Suasana ruang rapat masih hening. Jam menunjukkan pukul dua siang, itu berarti sudah hampir dua jam mereka mengadakan rapat. Dan sudah dua jam itu pula belu ada keputusan yang pasti dari Hazri.
“Apa aku bisa memimpin kalian semua? Sementara untuk memimpin diriku saja susah payah seperti ini...,” Hazri berkata pelan.
“Bang..., kami tahu bagaimana kebimbangan Abang. Tapi coba Abang lihat di sekeliling Abang...,” kata Simon. Hazri sekali lagi memandangi para ketua wilayah itu, terutama memandang Romi. “Abang tidak sendirian kami ada dan siap membantu semunya.” tambahnya.
“Benar, Bang, kita disini punya kesetiaan kepada, Abang.” Sobir menguatkan, yang lain turut mengiyakan.
“Nggak bisakah semisal aku kembalikan lagi ke Romi gitu?” tanya Hazri menawar.
Semuanya menggelangkan kepala, tidak terkecuali Romi.
“Aturannya sudah paten, Bang, nggak bisa di bengkokkan seperti itu,” kata Sobir. “Tadi Bang Romi juga sudah memilih keputusan kalau dia bakalan pergi jauh kalau Abang menolak. Sementara itu, kami mau tidak mau, harus berkelahi lagi untuk menentukan kursi ketua. Anggota kita masing-masing pasti ikut berkelahi juga, pertumpahan darah itu sudah pasti. Dan ujung-ujungnya Kopen bakalan bubar...habis,”
Hazri merenung, dia sedang mencerna semua penjelasan Sobir.
“Itu semua memang kesalahanku, nggak periksa-periksa dulu siapa Abang,terima serang saja aku...” kata Romi tersenyum kecut. “Aku memang kebawa emosi waktu itu. Padahal, ketiga anak buahku itu sudah memberi tahu kalau Abang punya ilmu silat tinggi karena bisa memukul jarak jauh. Sekarang jadi Abang yang kesulitan sendiri untuk memutuskan...Maafkan aku.” Romi meneguk birnya, lalu melanjutkan katanya.
“Preman seperti kami ini memang tidak punya apa-apa, selain rasa kesetiaan yang tinggi pada ketuanya. Sesuai dengan aturan yang telah berlaku, Bang Hazri adalah ketua kami sekarang. Kalau Abang nggak terima juga maka pa yang dibilang Sobir tadi bakalan terjadi. Aku berani sumpah, dengan tulus hati untuk menyerahkan Kopen kepada Bang Hazri.” Romi menghela napas.
Hazri masih diam.
“Baiklah, biar Abang bisa berfikir dengan tenang, kami izin keluar dulu.” Romi pun memberi kode kepada anak buahnya untuk meninggalkan Hazri sendirian. Mereka pun beringsut hendak beranjak keluar, hingga...
“Kalian semua kembalilah duduk...,” kata Hazri.
Mereka pun kembali duduk. Diam memandang Hazri.
Hazri diam merenung, lalu duduk dengan tegap. “Aku perlu ketegasan dari kalian semua. Lupakan semua aturan itu, jawab menggunakan hati nurani kalian. Benarkah kalian memintaku menjadi ketua?” suara Hazri pelan tapi tegas. Hazri memandang satu persatu. “Kalian katakanlah sekarang, jangan ragu-ragu...”
Terlihat Romi hendak bicara tapi keburu dihentikan Harzi. “Rom, aku ingin mendengar kata mereka. Biarkan mereka berpendapat.”
Romi mengangguk-angguk. Kagum juga melihat cara Hazri ini.
“Simon, kamu duluan,” kata Hazri.
Simon yang sedang menatap Hazri terkejut, matanya tiba-tiba panas seperti dicolok. Hazri memang menggunakan sedikit tenaga dalamnya ke mata dan merapal ajian ‘Rogo Swara’ untuk mengetahui kecenderungan hati mereka.
Simon mengangguk cepat sambil menggosok-gosok kedua matanya yang terasa begitu pedih. Kecuali Romi yang lain heran melihat tingkah simon ini.
“Kalau kau, Ajay?” tanya Hazri.
Sama seperti Simon, Ajay pun kini menggosok-gosok matanya yang tiba-tiba terasa pedih setelah bertatapan dengan Hazri. Dia pun mengangguk lalu cepat menyambar kaosnya untuk mengusap air matanya yang keluar dengan sendirinya.
Hazri menanyakan hal sama dengan Tomi, Sobri, dan Wahyu. Ketiganya pun heran, mengapa bola matanya bisa pedih hingga mengeluarkan air mata. Romi senyum-senyum, dia sudah paham maka dia menjawab tanpa melihat mata Hazri.
“Kenapa kamu tidak menatapku, Rom?” Hazri pura-pura tidak tahu.
“Malu kalau sampai nangis ketahuan orang...” jawab Romi dengan senyuman yang semakin lebar. Dia sudah punya pengalaman tentang ini.
Hazri hanya bisa tertawa ringan walau batinnya berat. Lewat ajian ‘Rogo Swara’ dia bisa merasakan bahwa mereka tulus memintanya untuk menjadi ketua. Hazri mendengus dalam hati. “Ya Allah..., apa rencana-Mu kali ini”
Suasana hening kembali.
“Seperti katamu tadi Sobir, takdir adalah misteri...,” kata Hazri setelah diam beberapa menit. “Karena kalian memang ingin aku menjadi ketua maka... aku putuskan untuk menjalani takdir ini...” suaranya jelas, tegas dan penuh wibawa.
Serempak semua pemuda yang ada di ruangan bersorak gembira, mereka saling tos lalu satu persatu bersalaman erat kepada Hazri. Pemuda perantauan ini kembali merasakan ketulusan hati teman-teman barunya ini. Mereka memang berandalan, tetapi jiwanya ternyata tidak sepenuhnya hitam. Sedikitpun Hazri tidak melihat kesedihan Romi yang baru saja kehilangan jabatannya. Justru dia yang terlihat paling bahagia.
Setelah suasana kegembiraan itu reda, Romi menyerahkan pistolnya kepada Hazri. “Pistol ini menjadi hak Abang sekarang.”
“Terima kasih, tapi aku nggak perlu ini,” kata Hazri cepat.
“Kita semua percaya Abang tidak membutuhkan pistol ini. Tapi ini cuma simbol. Pemegangnya adalah pimpinan tertinggi Kopen,” Romi menjelaskan.
Hazri memandangi pistol yang dia pegang sekarang. Keren, bajanya berlapis krom mengkilat. Ada ukiran wajah macan yang siap menerkam pada gagang hitamnya. Pantas keren, batin Hazri setelah membaca tulisan ‘Desert Eagle Mark XIX, made in AS’ di larasnya. Buatan luar rupanya.
“Tapi, aku belum tahu cara menggunakannya,” kata Hazri.
“Tenang saja, Bang, nanti biar aku ajari. Kalau Abang tidak mau pakai juga nggak apa-apa. Cuma simbol saja. Tapi, tetap bisa meletus itu...hehehe.” Romi tertawa kecil.
“Kalau ini aku pakai, kamu pakai apa?” tanya Hazri lagi.
“Gampang bisa cari lagi nanti. Perasaan masih ada banyak kan, Mon?” tanya Romi.
Simon mengangguk, “Stok melimpah...hehehe”
Hazri kaget. “Kalian semua punya pistol?”
Mereka mengangguk kompak.
“Tapi, yang keren kayak punya Abang cuma itu doang, yang lain mah biasa... lokal punya.” Simon menjelaskan.
Hazri geleng-geleng kepala. Pistol sungguhan dibuat kayak mainan saja. Mahasiswa lain mana punya.
“Yuk, kita kenalkan ketua baru kita ke anak-anak.!” seru Romi.
“Ayo, ayo...,” sorak yang lain bersemangat.
Mereka pun keluar menuju ruang tengah. Disana sekarang terlihat lebih banyak orang daripada tadinya. Hazri menanyakan kepada Romi. “Mereka adalah perwakilan dari berbagai wilayah. Tadi aku memang menyuruh mereka untuk kumpul disini.” Hazri manggut-manggut.
“Siang, Bang...,” sapa mereka melihat rombongan para ketua datang.
“Siang semuanya...,” balas Romi. “Kopen!” serunya keras.
“Tiger Kopen! Setia sampai mati...!” serempak mereka berteriak. Suaranya lumayan riuh di dalam rumah. Hazri terpana, tidak menyangka kalau berandalan seperti mereka punya yel-yel segala.
“Tiger Kopen...,” Romi membuka sambutannya. “Hari ini kita punya Sang Tiger baru...”
Hazri manggut-manggut. ‘Sang Tiger’ pasti ini julukan ketua umumnya.
“Setelah hampir empat tahun lebih aku ngurusin kucing-kucing macam kalian, akhirnya sampai juga waktunya untuk aku bisa ngorok pulas sebentar...” kata Romi celengesan tapi serius.
“Hahaha...,” para anggota Kopen tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan Romi. Hazri dan ketua lainnya ikut tersenyum kecut.
Setelah agak reda, Romi mulai lagi. “Tiger Kopen, mulai hari ini Bang Hazri adalah ketua kita. Pimpinan tertinggi Kopen. Kasih tahu ke semua anggota yang tidak hadir kali ini. Kita senang mendapat ketua baru seperti Bang Hazri, dan aku yakin Kopen akan berkembang lebih pesat...”
Tepuk tangan riuh pun terdengar dalam rumah yang penuh dengan pemuda-pemuda bertampang sangar.Hazri tersipu sambil mengangguk-angguk membalas penghormatan mereka.
“Silakan, Bang...” Romi mempersilakan Hazri untuk memberi sambutan.
“Terima kasih.” Hazri menghela napas.
Tepuk riuh kembali terdengar. Setelah senyap beberapa saat barulah dia memulai berbicara.
“Namaku Hazri. Datang dari Jombang Jawa Timur untuk menuntut ilmu di Jogja. Tiga semester telah aku lewati. Sampai kemudian aku kehabisan uang dan terpaksa menjadi juru parkir. Dan, tiba-tiba juga aku diminta memimpin kalian...”
Hazri terdiam, suasana masih hening. Beberapa saat kemudian dia melanjutkannya. “Disinilah aku sekarang. Karena kalian memintaku untuk memimpin kalian, maka akan aku jalani takdirku ini, yang mesti terjadi, pasti akan terjadi.”
Harzi memandang satu persatu mereka dan mengakhiri pidato singkatnya dengan anggukan kepala. Maka, tepuk tangan dan sorak-sorai mereka riuh kembali memenuhi rumah...
Secuil kopi
Desert Eagle adalah pistol semi-otomatis kaliber besar yang diproduksi di Israel oleh Israel Military Industries (IMI), dibawah kontrak untuk Magnum Research, Inc.
Magnum Research, yang bermarkas di Amerika Serikat, mengembangkan dan mempatenkan desain awal Desert Eagle, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh IMI. Produksi dipindahkan ke Saco Defense di negara bagian Maine pada tahun 1995 sampai 2000, namun kemudian dipindahkan kembali ke Israel ketika Saco Defense dibeli oleh General Dynamics.
Dikarenakan reputasinya sebagai senjata yang berkekuatan tinggi, Desert Eagle sering ditampilkan sebagai senjata pilihan dalam berbagai novel, film, lagu, acara televisi, dan permainan video.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments