11. villa kayu

Jam delapan malam, Hazri bergegas menuju ketempat yang telah dijanjikan untuk bertemu Dewi. Setelah memarkirkan mobilnya, Hazri masuk ke dalam kafe Nanamia, walaupun sebenarnya Hazri sedikit telat, sekarang jam delapan seperempat. Pengunjung kafe masih tidak terlalu banyak. Hazri mencoba mencari Dewi, ternyata dia juga terlambat. Hazri pun mengambil tempat duduk di pojok belakang. Di situlah dia merenung menunggu Dewi.

Seorang pelayan menghampiri, menyapa dan menanyakan pesanan. Hazri memilih memesan  dua jus buah sebagai minuman pembuka. “Itu saja dulu, Mbak, nanti saya akan pesan lagi kalau teman saya sudah datang.” katanya. Pelayan itu tersenyum dan segera menyiapkan pesanan tamunya ini.

Belum juga pesanan Hazri datang, dia melihat wanita yang ditunggunya muncul dari balik pintu. Tubuhnya dibalut kaos putih bertuliskan Love dengan rok yang lumayan pendek berwarna hitam . Rambutnya sengaja di urai tersibak pelan oleh kipas angin. Wajahnya hanya bermake up sederhana tidak menor. Di pundaknya tergantung travel bag kecil model wanita hitam. Cantik sekali. Hazri memandangi Dewi yang celingak-celinguk mencarinya, seketika pandangan mereka saling bertemu. Hazri tersenyum, Dewi juga ikut tersenyum manis. Dewi menghampiri disambut Hazri dengan berdiri.

“Maaf ya, Mas, sudah lama nunggunya?” sapa wanita ini.

“Dari kemarin malahan.” jawab Hazri dengan nada agak diketus-ketuskan niatnya pura-pura marah.

“Iya, maaf. Habisnya dimana-mana macet pada demo sih.” Dewi merajuk manja.

“Lain kali anda jangan begitu ya. Saya bisa marah besar loh.” Wajah Hazri dibuat serius.

Tiba-tiba Dewi berdiri, melangkah ke arah Hazri dan langsung duduk di pangkuannya sambil tangannya memeluk leher Hazri. “Kalau seperti ini masih marah nggak? Aku cium depan orang-orang loh...,” Dewi mengancam manja.

Hazri gelagapan.“Dewi...sudah dong turun, malu tuh diliat orang....iya nggak marah lagi.” Beberapa pengunjung yang melihat adegan itu tersenyum kecil, ada juga yang cekikikan karena suara Dewi tadi cukup terdengar.

Dewi melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tempatnya. Wajahnya puas bisa membalas candaan Hazri, dia senyum-senyum. Hazri geleng-geleng kepala. Wanita ini memang bisa nekat kalau terdesak seperti ini. Pelayan menghampiri mereka kembali, menanyakan kalau ada pesanan yang lain. Dewi membuka buku menu, dia memilih mie ramen. Hazri juga sama, supaya tidak ribet, walaupun sebenarnya Hazri tidak tahu mie apa itu. Dalam banyangnya mungkin tidak jauh beda dengan mie rebus yang dijual di warung. Mungkin kalau di kafe seperti ini ditambah toping sehingga kelihatan sedikit mewah gitu. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu kembali pergi untuk menyiapkan pesanan.

Dewi melihat jam tangannya, pukul delapan lebih lima belas menit malam. “Emang Mas Hazri datang jam berapa tadi?”

“Jam delapan lebih sepuluh menit aku parkir mobil, jalan masuk kesini, cari-cari Dewi nggak ada, terus milih meja, duduk dan menjawab pertanyaan pelayan tadi. Totalnya delapan lewat seperempatan lah.”

Dewi melirik kesal, Hazri terkekeh.

“Satu sama...,”katanya sambil terus tertawa.

Selanjutnya, mereka bercengkrama layaknya pasangan lainnya.

“Ini mie apaan sih?” tanya Hazri setelah mencicipi mienya.

“Kenapa ? Nggak suka?”

Hazri menggeleng. “Rasanya kok aneh gini, beda sama yang di warung-warung.” Dewi tersenyum melihat tingkah kekasihnya ini. Mie cafe di samakan dengan mie warung. Lalu Hazri memesan sup buntut yang kebetulan ada di menu kepada pelayan. Setelah supnya datang, Hazri mencicipi supnya takut tidak enak seperti mie yang tadi. Ternyata enak, Hazri pun memesan seporsi lagi, karena porsi sup terlalu sedikit baginya. Dewi hanya bisa menggelengkan kepala melihat selera makan lelaki yang dicintainya  ini. Setelah selesai makan, mereka pun berjalan keluar kafe menuju mobil sambil bercanda riang.

Susana jalan sedikit lenggang sehingga mobil yang mereka naiki bisa melaju cukup kencang. Entah sedang kemana mobil-mobil yang bisanya memadati jalan sewaktu libur seperti ini. Biasanya kalau malam libur bisa macet total.

Sepanjang perjalanan mereka terus bercengkrama, tertawa-tawa, mukul-memukul, cubit-mencubit, dan lain-lain. Seperti anak SMA pacaran. Pokoknya malam ini Hazri tidak mau memikirkan hal lain, dia ingin penuh menikmati kebersamaanya dengan Dewi. Dia sadar, setelah malam ini akan ada urusan besar yang segera dimulai. Dan itu berarti bisa saja ini adalah malam terakhir dia bisa bersama Dewi.

Sejujurnya Hazri tidak paham akan hubungannya dengan wanita cantik ini. Sebagai pacar, tunangan, calon suami, atau apa. Hazri tidak punya cinta untuk Dewi, hatinya masih tertaut kepada seseorang, Zilfa. Hazri hanya senang saja kepada Dewi. Sebelum yang bakal terjadi malam ini, mereka sudah pernah melakukan hal serupa dua kali. Jadi, sekarang yang ketiga.

Sepanjang karier menjadi biang kero kampus di Jogja. Hazri memang tidak pernah mempunyai pacar. Dia juga tidak suka pelacur, apalagi yang profesional. Beberapa wanita yang sempat dekat denganya tidak lebih dari hubungan biasa belum sampai pada hubungan pribadi yang dalam, numpang lewat saja. Entah kenapa seperti itu. Memang tidak ada cinta atau belum menemukan cinta setelah cintanya kepada seorang wanita, Zilfa. Dewi adalah wanita terdekat saat ini yang singgah di hatinya, itupun masih membuat Hazri belum menemukan benih-benih cinta untuknya.

Pajero sport putih itu melaju dengan gagah membelah jalanan malam ini. Dewi menikmati suasana ini. “Mobil ini gagah ya, Mas?” Hazri memang sempat menukar mobil yang disewanya. Biar kelihatan sedikit elegan, dia tidak mau malam istimewanya hanya biasa-biasa saja. Hazri yakin kalau Dewi bakalan bangga karena kekasihnya naik mobil yang keren.

“Mobilnya? Atau yang nyetir nih?” goda Hazri.

“Lampunya,” jawab Dewi sambil mencubit manja pinggang Hazri.

Mereka tertawa lagi.

HP Hazri berbunyi. Budi.

“Ya, Bud?” kata Hazri. “Iya, aku sedang kesana. Oke.”

Klik. Diputus teleponnya.

“Siapa, Mas?”tanya Dewi.

“Pacarku...”goda Hazri kembali.

Dewi meringis. “Hahaha.., nggak kena. Masak wanita namanya, Bud?” ujarnya yakin.

“Siapa bilang Bud, tadi itu aku panggil Bund ya.” balas Hazri cengengesan.

Dewi kaget sejenak, namun dia tidak percaya Hazri punya pacar. Lalu dia mencubit Hazri.

“Hayo? Yang bener siapa itu? Ampun nggak?” katanya.

“Ampun, Bunda, ampun...,” bisik mesra Hazri.

Mereka terus bercanda saat mobil telah memasuki pelataran parkir Villa Kayu.

“Sayang, sudah sampai..,” bisik Hazri lembut.

Dewi melepas pelukan di tangan Hazri dan kembali duduk tenang. Dia mengeluarkan peralatan make upnya dan memoles sekedar wajahnya.

Hazri sengaja berputar mencari tempat parkir, memberi kesempatan Dewi berbenah. Setelah dilihatnya wanita itu siap barulah Hazri memarkirkan mobil Pajeronya di bawah pohon jati yang lumayan besar.

Budi berlari kecil menghampiri mereka. Hazri dan Dewi turun dari mobil.

“Selamat malam, Pak Hazri.” sapa Budi.

“Malam, Bud. Sudah siap?”

“Sudah rapi, Pak. Siap untuk ditempati.” Budi menunjuk villa yang sudah dipesan Hazri.

Hazri mengangguk puas.

Dewi keluar dari mobil lalu menghampiri Hazri.

“Selamat malam, Bu Hazri, saya Budi,” Budi menyapa ramah Dewi dan menjabat tangannya, Budi mengira kalau wanita yang bersama Hazri itu adalah istrinya atau tunangannya.

“Malam...” Dewi membalas sapaan Budi sambil tersenyum manis menghiasi bibirnya yang mungil. Senang rasanya dipanggil ‘Bu Hazri’ oleh penjaga villa ini. Dewi melirik Hazri, ingin tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar itu. Namun yang dilirik malah pura-pura tidak tahu.

“Mari, Pak, Bu...,” Budi mengajak kedua tamunya ini. Mereka berjalan menuju villa yang berdiri di samping area persawahan.

Budi membuka kunci pintu villa, mereka pun masuk. Hazri mengamati suasana dalam villa itu. Seperti rumah kecil dengan nuansa pedesaan yang kental. Ada ruang tamu,kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sebagainya. Hampir semua perabotan terbuat dari kayu, mulai dari pintu, jendela, meja dan kursi, bahkan dindingnya juga terbuat dari kayu. Hazri melihat ada bunga mawar merah segar dalam pot di atas meja. Sering dia menginap di Villa Kayu, tapi tidak pernah ada bunga itu di meja. Ini pasti kerjaan Budi, pikirnya. Hazri berdiri di dekat pintu memperhatikan Dewi yang diajak berkeliling ruangan oleh Budi sambil menyiapkan uang tip untuknya.

“Begitulah, Bu Hazri, fasilitas villa ini...,” jelas Budi.

“Menarik sekali,” Dewi manggut-manggut.

“Kalau ada yang ibu perlukan, silakan langsung hubungi saya saja.”

“Oh iya, terima kasih.”

“Saya permisi dulu, Pak, Bu,...” kata Budi berpamitan.

“Ini ganti bungamu,” Hazri memberikan uang tip

Budi tersenyum menerima dengan senang. “Terima kasih banyak, Pak,” katanya. Lalu melangkah pergi kembali ketempatnya. Cantik juga Bu Hazri, batin Budi. Manis pula.

Di dalam villa, Hazri memandangi Dewi yang sedang menaruh baju di lemari. Hazri menguatkan hati, walaupun bukan yang pertama namun tetap saja dia gugup setiap kali berada di situasi seperti ini. Sebagian jiwanya menolak, mengingatkan bahwa ini adalah tindakan yang salah. Tapi peringatan itu selalu kalah dengan dorongan lain yang lebih kuat, yang memaksa Hazri tetap melakukannya.

“Pak Hazri, Bu Hazrinya mandi dulu ya...” kata Dewi tersenyum genit, sambil berjalan bak model ke kamar mandi. Menggoda.

Hazri mesem saja. Dia duduk dan menyulut sebatang rokok. Jendela sengaja dibuka agar angin sawah bisa masuk memberikan kesegaran alami. Ditambah dengan suara jangkrik semakin membuat tenang hati, suasana yang sudah lama tidak dia rasakan selama di kota.

Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!