Hari mulai beranjak gelap, lampu jalanan mulai menyala secara otomatis. Hazri masih menyusuri jalanan kota Jogja sambil terus memikirkan rencana untuk Pak Day yang telah mengkhianati kepercayaannya. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam, pantas perut Hazri mulai berbunyi kelaparan. Niatnya ia ingin mampir di angkringan yang banyak berderet di sepanjang pinggir jalanan kota Jogja, namun setelah dipikir-pikir akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke daerah Baguntapan. Dia mau ke warkop di kawasan itu.
Tukang parkir yang sedang asyik menghitung uang di bawah pohon segera berdiri setelah melihat motor Tiger yang amat dia kenal siapa pemiliknya. Dengan arahan tukang parkir, Hazri dengan mudah memakirkan motor miliknya menyelinap ditengah-tengah kerumunan motor lainnya.
“Malam, Bang, “Sapa tukang parkir yang sudah kenal dengan Hazri.
Hazri mengangguk, “Apa kabar mas?”
“Baik, Bang.”
Hazri turun dari motornya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan, “Buat nambah tabunganmu...,”
“Makasih, Bang” Tukang parkir itu sangat senang, dengan uang sebanyak ini keinginannya untuk menikah tahun depan bisa terwujud cepat.
Hazri menepuk pundak tukang parkir ini, lalu masuk ke warkop. Alunan lagu indie khas musik anak-anak kopi mengalun mendayu-dayu di telinga Hazri. Sendau gurau para mahasiswa melepas beban mata kuliah yang siang tadi memberatkan kepala mereka ikut masuk ke telinga Hazri. Begitu lepas tawa mereka, tanpa tahu bagaimana gelapnya dibalik dunia kampus yang sebenarnya. Perebutan jabatan, penjualan nilai, prostitusi mahasiswi, hingga penyelundupan barang ilegal. Hazri menghela nafas panjang sambil terus melangkah ke meja pesanan.
“Malam Bang. Biasa nih?” Sapa Yudi, barista di situ.
Hazri mengangguk, mencari tempat duduk namun sudah penuh. Tiba-tiba beberapa pemuda berdiri dan pergi membawa gelas kopinya, mereka paham sang Tiger perlu ruang cukup. Hazri pun duduk di tempat mereka tadi.
Cekatan Yudi meracik minuman kesukaan Hazri. Vodka dan minuman suplemen dicampur dan dikocok. Minuman campuran berbuih itu dituang ke dalam gelas lalu siap untuk diantar ke Hazri. Memang terasa aneh, di warung kopi seperti ini terdapat minuman sejenis Vodka. Tapi inilah kota metropolitan, semuanya bisa terjadi bahkan yang tidak mungkin sekalipun.
“Maksih,Yud.” Hazri meneguk minumannya.
“Lama juga Abang nggak mampir kesini, sibuk banget?” tanya Yudi
Hazri mengangguk. “Yud, aku ada perlu sama kamu.”
“Beres Bang, Mau yang tipe seperti apa sih? Perawan, janda, SMA, mahasiswi, berjilbab, hitam, putih, kurus atau bohai? Kombinasi juga ada heheheh...”
“Asem kau...” Hazri ikut tertawa.
Tanpa dipungkiri tidak susah jika ingin mencari teman tidur di kota besar seperti ini. Tidak perlu jauh-jauh juga pergi ke tempat prostitusi, di warkop seperti ini pun mereka sudah ada. Dan tak kalah lengkap.
“Sebentar ya, Bang.” Yudi beranjak melayani seorang lelaki yang terlihat paruh baya yang menggandeng perempuan muda tertawa genit sambil bergelayutan di pundaknya. Pantasnya menjadi cucunya. Hazri menyeringai kecut. “Dasar orang Tua keladi...” gumamnya pelan.
“Eh, ada Bang Hazri..” seru Tika manja. Langsung saja dia duduk di samping Hazri menyandarkan badannya ke Hazri.
“Hehehe...awas pacarmu marah,...” Hazri mesem. Tidak berubah Tika dari dulu sejak pertama kali ketemu. Hazri yang membawa Tika kerja di Warkop ini. Dia ingat betul saat Tika menangis bingung harus membiayai kuliahnya, sementara uangnya habis ditipu pacarnya. Ah cinta sebuah pengorbanan yang membuahkan kekesalan.
“Sudah semester berapa sekarang?” tanya Hazri
“Sudah 7 bang,” jawab Tika
“Tujuh? Malas sekali kau”
Tika tersenyum, “Sibuk kerja Bang, “ jawab Tika merengut. “Lah abang sendiri sudah lulus kah?” balas Tika.
“Lain kasusnya dong. Aku belum boleh lulus, kasihan kan para dosen kalau nanti aku tinggal...” kilah Hazri
Tika tersenyum manis sambil mencubit lengan Hazri.
Memang jika dilihat seharusnya Hazri sudah lulus dua tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung sudah semester 10 sekarang. Lagi pula siapa yang bisa memerintah Hazri untuk segera lulus kuliah, para dosen malah senang jika Hazri tidak lulus-lulus dengan begitu bisnis mereka berjalan dengan lancar dan dapur mereka bisa berkebul terus. Gaji dosen tidak cukup. Bukan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, gaji mereka tidak cukup untuk membayar baju-baju simpanan mereka belum lagi kalau harus menginap di hotel untuk memuaskan nafsu birahi.
“Ya sudah Bang, lain kali disambung lagi ngobrolnya. Nggak enak kalau dilihat sama bos nanti” ujar Tika.
Hazri mengangguk. Tika pun bergegas kembali ke pekerjaannya. Banyak pesanan kopi yang harus dia antar. Hazri meneguk kembali minumannya. Di meja lain terlihat sepasang muda mudi dengan wajah tegang. Sedang saling marah-marahan kelihatannya. Walaupun tidak keras suara mereka, Hazri tahu betul yang mereka bicarakan. Sadar keduanya dilihat oleh biang kerok kampus, mereka berdua jadi salah tingkah. Sepertinya mereka salah memilih tempat untuk marah-marahan.
Tak lama berselang Yudi datang. Membawa beberapa cemilan kacang dan kripik. Lumayan untuk teman ngobrol mereka berdua. “Gratis bang.” Ujarnya meletakkan beberapa bungkus makanan ringan itu.
Hazri tersenyum. “Makasih.”
Hazri memakan makanan ringan, Yudi membuka bungkus dan memakan kacangnya. Suasana hening sejenak. Hazri memandangi meja kayu di depannya banyak bercak gosong dari putung rokok pelanggan. Yudi diam menunggu pembicaraan.
“Yud, apa aku bisa mempercaiyaimu?” tanya Hazri memecah keheningan.
“Abang yang bisa menilai itu.”
Hazri manggut-manggut. Hening lagi, hanya terdengar alunan musik yang kini berganti dengan pop melow. Yudi menyalakan rokoknya.
“Taruhannya penjara. Tapi, kalau kau bisa tutup mulut, kujamin aman.” Hazri mulai berbicara serius.
Yudi tertegun mendengar penjelasan Hazri, badannya mulai dingin. Dia terdiam terpaku.
“Okey Bang, apa yang bisa saya bantu?” ujarnya kemudian
Hazri menatap Yudi mencoba memastikan keyakinan pemuda ini.
“Aku mencari seseorang..”Hazri menjelaskan ciri-ciri Pak Day. “Dia senang ngopi di wakop, tetapi tidak punya warkop tetap. Semua warkop dan tempat nongkrong di Jogja ini didatanginya bergantian.”
Yudi menggelengkan kepala, mengingat-ingat pengunjung warkop yang mungkin sesuai dengan ciri-ciri yang dimaksud oleh Hazri.
“Kalau tidak salah, kayaknya orang itu sering datang kesini. Terakhir sekitar dua atau tiga hari yang lalu bang.”
Hazri memperhatikan penjelasan Yudi, “Sendirian dia kesini?”
“Dulu iya, sesekali sama temannya. Tapi, akhir-akhir ini selalu ditemani dua orang kayak pengawal gitu Bang. Kata anak-anak sih dua pengawalnya itu anak Kapri”
“Nah, itu dia! Orang itu yang aku cari!” Hazri senang karena Yudi tahu persis orang yang akan diciduknya.
Yudi juga kelihatan senang. “Ada ceritanya Bang..”
“Tentang Kampret itu?” tanya Hazri
Yudi mengangguk. “Dia kalu disini pasti pulangnya sampai larut malam, terkadang malah sampai pagi. Pesannya pun aneh-aneh Bang. Kadang pesannya tidak sesuai dengan ada yang dimenu. Terpaksa Tika yang harus mondar-mandir mencari pesanannya itu. Tika pernah ditempeleng tuh, gara-gara salah memberikan pesanannya. Nggak terlalu keras sih, tapi nangisnya lumayan lama. Nggak terima pacarnya digitukan, akhirnya ngamuklah pacarnya. Nantang dia dan kedua pengawalnya. Babak belur lah...badan kecil mau ngelawan dua pengawal gedhe. Anak Kapri pula yang dilawan.” Cerita Yudi semangat.
Naik pitang Hazri mendengar cerita itu. “Kapan itu terjadi?”
“Kira-kira semingguan yang lalu Bang.”
“Kenapa Tika nggak cerita ke aku?”
“Tadinya aku suruh Tika buat ngomong hal ini ke Abang, tapi katanya ini urusan pribadi. Jadi, dia nggak mau bilang ke Abang.”
“Terus Tika gimana kalau si Kampret itu datang lagi?”
“Kabur bang, sembunyi ke dapur. Dia nggak mau melayani pembeli kalau orang itu belum pergi.” Yudi tersenyum kecut. “Mau kupanggilkan Tika Bang?”
“Jangan, jangan! Orang lain nggak boleh tahu. Ini antara kau dan aku saja,” tegas Hazri. “Kita kembali ke pembahasan awal....”
Hazri meneguk minumannya dan menyulut rokok. Yudi membuka makanan ringan setelah rokonya habis tadi.
“Baiklah Yud, kau sudah tahu pasti siapa orang yang aku cari. Aku yakin sekarang dia masih di Jogja, suatu saat dia pasti kesini lagi. Waktu dia datang lagi nanti, bisa tidak kau miscall aku? Itu saja. Bagaimana?”
Yudi mengangguk. “Siap bang, kalau cuma itu sih mudah.”
“Eits, jangan sembrono. Urusan ini mungkin bisa panjang. Pokoknya kau jangan ngomong ke orang lain, nggak boleh ada yang tahu persoalan ini kecuali kita berdua. Paham kan?” tegas kembali Hazri.
Yudi mengangguk paham.
Hazri menengok ke kanan dan ke kiri memastikan hanya mereka berdua yang bisa mendengar pembicaraan malam ini.
“Nanti jika dia datang kemari, misscall aku dengan kode ‘Kopi Item habis’.” Hazri menjelaskan tugas Yudi.
Yudi mengangguk kembali. “Kopi Item habis...” gumamnya.
“Bisa jadi Polisi nanti bakalan tanya-tanya. Tapi, seperti yang aku janjikan tadi, jika kau bisa tutup mulut, aku jamin aman,” tegas Hazri.
Yudi terkejut lagi. “Pakai Polisi segala bang? Emangnya dia siapa?”
“Anggap saja dia mayat...”
Yudi terdiam. Dingin kembali menyelimuti badannya. Dia tahu Hazri tidak sedang main-main.
Hazri menatap tajam Yudi. “Katakan sekarang kalau nggak sanggup.”
Yudi juga menatap Hazri. “Beres Bang, aku siap. Nggak masalah kalau itu...,” ujarnya mantap
“Yakin?” tanya Hazri sekali lagi.
“Yakin sekali Bang.”
Hazri menghela napas lega. “Ini ganti pulasmu nanti,” Hazri memberi uang yang lebih dari cukup untuk sekedar misscall.
Yudi tidak berani menolak. “Makasih Bang. Kapan mulai?”
“Nanti kuberi tahu. Ingat misscall jangan SMS. Masih punya nomorku?”
Yudi mengangguk.
Hening kembali menyergap, kali ini sedikit lama. Lagu pop melow sudah berganti ke lagu Regge.
“Ada yang lain Bang?” tanya Yudi akhirnya.
Hazri menggeleng pelan. “Cukup. Itu saja.”
“Kalau begitu, aku balik dapur dulu.”
Hazri mengangguk. “Makasih Yud. Ingat ‘Kopi Item habis’ dan jangan ceritakan hal ini ke orang lain.”
“Siap bang,” Yudi pun beranjak setelah bersalaman erat dengan Hazri.
Hazri merenung sepeninggal Yudi. Sadar betul jika persoalan ini sampai bocor bakalan runyam semuanya. Runyam bagi dirinya, Yudi, terlebih buat Kopen sendiri. Tapi, Hazri percaya Yudi bisa memegang amanat ini sebab mereka sudah lama saling kenal.
Beres dengan Yudi, Hazri mau langsung pergi kembali ke kos. Sedang menghadapi masalah seperti ini, hilang rasa laparnya tadi. Kopi dan makanan ringan sepertinya sudah cukup untuk mengganjal perutnya. Setelah menemui Tika untuk memberi beberapa lembar uang dan membayar minumannya. Hazri pergi ke motornya. Belalang tempurnya itu pun menggerung memecah keramaian kota Jogja...
Sekedar info
Jauh sebelum merebaknya kedai kopi kekinian, ngopi sebenarnya sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Tradisi minum kopi di Nusantara bisa dilakukan pada pagi hari saat waktu senggang, pada siang hari, bahkan sampai malam
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Rosiyatun
aku suka crt ny lanjut thor
2021-03-18
0
Dina Aisha
Hai kak, aku datang membawa 6 like untukmu.
Mampir juga yuk ke karyaku yg berjudul "Akibat dendam keluarga" Mari kita saling mendukung, kak..
2021-03-06
2