“Bang...!” Romi menyadarkan Hazri dari lamunannya.
Dari sudut spion motor terlihat butiran bening menghiasi kelopak mata ketuanya ini, bukan keringat. Setelah beberapa tahun menemani, baru kali ini ia melihat Hazri seperti ini. Ada apa? Jangan-jangan karena melihat anak SMA tadi, dan teringat masa lalunya di SMA dulu? “Makanya Bang, jangan sia-siakan masa SMA..” kata Romi menebak asal-asalan.
Hazri yang mulai sadar mulai menyeka air mata itu dengan jari telunjuknya. “Teringat Ridwan..” kilahnya. Hazri turun dari boncengan dan menuju salah satu ATM yang ada di kampus putih. Untungnya antrean di ATM tak begitu ramai seperti biasanya, jadi bisa cepat. Hanya ada seorang wanita di depannya. Mahasiswa baru kayaknya, dilihat dari lagatnya yang cenderung masih lugu belum terkontaminasi oleh keindahan dan kemegahan mall Jogja.
Hazri memeriksa Hpnya, kosong tidak ada pesan SMS maupun Whatsapp. Terlihat Romi menunggu di atas motor sambil terus melihat-lihat wajah yang memar di kaca spion. Namun bukan Romi yang diperhatian Hazri, ada tiga wanita dengan penampilan yang terlihat sangat modis. Dua wanita memakai celana jens ketat, memperlihatkan dengan jelas bentuk kedua pahanya. Sementara keduanya memakai baju almamater jurusan, berwarna biru dengan garis kuning di dada. Di belakangnya tertulis dengan jelas 2014 yang pastinya itulah tahun angkatan mereka. Sementara teman satunya memakai baju gamis dengan jilbab layaknya anak SMA yang ia sewaktu perjalanan tadi. Agak sedikit heran kenapa wanita yang satu tidak memakai baju seperti kedua temannya. Dugaan Hazri benar, ketiganya menuju ATM dimana dia mengantre.
Tanpa menengok ke belakang, Hazri dapat memperhatikan ketiga wanita itu lewat pantulan pintu ATM. Terlihat wanita yang menggunakan baju gamis warna merah tua itu memperhatikan keberadaan Hazri. Hazri hanya dapat menarik napas dalam-dalam, ada sesuatu rasa disudut hatinya. Kecil tapi menyakitkan.
Hazri segera masuk sesaat setelah ATM telah selesai digunakan oleh mahasiswa baru tadi. Hazri mengambil kartu ATMnya sembari melirik ketiga wanita yang mengantre, wanita berbaju gamis merah tua menjadi fokus Hazri. Sempat kedua mata mereka saling beradu. Hazri mulai mengecek isi ATMnya, dan benar seperti dugaannya tidak ada transfer yang masuk ke ATMnya. “Kurang ajar Pak Day ini..!” Hazri mendesis, kini ia yakin kalau dirinya sedang dipermainkan oleh Pak Day.
Akhirnya Hazri menarik beberapa lembar uang seratus ribuan. Mesin ATM mulai menjerit memproses apa yang diperintah oleh Hazri. Uang ratusan pun muncul dan langsung dimasukkannya ke dalam tas. Tanpa menunggu lama lagi, Hazri keluar melewati tiga wanita yang kini semuanya memperhatikan Hazri. Sepertinya mereka baru sadar siapa orang yang barusan menggunakan mesin ATM tadi. Kecuali wanita berbaju gamis merah tua, ia sudah tahu sejak awal siapa yang ada di depannya ini. Hazri terus melangkah, sedikit mengangguk ke mereka. Dua membalasnya dengan anggukan yang sama, sementara wanita berbaju gamis tua hanya menatapnya dengan beribu-ribu tanya tersimpan di matanya. Dan Hazri tahu itu.
“Bagaimana Bang, ?”tanya Romi sesampainya Hazri
Hazri menggeleng. “Kita ke RS Sardjito..”
“Oh iya, kok nggak nyapa si Zilfa, Bang?” pancing Romi. “Padahal sudah didepan Abang kan tadi” tegas Romi.
Hazri hanya diam, matanya kembali memperhatikan wanita berbaju gamis merah tua itu. Zilfa. “Ayo...” ajak Hazri.
Romi tahu bagaimana kisah Hazri ketuanya ini dengan wanita yang bernama Zilfa. Kisah yang entah bisa dikatakan kisah romansa cinta atau malah kisah tragis cinta. Yang dia tahu Hazri selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan saat Romi menanyakan hal ini.
“Jadi, bagaimana kecoak-kecoak itu?” Romi mengalihkan pembicaraan sambil menyalakan motor.
“Kita injak mereka...” kata Hazri mendesis geram.
“Siap..” jawab Romi tegas. Senang rasanya akhirnya dia bisa membalas dendam perbuatan mereka tempo itu. Disisi lain Romi senang karena ketua sekaligus sahabatnya ini selalu tegar dan tetap tegas walaupun tadi sempat ketemu dengan Zilfa, wanita yang istimewa bagi Hazri.
Tiger melaju menderu keras, siapa pun yang mendengar pasti tahu siapa yang punya motor ini.
Pelataran parkir RS. Sardjito penuh. Romi menepuk tangan memanggil juru parkir yang sedang asyik menggoda penjual jamu gendong. Begitu melihat Romi, juru parkir itu gelagapan lalu berlari cepat menghampiri Romi dan Hazri. “Penuh bang, kesini saja...” arahan juru parkir. Dia mengarahkan motor Tiger ke arah parkiran yang disediakan khusus karyawan dan dokter. Seorang satpam beranjak mendekat. Romi santai saja memakirkan motor diantara motor-motor karyawan dan dokter.
“Nggak masalah disini?” tanya Hazri.
“Hahaha...,” Romi tertawa kencang mendengar ketuanya bersikap lugu itu. “Bang Hazri ini terkadang memang suka merendah diri. Abang lebih terkenal di sini dari pada pemilik rumah sakit ini hehehe...” ujarnya sambil terus tertawa.
Romi membuka kaca helm dan langsung menghampiri satpam yang sempat melotot tadi. Melihat siapa yang datang, satpam itu langsung salah tingkah. Romi mulai mengatakan sesuatu kepadanya. Satpam pun dengan segera melihat ke arah Hazri lalu memberi hormat ala militer dan mempersilakan Hazri untuk masuk ke rumah sakit, dibukakan pintu sekalian. Hazri hanya membalas mengangguk.
“Kau ngomong apa ke satpam tadi ?” tanya Hazri saat keduanya mulai berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
“Kubilang, anak baru ya nggak kenal Bang Hazri?”
“Kurang ajar, jual namaku kau.”
Romi tertawa ringan. “Lewat sini Bang..”dia berbelok lalu memasuki koridor rumah sakit yang disana sudah ramai para penunggu dan penjenguk pasien. Memang mereka datang pada saat jam jenguk pasien.
Hazri kurang suka dengan rumah sakit. Bau obat dan cairan infus selalu khas melekat disemua rumah sakit. Ditambah dengan melihat wajah-wajah putus asa, entah memikirkan nasib sang pasien atau memikirkan biaya yang harus ditanggung oleh pihak keluarga. Hazri menghela napas ketika melewati sebuah ruangan. Dari bilik tirai terlihat seorang pria tergeletak lemah. Selang infus terpasang di tangannya, serta selang oksigen menancap di hidungnya. Sebagian tubuhnya diperban, sepertinya korban kecelakaan. Di sampingnya terlihat istri dan anak yang digendong tertidur pulas. Si kecil tidak tahu apa yang menjadi pikiran ibunya melihat sang ayah terbaring lemah di tempat tidur. Hazri menghela napas sekali lagi.
Setelah melewati beberapa ruang yang suasananya tak jauh beda, tibalah Hazri dan Romi di ruang UGD, tempat Ridwan dirawat. Seorang anggota Baret disitu segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka. “Siang Bang...” sapanya. Hazri dan Romi bersamaan mengangguk.
“Bagaimana Din?” tanya Romi.
“Belum ada perkembangan bang. Masih belum sadar.” Jawab Didin.
“Dimana Sugeng dan Lukman?”
“Lagi keluar Bang, nebus obat dan cari makan.”
Hazri memperhatikan kondisi Ridwan, memang parah sekali. Walau marah Hazri masih bisa mengendalikan diri, hanya matanya saja yang mulai menunjukkan kemarahan. Datanglah dokter muda yang ditemani suster cantik menghampiri. Setelah mengecek keadaan Ridwan dan memberikan suntikan obat, dokter itu pun memperkenalkan diri dan mulai menjelaskan keadaan Ridwan. Hazri serius memperhatikan setiap kata yang disampaikan si dokter muda ini, sesekali mata Hazri melirik Ridwan.
“Jadi begitulah Mas Hazri. Kondisi saudara Ridwan ini parah sekali. Luar dalam semuanya kena. Jujur saya kagum dengan fisik saudara Ridwan yang masih kuat. Masa kritisnya sekitar seminggu itu pun kalau tidak berlanjut koma. Akan tetapi....” dokter muda itu menghela napas, “Kalau pun bisa melewati masa kritis, saudara Ridwan akan mengalami kelumpuhan dan cacat fisik seumur hidup. Ini disebabkan rusaknya beberapa saraf di belakang kepalanya.” Jelas dokter ke Hazri
Hazri melihat kepala Ridwan yang berbalut perban. Benar kata dokter muda ini dari belakang kepala Ridwan masih mengeluarkan darah walaupun tidak deras karena terserap kapas, kemungkinan memang karena robeknya pembuluh darah. Hazri menggeram keras dalam hati, matanya semakin memerah marah dan mulutnya mengatup rapat memperlihatkan otot-otot wajah yang mengeras.
“Saya ingin tanya mas Hazri, menurut keterangan yang saya dapat, saudara Ridwan ini adalah korban tabrak lari, namun justru itu yang membuat kami bingung sebab luka-luka yang diderita Saudara Ridwan ini diakibatkan oleh pukulan benda tumpul maupun benda tajam. Seperti korban penganiayaan. Memang ceritanya bagaimana Mas?” Dokter muda itu memandang Hazri sambil merapikan jas putihnya.
Hazri menatap tajam mata dokter muda itu. Sorot matanya begitu dingin menusuk. Seketika dokter muda ini mulai sadar siapa orang yang dia hadapi saat ini. Teringat dia akan sebuah nama yang sering dia dengar dari para pasien maupun media massa sebagai biang kerok kampus di Jogja, preman kampus. Bukankah namanya Hazri? Hazri Tiger? Dia melirik Romi, Didin dan Ridwan secara bergantian. Tidak salah pastilah lawan bicaranya ini Hazri preman kampus itu, ya dia sangat yakin. Ujar batinnya. Tiba-tiba suasana mendadak beku, dingin yang bukan berasal dari AC. Dokter itu pun mulai salah tingkah.
Hazri paham dengan tingkah laku dokter muda itu. Dia mulai mencairkan suasana “Begini saja dokter, tolong diupayakan untuk kesembuhan saudara saya ini. Biar nanti saya yang memberitahu kepada orang tuanya. Berapa pun biayanya tidak masalah. Saya akan mengatasinya.”
Dokter itu mengangguk cepat dengan sedikit ragu, “Tentu mas, tentu,...kami akan berupaya semaksimal mungkin. Kalau begitu saya permisi untuk memeriksa pasien lainnya.” Kilahnya.
“Silakan dokter, terima kasih banyak.” Hazri mempersilakan.
Mereka berjabat tangan. Dokter itu pun keluar ruangan dengan langkah agak dipercepat.
Sekali lagi Hazri memandangi Ridwan, mulutnya masih terkatup. Hazri pun memutuskan untuk mencukupkan kehadirannya disana. “Rom, urus segala keperluan Ridwan. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku akan memikirkan rencana kita selanjutnya.”
“Siap Bang.”
Kemudian mereka keluar ruangan menuju pelataran parkir.
“Kau rawatlah dirimu juga, kita perlu dukunganmu.” Kata Hazri saat mereka sampai di samping motor.
“Iya Bang segera aku obati lukaku.” Jawab Romi sambil mengembalikan kunci motor ke Hazri.
Hazri mengeluarkan uang dari tasnya, jumlahnya cukup besar. “Ini untuk ngurusin Ridwan, kalau kurang ambil lagi.”
“Terima kasih bang.”
“Aku balik dulu.”
Romi mengangguk.
Motor Tiger melaju pelan meninggalkan RS Sardjito. Satpam menuntun motor Hazri untuk kembali ke jalan raya. Senang rasanya hari ini, dia bisa ketemu langsung dengan Hazri Tiger, yang selama ini namanya saja cukup kencang terdengar.
Sekedar info
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito (bahasa Jawa: Hanacaraka,ꦫꦸꦩꦃꦱꦏꦶꦠ꧀ꦈꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦱꦠ꧀ꦝꦺꦴꦏ꧀ꦠꦼꦂꦱꦂꦢ꧀ꦗꦶꦠꦺꦴ, Rumah Sakit Umum Pusat Dhokter Sardjito) adalah rumah sakit umum yang terletak di Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, persis di sebelah barat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan di sebelah selatan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Didirikan pada tahun 1982, rumah sakit ini segera menjadi mitra tetap Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dalam menyelenggarakan pendidikan dokter, dokter spesialis, dan perawat. Rumah Sakit ini mempunyai beragam layanan spesialis, yaitu penyakit dalam, jantung dan pembuluh darah, bedah umum, bedah orthopedi, bedah plastik, bedah thorax, jantung, dan pembuluh darah, bedah saluran kemih, bedah anak, bedah tumor, bedah saraf, anestesi, kebidanan dan penyakit kandungan, telinga hidung tenggorokan leher kepala, penyakit mata, kesehatan anak, radiologi, dan rehabilitasi medis
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
AbhiAgam Al Kautsar
menuju tersambung nya cerita
2023-02-19
0
angger aplod
terbaik cok... mantap kang
2021-05-30
0
Dewi Masita
k
2021-03-06
0