19. pistol

Suasana ruang rapat masih hening. Jam menunjukkan pukul dua siang, itu berarti sudah hampir dua jam mereka mengadakan rapat. Dan sudah dua jam itu pula belu ada keputusan yang pasti dari Hazri.

“Apa aku bisa memimpin kalian semua? Sementara untuk memimpin diriku saja susah payah seperti ini...,” Hazri berkata pelan.

“Bang..., kami tahu bagaimana kebimbangan Abang. Tapi coba Abang lihat di sekeliling Abang...,” kata Simon. Hazri sekali lagi memandangi para ketua wilayah itu, terutama memandang Romi. “Abang tidak sendirian kami ada dan siap membantu semunya.” tambahnya.

“Benar, Bang, kita disini punya kesetiaan kepada, Abang.” Sobir menguatkan, yang lain turut mengiyakan.

“Nggak bisakah  semisal aku kembalikan lagi ke Romi gitu?” tanya Hazri menawar.

Semuanya menggelangkan kepala, tidak terkecuali Romi.

“Aturannya sudah paten, Bang, nggak bisa di bengkokkan seperti itu,” kata Sobir. “Tadi Bang Romi juga sudah memilih keputusan kalau dia bakalan pergi jauh kalau Abang menolak. Sementara itu, kami mau tidak mau, harus berkelahi lagi untuk menentukan kursi ketua. Anggota kita masing-masing pasti ikut berkelahi juga, pertumpahan darah itu sudah pasti. Dan ujung-ujungnya Kopen bakalan bubar...habis,”

Hazri merenung, dia sedang mencerna semua penjelasan Sobir.

“Itu semua memang kesalahanku, nggak periksa-periksa dulu siapa Abang,terima serang saja aku...” kata Romi tersenyum kecut. “Aku memang kebawa emosi waktu itu. Padahal, ketiga anak buahku itu sudah memberi tahu kalau Abang punya ilmu silat tinggi karena bisa memukul jarak jauh. Sekarang jadi Abang yang kesulitan sendiri untuk memutuskan...Maafkan aku.” Romi meneguk birnya, lalu melanjutkan katanya.

“Preman seperti kami ini memang tidak punya apa-apa, selain rasa kesetiaan yang tinggi pada ketuanya. Sesuai dengan aturan yang telah berlaku, Bang Hazri adalah ketua kami sekarang. Kalau Abang nggak terima juga maka pa yang dibilang Sobir tadi bakalan terjadi. Aku berani sumpah, dengan tulus hati untuk menyerahkan Kopen kepada Bang Hazri.” Romi menghela napas.

Hazri masih diam.

“Baiklah, biar Abang bisa berfikir dengan tenang, kami izin keluar dulu.” Romi pun memberi kode kepada anak buahnya untuk meninggalkan Hazri sendirian. Mereka pun beringsut hendak beranjak keluar, hingga...

“Kalian semua kembalilah duduk...,” kata Hazri.

Mereka  pun kembali duduk. Diam memandang Hazri.

Hazri diam  merenung, lalu duduk dengan tegap. “Aku perlu ketegasan dari kalian semua. Lupakan semua aturan itu, jawab menggunakan hati nurani kalian. Benarkah kalian memintaku menjadi ketua?” suara Hazri pelan tapi tegas. Hazri memandang satu persatu. “Kalian katakanlah sekarang, jangan ragu-ragu...”

Terlihat Romi hendak bicara tapi keburu dihentikan Harzi. “Rom, aku ingin mendengar kata mereka. Biarkan mereka berpendapat.”

Romi mengangguk-angguk. Kagum juga melihat cara Hazri ini.

“Simon, kamu duluan,” kata Hazri.

Simon yang sedang menatap Hazri terkejut, matanya tiba-tiba panas seperti dicolok. Hazri memang menggunakan sedikit tenaga dalamnya ke mata dan merapal ajian ‘Rogo Swara’ untuk mengetahui kecenderungan hati mereka.

Simon mengangguk cepat sambil menggosok-gosok kedua matanya yang terasa begitu pedih. Kecuali Romi yang lain heran melihat tingkah simon ini.

“Kalau kau, Ajay?” tanya Hazri.

Sama seperti Simon, Ajay pun kini menggosok-gosok matanya yang tiba-tiba terasa pedih setelah bertatapan dengan Hazri. Dia pun mengangguk lalu cepat menyambar kaosnya untuk mengusap air matanya yang keluar dengan sendirinya.

Hazri menanyakan hal sama dengan Tomi, Sobri, dan Wahyu. Ketiganya pun heran, mengapa bola matanya bisa pedih hingga mengeluarkan air mata. Romi senyum-senyum, dia sudah paham maka dia menjawab tanpa melihat mata Hazri.

“Kenapa kamu tidak menatapku, Rom?” Hazri pura-pura tidak tahu.

“Malu kalau sampai nangis ketahuan orang...” jawab Romi dengan senyuman yang semakin lebar. Dia sudah punya pengalaman tentang ini.

Hazri hanya bisa tertawa ringan walau batinnya berat. Lewat ajian ‘Rogo Swara’ dia bisa merasakan bahwa mereka tulus memintanya untuk menjadi ketua. Hazri mendengus dalam hati. “Ya Allah..., apa rencana-Mu kali ini”

Suasana hening kembali.

“Seperti katamu tadi Sobir, takdir adalah misteri...,” kata Hazri setelah diam beberapa menit. “Karena kalian memang ingin aku menjadi ketua maka... aku putuskan untuk menjalani takdir ini...” suaranya jelas, tegas dan penuh wibawa.

Serempak semua pemuda yang ada di ruangan bersorak gembira, mereka saling tos lalu satu persatu bersalaman erat kepada Hazri. Pemuda perantauan ini kembali merasakan ketulusan hati teman-teman barunya ini. Mereka memang berandalan, tetapi jiwanya ternyata tidak sepenuhnya hitam. Sedikitpun Hazri tidak melihat kesedihan Romi yang baru saja kehilangan jabatannya. Justru dia yang terlihat paling bahagia.

Setelah suasana kegembiraan itu reda, Romi menyerahkan pistolnya kepada Hazri. “Pistol ini menjadi hak Abang sekarang.”

“Terima kasih, tapi aku nggak perlu ini,” kata Hazri cepat.

“Kita semua percaya Abang tidak membutuhkan pistol ini. Tapi ini cuma simbol. Pemegangnya adalah pimpinan tertinggi Kopen,” Romi menjelaskan.

Hazri memandangi pistol yang dia pegang sekarang. Keren, bajanya berlapis krom mengkilat. Ada ukiran wajah macan yang siap menerkam pada gagang hitamnya. Pantas keren, batin Hazri setelah membaca tulisan ‘Desert Eagle Mark XIX, made in AS’ di larasnya. Buatan luar rupanya.

“Tapi, aku belum tahu cara menggunakannya,” kata Hazri.

“Tenang saja, Bang, nanti biar aku ajari. Kalau Abang tidak mau pakai juga nggak apa-apa. Cuma simbol saja. Tapi, tetap bisa meletus itu...hehehe.” Romi tertawa kecil.

“Kalau ini aku pakai, kamu pakai apa?” tanya Hazri lagi.

“Gampang bisa cari lagi nanti. Perasaan masih ada banyak kan, Mon?” tanya Romi.

Simon mengangguk, “Stok melimpah...hehehe”

Hazri kaget. “Kalian semua punya pistol?”

Mereka mengangguk kompak.

“Tapi, yang keren kayak punya Abang cuma itu doang, yang lain mah biasa... lokal punya.” Simon menjelaskan.

Hazri geleng-geleng kepala. Pistol sungguhan dibuat kayak mainan saja. Mahasiswa lain mana punya.

“Yuk, kita kenalkan ketua baru kita ke anak-anak.!” seru Romi.

“Ayo, ayo...,” sorak yang lain bersemangat.

Mereka pun keluar menuju ruang tengah. Disana sekarang terlihat lebih banyak orang daripada tadinya. Hazri menanyakan kepada Romi. “Mereka adalah perwakilan dari berbagai wilayah. Tadi aku memang menyuruh mereka untuk kumpul disini.” Hazri manggut-manggut.

“Siang, Bang...,” sapa mereka melihat rombongan para ketua datang.

“Siang semuanya...,” balas Romi. “Kopen!” serunya keras.

“Tiger Kopen! Setia sampai mati...!” serempak mereka berteriak. Suaranya lumayan riuh di dalam  rumah. Hazri terpana, tidak menyangka kalau berandalan seperti mereka punya yel-yel segala.

“Tiger Kopen...,” Romi membuka sambutannya. “Hari ini kita punya Sang Tiger baru...”

Hazri manggut-manggut. ‘Sang Tiger’ pasti ini julukan ketua umumnya.

“Setelah hampir empat tahun lebih aku ngurusin kucing-kucing macam kalian, akhirnya sampai juga waktunya untuk aku bisa ngorok pulas sebentar...” kata Romi celengesan tapi serius.

“Hahaha...,” para anggota Kopen tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan Romi. Hazri dan ketua lainnya ikut tersenyum kecut.

Setelah agak reda, Romi mulai lagi. “Tiger Kopen, mulai hari ini Bang Hazri adalah ketua kita. Pimpinan tertinggi Kopen. Kasih tahu ke semua anggota yang tidak hadir kali ini. Kita senang mendapat ketua baru seperti Bang Hazri, dan aku yakin Kopen akan berkembang lebih pesat...”

Tepuk tangan riuh pun terdengar dalam rumah yang penuh dengan pemuda-pemuda bertampang sangar.Hazri tersipu sambil mengangguk-angguk membalas penghormatan mereka.

“Silakan, Bang...” Romi mempersilakan Hazri untuk memberi sambutan.

“Terima kasih.” Hazri menghela napas.

Tepuk riuh kembali terdengar. Setelah senyap beberapa saat barulah dia memulai berbicara.

“Namaku Hazri. Datang dari Jombang Jawa Timur untuk menuntut ilmu di Jogja. Tiga semester telah aku lewati. Sampai kemudian aku kehabisan uang dan terpaksa menjadi juru parkir. Dan, tiba-tiba juga aku diminta memimpin kalian...”

Hazri terdiam, suasana masih hening. Beberapa saat kemudian dia melanjutkannya. “Disinilah aku sekarang. Karena kalian memintaku untuk memimpin kalian,  maka akan aku jalani takdirku ini, yang mesti terjadi, pasti akan terjadi.”

Harzi memandang satu persatu mereka dan mengakhiri pidato singkatnya dengan anggukan kepala. Maka, tepuk tangan dan sorak-sorai mereka riuh kembali memenuhi rumah...

Secuil kopi

Desert Eagle adalah pistol semi-otomatis kaliber besar yang diproduksi di Israel oleh Israel Military Industries (IMI), dibawah kontrak untuk Magnum Research, Inc.

Magnum Research, yang bermarkas di Amerika Serikat, mengembangkan dan mempatenkan desain awal Desert Eagle, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh IMI. Produksi dipindahkan ke Saco Defense di negara bagian Maine pada tahun 1995 sampai 2000, namun kemudian dipindahkan kembali ke Israel ketika Saco Defense dibeli oleh General Dynamics.

Dikarenakan reputasinya sebagai senjata yang berkekuatan tinggi, Desert Eagle sering ditampilkan sebagai senjata pilihan dalam berbagai novel, film, lagu, acara televisi, dan permainan video.

Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!