5. rs sardjito

“Bang...!” Romi menyadarkan Hazri dari lamunannya.

Dari sudut spion motor terlihat butiran bening menghiasi kelopak mata ketuanya ini, bukan keringat. Setelah beberapa tahun menemani, baru kali ini ia melihat Hazri seperti ini. Ada apa? Jangan-jangan karena melihat anak SMA tadi, dan teringat masa lalunya di SMA dulu? “Makanya Bang, jangan sia-siakan masa SMA..” kata Romi menebak asal-asalan.

Hazri yang mulai sadar mulai menyeka air mata itu dengan jari telunjuknya. “Teringat Ridwan..” kilahnya. Hazri turun dari boncengan dan menuju salah satu ATM yang ada di kampus putih. Untungnya antrean di ATM tak begitu ramai seperti biasanya, jadi bisa cepat. Hanya ada seorang wanita di depannya. Mahasiswa baru kayaknya, dilihat dari lagatnya yang cenderung masih lugu belum terkontaminasi oleh keindahan dan kemegahan mall Jogja.

Hazri memeriksa Hpnya, kosong tidak ada pesan SMS maupun Whatsapp. Terlihat Romi menunggu di atas motor sambil terus melihat-lihat wajah yang memar di kaca spion. Namun bukan Romi yang diperhatian Hazri, ada tiga wanita dengan penampilan yang terlihat sangat modis. Dua wanita memakai celana jens ketat, memperlihatkan dengan jelas bentuk kedua pahanya. Sementara keduanya memakai baju almamater jurusan, berwarna biru dengan garis kuning di dada. Di belakangnya tertulis dengan jelas 2014 yang pastinya itulah tahun angkatan mereka. Sementara teman satunya memakai baju gamis dengan jilbab layaknya anak SMA yang ia sewaktu perjalanan tadi. Agak sedikit heran kenapa wanita yang satu tidak memakai baju seperti kedua temannya. Dugaan Hazri benar, ketiganya menuju ATM dimana dia mengantre.

Tanpa menengok ke belakang, Hazri dapat memperhatikan ketiga wanita itu lewat pantulan pintu ATM. Terlihat wanita yang menggunakan baju gamis warna merah tua itu memperhatikan keberadaan Hazri. Hazri hanya dapat menarik napas dalam-dalam, ada sesuatu rasa disudut hatinya. Kecil tapi menyakitkan.

Hazri segera masuk sesaat setelah ATM telah selesai digunakan oleh mahasiswa baru tadi. Hazri mengambil kartu ATMnya sembari melirik ketiga wanita yang mengantre, wanita berbaju gamis merah tua menjadi fokus Hazri. Sempat kedua mata mereka saling beradu. Hazri mulai mengecek isi ATMnya, dan benar seperti dugaannya tidak ada transfer yang masuk ke ATMnya. “Kurang ajar Pak Day ini..!” Hazri mendesis, kini ia yakin kalau dirinya sedang dipermainkan oleh Pak Day.

Akhirnya Hazri menarik beberapa lembar uang seratus ribuan. Mesin ATM mulai menjerit memproses apa yang diperintah oleh Hazri. Uang ratusan pun muncul dan langsung dimasukkannya ke dalam tas. Tanpa menunggu lama lagi, Hazri keluar melewati tiga wanita yang kini semuanya memperhatikan Hazri. Sepertinya mereka baru sadar siapa orang yang barusan  menggunakan mesin ATM tadi. Kecuali wanita berbaju gamis merah tua, ia sudah tahu sejak awal siapa yang ada di depannya ini. Hazri terus melangkah, sedikit mengangguk ke mereka. Dua membalasnya dengan anggukan yang sama, sementara wanita berbaju gamis tua hanya menatapnya dengan beribu-ribu tanya tersimpan di matanya. Dan Hazri tahu itu.

“Bagaimana Bang, ?”tanya Romi sesampainya Hazri

Hazri menggeleng. “Kita ke RS Sardjito..”

“Oh iya, kok nggak nyapa si Zilfa, Bang?” pancing Romi. “Padahal sudah didepan Abang kan tadi” tegas Romi.

Hazri hanya diam, matanya kembali memperhatikan wanita berbaju gamis merah tua itu. Zilfa. “Ayo...” ajak Hazri.

Romi tahu bagaimana kisah Hazri ketuanya ini dengan wanita yang bernama Zilfa. Kisah yang entah bisa dikatakan kisah romansa cinta atau malah kisah tragis cinta. Yang dia tahu Hazri selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan saat Romi menanyakan hal ini.

“Jadi, bagaimana kecoak-kecoak itu?” Romi mengalihkan pembicaraan sambil menyalakan motor.

“Kita injak mereka...” kata Hazri mendesis geram.

“Siap..” jawab Romi tegas. Senang rasanya akhirnya dia bisa membalas dendam perbuatan mereka tempo itu. Disisi lain Romi senang karena ketua sekaligus sahabatnya ini selalu tegar dan tetap tegas walaupun tadi sempat ketemu dengan Zilfa, wanita yang istimewa bagi Hazri.

Tiger melaju menderu keras, siapa pun yang mendengar pasti tahu siapa yang punya motor ini.

Pelataran parkir RS. Sardjito penuh. Romi menepuk tangan memanggil juru parkir yang sedang asyik menggoda penjual jamu gendong. Begitu melihat Romi, juru parkir itu gelagapan lalu berlari cepat menghampiri Romi dan Hazri. “Penuh bang, kesini saja...” arahan juru parkir. Dia mengarahkan motor Tiger ke arah parkiran yang disediakan khusus karyawan dan dokter. Seorang satpam beranjak mendekat. Romi santai saja memakirkan motor diantara motor-motor karyawan dan dokter.

“Nggak masalah disini?” tanya Hazri.

“Hahaha...,” Romi tertawa kencang mendengar ketuanya bersikap lugu itu. “Bang Hazri ini terkadang memang suka merendah diri. Abang lebih terkenal di sini dari pada pemilik rumah sakit ini hehehe...” ujarnya sambil terus tertawa.

Romi membuka kaca helm dan langsung menghampiri satpam yang sempat melotot tadi. Melihat siapa yang datang, satpam itu langsung salah tingkah. Romi mulai mengatakan sesuatu kepadanya. Satpam pun dengan segera melihat ke arah Hazri lalu memberi hormat ala militer dan mempersilakan Hazri untuk masuk ke rumah sakit, dibukakan pintu sekalian. Hazri hanya membalas mengangguk.

“Kau ngomong apa ke satpam tadi ?” tanya Hazri saat keduanya mulai berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

“Kubilang, anak baru ya nggak kenal Bang Hazri?”

“Kurang ajar, jual namaku kau.”

Romi tertawa ringan. “Lewat sini Bang..”dia berbelok lalu memasuki koridor rumah sakit yang disana sudah ramai para penunggu dan penjenguk pasien. Memang mereka datang pada saat jam jenguk pasien.

Hazri kurang suka dengan rumah sakit. Bau obat dan cairan infus selalu khas melekat disemua rumah sakit. Ditambah dengan melihat wajah-wajah putus asa, entah memikirkan nasib sang pasien atau memikirkan biaya yang harus ditanggung oleh pihak keluarga. Hazri menghela napas ketika melewati sebuah ruangan. Dari bilik tirai terlihat seorang pria tergeletak lemah. Selang infus terpasang di tangannya, serta selang oksigen menancap di hidungnya. Sebagian tubuhnya diperban, sepertinya korban kecelakaan. Di sampingnya terlihat istri dan anak yang digendong tertidur pulas. Si kecil tidak tahu apa yang menjadi pikiran ibunya melihat sang ayah terbaring lemah di tempat tidur. Hazri menghela napas sekali lagi.

Setelah melewati beberapa ruang yang suasananya tak jauh beda, tibalah Hazri dan Romi di ruang UGD, tempat Ridwan dirawat. Seorang anggota Baret disitu segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka. “Siang Bang...” sapanya. Hazri dan Romi bersamaan mengangguk.

“Bagaimana Din?” tanya Romi.

“Belum ada perkembangan bang. Masih belum sadar.” Jawab Didin.

“Dimana Sugeng dan Lukman?”

“Lagi keluar Bang, nebus obat dan cari makan.”

Hazri memperhatikan kondisi Ridwan, memang parah sekali. Walau marah Hazri masih bisa mengendalikan diri, hanya matanya saja yang mulai menunjukkan kemarahan. Datanglah dokter muda yang ditemani suster cantik menghampiri. Setelah mengecek keadaan Ridwan dan memberikan suntikan obat, dokter itu pun memperkenalkan diri dan mulai menjelaskan keadaan Ridwan. Hazri serius memperhatikan setiap kata yang disampaikan si dokter muda ini, sesekali mata Hazri melirik Ridwan.

“Jadi begitulah Mas Hazri. Kondisi saudara Ridwan ini parah sekali. Luar dalam semuanya kena. Jujur saya kagum dengan fisik saudara Ridwan yang masih kuat. Masa kritisnya sekitar seminggu itu pun kalau tidak berlanjut koma. Akan tetapi....” dokter muda itu menghela napas, “Kalau pun bisa melewati masa kritis, saudara Ridwan akan mengalami kelumpuhan dan cacat fisik seumur hidup. Ini disebabkan rusaknya beberapa saraf di belakang kepalanya.” Jelas dokter ke Hazri

Hazri melihat kepala Ridwan yang berbalut perban. Benar kata dokter muda ini dari belakang kepala Ridwan masih mengeluarkan darah walaupun tidak deras karena terserap kapas, kemungkinan memang karena robeknya pembuluh darah. Hazri menggeram keras dalam hati, matanya semakin memerah marah dan mulutnya mengatup rapat memperlihatkan otot-otot wajah yang mengeras.

“Saya ingin tanya mas Hazri, menurut keterangan yang saya dapat, saudara Ridwan ini adalah korban tabrak lari, namun justru itu yang membuat kami bingung sebab luka-luka yang diderita Saudara Ridwan ini diakibatkan oleh pukulan benda tumpul maupun benda tajam. Seperti korban penganiayaan. Memang ceritanya bagaimana Mas?” Dokter muda itu memandang Hazri sambil merapikan jas putihnya.

Hazri menatap tajam mata dokter muda itu. Sorot matanya begitu dingin menusuk. Seketika dokter muda ini mulai sadar siapa orang yang dia hadapi saat ini. Teringat dia akan sebuah nama yang sering dia dengar dari para pasien maupun media massa sebagai biang kerok kampus di Jogja, preman kampus. Bukankah namanya Hazri? Hazri Tiger? Dia melirik Romi, Didin dan Ridwan secara bergantian. Tidak salah pastilah lawan bicaranya ini Hazri preman kampus itu, ya dia sangat yakin. Ujar batinnya. Tiba-tiba suasana mendadak beku, dingin yang bukan berasal dari AC. Dokter itu pun mulai salah tingkah.

Hazri paham dengan tingkah laku dokter muda itu. Dia mulai mencairkan suasana “Begini saja dokter, tolong diupayakan untuk kesembuhan saudara saya ini. Biar nanti saya yang memberitahu kepada orang tuanya. Berapa pun biayanya tidak masalah. Saya akan mengatasinya.”

Dokter itu mengangguk cepat dengan sedikit ragu, “Tentu mas, tentu,...kami akan berupaya semaksimal mungkin. Kalau begitu saya permisi untuk memeriksa pasien lainnya.” Kilahnya.

“Silakan dokter, terima kasih banyak.” Hazri mempersilakan.

Mereka berjabat tangan. Dokter itu pun keluar ruangan dengan langkah agak dipercepat.

Sekali lagi Hazri memandangi Ridwan, mulutnya masih terkatup. Hazri pun memutuskan untuk mencukupkan kehadirannya disana. “Rom, urus segala keperluan Ridwan. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku akan memikirkan rencana kita selanjutnya.”

“Siap Bang.”

Kemudian mereka keluar ruangan menuju pelataran parkir.

“Kau rawatlah dirimu juga, kita perlu dukunganmu.” Kata Hazri saat mereka sampai di samping motor.

“Iya Bang segera aku obati lukaku.”  Jawab Romi sambil mengembalikan kunci motor ke Hazri.

Hazri mengeluarkan uang dari tasnya, jumlahnya cukup besar. “Ini untuk ngurusin Ridwan, kalau kurang ambil lagi.”

“Terima kasih bang.”

“Aku balik dulu.”

Romi mengangguk.

Motor Tiger melaju pelan meninggalkan RS Sardjito. Satpam menuntun motor Hazri untuk kembali ke jalan raya. Senang rasanya hari ini, dia bisa ketemu langsung dengan Hazri Tiger, yang selama ini namanya saja cukup kencang terdengar.

Sekedar info

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito (bahasa Jawa: Hanacaraka,ꦫꦸꦩꦃꦱꦏꦶꦠ꧀ꦈꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦱꦠ꧀ꦝꦺꦴꦏ꧀ꦠꦼꦂꦱꦂꦢ꧀ꦗꦶꦠꦺꦴ, Rumah Sakit Umum Pusat Dhokter Sardjito) adalah rumah sakit umum yang terletak di Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, persis di sebelah barat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan di sebelah selatan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Didirikan pada tahun 1982, rumah sakit ini segera menjadi mitra tetap Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dalam menyelenggarakan pendidikan dokter, dokter spesialis, dan perawat. Rumah Sakit ini mempunyai beragam layanan spesialis, yaitu penyakit dalam, jantung dan pembuluh darah, bedah umum, bedah orthopedi, bedah plastik, bedah thorax, jantung, dan pembuluh darah, bedah saluran kemih, bedah anak, bedah tumor, bedah saraf, anestesi, kebidanan dan penyakit kandungan, telinga hidung tenggorokan leher kepala, penyakit mata, kesehatan anak, radiologi, dan rehabilitasi medis

Terpopuler

Comments

AbhiAgam Al Kautsar

AbhiAgam Al Kautsar

menuju tersambung nya cerita

2023-02-19

0

angger aplod

angger aplod

terbaik cok... mantap kang

2021-05-30

0

Dewi Masita

Dewi Masita

k

2021-03-06

0

lihat semua
Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!