Hazri mulai menarik bola energi ‘Rogo Kumitir’ yang berada dalam tubuh para korban dari kepala mengarah ke kaki. Bergantian dari satu pemuda ke yang lainnya tanpa terlewat setahap demi setahap. Mereka pun menggerang kesakitan. Hazri terus menarik sedikit demi sedikit. Pelan-pelan...
Romi semakin gelisah. Dia melihat jam tangan, sudah hampir 2 jam berlalu Hazri sendirian mengobati anak buahnya. Suara erangan makin semakin sering terdengar dan makin keras. Romi buntu, dia tidak punya gambaran tentang apa yang terjadi di dalam, tentang apa yang sedang dilakukan Hazri begitupun tentang keadaan anak buahnya. Waktu Hazri menanganinya tempo hari, dia setengah sadar. Romi hanya ingat kalau tubuhnya terasa dialiri hawa dingin menggigit yang sedang menyentak-nyentak atau mendorong-dorong. Itulah kenapa dia seperti kejang. Tahu-tahu dirinya terasa lebih baikan. Itu saja yang dia ingat.
Di dalam ruangan Hazri sudah sangat kelelahan, tapi masih terus berupaya menuntaskan pengobatan yang sedang berjalan itu. Keempat pemuda yang menjadi korban sudah bisa membuka mata, napasnya pun sudah mulai bergerak berirama dan tidak lagi begitu pucat. Mereka duduk bersila menyandar ke dinding sambil memandangi Hazri yang seluruh badannya penuh dengan keringat yang bercucuran. Para pemuda melihat kedua tangan calon korbannya waktu itu berwarna keperakan pekat sebatas siku. Asap tipis melingkupi tubuhnya. Seperti kabut tipis di pagi hari.
“Berbaris membelakangi aku.” perintah Hazri ngos-ngosan. Keempat pemuda itu langsung mengikuti perintah tanpa membantah sedikitpun. Hazri hendak menyalurkan energi alam murni ke dalam tubuh mereka untuk memperbaiki aliran darah yang sempat kacau terganggu. Dia melepas ajian ‘Rogo Sukmo’ , hanya tenaga dalamnya saja yang akan dia pakai.
Sambil menunggu tangan Hazri kembali normal, dia melakukan gerakan-gerakan pemusatan energi murni. Dan kemudian... “Hap!” dia menempelkan kedua telapak tangannya ke salah satu pemuda. Anak buah Romi itu merasakan aliran hawa dingin yang masuk ked tubuhnya. Segar, seperti minum air dingin saat cuaca panas terik. “Hah!” karena dirasa cukup Hazri menarik telapak tangannya.
Berbeda dengan pemuda itu yang semakin membaik, keadaan Hazri justru semakin melemah, banyak tenaga dalam yang telah dikeluarkan sejak tadi. Napasnya semakin terengah-engah tidak karuan, naik turun dengan cepat. Dia mengulang hal yang sama kepada pemuda berikutnya hingga yang ketiga. Selesai yang ketiga, Hazri sudah dalam keadaan kepayahan sekali, wajahnya pucat pasih. Darah mulai menetes dari hidung Hazri. Dia memandang ketiga orang yang sudah menerima energi murni itu, mereka kelihatan khawatir dengan keadaan Hazri. “Mungkin inilah akhir perjalanan hidupku.” kata Hazri dalam hati. Jikalaupun dia selamat, dalam keadaan lemah seperti ini dia pasti akan dihajar oleh gerombolan preman itu sebagai ganti balas dendam waktu itu. Hazri memejamkan matanya.
“Tidak ada pilihan...setidaknya aku bukan seorang pembunuh.” batinnya.
Dia memandangi pemuda keempat yang sedari tadi menunggu giliran. Hazri memulai gerakannya, dia akan menuntaskan apa yang sudah dimulainya. Sementara di lubuk hati keempat pemuda itu sejujurnya terharu dengan pemuda yang akan dicelakainya dulu. “Hap!” Hazri menempelkan lagi kedua telapak tangannya di punggung pemuda keempat. Darah menetes deras dari hidungnya, bahkan kini merembes dari sudut bibirnya. Hazri menundukkan kepala, keningnya berkerut-kerut, matanya terpejam... “Ayoo....ayoo.....Hah!” dia menarik telapak tangannya. Hazri tersenyum telah menyelesaikan semuanya, bersamaan dengan itu Hari ambruk ke lantai. Bruk!
Keempat pemuda itu terkejut saling bertatapan mata. Mereka mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Hazri tapi tidak ada gerakan sedikitpun. Seorang pemuda diantaranya segera bergegas keluar ruangan, tidak ada orang sama sekali. Dia pun bergegas ke halaman depan, lari dengan kencang,,,tidak sadar kalau beberapa jam lalu dia seperti mayat hidup. “Bang!” dia berseru keras saat melihat Romi dan teman-temannya duduk-duduk di halaman depan semua.
Mereka semua yang berada di halaman depan terperanjat melihat seorang temannya yang dikira bakalan mati itu sekarang malah bisa berdiri tegak di depan pintu.
“Cepat, Bang...!” serunya sekali lagi. “Sebelum semuanya terlambat.”
Romi tersenyum. Di buangnya batang rokok yang baru dinyalakannya. Dia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, di ikuti yang lainnya.
“Ini giliran kami yang bertindak... demi teman kami yang hampir mati.” katanya lirih sambil terus berlari.
Hazri masih bisa mendengar lamat-lamat suara gaduh disana. “Berakhir sudah semuanya.” batinnya. Matanya pun tertutup rapat.
Di dalam ruangan itu dilihatnya Hazri tergeletak di lantai dengan berlumur darah di mulut dan hidungnya. “Semuanya ini saatnya, demi teman kita yang hampir mati...” teriak Romi. Semua memandang Romi dengan seksama.
“Bawa Bang Hazri ke kamarku, cepat..!” perintah Romi seketika. Beberapa pemuda langsung menggotong tubuh Hazri yang lemah itu. “Ini saatnya kami balas budi...., Bang Hazri, pimpinan baru Kopen.” batin Romi.
Romi segera mengikuti anak buahnya yang sudah duluan membawa Hazri. “Rapikan tempat ini.” kata Romi sambil mempercepat langkahnya menyusul mereka.
Sesampainya di kamar Romi, tubuh Hazri diletakkan di atas tempat tidur. “Ambilkan air dan handuk!” perintahnya lagi.
Seorang anak buah masuk membawakan sebaskom kecil air dan handuk. “Kalian semua keluar! Keluar! Keluar!” anak buah Romi yang ada di dalam ruangan itu segera keluar. Romi membasahi handuk itu dengan air lalu mengelap darah yang ada di mulut dan hidung Hazri. Dia juga membersihkan badannya yang penuh dengan keringat itu. Romi mengecek denyut nadi dan napas Hazri.
“Untung cuma pingsan.” Lalu mengambil sarung dari lemarinya dan diselimutkan ke tubuh Hazri.
Tiba-tiba Hazri tersadar. “Aku nggak apa-apa. Lelah sekali. Suruh mereka istirahat, jangan banyak gerak. Makan bubur dan madu...” katanya lemah kepada Romi. Lalu pingsan kembali.
Romi tersenyum kecut memandang Hazri. Dia menghela napas panjang sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Entah apa yang ada di pikirannya. Romi menghidupkan kipas angin sambil menutup pintu kamar. Dia menuju ruangan tempat anak buahnya yang barusan disembuhkan oleh Hazri.
“Gimana keadaan kau sekarang?” tanya Romi.
“Baik sekali, Bang, rasanya sudah sembuh total,” jawab salah satu diantara mereka lantang, yang lain mengangguk mengiyakan.
“Hahaha... baguslah, ku kira bakalan modar kalian.”
Mereka pun ikut tertawa.
“Kata Bang Hazri tadi, kalian istirahat dulu. Jangan banyak gerak. Makan bubur sama madu yang banyak seperti anak bayi, Hahaha...” Romi tertawa keras. “Ayo semuanya keluar! Biar yang mau mati ini hidup kembali, Hahaha...” sambungnya. Sepertinya Romi yang terlihat paling bahagia.
Mereka pun keluar sambil tertawa-tawa gembira.
“Bang Hazri sudah sadar?” tanya Simon.
“Tadi sempat sadar, terus ek ok...pingsan lagi deh, hehehe.” jawab Romi. “Mon, bawakan kasur lipatmu ke kamarku, sepertinya aku juga mau pingsan.” perintah Romi.
“Emang Abang mau pingsan gara-gara apa?” tanya Simon lugu.
“Capek betul aku ngurusi kunyuk-kunyuk macam kalian, Hahaha...” kata Romi sambil berjalan ke kamarnya.
Mereka tertawa-tawa lagi mendengar ucapan bosnya itu. Dasar preman.
Di dalam kamar, Romi memandangi Hazri. Wajahnya masih pucat walau tidak sepasih tadi. Napasnya sudah teratur, darah juga sudah tidak keluar dari hidung dan mulutnya. Seperti sedang tidur biasa.
Romi tidak tahu, sebenarnya Hazri memang sedang tidur. Dia sudah sadar dari pingsannya dan sekarang tertidur pulas karena kelelahan. Romi merebahkan tubuhnya ke kasur lipat, bengong menatap langit-langit kamar. Tidak lama kemudian suara ngoroknya nyaring terdengar sampai ke ruangan tengah.
Tidak bohong. Lelah benaran dia rupanya...
Secuil kopi
Istilah atau kata "preman" muncul, yang merupakan perubahan dari kata "vrije man" karena penyebutanya yang agak susah bagi lidah orang Melayu dan Jawa. Walaupun istilah preman hari ini memiliki konotasi negatif, namun ketika masa mempertahankan kemerdekaan para preman ini juga pernah ikut berjuang.
Tepatnya pada peristiwa Jalan Bali pada Oktober 1945, ketika itu banyak preman dari Medan yang ikut berjuan melawan penjajah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fatur Rohman
vrije man artinya apa thor?
2025-01-20
0
Abi Uung
bagus ceritanya
2025-01-20
1
Andriyati.S
kerennnn...lain dripada yg lain...
2021-05-27
1