12. parkir pertokoan

Hazri memandangi keruwetan lalu lintas pertigaan kampus putih. Duduk resah di teras depan sebuah pertokoan elektronik megah itu. Pertokoan ini memiliki dua lantai, dengan lantai dasar digunakan sebagai toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan elektronik mulai dari HP sampai komputer dan laptop. Sementara lantai atas digunakan sebagai restoran ayam terkenal di dunia, yang sekali makan bisa menguras isi dompet padahal hanya sepotong ayam. Hazri bingung. Baru semester tiga dia tinggal di Jogja, uang dan bekal yang ibunya kasih sudah menipis. Banyak kebutuhan yang harus dibeli untuk memenuhi kehidupannya di kontrakan. Uangnya pun banyak digunakan untuk membayar berbagai macam keperluan kuliah. Mulai dari membeli buku, mencetak tugas, belum lagi kalau ada study banding.

Nasib kakak kelas sekontrakannya juga sama, uangnya sudah habis digunakan untuk membayar keperluan skripsi dan KKN. Lebih parah lagi nasib teman satunya yang bahkan sudah habis untuk membeli makan saja, alhasil bon ke warung makan untuk memenuhinya. Beruntung bagi Hazri yang masih bisa bertahan hidup. “Mungkin bagusnya jadi gigolo Jogja saja..” katanya sendiri putus asa.

Hazri membuka dompet. Sisa uang dari ibunya hanya cukup untuk makan tiga hari lagi, dengan syarat menu makanannya nanti hanya nasi dan sayur tanpa lauk. Uang sewa kontrakan sudah dia bayar, untungnya bisa patungan dengan teman-teman yang lain jadi tidak begitu memberatkan. Harzi gelisah, tidak tahu mesti harus berbuat apa lagi. Pernah dia mencoba untuk keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari toko ke toko lain melamar pekerjaan sambil menunggu waktu kuliah tiba setelah libur semester. Demi menyambung hidup. Dia memang bisa ilmu silat Ki Ageng, tapi tetap saja butuh makan.

“Pasti, pasti..., asal kamu tidak menyerah di  tengah perjuanganmu,” nasihat Iqbal itu terngiang di kepalanya. “Terserah mau jadi apa nantinya setelah lulus kuliah, yang penting kepala. Jangan kacung terus...” nasihat yang ini juga. Hazri mengeluh, sampai batas mana ‘jangan menyerah itu?’ jangankan untuk menjadi kepala, mau jadi kacung saja susahnya begini.

Terlintas dalam benaknya untuk menyudahi semua ini, dia ingin balik ke kampungnya saja. Dia sangat rindu dengan ibunya, adiknya, dan kambing-kambing peliharaannya. Hazri merenung menimbang niatnya itu. Tapi dia bingung untuk makan nanti. Lalu, bayangan  ibunya muncul... “Ingat pesanku, jangan pernah kamu temui ibumu jika kamu belum berhasil, nanti ibumu akan sedih dua kali..,” Nasihat dari Iqbal itu benar-benar menusuk hati. Hazri mendongak ke langit. Gelisah, bingung, dan bimbang.

Tidak ! aku tidak boleh kalah sampai disini! Tatapan Hazri tajam ke depan. Udara panas dan  pengap oleh asap knalpot dihirupnya dalam-dalam. Tubuhnya menegak berdiri.

Tidak disengaja dia berdiri di samping dengan sebuah mobil yang hendak keluar parkiran. Tiba-tiba kaca depan mobil itu membuka. “Ini mas.” kata pengemudinya sambil memberikan uang kepada Hazri yang disangkanya adalah juru parkir. Spontan Hazri menerimanya, tertegun sebentar lalu mengucapkan terima kasih. Hazri segera menuntun mobil itu keluar pelataran parkir sampai ke jalan raya. Dia mengangguk sekali lagi kepada pengemudinya yang membunyikan klakson.

Hazri melihat uang yang diberikan pengemudi tadi, dia tersenyum. Semangatnya kembali membara. Hazri kembali duduk di pelataran pertokoan elektronik itu dengan alas kardus yang dia temukan banyak disamping bangunan. Sekali lagi dia memandangi uang receh di telapak tangannya. Uang...? Hazri mengangguk senang. Dia melepas kemejanya, dilipat, dan dimasukkan ke dalam tas. Lalu tasnya disisipkan diantara tumpukan kardus. Hazri selalu memakai baju kaos untuk dalamanya. Bukan singlet, baju kaos biasa. Dengan begini, penampilan sebagai juru parkir lebih pas.

Hazri menarik napas. Apapunlah, yang penting bisa makan dulu. Nggak ada yang kenal juga aku disini, katanya dalam hati. Mobil box bergerak keluar parkiran. Hazri pun berlari menghampiri. “Terus, terus...,”teriaknya nyaring. “Terus, pak, terus...” mobil box pun masuk jalan raya tanpa memberikan uang parkir. Hazri sedikit kecewa dan ragu-ragu. Jangan-jangan uang yang diterimanya tadi hanya kebetulan katanya dalam hati. “Tidak... aku harus semangat.” katanya sendiri.

Dan selanjutnya acara teriak terus...hop, terus...hop...turut menyumbang keramaian pertokoan itu.

Kawasan pertokoan elektronik mulai sepi lewat jam sepuluh malam. Seharian ini Hazri menjalani profesi barunya sebagai juru parkir. Kantong celana kainnya penuh gemerincing uang receh. Jam lima sore tadi dia bahkan bisa makan kenyang dari hasil kerjanya itu, belum termasuk es teh yang beberapa kali dibelinya. Mobil dan motor di parkiran hanya menyisakan beberapa saja, jalanan pun mulai lengang. Hazri menghitung uang. Disudut bibirnya mengembang senyuman, ternyata banyak juga recehannya itu. Dengan uang ini dia bisa makan tiga kali besok.

Hazri pun berkemas, membereskan tempat dia duduk dan mengambil tas yang dia sisipkan diantara kardus. Kemudian berjalan dengan riangnya, sesekali bernyanyi bahkan menari-nari. Hari ini Hazri sangat bahagia. Inilah pertama kalinya dia mendapat uang dari hasil kerjanya sendiri di kota pelajar. Jogjakarta...

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali selepas sholat subuh dia sudah bersiap. Mumpung masih dalam masa libur semester. Hazri tidak memutuskan untuk pulang kampung demi menghemat uang sakunya.Penampilannya hanya ringkas, berbaju kaos dan bercelana kain yang dibawanya dari kampung. Dia tidak membawa tas seperti kemarin, hanya tas pinggang kecil yang sempat dia beli kemarin melingkar di perutnya.

“Tumben sudah rapi, biasanya masih pakek sarung ?” tanya teman kontrakan.

Hazri tersenyum, “Mau lihat-lihat kota Jogja.”

“Hati-hati nanti kesasar ke tempat banci.”

Hazri mengangguk sambil tertawa.

“Ya udah, aku berangkat dulu ya, ndak usah ditunggu kayaknya bakalan pulang malam lagi seperti kemarin”

Temannya mengangguk paham. Hazri memang masih menyembunyikan apa yang dia lakukan sekarang, masih ada sedikit rasa malu. Yang penting dia bisa membelikan beras untuk dimasak teman-temannya.

“Mau kemana Hazri?” tanya Iqbal dari balik kamar mandi.

“Mungkin ke Malioboro mas.”

“Pagi-pagi ini? Cari apa dia?”

“Entalah, mungkin cari kerjaan.”

Mereka berdua memandangi punggung Hazri yang berjalan dengan bahagianya.

Seharian itu Hazri menjalani pekerjaannya dengan semangat. Tas pinggang yang melingkar di perutnya terlihat berat, bergembal-gembol jika dia berlari menghampiri mobil-mobil yang hendak keluar masuk parkiran. Dia belajar, kalau mobil yang mau keluar dituntunnya sampai benar-benar masuk ke jalan raya maka pengemudinya cenderung memberikan uang lebih, terlebih kalau ibu-ibu. Maka, Hazri tidak ragu-ragu menghentikan laju kendaraan lain di jalan itu demi mobil yang hendak keluar masuk ‘kantornya’.

Dia pun mulai berkenalan dengan orang-orang ikut mencari nafkah di sekitaran pertokoan elektronik itu. Ada penjual rujak buah, penjual cilok, penjual rokok, penjaga angkringan, penjual mie ayam, dan sebagainya. Termasuk beberapa satpam  yang menjaga pertokoan dan makanan siap saji diatas pertokoan itu.

“Siapa namamu, Nak.” tanya satpam yang terlihat senior.

“Hazri, Pak,” jawabnya sambil menjabat erat tangan satpam itu.

“Saya Agus,” balasnya. “Dari mana asalmu?”

“Jombang.”

“Tapi, ngomong-ngomong kamu di sini sudah dapat izin dari Romi belum?” tanya Agus.

Hazri kurang memperhatikan pertanyaan itu karena melihat ada mobil yang saling berhadapan, yang satu mau keluar, sementara yang satunya mau masuk. “Sudah..” Hazri menjawab sekenanya pertanyaan Agus itu. “Sebentar ya, Pak, saya mau ngurusi mobil itu.” Hazri bergegas lari kesana untuk mengurai keruwetan kecil itu. Hazri menahan dulu mobil yang mau masuk dan menuntun mobil yang mau keluar.

“Terima kasih, Bu,” katanya saat menerima uang dari pengemudi Avanza yang mau keluar. Seorang wanita dengan anaknya yang giliran masuk parkiran. “Ayo, Mas, gantian saya.” Hazri mengangguk. Mobil Avanza yang sama namun beda warna bergerak perlahan masuk. “Terus...yak, hoop!” teriak Hazri lantang.

Setelah beres, Hazri melihat ke arah tempatnya tadi ngobrol dengan Agus. Dia tidak ada disana, mungkin sudah kembali bertugas. Memang menjadi satpam tidak boleh meninggalkan pos jaga terlalu lama bisa dipecat, beda dengan Hazri yang justru harus mondar-mandir kesana-kemari. Hazri melirik jam tangannya, jam dua belas siang. Dia bergegas ke mushola di belakang bangunan, setelah memesan kepada ibu warung angkringan supaya disisakan nasinya. Soalnya sebentar lagi warung angkringan bakalan penuh pengunjung yang hendak mengisi perutnya.

Waktu terus berjalan. Sudah hampir jam sepuluh malam sekarang. Hazri pun bersiap pulang ke kontrakannya. Hari ini dia dapat uang lebih banyak dibandingkan kemarin, mungkin pelayananya memuaskan atau memang dia sudah dari pagi melakukan pekerjaan ini. Hazri tersenyum, kalau seminggu terus begini maka dia tidak perlu risau akan nasibnya hari esok dan nasibnya untuk kuliah bisa terwujud.

“Hey, Hazri, mau pulang?” sapa Agus. Mesin motor ulungnya dimatikan.

Hazri menoleh. “Iya, Pak.”

“Kemana?”

“Gowok.”

“Wah sayang nggak sejalan ya. Saya ke Gejayan.”

Hazri tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak. Saya jalan kaki saja. Dekat sini kok. Sambil cari angin.”

“Awas jangan banyak-banyak nyarinya. Nanti masuk angin, terus nggak bisa markir. Hahaha ...” Agus tertawa. Hazri pun tertawa.

“Ya sudah, saya duluan...” Motor ulung Agus kembali dihidupkan dan segera melesat pergi. Hazri pun melangkah di kegelapan malam dan menghilang. Yang terdengar hanya suara gemericik uang receh di tas pinggangnya.

Sekedar info

Di depan pertokohan elektonik ini terdapat pertigaan yang disebut dengan pertigaan revolusi karena sering dijadikan tempat untuk demontrasi.

Terpopuler

Comments

AbhiAgam Al Kautsar

AbhiAgam Al Kautsar

alur mundur lagi

2023-02-19

0

Elik Andayani

Elik Andayani

jangan lama2 up ...nya aq tunggu

2021-01-19

0

lihat semua
Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!