Ruangan yang dimaksud ternyata semacam ruang rapat. Ada meja panjang, ada kursi-kursi, dan ada papan tulisnya segala. Hazri berdecak kagum. Hebat juga mereka, tampang berandalan tapi punya ruang rapat juga. Macam organisasi di kampus tempatnya belajar saja.
Simon keluar lagi sebentar, berteriak meminta diambilkan enam bir dan dua botol teh. Dingin semua. “Ambilkan kacangnya sekalian...,” kata Simon lagi. Dua orang pemuda membawakan semua pesanan Simon secepatnya.
“Silakan, Bang,” Romi mempersilakan Hazri duduk.
Hazri mengangguk, tapi dia belum duduk karena sedang sibuk mengamati ruangan itu. Dia tidak sadar bahwa belum ada seorang pun yang berani duduk, semua masih menunggu. Ternyata, dunia preman juga ada aturan protokol semacam itu.
“Mari, Bang...,” kata Romi sekali lagi. Kali ini dia menggeser kursi buat Hazri.
“Iya, iya... terima kasih...,” kata Hazri. Dia pun heran melihat semua orang masih berdiri di belakang kursinya masing-masing. Makin pusing dan bingunglah Hazri lalu dia pun spontan duduk. Setelah dia duduk, barulah mereka ikut duduk. Karena penasaran, Hazri berdiri lagi pura-pura meregangkan tubuhnya walau tidak capek. Melihat Hazri berdiri yang lain ikut berdiri, Romi kaget karena baru saja dia mau duduk malah berdiri lagi.
“Ada apa, Bang?” tanya Romi heran.
“Tidak ada, cuma capek nih tubuh...,” jawab Hazri. Padahal di dalam hatinya di tertawa. Apa-apaan ini? Kayak robot saja?. Hazri pun duduk kembali diikuti para ketua wilayah. Sebenarnya Hazri ingin mencobanya sekali lagi, namun diurungkan niatnya karena melihat Romi sudah mulai serius.
Kemudian hening, tidak ada yang bicara. Hazri menunggu Romi, sementara para ketua wilayah menunggu Hazri. Untunglah, Romi bisa memahami situasi, dia mengerti kalau Hazri belum paham dengan segala aturan yang ada.
“Bang Hazri, izinkan aku membuka pertemuan kali ini,” kata Romi.
“Oh iya, silakan...,” Hazri semakin heran dengan sikap Romi ini. Tiba-tiba, Hazri sadar, teringat sesuatu. Jangan-jangan...?
“Bang Hazri, disini sekarang sudah berkumpul semua ketua Kopen. Saya, Simon dan para ketua wilayah.” Romi memandang Hazri dengan seksama.
“Apa tadi? Kop..?” celetus Hazri.
“Kopen, ‘Konco Penak’. Itu nama geng kita,” jelas Romi.
Mati-matian Hazri menahan tawa, sampai keluar air mata. “Kopen..., konco penak...,” katanya pelan sambil mengusap wajah agar tidak kelepasan tawanya.
“Awalnya kukalahkan Simon, terus satu persatu kutaklukkan mereka,” Romi menunjuk kelima temannya, yang ditunjuk diam saja. “Hampir empat tahun aku memegang Kopen dengan kekuatanku. Sampai akhirnya Abang mengalahkan aku kemarin itu...” Romi menyeruput birnya. Hazri ikutan meminum teh botol yang disediakan.
“Jadi...sekarang Kopen dalam kuasa sepenuhnya.” kata Romi.
Hampir saja Hazri tersedak. Semua orang memandang Hazri.
“Maksudnya kuasa sepenuhnya?” tanya Hazri bingung.
Romi menghela napas. “Abang sekarang ketuanya.”
Hazri terkesiap. Wah benar seperti dugaanku...
“Romi, malam itu sudah kubilang padamu kan? Kalau aku nggak mau memerintah siapa-siapa dan nggak mau diperintah siapa-siapa. Aku hanya pengen bebas jadi tukang parkir dan menjadi mahasiswa, itu saja...,” kata Hazri tegas.
Suasana pun hening.
“Iya, Bang, aku paham dengan perkataan Abang malam itu. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya Abang sudah kalahkan aku, maka kami semua menjadi anak buah Abang sekarang. Begitu aturannya,” kata Romi memberi penjelasan.
“Tunggu, tunggu..., aturan siapa itu? Kalau semisal aku nggak mau, siapa yang bakalan menghukumku?”
Suasana hening kembali, cukup lama.
“Izinkan aku bicara, Bang,” Sobir memberanikan diri berbicara, dia memandang Hazri. Hazri spontan mengangguk. “Dulu datang dari Jember, niatku cari kerja di sini. Suatu ketika aku terpaksa berantem dengan seseorang yang meminta uangku secara paksa. Kuhajar dia dan kalahlah dia, lalu tiba-tiba aku diangkat menjadi ketua kelompok mereka. Ternyata yang aku hajar dan kalah itu adalah ketua mereka. Waktu itu, aku sama seperti Abang, menolak dengan keras dengan alasan kurang lebih seperti Abang...,” Sobir meneguk bir dinginnya lalu melanjutkan cerita. “Waktu itu aku tinggalkan saja mereka dan tidak ada yang berani menahan. Tiba-tiba ada keributan, orang yang aku kalahkan tadinya menikam dirinya sendiri. Hampir mati dia...,”
Hazri terkejut lagi. Mulai paham posisinya.
“Aku bingung kenapa dia sampai berani menikam dirinya sendiri, tapi itulah yang terjadi. Sekarang aku baru mengerti. Preman seperti kami ini mempunyai aturan sendiri, entah siapa yang membuat dan siapa pula yang mengesahkan aturan itu. Yang jelas aturan itu berlaku keras bagi kami disini.”
Hazri meminum teh botol yang terakhir. Makin pusinglah Hazri.
“Takdir memang penuh misteri, Bang.” Kata Sobir sekali lagi.
Hazri tertegun mendengar penjelasan dari Sobir. Lalu, memandang Romi dan teman-teman lainnya. Hazri mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ini sungguh keputusan yang sulit, batinnya.
“Waktu Bang Romi mengalahkan aku , ceritanya beda lagi...” Sobir melanjutkan ceritanya. “Bang Romi memang punya niat untuk mengalahkanku dan merebut jabatan ketua dariku, ya kuserahkan kekuasaanku padanya. Tentu setelah mengalahkanku, iya kan, Bang?” Sobir melirik Romi.
Romi mengangguk sambil tersenyum kecut. “Dan sekarang aku kena karmanya setelah ketemu Bang Hazri...,” katanya pelan.
Semua yang hadir menunduk, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka menyadari bagaimana kegundahan hati Romi. Diam-diam Hazri memperhatikan itu semua.
Hening kembali.
“Kalau semisal nih ya, aku tetap nggak mau, lalu apa yang akan kau lakukan Rom?” tanya Hazri kemudian.
Romi menghela napas panjang, “Mau bagaimana lagi, Bang. Tidak ada pilihan lain selain pergi menjauh untuk selamanya...,” jawab Romi.
“Maksudmu pergi menjauh? Apa kamu akan pergi ke tempat lain dan menjadi ketua di tempat itu?” tanya Hazri lagi.
Romi menggelengkan kepala. Dia menghela napas lagi, lebih panjang dari yang tadi. Diletakkanlah bir yang dia pegang. Lalu, dia mengeluarkan sebuah pistol dan meletakkannya di atas meja. Moncong pistol itu dihadapkan tepat kearah dadanya. “Mohon Abang bisa menyelesaikannya sekarang, untukku...,” kata Romi pelan.
Semua terkejut. Terutama Hazri, baru kali ini dia melihat pistol sungguhan langsung dihadapannya. Biasanya dia hanya melihat di televisi atau di pinggang bapa polisi. Terlebih yang punya pistol memintanya untuk menembak dirinya. Sementara yang lain paham dengan situasi ini, jika Hazri menolak menjadi ketua mereka dan menolak menembak Romi, sudah dapat dipastikan Romi akan menembak dirinya sendiri. Dan, kemungkinan yang lebih buruk adalah kekacauan yang akan terjadi karena tidak ada yang memberi perintah lagi.
Hazri masih terkejut dengan pistol dihadapannya, namun dia paham maksud Romi, “Apa memang harus begini?”
Tidak ada yang menjawab, suasana hening kembali.
Secuil kopi
Rapat merupakan pertemuan atau berkumpulnya minimal dua orang atau lebih untuk memutuskan suatu tujuan. Rapat juga dapat dijadikan sebagai media untuk berkomunikasi antar manusia atau pimpinan kantor dengan staffnya.Rapat juga dapat diartikan sebagai media komunikasi kelompok yang bersifat tatap muka yang sering diselenggarakan atau dilakukan oleh banyak organisasi baik itu swasta ataupun pemerintah.Rapat sering dijadikan seseorang atau sekelompok orang untuk menyatukan pemikiran guna melaksanakan urusan tertentu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
L U C I F E R { RAJA DOSA }
klo dia gk jadi juru parkir pasti gk jadi ketua geng
2021-04-23
1
Aya
oo.... gitu toh, awal mulanya Hazri jadi ketua geng...
paham, paham...
2021-03-12
1