16. markas 3

Hazri mulai menarik bola energi ‘Rogo Kumitir’ yang berada dalam tubuh para korban dari kepala mengarah ke kaki. Bergantian dari satu pemuda ke yang lainnya tanpa terlewat setahap demi setahap. Mereka pun menggerang kesakitan. Hazri terus menarik sedikit demi sedikit. Pelan-pelan...

Romi semakin gelisah. Dia melihat jam tangan, sudah hampir 2 jam berlalu Hazri sendirian mengobati anak buahnya. Suara erangan makin semakin sering terdengar dan makin keras. Romi buntu, dia tidak punya gambaran tentang apa yang terjadi di dalam, tentang apa yang sedang dilakukan Hazri begitupun tentang keadaan anak buahnya. Waktu Hazri menanganinya tempo hari, dia setengah sadar. Romi hanya ingat kalau tubuhnya terasa dialiri hawa dingin menggigit yang sedang menyentak-nyentak atau mendorong-dorong. Itulah kenapa dia seperti kejang. Tahu-tahu dirinya terasa lebih baikan. Itu saja yang dia ingat.

Di dalam ruangan Hazri sudah sangat kelelahan, tapi masih terus berupaya menuntaskan pengobatan yang sedang berjalan itu. Keempat pemuda yang menjadi korban sudah bisa membuka mata, napasnya pun sudah mulai bergerak berirama dan tidak lagi begitu pucat. Mereka duduk bersila menyandar ke dinding sambil memandangi Hazri yang seluruh badannya penuh dengan keringat yang bercucuran. Para pemuda melihat kedua tangan calon korbannya waktu itu berwarna keperakan pekat sebatas siku. Asap tipis melingkupi tubuhnya. Seperti kabut tipis di pagi hari.

“Berbaris membelakangi aku.” perintah Hazri ngos-ngosan. Keempat pemuda itu langsung mengikuti perintah tanpa membantah sedikitpun. Hazri hendak menyalurkan energi alam murni ke dalam tubuh mereka untuk memperbaiki aliran darah yang sempat kacau terganggu. Dia melepas ajian ‘Rogo Sukmo’ , hanya tenaga dalamnya saja yang akan dia pakai.

Sambil menunggu tangan Hazri kembali normal, dia melakukan gerakan-gerakan pemusatan energi murni. Dan kemudian... “Hap!” dia menempelkan kedua telapak tangannya ke salah satu pemuda. Anak buah Romi itu merasakan aliran hawa dingin yang masuk ked tubuhnya. Segar, seperti minum air dingin saat cuaca panas terik. “Hah!” karena dirasa cukup Hazri menarik telapak tangannya.

Berbeda dengan pemuda itu yang semakin membaik, keadaan Hazri justru semakin melemah, banyak tenaga dalam yang telah dikeluarkan sejak tadi. Napasnya semakin terengah-engah tidak karuan, naik turun dengan cepat. Dia mengulang hal yang sama kepada pemuda berikutnya hingga yang ketiga. Selesai yang ketiga, Hazri sudah dalam keadaan kepayahan sekali, wajahnya pucat pasih. Darah mulai menetes dari hidung Hazri. Dia memandang ketiga orang yang sudah menerima energi murni itu, mereka kelihatan khawatir dengan keadaan Hazri. “Mungkin inilah akhir perjalanan hidupku.” kata Hazri dalam hati. Jikalaupun dia selamat, dalam keadaan lemah seperti ini dia pasti akan dihajar oleh gerombolan preman itu sebagai ganti balas dendam waktu itu. Hazri memejamkan matanya.

“Tidak ada pilihan...setidaknya aku bukan seorang pembunuh.” batinnya.

Dia memandangi pemuda keempat yang sedari tadi menunggu giliran. Hazri memulai gerakannya, dia akan menuntaskan apa yang sudah dimulainya. Sementara di lubuk hati keempat pemuda itu sejujurnya terharu dengan pemuda yang akan dicelakainya dulu. “Hap!” Hazri menempelkan lagi kedua telapak tangannya di punggung pemuda keempat. Darah menetes deras dari hidungnya, bahkan kini merembes dari sudut bibirnya. Hazri menundukkan kepala,  keningnya berkerut-kerut, matanya terpejam... “Ayoo....ayoo.....Hah!” dia menarik telapak tangannya. Hazri tersenyum telah menyelesaikan semuanya, bersamaan dengan itu Hari ambruk ke lantai. Bruk!

Keempat pemuda itu terkejut saling bertatapan mata. Mereka mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Hazri tapi tidak ada gerakan sedikitpun. Seorang pemuda diantaranya segera bergegas keluar ruangan, tidak ada orang sama sekali. Dia pun bergegas ke halaman depan, lari dengan kencang,,,tidak sadar kalau beberapa jam lalu dia seperti mayat hidup. “Bang!” dia berseru keras saat melihat Romi dan teman-temannya duduk-duduk di halaman depan semua.

Mereka semua yang berada di halaman depan terperanjat melihat seorang temannya yang dikira bakalan mati itu sekarang malah bisa berdiri tegak di depan pintu.

“Cepat, Bang...!” serunya sekali lagi. “Sebelum semuanya terlambat.”

Romi tersenyum. Di buangnya batang rokok yang baru dinyalakannya. Dia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, di ikuti yang lainnya.

“Ini giliran kami yang bertindak... demi teman kami yang hampir mati.” katanya lirih sambil terus berlari.

Hazri masih bisa mendengar lamat-lamat suara gaduh disana. “Berakhir sudah semuanya.” batinnya. Matanya pun tertutup rapat.

Di dalam ruangan itu dilihatnya Hazri tergeletak di lantai dengan berlumur darah di mulut dan hidungnya. “Semuanya ini saatnya, demi teman kita yang hampir mati...” teriak Romi. Semua memandang Romi dengan seksama.

“Bawa Bang Hazri ke kamarku, cepat..!” perintah Romi seketika. Beberapa pemuda langsung menggotong tubuh Hazri yang lemah itu. “Ini saatnya kami balas budi...., Bang Hazri, pimpinan baru Kopen.” batin Romi.

Romi segera mengikuti anak buahnya yang sudah duluan membawa Hazri. “Rapikan tempat ini.” kata Romi sambil mempercepat langkahnya menyusul mereka.

Sesampainya di kamar Romi, tubuh Hazri diletakkan di atas tempat tidur. “Ambilkan air dan handuk!” perintahnya lagi.

Seorang anak buah masuk membawakan sebaskom kecil air dan handuk. “Kalian semua keluar! Keluar! Keluar!” anak buah Romi yang ada di dalam ruangan itu segera keluar. Romi  membasahi handuk itu dengan air lalu mengelap darah yang ada di mulut dan hidung Hazri. Dia juga membersihkan badannya yang penuh dengan keringat itu. Romi mengecek denyut nadi dan napas Hazri.

“Untung cuma pingsan.” Lalu mengambil sarung dari lemarinya dan diselimutkan ke tubuh Hazri.

Tiba-tiba Hazri tersadar. “Aku nggak apa-apa. Lelah sekali. Suruh mereka istirahat, jangan banyak gerak. Makan bubur dan madu...” katanya lemah kepada Romi. Lalu pingsan kembali.

Romi tersenyum kecut memandang Hazri. Dia menghela napas panjang sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Entah apa yang ada di pikirannya. Romi menghidupkan kipas angin sambil menutup pintu kamar. Dia menuju ruangan tempat anak buahnya yang barusan disembuhkan oleh Hazri.

“Gimana keadaan kau sekarang?” tanya Romi.

“Baik sekali, Bang, rasanya sudah sembuh total,” jawab salah satu diantara mereka lantang, yang lain mengangguk mengiyakan.

“Hahaha... baguslah, ku kira bakalan modar kalian.”

Mereka pun ikut tertawa.

“Kata Bang Hazri tadi, kalian istirahat dulu. Jangan banyak gerak. Makan bubur sama madu yang banyak seperti anak bayi, Hahaha...” Romi tertawa keras. “Ayo semuanya keluar! Biar yang mau mati ini hidup kembali, Hahaha...” sambungnya. Sepertinya Romi yang terlihat paling bahagia.

Mereka pun keluar sambil tertawa-tawa gembira.

“Bang Hazri sudah sadar?” tanya Simon.

“Tadi sempat sadar, terus ek ok...pingsan lagi deh, hehehe.” jawab Romi. “Mon, bawakan kasur lipatmu ke kamarku, sepertinya aku juga mau pingsan.” perintah Romi.

“Emang Abang mau pingsan gara-gara apa?” tanya Simon lugu.

“Capek betul aku ngurusi kunyuk-kunyuk macam kalian, Hahaha...” kata Romi sambil berjalan ke kamarnya.

Mereka tertawa-tawa lagi mendengar ucapan bosnya itu. Dasar preman.

Di dalam kamar, Romi memandangi Hazri. Wajahnya masih pucat walau tidak sepasih tadi. Napasnya sudah teratur, darah juga sudah tidak keluar dari hidung dan mulutnya. Seperti sedang tidur biasa.

Romi tidak tahu, sebenarnya Hazri memang sedang tidur. Dia sudah sadar dari pingsannya dan sekarang tertidur pulas karena kelelahan. Romi merebahkan tubuhnya ke kasur lipat, bengong menatap langit-langit kamar. Tidak lama kemudian suara ngoroknya nyaring terdengar sampai ke ruangan tengah.

Tidak bohong. Lelah benaran dia rupanya...

Secuil kopi

Istilah atau kata "preman" muncul, yang merupakan perubahan dari kata "vrije man" karena penyebutanya yang agak susah bagi lidah orang Melayu dan Jawa. Walaupun istilah preman hari ini memiliki konotasi negatif, namun ketika masa mempertahankan kemerdekaan para preman ini juga pernah ikut berjuang.

Tepatnya pada peristiwa Jalan Bali pada Oktober 1945, ketika itu banyak preman dari Medan yang ikut berjuan melawan penjajah.

Terpopuler

Comments

Fatur Rohman

Fatur Rohman

vrije man artinya apa thor?

2025-01-20

0

Abi Uung

Abi Uung

bagus ceritanya

2025-01-20

1

Andriyati.S

Andriyati.S

kerennnn...lain dripada yg lain...

2021-05-27

1

lihat semua
Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!