggi ilmu silat Ki Ageng. Ajian ini mengaktifkan sekaligus semua ajian yang lain. Efek langsungnya adalah kebal, tidak mempan senjata tajam maupun senjata api. Kecuali jika senjata itu terbuat dari beberapa material alam langka, antara lain timah kuning. Butuh tenaga dalam tinggi untuk bisa mengendalikan ‘Cakra Buana’ karena ajian ini sangat menguras energi tubuh perapalnya. Lahir maupun batin. Inilah pertama kalinya Hazri merapal ‘Cakra Buana’ ajian tertinggi ilmu silat Ki Ageng.
Hazri dan Iqbal turun dari bus. Berjalan menyusuri gang-gang kecil. Hingga tibalah mereka berdua di sebuah rumah ujung gang. Rumahnya sedikit kumuh dan berantakan, banyak sepeda motor yang terparkir tidak tertata rapi. Terdengar dari dalam rumah nyanyian-nyanyian sendu para bujangan. Hazri tersenyum teringat di kampungnya dulu, setiap malam para pemuda nongkrong di pos ronda sambil menyanyi sesukanya.
Belum sampai masuk gang, ada yang menepuk pundaknya. Hazri menoleh. Seorang pemuda kurus, berambut panjang, penampilan seperti preman berdiri di belakangnya. Bau rokok menyengat keluar dari mulutnya.
“Anak baru ya kau?” dia bertanya ketus.
Hazri tidak menjawab. Tenaga dalamnya segera dialirkan ke mata, lalu menatap tajam ke arah mata si pemuda kurus itu. Seketika si pemuda kurus ini tertegun tak bergerak. Kakinya gemetaran seolah menahan beban berat. Hazri terus menatap hingga air matanya keluar. Iqbal ikut terkesima dengan kejadian ini.
“Zri, ini Cungkring teman kita.” kata Iqbal menghentikan aksi tatap-menatap.
Hazri menghentikan aksinya, sadar kalau orang yang dia tatap bukanlah orang yang berbahaya. Si pemuda kurus itu menggosok-gosok matanya yang perih.
“Anak-anak ada di dalam, Kring?” tanya Iqbal ke Cungkring.
“Ada.” jawab Cungkring sambil terus menggosok-gosok matanya.
“Kamu kenapa?” tanya Iqbal kembali.
“Gak tau tiba-tiba perih mataku.”
Hazri merasa bersalah sudah sembarang menggunakan tenaga dalamnya ke orang yang salah.
“Ayo, Zri.” ajak Iqbal melanjutkan langkah mereka.
Hazri sempoyongan, jauh juga perjalanannya enam jam ini. Jombang - Jogja.
*****
Pintu kamar kos Hazri diketuk. “Mas...Mas...,” suara pemilik kos. Lamat-lamat kesadaran Hazri kembali. “Mas...,” pemilik kos memanggil lagi.
“Inggeh, Bu, sebentar...,” dia berdiri membuka pintu. “Ada apa nggeh, Bu?”
“Ini Mas Hazri, ada makanan buat makan siang.”
Kryukkkkk....Tiba-tiba perut Hazri berbunyi. Ibu pemilik kos tersenyum mendengar itu. “Inggeh, Bu. Matur suwun.”
Ibu pemilik kos mengangguk lalu kembali ke rumahnya.
Hazri duduk di teras membawa sepiring gudeg dan tempe bacem. Hazri makan dengan lahap karena selain sedang lapar, masakan Ibu kos memang terkenal enak. Diliriknya jam tangan Hazri, pukul satu siang.
Usai makan, Hazri mengecek HP. Ada beberapa pesan Whatsapp yang semunya tidak penting, malas untuk membalas chat. Di menu SMS cuma ada satu pesan dari Sodik yang mengabarkan bahwa setoran uang dari mahasiswa pencari ijazah sudah ditransfer ke bank. Hazri menutup HPnya. Dia melihat Kang Tejo sedang merawat tanaman.
Kang Tejo lewat didepan Hazri, tangan kananya membawa wadah plastik.
“Itu apa, Kang?” tanya Hazri kemudian.
“Eh...Mas Hazri, ini bangkai ikan hias yang mati. Kayaknya digergoti tikus.”
Hazri melihat wadah plastik yang disodorkan Kang Tejo. Ada dua ikan koi mati di situ. Yang satu perutnya berantakan, yang lain tinggal kepalanya.
“Sadis juga, Kang.”
“Iya, Mas, ya sudah saya buang dulu ikannya.” Kang Tejo melanjutkan langkahnya membuang bangkai ikan koi itu.
“Sepertinya bagus kalau kau kujadikan macam itu, Pak Day...”geram Hazri pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
AbhiAgam Al Kautsar
nasi gudeg nya bikin kepingin
2023-02-19
0