Jam delapan malam, Hazri bergegas menuju ketempat yang telah dijanjikan untuk bertemu Dewi. Setelah memarkirkan mobilnya, Hazri masuk ke dalam kafe Nanamia, walaupun sebenarnya Hazri sedikit telat, sekarang jam delapan seperempat. Pengunjung kafe masih tidak terlalu banyak. Hazri mencoba mencari Dewi, ternyata dia juga terlambat. Hazri pun mengambil tempat duduk di pojok belakang. Di situlah dia merenung menunggu Dewi.
Seorang pelayan menghampiri, menyapa dan menanyakan pesanan. Hazri memilih memesan dua jus buah sebagai minuman pembuka. “Itu saja dulu, Mbak, nanti saya akan pesan lagi kalau teman saya sudah datang.” katanya. Pelayan itu tersenyum dan segera menyiapkan pesanan tamunya ini.
Belum juga pesanan Hazri datang, dia melihat wanita yang ditunggunya muncul dari balik pintu. Tubuhnya dibalut kaos putih bertuliskan Love dengan rok yang lumayan pendek berwarna hitam . Rambutnya sengaja di urai tersibak pelan oleh kipas angin. Wajahnya hanya bermake up sederhana tidak menor. Di pundaknya tergantung travel bag kecil model wanita hitam. Cantik sekali. Hazri memandangi Dewi yang celingak-celinguk mencarinya, seketika pandangan mereka saling bertemu. Hazri tersenyum, Dewi juga ikut tersenyum manis. Dewi menghampiri disambut Hazri dengan berdiri.
“Maaf ya, Mas, sudah lama nunggunya?” sapa wanita ini.
“Dari kemarin malahan.” jawab Hazri dengan nada agak diketus-ketuskan niatnya pura-pura marah.
“Iya, maaf. Habisnya dimana-mana macet pada demo sih.” Dewi merajuk manja.
“Lain kali anda jangan begitu ya. Saya bisa marah besar loh.” Wajah Hazri dibuat serius.
Tiba-tiba Dewi berdiri, melangkah ke arah Hazri dan langsung duduk di pangkuannya sambil tangannya memeluk leher Hazri. “Kalau seperti ini masih marah nggak? Aku cium depan orang-orang loh...,” Dewi mengancam manja.
Hazri gelagapan.“Dewi...sudah dong turun, malu tuh diliat orang....iya nggak marah lagi.” Beberapa pengunjung yang melihat adegan itu tersenyum kecil, ada juga yang cekikikan karena suara Dewi tadi cukup terdengar.
Dewi melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tempatnya. Wajahnya puas bisa membalas candaan Hazri, dia senyum-senyum. Hazri geleng-geleng kepala. Wanita ini memang bisa nekat kalau terdesak seperti ini. Pelayan menghampiri mereka kembali, menanyakan kalau ada pesanan yang lain. Dewi membuka buku menu, dia memilih mie ramen. Hazri juga sama, supaya tidak ribet, walaupun sebenarnya Hazri tidak tahu mie apa itu. Dalam banyangnya mungkin tidak jauh beda dengan mie rebus yang dijual di warung. Mungkin kalau di kafe seperti ini ditambah toping sehingga kelihatan sedikit mewah gitu. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu kembali pergi untuk menyiapkan pesanan.
Dewi melihat jam tangannya, pukul delapan lebih lima belas menit malam. “Emang Mas Hazri datang jam berapa tadi?”
“Jam delapan lebih sepuluh menit aku parkir mobil, jalan masuk kesini, cari-cari Dewi nggak ada, terus milih meja, duduk dan menjawab pertanyaan pelayan tadi. Totalnya delapan lewat seperempatan lah.”
Dewi melirik kesal, Hazri terkekeh.
“Satu sama...,”katanya sambil terus tertawa.
Selanjutnya, mereka bercengkrama layaknya pasangan lainnya.
“Ini mie apaan sih?” tanya Hazri setelah mencicipi mienya.
“Kenapa ? Nggak suka?”
Hazri menggeleng. “Rasanya kok aneh gini, beda sama yang di warung-warung.” Dewi tersenyum melihat tingkah kekasihnya ini. Mie cafe di samakan dengan mie warung. Lalu Hazri memesan sup buntut yang kebetulan ada di menu kepada pelayan. Setelah supnya datang, Hazri mencicipi supnya takut tidak enak seperti mie yang tadi. Ternyata enak, Hazri pun memesan seporsi lagi, karena porsi sup terlalu sedikit baginya. Dewi hanya bisa menggelengkan kepala melihat selera makan lelaki yang dicintainya ini. Setelah selesai makan, mereka pun berjalan keluar kafe menuju mobil sambil bercanda riang.
Susana jalan sedikit lenggang sehingga mobil yang mereka naiki bisa melaju cukup kencang. Entah sedang kemana mobil-mobil yang bisanya memadati jalan sewaktu libur seperti ini. Biasanya kalau malam libur bisa macet total.
Sepanjang perjalanan mereka terus bercengkrama, tertawa-tawa, mukul-memukul, cubit-mencubit, dan lain-lain. Seperti anak SMA pacaran. Pokoknya malam ini Hazri tidak mau memikirkan hal lain, dia ingin penuh menikmati kebersamaanya dengan Dewi. Dia sadar, setelah malam ini akan ada urusan besar yang segera dimulai. Dan itu berarti bisa saja ini adalah malam terakhir dia bisa bersama Dewi.
Sejujurnya Hazri tidak paham akan hubungannya dengan wanita cantik ini. Sebagai pacar, tunangan, calon suami, atau apa. Hazri tidak punya cinta untuk Dewi, hatinya masih tertaut kepada seseorang, Zilfa. Hazri hanya senang saja kepada Dewi. Sebelum yang bakal terjadi malam ini, mereka sudah pernah melakukan hal serupa dua kali. Jadi, sekarang yang ketiga.
Sepanjang karier menjadi biang kero kampus di Jogja. Hazri memang tidak pernah mempunyai pacar. Dia juga tidak suka pelacur, apalagi yang profesional. Beberapa wanita yang sempat dekat denganya tidak lebih dari hubungan biasa belum sampai pada hubungan pribadi yang dalam, numpang lewat saja. Entah kenapa seperti itu. Memang tidak ada cinta atau belum menemukan cinta setelah cintanya kepada seorang wanita, Zilfa. Dewi adalah wanita terdekat saat ini yang singgah di hatinya, itupun masih membuat Hazri belum menemukan benih-benih cinta untuknya.
Pajero sport putih itu melaju dengan gagah membelah jalanan malam ini. Dewi menikmati suasana ini. “Mobil ini gagah ya, Mas?” Hazri memang sempat menukar mobil yang disewanya. Biar kelihatan sedikit elegan, dia tidak mau malam istimewanya hanya biasa-biasa saja. Hazri yakin kalau Dewi bakalan bangga karena kekasihnya naik mobil yang keren.
“Mobilnya? Atau yang nyetir nih?” goda Hazri.
“Lampunya,” jawab Dewi sambil mencubit manja pinggang Hazri.
Mereka tertawa lagi.
HP Hazri berbunyi. Budi.
“Ya, Bud?” kata Hazri. “Iya, aku sedang kesana. Oke.”
Klik. Diputus teleponnya.
“Siapa, Mas?”tanya Dewi.
“Pacarku...”goda Hazri kembali.
Dewi meringis. “Hahaha.., nggak kena. Masak wanita namanya, Bud?” ujarnya yakin.
“Siapa bilang Bud, tadi itu aku panggil Bund ya.” balas Hazri cengengesan.
Dewi kaget sejenak, namun dia tidak percaya Hazri punya pacar. Lalu dia mencubit Hazri.
“Hayo? Yang bener siapa itu? Ampun nggak?” katanya.
“Ampun, Bunda, ampun...,” bisik mesra Hazri.
Mereka terus bercanda saat mobil telah memasuki pelataran parkir Villa Kayu.
“Sayang, sudah sampai..,” bisik Hazri lembut.
Dewi melepas pelukan di tangan Hazri dan kembali duduk tenang. Dia mengeluarkan peralatan make upnya dan memoles sekedar wajahnya.
Hazri sengaja berputar mencari tempat parkir, memberi kesempatan Dewi berbenah. Setelah dilihatnya wanita itu siap barulah Hazri memarkirkan mobil Pajeronya di bawah pohon jati yang lumayan besar.
Budi berlari kecil menghampiri mereka. Hazri dan Dewi turun dari mobil.
“Selamat malam, Pak Hazri.” sapa Budi.
“Malam, Bud. Sudah siap?”
“Sudah rapi, Pak. Siap untuk ditempati.” Budi menunjuk villa yang sudah dipesan Hazri.
Hazri mengangguk puas.
Dewi keluar dari mobil lalu menghampiri Hazri.
“Selamat malam, Bu Hazri, saya Budi,” Budi menyapa ramah Dewi dan menjabat tangannya, Budi mengira kalau wanita yang bersama Hazri itu adalah istrinya atau tunangannya.
“Malam...” Dewi membalas sapaan Budi sambil tersenyum manis menghiasi bibirnya yang mungil. Senang rasanya dipanggil ‘Bu Hazri’ oleh penjaga villa ini. Dewi melirik Hazri, ingin tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar itu. Namun yang dilirik malah pura-pura tidak tahu.
“Mari, Pak, Bu...,” Budi mengajak kedua tamunya ini. Mereka berjalan menuju villa yang berdiri di samping area persawahan.
Budi membuka kunci pintu villa, mereka pun masuk. Hazri mengamati suasana dalam villa itu. Seperti rumah kecil dengan nuansa pedesaan yang kental. Ada ruang tamu,kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sebagainya. Hampir semua perabotan terbuat dari kayu, mulai dari pintu, jendela, meja dan kursi, bahkan dindingnya juga terbuat dari kayu. Hazri melihat ada bunga mawar merah segar dalam pot di atas meja. Sering dia menginap di Villa Kayu, tapi tidak pernah ada bunga itu di meja. Ini pasti kerjaan Budi, pikirnya. Hazri berdiri di dekat pintu memperhatikan Dewi yang diajak berkeliling ruangan oleh Budi sambil menyiapkan uang tip untuknya.
“Begitulah, Bu Hazri, fasilitas villa ini...,” jelas Budi.
“Menarik sekali,” Dewi manggut-manggut.
“Kalau ada yang ibu perlukan, silakan langsung hubungi saya saja.”
“Oh iya, terima kasih.”
“Saya permisi dulu, Pak, Bu,...” kata Budi berpamitan.
“Ini ganti bungamu,” Hazri memberikan uang tip
Budi tersenyum menerima dengan senang. “Terima kasih banyak, Pak,” katanya. Lalu melangkah pergi kembali ketempatnya. Cantik juga Bu Hazri, batin Budi. Manis pula.
Di dalam villa, Hazri memandangi Dewi yang sedang menaruh baju di lemari. Hazri menguatkan hati, walaupun bukan yang pertama namun tetap saja dia gugup setiap kali berada di situasi seperti ini. Sebagian jiwanya menolak, mengingatkan bahwa ini adalah tindakan yang salah. Tapi peringatan itu selalu kalah dengan dorongan lain yang lebih kuat, yang memaksa Hazri tetap melakukannya.
“Pak Hazri, Bu Hazrinya mandi dulu ya...” kata Dewi tersenyum genit, sambil berjalan bak model ke kamar mandi. Menggoda.
Hazri mesem saja. Dia duduk dan menyulut sebatang rokok. Jendela sengaja dibuka agar angin sawah bisa masuk memberikan kesegaran alami. Ditambah dengan suara jangkrik semakin membuat tenang hati, suasana yang sudah lama tidak dia rasakan selama di kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments