Hazri memandangi keruwetan lalu lintas pertigaan kampus putih. Duduk resah di teras depan sebuah pertokoan elektronik megah itu. Pertokoan ini memiliki dua lantai, dengan lantai dasar digunakan sebagai toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan elektronik mulai dari HP sampai komputer dan laptop. Sementara lantai atas digunakan sebagai restoran ayam terkenal di dunia, yang sekali makan bisa menguras isi dompet padahal hanya sepotong ayam. Hazri bingung. Baru semester tiga dia tinggal di Jogja, uang dan bekal yang ibunya kasih sudah menipis. Banyak kebutuhan yang harus dibeli untuk memenuhi kehidupannya di kontrakan. Uangnya pun banyak digunakan untuk membayar berbagai macam keperluan kuliah. Mulai dari membeli buku, mencetak tugas, belum lagi kalau ada study banding.
Nasib kakak kelas sekontrakannya juga sama, uangnya sudah habis digunakan untuk membayar keperluan skripsi dan KKN. Lebih parah lagi nasib teman satunya yang bahkan sudah habis untuk membeli makan saja, alhasil bon ke warung makan untuk memenuhinya. Beruntung bagi Hazri yang masih bisa bertahan hidup. “Mungkin bagusnya jadi gigolo Jogja saja..” katanya sendiri putus asa.
Hazri membuka dompet. Sisa uang dari ibunya hanya cukup untuk makan tiga hari lagi, dengan syarat menu makanannya nanti hanya nasi dan sayur tanpa lauk. Uang sewa kontrakan sudah dia bayar, untungnya bisa patungan dengan teman-teman yang lain jadi tidak begitu memberatkan. Harzi gelisah, tidak tahu mesti harus berbuat apa lagi. Pernah dia mencoba untuk keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari toko ke toko lain melamar pekerjaan sambil menunggu waktu kuliah tiba setelah libur semester. Demi menyambung hidup. Dia memang bisa ilmu silat Ki Ageng, tapi tetap saja butuh makan.
“Pasti, pasti..., asal kamu tidak menyerah di tengah perjuanganmu,” nasihat Iqbal itu terngiang di kepalanya. “Terserah mau jadi apa nantinya setelah lulus kuliah, yang penting kepala. Jangan kacung terus...” nasihat yang ini juga. Hazri mengeluh, sampai batas mana ‘jangan menyerah itu?’ jangankan untuk menjadi kepala, mau jadi kacung saja susahnya begini.
Terlintas dalam benaknya untuk menyudahi semua ini, dia ingin balik ke kampungnya saja. Dia sangat rindu dengan ibunya, adiknya, dan kambing-kambing peliharaannya. Hazri merenung menimbang niatnya itu. Tapi dia bingung untuk makan nanti. Lalu, bayangan ibunya muncul... “Ingat pesanku, jangan pernah kamu temui ibumu jika kamu belum berhasil, nanti ibumu akan sedih dua kali..,” Nasihat dari Iqbal itu benar-benar menusuk hati. Hazri mendongak ke langit. Gelisah, bingung, dan bimbang.
Tidak ! aku tidak boleh kalah sampai disini! Tatapan Hazri tajam ke depan. Udara panas dan pengap oleh asap knalpot dihirupnya dalam-dalam. Tubuhnya menegak berdiri.
Tidak disengaja dia berdiri di samping dengan sebuah mobil yang hendak keluar parkiran. Tiba-tiba kaca depan mobil itu membuka. “Ini mas.” kata pengemudinya sambil memberikan uang kepada Hazri yang disangkanya adalah juru parkir. Spontan Hazri menerimanya, tertegun sebentar lalu mengucapkan terima kasih. Hazri segera menuntun mobil itu keluar pelataran parkir sampai ke jalan raya. Dia mengangguk sekali lagi kepada pengemudinya yang membunyikan klakson.
Hazri melihat uang yang diberikan pengemudi tadi, dia tersenyum. Semangatnya kembali membara. Hazri kembali duduk di pelataran pertokoan elektronik itu dengan alas kardus yang dia temukan banyak disamping bangunan. Sekali lagi dia memandangi uang receh di telapak tangannya. Uang...? Hazri mengangguk senang. Dia melepas kemejanya, dilipat, dan dimasukkan ke dalam tas. Lalu tasnya disisipkan diantara tumpukan kardus. Hazri selalu memakai baju kaos untuk dalamanya. Bukan singlet, baju kaos biasa. Dengan begini, penampilan sebagai juru parkir lebih pas.
Hazri menarik napas. Apapunlah, yang penting bisa makan dulu. Nggak ada yang kenal juga aku disini, katanya dalam hati. Mobil box bergerak keluar parkiran. Hazri pun berlari menghampiri. “Terus, terus...,”teriaknya nyaring. “Terus, pak, terus...” mobil box pun masuk jalan raya tanpa memberikan uang parkir. Hazri sedikit kecewa dan ragu-ragu. Jangan-jangan uang yang diterimanya tadi hanya kebetulan katanya dalam hati. “Tidak... aku harus semangat.” katanya sendiri.
Dan selanjutnya acara teriak terus...hop, terus...hop...turut menyumbang keramaian pertokoan itu.
Kawasan pertokoan elektronik mulai sepi lewat jam sepuluh malam. Seharian ini Hazri menjalani profesi barunya sebagai juru parkir. Kantong celana kainnya penuh gemerincing uang receh. Jam lima sore tadi dia bahkan bisa makan kenyang dari hasil kerjanya itu, belum termasuk es teh yang beberapa kali dibelinya. Mobil dan motor di parkiran hanya menyisakan beberapa saja, jalanan pun mulai lengang. Hazri menghitung uang. Disudut bibirnya mengembang senyuman, ternyata banyak juga recehannya itu. Dengan uang ini dia bisa makan tiga kali besok.
Hazri pun berkemas, membereskan tempat dia duduk dan mengambil tas yang dia sisipkan diantara kardus. Kemudian berjalan dengan riangnya, sesekali bernyanyi bahkan menari-nari. Hari ini Hazri sangat bahagia. Inilah pertama kalinya dia mendapat uang dari hasil kerjanya sendiri di kota pelajar. Jogjakarta...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali selepas sholat subuh dia sudah bersiap. Mumpung masih dalam masa libur semester. Hazri tidak memutuskan untuk pulang kampung demi menghemat uang sakunya.Penampilannya hanya ringkas, berbaju kaos dan bercelana kain yang dibawanya dari kampung. Dia tidak membawa tas seperti kemarin, hanya tas pinggang kecil yang sempat dia beli kemarin melingkar di perutnya.
“Tumben sudah rapi, biasanya masih pakek sarung ?” tanya teman kontrakan.
Hazri tersenyum, “Mau lihat-lihat kota Jogja.”
“Hati-hati nanti kesasar ke tempat banci.”
Hazri mengangguk sambil tertawa.
“Ya udah, aku berangkat dulu ya, ndak usah ditunggu kayaknya bakalan pulang malam lagi seperti kemarin”
Temannya mengangguk paham. Hazri memang masih menyembunyikan apa yang dia lakukan sekarang, masih ada sedikit rasa malu. Yang penting dia bisa membelikan beras untuk dimasak teman-temannya.
“Mau kemana Hazri?” tanya Iqbal dari balik kamar mandi.
“Mungkin ke Malioboro mas.”
“Pagi-pagi ini? Cari apa dia?”
“Entalah, mungkin cari kerjaan.”
Mereka berdua memandangi punggung Hazri yang berjalan dengan bahagianya.
Seharian itu Hazri menjalani pekerjaannya dengan semangat. Tas pinggang yang melingkar di perutnya terlihat berat, bergembal-gembol jika dia berlari menghampiri mobil-mobil yang hendak keluar masuk parkiran. Dia belajar, kalau mobil yang mau keluar dituntunnya sampai benar-benar masuk ke jalan raya maka pengemudinya cenderung memberikan uang lebih, terlebih kalau ibu-ibu. Maka, Hazri tidak ragu-ragu menghentikan laju kendaraan lain di jalan itu demi mobil yang hendak keluar masuk ‘kantornya’.
Dia pun mulai berkenalan dengan orang-orang ikut mencari nafkah di sekitaran pertokoan elektronik itu. Ada penjual rujak buah, penjual cilok, penjual rokok, penjaga angkringan, penjual mie ayam, dan sebagainya. Termasuk beberapa satpam yang menjaga pertokoan dan makanan siap saji diatas pertokoan itu.
“Siapa namamu, Nak.” tanya satpam yang terlihat senior.
“Hazri, Pak,” jawabnya sambil menjabat erat tangan satpam itu.
“Saya Agus,” balasnya. “Dari mana asalmu?”
“Jombang.”
“Tapi, ngomong-ngomong kamu di sini sudah dapat izin dari Romi belum?” tanya Agus.
Hazri kurang memperhatikan pertanyaan itu karena melihat ada mobil yang saling berhadapan, yang satu mau keluar, sementara yang satunya mau masuk. “Sudah..” Hazri menjawab sekenanya pertanyaan Agus itu. “Sebentar ya, Pak, saya mau ngurusi mobil itu.” Hazri bergegas lari kesana untuk mengurai keruwetan kecil itu. Hazri menahan dulu mobil yang mau masuk dan menuntun mobil yang mau keluar.
“Terima kasih, Bu,” katanya saat menerima uang dari pengemudi Avanza yang mau keluar. Seorang wanita dengan anaknya yang giliran masuk parkiran. “Ayo, Mas, gantian saya.” Hazri mengangguk. Mobil Avanza yang sama namun beda warna bergerak perlahan masuk. “Terus...yak, hoop!” teriak Hazri lantang.
Setelah beres, Hazri melihat ke arah tempatnya tadi ngobrol dengan Agus. Dia tidak ada disana, mungkin sudah kembali bertugas. Memang menjadi satpam tidak boleh meninggalkan pos jaga terlalu lama bisa dipecat, beda dengan Hazri yang justru harus mondar-mandir kesana-kemari. Hazri melirik jam tangannya, jam dua belas siang. Dia bergegas ke mushola di belakang bangunan, setelah memesan kepada ibu warung angkringan supaya disisakan nasinya. Soalnya sebentar lagi warung angkringan bakalan penuh pengunjung yang hendak mengisi perutnya.
Waktu terus berjalan. Sudah hampir jam sepuluh malam sekarang. Hazri pun bersiap pulang ke kontrakannya. Hari ini dia dapat uang lebih banyak dibandingkan kemarin, mungkin pelayananya memuaskan atau memang dia sudah dari pagi melakukan pekerjaan ini. Hazri tersenyum, kalau seminggu terus begini maka dia tidak perlu risau akan nasibnya hari esok dan nasibnya untuk kuliah bisa terwujud.
“Hey, Hazri, mau pulang?” sapa Agus. Mesin motor ulungnya dimatikan.
Hazri menoleh. “Iya, Pak.”
“Kemana?”
“Gowok.”
“Wah sayang nggak sejalan ya. Saya ke Gejayan.”
Hazri tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak. Saya jalan kaki saja. Dekat sini kok. Sambil cari angin.”
“Awas jangan banyak-banyak nyarinya. Nanti masuk angin, terus nggak bisa markir. Hahaha ...” Agus tertawa. Hazri pun tertawa.
“Ya sudah, saya duluan...” Motor ulung Agus kembali dihidupkan dan segera melesat pergi. Hazri pun melangkah di kegelapan malam dan menghilang. Yang terdengar hanya suara gemericik uang receh di tas pinggangnya.
Sekedar info
Di depan pertokohan elektonik ini terdapat pertigaan yang disebut dengan pertigaan revolusi karena sering dijadikan tempat untuk demontrasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
AbhiAgam Al Kautsar
alur mundur lagi
2023-02-19
0
Elik Andayani
jangan lama2 up ...nya aq tunggu
2021-01-19
0