18. ruang rapat

Ruangan yang dimaksud ternyata semacam ruang rapat. Ada meja panjang, ada kursi-kursi, dan ada papan tulisnya segala. Hazri berdecak kagum. Hebat juga mereka, tampang berandalan tapi punya ruang rapat juga. Macam organisasi di kampus tempatnya belajar saja.

Simon keluar lagi sebentar, berteriak meminta diambilkan enam bir dan dua botol teh. Dingin semua. “Ambilkan kacangnya sekalian...,” kata Simon lagi. Dua orang pemuda membawakan semua pesanan Simon secepatnya.

“Silakan, Bang,” Romi mempersilakan Hazri duduk.

Hazri mengangguk, tapi dia belum duduk karena sedang sibuk mengamati ruangan itu. Dia tidak sadar bahwa belum ada seorang pun yang berani duduk, semua masih menunggu. Ternyata, dunia preman juga ada aturan protokol semacam itu.

“Mari, Bang...,” kata Romi sekali lagi. Kali ini dia menggeser kursi buat Hazri.

“Iya, iya... terima kasih...,” kata Hazri. Dia pun heran melihat semua orang masih berdiri di belakang kursinya masing-masing. Makin pusing dan bingunglah Hazri lalu dia pun spontan duduk. Setelah dia duduk, barulah mereka ikut duduk. Karena penasaran, Hazri berdiri lagi pura-pura meregangkan tubuhnya walau tidak capek. Melihat Hazri berdiri yang lain ikut berdiri, Romi kaget karena baru saja dia mau duduk malah berdiri lagi.

“Ada apa, Bang?” tanya Romi heran.

“Tidak ada, cuma capek nih tubuh...,” jawab Hazri. Padahal di dalam hatinya di tertawa. Apa-apaan ini? Kayak robot saja?. Hazri pun duduk kembali diikuti para ketua wilayah. Sebenarnya Hazri ingin mencobanya sekali lagi, namun diurungkan niatnya karena melihat Romi sudah mulai serius.

Kemudian hening, tidak ada yang bicara. Hazri menunggu Romi, sementara para ketua wilayah menunggu Hazri. Untunglah, Romi bisa memahami situasi, dia mengerti kalau Hazri belum paham dengan segala aturan yang ada.

“Bang Hazri, izinkan aku membuka pertemuan kali ini,” kata Romi.

“Oh iya, silakan...,” Hazri semakin heran dengan sikap Romi ini. Tiba-tiba, Hazri sadar, teringat sesuatu. Jangan-jangan...?

“Bang Hazri, disini sekarang sudah berkumpul semua ketua  Kopen. Saya, Simon dan para ketua wilayah.” Romi memandang Hazri dengan seksama.

“Apa tadi? Kop..?” celetus Hazri.

“Kopen, ‘Konco Penak’. Itu nama geng kita,” jelas Romi.

Mati-matian Hazri menahan tawa, sampai keluar air mata. “Kopen..., konco penak...,” katanya pelan sambil mengusap wajah agar tidak kelepasan tawanya.

“Awalnya kukalahkan Simon, terus satu persatu kutaklukkan mereka,” Romi menunjuk kelima temannya, yang ditunjuk diam saja. “Hampir empat tahun aku memegang Kopen dengan kekuatanku. Sampai akhirnya Abang mengalahkan aku kemarin itu...” Romi menyeruput birnya. Hazri ikutan meminum teh botol yang disediakan.

“Jadi...sekarang Kopen dalam kuasa sepenuhnya.” kata Romi.

Hampir saja Hazri tersedak. Semua orang memandang Hazri.

“Maksudnya kuasa sepenuhnya?” tanya Hazri bingung.

Romi menghela napas. “Abang sekarang ketuanya.”

Hazri terkesiap. Wah benar seperti dugaanku...

“Romi, malam itu sudah kubilang padamu kan? Kalau aku nggak mau memerintah siapa-siapa dan nggak mau diperintah siapa-siapa. Aku hanya pengen bebas jadi tukang parkir dan menjadi mahasiswa, itu saja...,” kata Hazri tegas.

Suasana pun hening.

“Iya, Bang, aku paham dengan perkataan Abang malam itu. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya Abang sudah kalahkan aku, maka kami semua menjadi anak buah Abang sekarang. Begitu aturannya,” kata Romi memberi penjelasan.

“Tunggu, tunggu..., aturan siapa itu? Kalau semisal aku nggak mau, siapa yang bakalan menghukumku?”

Suasana hening kembali, cukup lama.

“Izinkan aku bicara, Bang,” Sobir memberanikan diri berbicara, dia memandang Hazri. Hazri spontan mengangguk. “Dulu datang dari Jember, niatku cari kerja di sini. Suatu ketika aku terpaksa berantem dengan seseorang yang meminta uangku secara paksa. Kuhajar dia dan kalahlah dia, lalu tiba-tiba aku diangkat menjadi ketua kelompok mereka. Ternyata yang aku hajar dan kalah itu adalah ketua mereka. Waktu itu, aku sama seperti Abang, menolak dengan keras dengan alasan kurang lebih seperti Abang...,” Sobir meneguk bir dinginnya lalu melanjutkan cerita. “Waktu itu aku tinggalkan saja mereka dan tidak ada yang berani menahan. Tiba-tiba ada keributan, orang yang aku kalahkan tadinya menikam dirinya sendiri. Hampir mati dia...,”

Hazri terkejut lagi. Mulai paham posisinya.

“Aku bingung kenapa dia sampai berani menikam dirinya sendiri, tapi itulah yang terjadi. Sekarang aku baru mengerti. Preman seperti kami ini mempunyai aturan sendiri, entah siapa yang membuat dan siapa pula yang mengesahkan aturan itu. Yang jelas aturan itu berlaku keras bagi kami disini.”

Hazri meminum teh botol yang terakhir. Makin pusinglah Hazri.

“Takdir memang penuh misteri, Bang.” Kata Sobir sekali lagi.

Hazri tertegun mendengar penjelasan dari Sobir. Lalu, memandang Romi dan teman-teman lainnya. Hazri mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ini sungguh keputusan yang sulit, batinnya.

“Waktu Bang Romi mengalahkan aku , ceritanya beda lagi...” Sobir melanjutkan ceritanya. “Bang Romi memang punya niat untuk mengalahkanku dan merebut jabatan ketua dariku, ya kuserahkan kekuasaanku padanya. Tentu setelah mengalahkanku, iya kan, Bang?” Sobir melirik Romi.

Romi mengangguk sambil tersenyum kecut. “Dan sekarang aku kena karmanya setelah ketemu Bang Hazri...,” katanya pelan.

Semua yang hadir menunduk, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka menyadari bagaimana kegundahan hati Romi. Diam-diam Hazri memperhatikan itu semua.

Hening kembali.

“Kalau semisal nih ya, aku tetap nggak mau, lalu apa yang akan kau lakukan Rom?” tanya Hazri kemudian.

Romi menghela napas panjang, “Mau bagaimana lagi, Bang. Tidak ada pilihan lain selain pergi menjauh untuk selamanya...,” jawab Romi.

“Maksudmu pergi menjauh? Apa kamu akan pergi ke tempat lain dan menjadi ketua di tempat itu?” tanya Hazri lagi.

Romi menggelengkan kepala. Dia menghela napas lagi, lebih panjang dari yang tadi. Diletakkanlah bir yang dia pegang. Lalu, dia mengeluarkan sebuah pistol dan meletakkannya di atas meja. Moncong pistol itu dihadapkan tepat kearah dadanya. “Mohon Abang bisa menyelesaikannya sekarang, untukku...,” kata Romi pelan.

Semua terkejut. Terutama Hazri, baru kali ini dia melihat pistol sungguhan langsung dihadapannya. Biasanya dia hanya melihat di televisi atau di pinggang bapa polisi. Terlebih yang punya pistol memintanya untuk menembak dirinya. Sementara yang lain paham dengan situasi ini, jika Hazri menolak menjadi ketua mereka dan menolak menembak Romi, sudah dapat dipastikan Romi akan menembak dirinya sendiri. Dan, kemungkinan yang lebih buruk adalah kekacauan yang akan terjadi karena tidak ada yang memberi perintah lagi.

Hazri masih terkejut dengan pistol dihadapannya, namun dia paham maksud Romi, “Apa memang harus begini?”

Tidak ada yang menjawab, suasana hening kembali.

Secuil kopi

Rapat merupakan pertemuan atau berkumpulnya minimal dua orang atau lebih untuk memutuskan suatu tujuan. Rapat juga dapat dijadikan sebagai media untuk berkomunikasi antar manusia atau pimpinan kantor dengan staffnya.Rapat juga dapat diartikan sebagai media komunikasi kelompok yang bersifat tatap muka yang sering diselenggarakan atau dilakukan oleh banyak organisasi baik itu swasta ataupun pemerintah.Rapat sering dijadikan seseorang atau sekelompok orang untuk menyatukan pemikiran guna melaksanakan urusan tertentu.

Terpopuler

Comments

L U C I F E R { RAJA DOSA }

L U C I F E R { RAJA DOSA }

klo dia gk jadi juru parkir pasti gk jadi ketua geng

2021-04-23

1

Aya

Aya

oo.... gitu toh, awal mulanya Hazri jadi ketua geng...
paham, paham...

2021-03-12

1

lihat semua
Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!