Sore menjelang maghrib, matahari tengah bersiap merehatkan diri setelah seharian begitu terik menyinari. Semburat jingga memenuhi langit biru di ufuk barat menyanjikan sebuah lukisan alam yang begitu elok nan indah. Senja selalu menyimpan kenangan akan kehadirannya.
Hazri membersihkan kandang kelinci serta memberi makan berupa rumput yang sempat dia cari sewaktu pulang sekolah tadi. Tak lupa dia menghitung kembali kelinci-kelinci peliharaannya. Ada sekitar sepuluh ekor kelinci sekarang. Beres dengan kelinci, Hazri beranjak ke kamar mandi. Langkah kakinya pelan dengan kepala sedikit menunduk. Sudah beberapa hari dia memikirkan cara untuk menyampaikan niat ke ibunya. Tapi, belum juga ketemu hingga saat ini. Buntu rasanya, padahal biasanya begitu mudah.
Di dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi, tampak Maemunah, ibunya, sedang menanak nasi serta menggoreng tempe untuk makan malam nanti. Saudara kembarnya, Faiq dan Usi, turut ikut membantu mengiris sayuran dan menyiapkan sambal. Menu malam ini sepertinya gorengan tempe, rebusan sayur dan tentunya sambal terasi. Hazri menatap mereka sejenak lalu menghela napas dengan berat.
Pokoknya malam ini niatnya harus tersampaikan ke ibu, batin Hazri. Mumpung formulir telah dia dapat tadi waktu di sekolah. Masalahnya, kalau niat Hazri tertunda lagi untuk disampaikan ke ibunya, maka dia akan kalah cepat dengan yang lain dan berakhir tidak diterima. Pemuda kampung ini memejamkan mata, mengumpulkan segenap keyakinan diri.
Matahari perlahan-lahan semakin surut, giliran nyamuk-nyamuk yang mulai bermunculan berkerubut semakin banyak. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib berkumandang disalah satu langgar yang kemudian diikuti dengan langgar lainnya. Begitu syahdu saling bersahutan. Hazri pun mengambil air wudhu kemudian berangkat ke langgar untuk sholat berjamaah...
Usai sholat maghrib berjamaah, dia beranjak ke meja makan. Disitu sudah ada ibu, bapak, serta saudara kembarnya, lengkap. Mereka terbiasa makan malam selepas maghrib. Dengan lauk tempe goreng, sambal terasi dan tidak lupa lalapan berupa rebusan sayur kangkung yang dipetik ibunya waktu pergi ke sungai tadi. Begitu nikmat menu sederhana ini, mereka pun menyantapnya dengan lahap. Mereka larut dengan suasana penuh keakraban ini, sesekali ngobrol bahkan bersanda gurau. Namun malam ini semuanya menikmati makanan dengan diam tidak banyak bicara. Seakan begitu pas dengan suasana hati Hazri yang kalut.
Setelah makan malam, seperti biasa si kembar telah siap dengan buku iqro’nya masing-masing, mengantri minta diajari bapak mengaji. Sudah menjadi kebiasaan di kampung Hazri kalau selepas maghrib anak-anak akan belajar mengaji terlebih dahulu sebelum nanti belajar umum atau mengerjakan PR mereka. Maka tidak heran jika selepas maghrib setiap rumah akan terdengar lamat-lamat suara anak-anak mengaji bersahutan dengan suara jangkrik yang tak mau kalah eksis malam ini.
“Nggak ngaji, Hazri?” tanya Tuginah.
“Libur dulu Mak, agak capek badannya....”
“Ngaji kok peke libur toh Hazri?”
Hazri hanya nyengir mendapat sindiran dari ibunya.
Hazri membantu ibunya mengangkat piring kotor bekas makan mereka ke tempat cuci piring disebalah kamar mandi. Hazri mengisi ember dengan air sampai penuh, lalu ikut berjongkok membantu ibunya membilas piring. Senyap, hanya ada suara jangkrik yang kini ditemani tengkorek berdayu-dayu bunyinya, sementara suara anak-anak mengaji mulai berkurang. Hanya suara si kembar yang terdengar jelas mengeja huruf-huruf hijaiyah dari dalam rumah. Setelah hening cukup lama, akhirnya Hazri memberanikan diri untuk menyampaikan niat le ibunya.
“Mak...aku mau ke Jogja....,” ujar Hazri pelan
Maemunah berhenti sejenak, menatap Hazri anak laki-lakinya ini dengan lekat-lekat, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Boleh, Mak?” tanya Hazri sekali lagi
“Mau apa kamu ke Jogja?” suara Maemunah terdengar parau
“Kuliah. Aku mau melanjutkan belajarku ke tingkat yang lebih tinggi lagi, Mak, katanya di Jogja tempat kuliahnya bagus-bagus...,” Hazri menyampaikan alasannya dengan hati-hati. Dia sadar kondisi fisik ibunya tak lagi mudah. Tenaganya tak sekuat sewaktu muda dulu, ditambah sekarang ibunya harus menjadi tulang punggung keluarga setelah bapaknya kena PHK.
Maemunah terdiam. Ia terus melanjutkan mencuci piring-piring kotor.
“Nanti kalau aku lulus kan bisa menjadi kebanggaan keluarga, terlebih nanti kalau nyari kerja lebih mudah soalnya ada ijazah yang lebih tinggi...”
Terdengar isak tangis tertahan, tapi Maemunah masih diam. Hanya butiran bening yang nampak menggantung di kedau kelopak matanya.
“Boleh ya, Mak?”
“Andaikan Emak bisa mengabulkan permintaanmu ini Hazri, tapi kondisi ekonomi kita yang terbatas...”
Akhirnya tumpah juga air mata perempuan ini. mengalir mengikuti setiap lekuk wajahnya yang mulai ada keriput disudut-sudutnya.
Kerongkongan Hazri tiba-tiba terasa kering. Dia paham betul tentang kondisi ekonomi keluarganya saat ini. Dulu sewaktu bapaknya masih bekerja sebagai tukang sapu salah satu universitas keadaan ekonomi keluarga Hazri masih tertolong, namun setelah bapaknya terkena PHK kondisi ekonomi keluarga ini mulai seret. Hingga akhirnya Maemunah bertekat untuk jualan sayur keliling kampung. Itupun belum cukup untuk merubah nasib mereka. Uang hasil jualan hanya cukup untuk membayar uang sekolah si kembar yang kini masih dudu di kelas empat sekolah dasar. Sementara sisanya hanya cukup untuk membeli beras dan sedikit lauk untuk teman makan. Uang dari mana lagi jika harus ditambah membiayai kuliah Hazri. Belum lagi nanti untuk biaya kos, makan dan lain-lain sewaktu di Jogja.
“Maaf nak, Emak belum bisa mengabulkan permintaanmu ini...” suara Maemunah semakin parau karena tercampur isak tangis.
Hazri hanya bisa diam, ia tidak sanggup lagi melanjutkan permintaannya untuk pergi ke Jogja. Bola mata Hazri lamat-lamat ikut kabur tertutup air mata yang hampir tumpah....
Sekedar info
Beberapa desa masihmempertahankan budaya mengaji selepas maghrib hingga sekarang. Metode belajar mereka bukan menjadikan anaknya pintar, akan tetapi untuk memperbaiki tutur kata dan budi pekerti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Bundanya Pandu Pharamadina
terkenang waktu itu
2024-03-13
0
AbhiAgam Al Kautsar
ini kilas balik tapi author gk kasih tau
2023-02-19
1
pohong qedjuh
nama ibunya maemunah apa tuginah?
2023-01-16
1