Hari belum terlalu siang, baru jam sepuluh kurang sedikit. Hazri sedang duduk menunggu mobil dan motor yang ia jaga sambil mencoba peluit yang baru dibelinya di toko aksesoris saat berangkat tadi. Ini hari ketiga dia menjadi juru parkir.
“Woy! Siapa kau berani-beraninya jaga parkir disini?” bentak seorang pemuda.
Hazri menoleh, ada tiga pemuda sebaya dengan dirinya melotot kacak pinggang.
“Ada apa ya, Mas?” tanya Hazri.
“Mas, Mas...mata kau! Siapa kau berani disini?” bentak lagi dari seorang diantara mereka. Dua temannya menatap tajam ke arah Hazri. Setiap orang siap menyerang Hazri, tangan mereka siap memukul.
Hazri cepat membaca situasi. Dia paham ketiga pemuda ini berniat tidak baik kepada dirinya. Ajian ‘Rogo Kumitir’, ajian dari Ki Ageng ini dapat menyerang seseorang tanpa menyentuhnya seperti pukulan jarak jauh. Ajian itu pun dirapal dengan tenaga sekedarnya saja. Hazri tahu, yang seperti mereka ini tidak ada isinya. Tong kosong saja, jika dipukul maka akan nyaring bunyinya.
“Aku Hazri! Kalian mau apa?!” dia balik membentak ketiga pemuda itu.
Ketiga pemuda itu kaget melihat keberanian calon lawannya ini, tapi tidak diperlihatkan. “Kurang ajar kau! Berani macam-macam dengan kita?!” bentak pemuda itu tak kalah keras, tampaknya dia ketua dari ketiganya. “Hajarrrr...!” mereka pun serempak menyerang Hazri.
Orang-orang dan para penjual di sekitar lokasi histeris melihat perkelahian yang akan berlangsung. Ibu penjaga angkringan langganan Hazri terlihat paling histeris diantara yang lain. Pukulan demi pukulan sahut-menyahut ke tubuh pemuda Jombang perantauan ini, secara membabi buta. Hazri terus menghindar, tidak satu pun pukulan atau tendangan yang bisa mengenai tubuhnya. Seperti dugaan Hazri tadi, mereka kosong melompong. Tidak punya ilmu bela diri sama sekali. Sekedar keberanian pukul tendang yang penting lawan terkapar.
Setelah dirasa cukup mempermainkan lawan-lawannya, Hazri melompat ke belakang dengan gaya salto seperti pesenam olimpiade. Orang-orang dan para penjual berdecak kagum melihat aksi itu. Ibu penjaga angkringan itu malah sudah berani melihat perkelahian mereka karena merasa Hazri sudah berada di atas angin. Dia berharap Hazri bisa mengalahkan ketiga pemuda berandalan yang selalu makan tidak bayar di angkringannya.
“Jangan biarkan dia kabur!” ketiganya langsung mengejar. Mereka siap memukul kembali, siap dengan ancang-ancang. Hazri menunggu, ‘Rogo Kumitir’ telah siap. Kedua tangan Hazri nampak agak memerah. Ketiga pemuda itu semakin mendekat, ibu angkringan histeris kembali dan tidak berani melihat. Penonton yang lain ikut ngeri dengan kejadian yang akan terjadi....
Satu, dua, tiga... “Hah!” Hazri memukul telapak tangan saat mereka kira-kira tinggal semeter di depannya. Ketiga pemuda yang akan menyerang itu terpental ke belakang. Jatuh jungkir balik seperti daun terkena angin. Darah segar keluar dari mulut mereka.
Penonton bersorak sorai. Sepertinya orang-orang dan para pedagang memang tidak suka kepada tiga pemuda berandalan ini. “Habisi, Mas...,” teriak seorang penjual penjual rujak manis. “Hajar, Mas...bikin daging cincang sekalian..,” teriak yang lain. Mereka terus berteriak-teriak meminta Hazri untuk menuntaskan lawan-lawannya yang sudah terkapar di samping mobil tak berdaya. Namun, Hazri tidak terpancing dengan situasi ini. Dia menghampiri seorang pemuda yang diduganya sebagai pimpinan mereka. Pemuda itu ketakutan luar biasa.
“Sekarang kalian mau apa?!” bentak Hazri sambil memegang pundak lawannya itu.
“Awas kau, kupanggilkan Bang Romi...,” katanya bergetar menahan sakit akibat pukulan yang barusan diterimanya.
“Panggil! Aku tunggu di sini!” suruh Hazri.
Hazri melepas cengkeramannya. Dia memandang sekeliling. Banyak orang yang berkerumun menonton, akibatnya lalu lintas di depan pertokoan elektronik itu macet.
“Ayo, Mas, hajar saja...jangan beri ampun.” penonton masih terus berteriak-teriak ramai.
Hazri menendang kaki pemuda itu. “Pergi kalian! Membuat macet dan menghalangi rezekiku saja!” bentak Hazri.
Pelan-pelan ketiga pemuda ini berdiri. Dan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu, diiringi teriakan dari para penonton. “Huuuu....” Mereka bertiga berjalan sambil menundukkan kepala, antara malu dan marah atas perlakuan Hazri. Hazri mengamati, ada rasa kasihan juga. Mungkin mereka juga perantauan sepertiku, katanya dalam hati.
Sekarang giliran Hazri yang dikerumuni orang-orang.
“Mas, kungfunya keren. Ajari dong, Mas...,” pinta penjual koran cilik.
Hazri tertawa sambil mengacak-acak rambut anak seumuran kelas 4 SD itu. “Nanti, kalau kamu sudah gedean dikit ya.”
Si anak tersenyum senang, dia bangga memperlihatkan ke orang-orang kalau Hazri adalah temannya sekarang.
“Sudah. Ayo kembali kerja lagi...,”kata Hazri yang mulai risih dikerumuni orang-orang. “Terus, Pak, terus...terus...,” Hazri kembali menjalani tugas sebagai juru parkir. Priiittt...priiitttt...peluit ditiupnya nyaring. Kerumunan orang-orang juga mulai bubar, kembali ke urusannya mencari rezeki masing-masing.
“Nak! Gratis....,” Ibu penjaga angkringan berseru sambil meletakkan segelas es teh di emper Hazri biasa duduk. Ibu penjaga angkringan memang baik terkadang Hazri sering dikasih gorengan gratis untuk dibawa pulang, ini lumayan untuk oleh-oleh temannya.
“Terima kasih, Bu...,” balas Hazri sambil mengarahkan mobil box yang mau parkir. “Terus, Pak, terus..., dikit lagi... Yak, hooop!” beres itu, dia berlari kecil ke emperan tempat Hazri duduk. Es teh gelas itu pun diminumnya sampai habis.
“Lagi?” tanya Ibu angkringan baik hati ini.
“Cukup, Bu, terima kasih banyak.”
Ibu penjaga angkringan duduk disamping Hazri. “Nak, persoalan tadi mungkin bisa panjang. Mereka pasti nggak mau kalah. Kalau kata Ibu, baiknya kamu menyingkir dulu daripada ribut sama si Romi.” ibu penjaga angkringan menasihati Hazri.
“Siapa si Romi itu, Bu? Pemuda tadi juga ngancam, kalau akan panggil Romi buat nemui saya.”
“Walah, Nak. Benar gawat kalau begitu. Romi ini biang kerok di sini. Orangnya tinggi, rambutnya panjang. Kejam, kalau lawannya belum megap-megap bakalan terus dipukuli. Nggak ada yang berani sama dia di sini.” Ibu penjaga angkringan itu menghela napas. “Kalau menurut Ibu, Nak, kamu lebih baik untuk menyingkir dulu...” dia mengulang lagi nasihatnya tadi.
Hazri manggut-manggut, dia sama sekali tidak gentar sedikit pun. “Nggak apa, Bu. Kalau harus terjadi, ya biar terjadi apa adanya...,” kata Hazri tenang.
Ibu penjaga angkringan memandang Hazri sambil geleng-geleng kepala. Tadi beliau sudah melihat kemampuan pemuda ini, tapi dalam hati Ibu penjaga angkringan ini masih belum yakin. Ibu itu khawatir akan keselamatan Hazri, soalnya beliau kenal betul siapa itu Romi.
“Sebentar, Bu...,”Hazri menghampiri seorang ibu-ibu yang kerepotan membawa barang bawaannya. Dia membantu membawa dan memasukkan barang-barang itu ke bagasi mobil. “Mau keluar, Bu?”
“Iya, Dik. Tolong ya.”
Hazri mengangguk dan memandu mobil ibu itu ke jalan raya.
“Terima kasih ya, Dik,” Ibu itu tersenyum, selembar uang lima puluh ribuan dikasihkan Hazri.
“Sama-sama, Bu,” Hazri pun tersenyum senang menerima uang tip besar dari pelanggan.
Sementara itu, Ibu penjaga angkringan melihat segerombolan pemuda yang mendekat. Tidak salah lagi, salah satu diantaranya adalah Romi sang ketua. Mereka datang dari seberang pertigaan. Sekitar delapan orang, beberapa diantaranya membawa balok kayu. Ibu penjaga angkringan panik luar biasa. “Zri, Hazri...Hazriii!” beliau mencoba memanggil. Tapi, Hazri tidak mendengar karena sedang mengatur keluar masuk mobil di parkiran. “Hazri...!” beliau berteriak kembali, namun panggilannya tidak terdengar Hazri.
Tadinya Ibu penjaga angkringan ingin memberi tahu langsung, tapi dilihatnya gerombolan yang dipimpin Hazri semakin mendekat maka gemetaranlah beliau tidak sanggup berlari. Ibu penjaga angkringan semakin panik, celingak-celinguk, dilihatnya si bocah penjual koran sedang duduk tidak jauh dari beliau berdiri. “Le...Tole..”
Bocah itu menoleh. “Ada apa Bu?”
“Kesini! Cepat!” panggil Ibu penjaga angkringan.
Bocah it menghampiri beliau dengan langkah cepat. Ibu penjaga angkringan itu membisikkan sesuatu ke bocah itu.
“Sana bisikan ke Mas Hazri, setelah itu langsung kembali ya. Cepat sana!” perintah beliau.
Bocah itu langsung berlari ke arah Hazri.
“Ada apa, Le?” tanya Hazri.
Si bocah lalu membisikkan sesuatu ke Hazri dan langsung kembali dengan cepat.
Hazri bersikap biasa saja. Tenang seperti tidak akan terjadi apa-apa. Ibu penjaga angkringan menepuk jidat melihat kelakuan Hazri.
“Apa pesanku kurang jelas?” kata beliau cemas.
Hazri bukannya sombong. Dia sengaja bersikap biasa saja supaya Romi tidak curiga. Dengan begitu bocah penjual koran tadi aman. Sejak mendapat penjelasan dari Ibu tadi, sebenarnya Hazri sudah bersiap. ‘Cakra Buana’ telah siap dengan tenaga dalam sekedarnya. Tinggal dinaikkan jumlah tenaga dalamnya jikalau diperlukan. Itulah kenapa Hazri tenang-tenang saja.
Sementara itu Romi dan gerombolannya sudah dekat. Mereka langsung mengepung Hazri. Cucu murid Ki Ageng ini sekarang berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tapi, Hazri masih tenang-tenang saja seolah belum sadar akan adanya ancaman pada dirinya. Dia tetap kelihatan asyik berjongkok memperbaiki sandalnya yang copot di tengah kepungan yang terus merapat.
Dan... “Hajarrr!” Romi berteriak kencang. Serentak mereka maju bersama, berlari kencang ke arah Hazri semuanya disiap menyerang memukul habis mangsanya itu. “Hiaa...!” teriakan gerombolan ini membuat merinding dan nyali menciut.
Hazri waspada, ajian ‘Rogo Swara’ memberitahukan hitungan langkah kaki lawan. Seberapa dekat mereka dengannya. Hazri tidak mau tanggung, dia menghantamkan ‘Rogo Kumitir’ pada jarak terdekat agar berefek maksimal. Sambil jongkok tadi, diam-diam Hazri menggenjot tenaga dalamnya hingga naik seperempat penuh. Kedua tangan Hazri berubah memerah sebatas siku, bergetar menunggu untuk dilontarkan.
Ibu penjaga angkringan dan orang-orang berteriak histeris begitu sadar apa yang akan terjadi. Dalam pandangan mereka, ada seorang anak muda yang akan dihajar tanpa ampun oleh gerombolan preman yang diantara mereka ada yang membawa balok kayu. Sangat sulit untuk dibayangkan seperti apa jadinya calon korban itu nanti. Jeritan-jeritan histeris semakin menjadi...
Hazri bersiap. Satu... dua... tiga... “Huupp!” tiba-tiba dia bangkit berdiri sambil memukul lawannya ke segala arah. Depan, belakang, kanan, kiri.
Dan yang tampak kemudian membuat orang tertegun. Romi dan gerombolannya menjerit kesakitan. Terjengkal ke belakang, bergelimpangan. Balok-balok kayu yang mereka bawah berhamburan ke udara dan mendarat entah dimana. Darah segar muncrat dari mulut dan hidung mereka, membasahi baju, wajah, dan pelataran parkir. Tidak ada yang sanggup berdiri, hanya nampak Hazri yang ngos-ngosan.
Hazri menatap tajam satu persatu gerombolan yang bergelimpangan itu. Dia mencari seseorang yang bernama Romi. Tatapannya tertuju pada seorang pemuda yang menyandar kepayahan di ban mobil box. Napasnya megap-megap, darah keluar dari mulut dan hidungnya. Ciri-cirinya cocok dengan gambaran Romi yang diceritakan Ibu penjaga angkringan. Dia pun menghampiri pemuda itu.
“Kamu yang namanya Romi?!”
Pemuda berpenampilan sangar itu kelihatan memprihatinkan walaupun tidak begitu parah. “I...iya, Bang,” jawabnya pelan saja. Darah terus mengalir merembes melalui mulut dan hidungnya. Menetes membasahi kaos sepak bola kebanggaan yang dipakainya.
“Aku Hazri. Aku juru parkir disini. Apa kamu keberatan?”
Pemuda berlumuran darah itu hanya mampu menggeleng lemah, napasnya kembang kempis.
“Jawab! Apa kamu keberatan?” tanya tegas Hazri.
“Ti...tidak, Bang. Tidak...,” Romi kelihatan semakin kehilangan energinya, matanya mulai terpejam, sepertinya akan pingsan.
“Kamu sudah bilang tidak. Kalau sampai kamu dan anak buahmu masih berani ganggu aku disini. Lihat saja nanti! Mengertikan?” gertak Hazri yang memang bukan gertakan bohong-bohongan.
Romi tidak sanggup menjawab lagi walau masih mendengar suara Hazri. Pandangan matanya mulai gelap. Hazri tahu pemuda ini tidak pura-pura sebab pukulan ‘Rogo Kumitir’ bertenaga dalam setingkat itu sanggup membuat seekor sapi pingsan hanya sekali hantam jarak jauh, beda lagi kalau dihantam dengan jarak dekat sapi tersebut bisa sekarat.
Melihat situasi ini, Hazri segera meraih tangan kanan Romi lalu dicengkramnya kuat-kuat layaknya orang berjabat tangan. Dia mengalirkan tenaga dalamnya. Seketika, tubuh Romi bergetar tak karuan seperti orang kesetrum listrik. Para penonton yang semakin banyak mulai khawatir, menyangka Hazri sedang membunuh Romi. Hazri terus mengalirkan tenaga dalam sampai Romi membuka mata yang tadi sempat terpejam. Baru dilepaskan.
Sekarang para penonton tertegun heran. Romi yang disangka mereka bakalan mati ternyata malah kelihatan membaik kondisinya. Mereka mulai ribut berkomentar tentang hal ini, bahkan sebagian ada yang penasaran dan hendak mendekat untuk memastikan apa yang mereka lihat barusan.
“Jangan mendekat. Bahaya!” seru Hazri. Sebenarnya ini hanya gertakan pura-pura saja, Hazri tidak suka dikerumuni orang-orang seperti waktu perkelahian pertamanya. Risih. Orang-orang yang mendengar gertakan Hazri langsung kembali ketempat masing-masing tidak ada yang berani membantah.
Hazri menatap tajam . Romi tertegun melihat sorot mata Hazri yang menusuk bola matanya. Dia berkejap-kejap, badannya bergetar seolah menahan beban berat. Hazri pun mengendurkan tenaga dalam yang mengali ke matanya.
“Sekarang, kalian pergilah! Jangan coba-coba mengganggu aku lagi! Aku tidak sulit membuat sesuatu yang lebih parah dari ini. Mengerti?!” tegas Hazri.
Romi mengangguk cepat. “Iya, Bang. Mengerti..” katanya masih pelan. Dia pun perlahan-lahan merayap berdiri, tangannya menopang pada badan mobil box itu. Dia pun beranjak pergi dengan langkah tertatih-tatih. Gerombolannya mengikuti dari belakang. Beberapa nampak saling memapah satu sama lainnya.
“Huuu...” spontan suara ejekan penonton terdengar riuh. Beberapa penjual yang mungkin selama ini kesal dengan tingkah Romi dan gerombolannya memberanikan diri memukul, menendang, dan melempari mereka dengan kerikil. Seorang ibu-ibu malah nekat mendekat ke Romi dan memukulinya menggunakan sandal jepit sambil mengomel-ngomel sendiri. Ada juga kakek-kakek yang memukul gerombolan itu dengan sapu lidih, walaupun tidak sakit tapi mereka tetap malu.
“Sudah...sudah cukup!” Hazri bertindak cepat saat melihat orang-orang hendak ikut menyerang Romi dan gerombolannya. Main hakim sendiri jadinya. “Budar...budar!” serunya sekali lagi.
“Mas, kenapa nggak dibunuh sekalian saja mereka...”seru seseorang. “Benar! Nanti kembali kesini bikin kacau lagi, Mas...” teriak yang lain. “Benar itu...benarrr....” beberapa pemuda yang sok jagoan terpancing provokasi dan berlari mengejar Romi dan gerombolannya.
Hazri geleng-geleng kepala sambil mendengus kesal. Dia mengaktifkan ‘Rogo Kumitir’ dengan tenaga dalam kecil lalu disentilkan ke para pemuda sok jagoan itu. Mereka tersungkur, tapi tidak luka parah karena masih sanggup bangun. Lalu, bingung mencari-cari apa yang barusan mendorongnya. Penonton kembali heran dibuatnya.
“Ayo bubar, bubar...kerja lagi...! serunya sekali lagi. Jalanan pertigaan depan pertokohan elektronik macet lumayan panjang. Klakson bersaut-sautan. Hazri menghela napas, merasa tidak enak telah menjadi orang yang menyebabkan kemacetan itu. Dari kejauhan terdengar suara sirine polisi. Orang-orang pun mulai membubarkan diri. Tidak lama sebuah mobil polisi tiba di lokasi kejadian. Empat anggota polisi turun dari mobil. Dua diantaranya dengan cepat menindak lanjuti kemacetan yang terjadi. Kemacetan pun mulai berkurang, perlahan-lahan lalu lintas kembali normal.
Seorang perwira polisi terlihat sendang berbincang-bincang dengan Pak Agus. Hazri mengamati dari sudut matanya, beberapa kali perwira polisi itu memandang kearahnya. Sekarang malah perwira itu menghampirinya.
“Kamu Hazri?” tanya perwira itu.
“Iya, Pak.”
“Kamu tahu apa yang terjadi barusan?”
Hazri mengangguk. “Saya hanya membela diri dari mereka, Pak.”
Perwira itu manggut-manggut. “Apa kamu terluka?”
Hazri menggeleng.
“Katanya kamu dari Jawa Timur. Jombang?”
Hazri mengangguk.
“Saya juga dari sana. Nganjuk.” perwira itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. “Fahmi Putra, Inspektur Satu Polisi.”
Hazri membalas uluran tangan itu. “Hasanuddin Azhari. Jombang. Juru parkir.”
Fahmi tertawa mendengar Hazri memperkenalkan diri, Hazri juga ikut tertawa. Kemudian mereka pun ngobrol akrab menggunakan bahasa daerah. Lumayan lama, sampai akhirnya terdengar HP Rizal berbunyi. Tampaknya ada tugas lain memanggil.
“Baiklah, Hazri. Hati-hati di Jogja. Ini kartu nama saya.”
“Terima kasih, Cak.” Hazri memasukkan kartu nama Fahmi ke dalam saku celananya. Bangga juga dia punya kenalan baru seorang perwira polisi.
Setelah berjabat tangan, Fahmi dan rekan-rekannya pun pergi. Dia menugaskan seorang polisi muda untuk berjaga disana memantau situasi.
Selepas Fahmi pergi Ibu penjaga angkringan menghampiri Hazri.
“Hazri,Hazri..., kenapa nggak bilang kalau bisa silat seperti tadi? Ibu kan jadi takut tadi...,” kata beliau sambil memandangi lekat Hazri, mengecek kalau-kalau ada yang luka. Maklum jiwa ke ibuan. “Es teh?”
Hazri mengangguk, tersenyum tipis. Dia menerima es teh yang diberikan Ibu penjaga angkringan dan langsung meminumnya habis. “Yang ini biar aku bayar ya, Bu. Rugi nanti kalau Ibu ngasih gratisan terus.”
Giliran Ibu itu yang tersenyum.
Agus datang menghampiri dari arah pintu utama pertokoan.
“Zri, kenapa nggak bilang kalau mau hajar si Romi?” dia tanya sambil tertawa ringan. “Hebat ya kamu. Salut aku...”
Hazri tertawa. “Masak berkelahi harus ngajak-ngajak, Pak? Lagian mereka duluan yang cari gara-gara.”
Agus mengangguk-angguk. “Aku shift siang. Begitu datang langsung dapat laporan kalau kamu berkelahi dua kali sama gerombolannya Romi hari ini. Wah, terlambat. Padahal pengen juga aku menghajar mereka lagi,” Agus berkata serius. “Jadi, ceritanya kamu sekarang yang pegang kuasa disini?”
“Kuasa apaan,Pak? Saya cuma jaga parkiran...” kata Hazri.
Satpam senior ini memandang Hazri, lalu mengangguk-angguk.
“Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja. Baiklah, aku balik kerja dulu ya...,” Agus menyudahi obrolan bersama Hazri.
“Iya, Pak, selamat bertugas komandan,” canda Hazri.
Sepeninggal Agus, Ibu penjaga angkringan bercerita bahwa Pak Agus adalah purnawirawan Kopasus. Dia satu-satunya satpam yang berani bentrok dengan Romi.
“Yang Ibu tahu, selama ini cuma Pak Agus saja yang berani lawan Romi. Kalau nggak ada dia entah bagaimana jadinya sini. Kayaknya copet, rampok, begal, maling, bakal merajalela.”
Hazri mengangguk-angguk.
“Nanti terusin ya, Nak, ada orang mau beli tuh...,” Ibu penjaga angkringan menepuk bahu Hazri lalu cepat kembali ke angkringannya.
“Iya, Bu,” Hazri mengangguk. Dia pun kembali mengatur parkirannya.
Sekedar info
Angkringan adalah warung makan sederhana dengan menggunakan sebuah gerobak dorong dan ditutupi sebuah terpal plastic sebagai atapnya. Keunikan dari Angkringan ini terletak pada gerobak dorongnya yang serba guna. Selain untuk memanaskan air atau memasak, gerobak Angkringan ini juga berfungsi sebagai tempat menaruh makanan dan sebagai meja makan para pembeli. Angkringan ini sangat terkenal di Yogyakarta, dan menjadi salah satu icon kuliner di Yogyakarta.
Menu wajib yang selalu ada di Angkringan adalah “nasi kucing”. Nasi kucing sendiri merupakan makanan berupa nasi dan sambal teri atau sambal tempe. Kenapa di sebut dengan nasi kucing? karena ukurannya yang sangat kecil dan hanya segenggam tangan, sehingga seperti porsi makan untuk kucing. Selain ukuran dan isinya yang sederhana, nasi kucing ini biasanya di bungkus dengan kertas dan daun pisang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Nusa thotz
sip..terutama note akhir cerita sama bahasanya...lanjutkan
2023-08-31
0
angger aplod
salah satunya 1
2021-05-30
0
angger aplod
slama baca nivel di sini hanya ada 2 novel keren yg saya baca.
2021-05-30
1