2. rumah

Sore menjelang maghrib, matahari tengah bersiap merehatkan diri setelah seharian begitu terik menyinari. Semburat jingga memenuhi langit biru di ufuk barat menyanjikan sebuah lukisan alam yang begitu elok nan indah. Senja selalu menyimpan kenangan akan kehadirannya.

Hazri membersihkan kandang kelinci serta memberi makan berupa rumput yang sempat dia cari sewaktu pulang sekolah tadi. Tak lupa dia menghitung kembali kelinci-kelinci peliharaannya. Ada sekitar sepuluh ekor kelinci sekarang. Beres dengan kelinci, Hazri beranjak ke kamar mandi. Langkah kakinya pelan dengan kepala sedikit menunduk. Sudah beberapa hari dia memikirkan cara untuk menyampaikan niat ke ibunya. Tapi, belum juga ketemu hingga saat ini. Buntu rasanya, padahal biasanya begitu mudah.

Di dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi, tampak Maemunah, ibunya, sedang menanak nasi serta menggoreng tempe untuk makan malam nanti. Saudara kembarnya, Faiq dan Usi, turut ikut membantu mengiris sayuran dan menyiapkan sambal. Menu malam ini sepertinya gorengan tempe, rebusan sayur dan tentunya sambal terasi. Hazri menatap mereka sejenak lalu menghela napas dengan berat.

Pokoknya malam ini niatnya harus tersampaikan ke ibu, batin Hazri. Mumpung formulir telah dia dapat tadi waktu di sekolah. Masalahnya, kalau niat Hazri tertunda lagi untuk disampaikan ke ibunya, maka dia akan kalah cepat dengan yang lain dan berakhir tidak diterima. Pemuda kampung ini memejamkan mata, mengumpulkan segenap keyakinan diri.

Matahari perlahan-lahan semakin surut, giliran nyamuk-nyamuk yang mulai bermunculan berkerubut semakin banyak. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib berkumandang disalah satu langgar yang kemudian diikuti dengan langgar lainnya. Begitu syahdu saling bersahutan. Hazri pun mengambil air wudhu kemudian berangkat ke langgar untuk sholat berjamaah...

Usai sholat maghrib berjamaah, dia beranjak ke meja makan. Disitu sudah ada ibu, bapak, serta saudara kembarnya, lengkap. Mereka terbiasa makan malam selepas maghrib. Dengan lauk tempe goreng, sambal terasi dan tidak lupa lalapan berupa rebusan sayur kangkung yang dipetik ibunya waktu pergi ke sungai tadi. Begitu nikmat menu sederhana ini, mereka pun menyantapnya dengan lahap. Mereka larut dengan suasana penuh keakraban ini, sesekali ngobrol bahkan bersanda gurau. Namun malam ini semuanya menikmati makanan dengan diam tidak banyak bicara. Seakan begitu pas dengan suasana hati Hazri yang kalut.

Setelah makan malam, seperti biasa si kembar telah siap dengan buku iqro’nya masing-masing, mengantri minta diajari bapak mengaji. Sudah menjadi kebiasaan di kampung Hazri kalau selepas maghrib anak-anak  akan belajar mengaji terlebih dahulu sebelum nanti belajar umum atau mengerjakan PR mereka. Maka tidak heran jika selepas maghrib setiap rumah akan terdengar lamat-lamat suara anak-anak mengaji bersahutan dengan suara jangkrik yang tak mau kalah eksis malam ini.

“Nggak ngaji, Hazri?” tanya Tuginah.

“Libur dulu Mak, agak capek badannya....”

“Ngaji kok peke libur toh Hazri?”

Hazri hanya nyengir mendapat sindiran dari ibunya.

Hazri membantu ibunya mengangkat piring kotor bekas makan mereka ke tempat cuci piring disebalah kamar mandi. Hazri mengisi ember dengan air sampai penuh, lalu ikut berjongkok membantu ibunya membilas piring. Senyap, hanya ada suara jangkrik yang kini ditemani tengkorek berdayu-dayu bunyinya, sementara suara anak-anak mengaji mulai berkurang. Hanya suara si kembar yang terdengar jelas mengeja huruf-huruf hijaiyah dari dalam rumah. Setelah hening cukup lama, akhirnya Hazri memberanikan diri untuk menyampaikan niat le ibunya.

“Mak...aku mau ke Jogja....,” ujar Hazri pelan

Maemunah berhenti sejenak, menatap Hazri anak laki-lakinya ini dengan lekat-lekat, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Boleh, Mak?” tanya Hazri sekali lagi

“Mau apa kamu ke Jogja?” suara Maemunah terdengar parau

“Kuliah. Aku mau melanjutkan belajarku ke tingkat yang lebih tinggi lagi, Mak, katanya di Jogja tempat kuliahnya bagus-bagus...,” Hazri menyampaikan alasannya dengan hati-hati. Dia sadar kondisi fisik ibunya tak lagi mudah. Tenaganya tak sekuat sewaktu muda dulu, ditambah sekarang ibunya harus menjadi tulang punggung keluarga setelah bapaknya kena PHK.

Maemunah terdiam. Ia terus melanjutkan mencuci piring-piring kotor.

“Nanti kalau aku lulus kan bisa menjadi kebanggaan keluarga, terlebih nanti kalau nyari kerja lebih mudah soalnya ada ijazah yang lebih tinggi...”

Terdengar isak tangis tertahan, tapi Maemunah masih diam. Hanya butiran bening yang nampak menggantung di kedau kelopak matanya.

“Boleh ya, Mak?”

“Andaikan Emak bisa mengabulkan permintaanmu ini Hazri, tapi kondisi ekonomi kita yang terbatas...”

Akhirnya tumpah juga air mata perempuan ini. mengalir mengikuti setiap lekuk wajahnya yang mulai ada keriput disudut-sudutnya.

Kerongkongan Hazri tiba-tiba terasa kering. Dia paham betul tentang kondisi ekonomi keluarganya saat ini. Dulu sewaktu bapaknya masih bekerja sebagai tukang sapu salah satu universitas keadaan ekonomi keluarga Hazri masih tertolong, namun setelah bapaknya terkena PHK kondisi ekonomi keluarga ini mulai seret. Hingga akhirnya Maemunah bertekat untuk jualan sayur keliling kampung. Itupun belum cukup untuk merubah nasib mereka. Uang hasil jualan hanya  cukup untuk membayar uang sekolah si kembar yang kini masih dudu di kelas empat sekolah dasar. Sementara sisanya hanya cukup untuk membeli beras dan sedikit lauk untuk teman makan. Uang dari mana lagi jika harus ditambah membiayai kuliah Hazri. Belum lagi nanti untuk biaya kos, makan dan lain-lain sewaktu di Jogja.

“Maaf nak, Emak belum bisa mengabulkan permintaanmu ini...” suara Maemunah semakin parau karena tercampur isak tangis.

Hazri hanya bisa diam, ia tidak sanggup lagi melanjutkan permintaannya untuk pergi ke Jogja. Bola mata Hazri lamat-lamat ikut kabur tertutup air mata yang hampir tumpah....

Sekedar info

Beberapa desa masihmempertahankan budaya mengaji selepas maghrib hingga sekarang. Metode belajar mereka bukan menjadikan anaknya pintar, akan tetapi untuk memperbaiki tutur kata dan budi pekerti.

Terpopuler

Comments

Bundanya Pandu Pharamadina

Bundanya Pandu Pharamadina

terkenang waktu itu

2024-03-13

0

AbhiAgam Al Kautsar

AbhiAgam Al Kautsar

ini kilas balik tapi author gk kasih tau

2023-02-19

1

pohong qedjuh

pohong qedjuh

nama ibunya maemunah apa tuginah?

2023-01-16

1

lihat semua
Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!