17. dus makanan

Perlahan-lahan Hazri membuka mata, bangun juga akhirnya. Dia memandang sekeliling kamar, melihat tubuhnya dan mengecek ajian ‘Cakra Buana’. Ternyata semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Berarti Romi tidak mencuranginya saat dia dalam keadaan terlemah. Hazri mengingat-ingat. Lamat-lamat dia sadar terakhir dia mengalirkan energi murni, terus gelap, lamat-lamat terdengar kegaduhan, terus gelap, lalu berkata sesuatu ke Romi, terus gelap lagi. Mungkin aku pingsan dan langsung tidur, ucapnya dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala. Dia pun mengangguk-angguk.

Setelah kesadarannya pulih penuh, Hazri beranjak keluar dari kamar. Semua anak buah Romi yang sedang asyik menyanyi-nyanyi sambil gitaran di ruang tengah langsung berdiri begitu melihat kemunculan Hazri. “Siang, Bang.” sapa mereka hampir bersamaan.

Hazri mengangguk. “Mana Romi?” tanya Hazri sambil menguap.

“Sedang keluar, Bang,” jawab salah satu dari mereka.

“Ke rumahnya Tengil, kasih sumbangan,” Simon muncul dari halaman belakang. “Saya Simon, Bang...,” dia mengulurkan tangan.

Mereka pun saling berjabat tangan.

“Kamu yang waktu itu ikut ke kamar sama Romi, kan?”

“Iya, Bang..,” simon tersenyum.

Hazri mengangguk-angguk. “Kalau boleh tahu, kamar mandi dimana?”

“Sebelah sana, Bang,” Simon menunjuk ke arah kamar mandi. “Sebentar, Bang,” dia bergegas ke kamarnya mengambil handuk, lalu memberikannya ke Hazri.

“Terima kasih.”

Hazri pun melangkah menuju kamar mandi yang dimaksud. Tadinya cuma ingin buang air kecil, tapi karena ada handuk, akhirnya mandi sekalian. Saat menyampirkan handuk di tali jemuran belakang rumah usai mandi, dia melihat baju kaosnya yang sudah dicuci terjemur disana. Hazri mengambil dan mengenakannya lalu melangkah kembali ke ruangan tengah.

“Bagaimana kabar teman-temanmu?” tanya Hazri saat bertemu Simon.

“Baik, Bang. Sepertinya sudah pulih total mereka,”

“Bisa antarkan aku ke mereka, aku mau ngecek...”

“Bisa, Bang.” Hazri dan Simon masuk ke ruangan kemarin. Tampak keempat pemuda itu sedang tidur. Hazri memegang pergelangan tangan masing-masing pemuda itu dan memeriksa denyut nadi. Normal.

“Makan apa mereka?”

“Makan bubur sama madu. Kata Bang Romi itu perintah Abang.”

Hazri mengangguk-angguk, dia lega karena semua baik-baik saja. Syukurlah aku tidak jadi menjadi pembunuh, katanya dalam hati. Dia pun keluar dari kamar diikuti Simon di belakangnya. Tiba-tiba perut Hazri merasa sangat lapar sekali.

“Berapa lama aku tidur?” tanya Hazri.

Simon terkejut, jadi selama ini pemuda di hadapannya itu tidur bukan pingsan, batinnya.

“Hampir dua hari, Bang. Tapi bukannya Abang pingsan ya? Hehehe...” tanya Simon penasaran.

“Mungkin tadinya begitu, tapi kurasa langsung tertidur. Disini warung makan terdekat dimana ya?”

“Abang mau makan?”

“Rencananya sih mau hajar yang punya warung.”

“Seriusan, Bang?” Simon terbelalak tidak percaya bakalan langsung hajar orang.

“Hehehe...nggak lah, aku mau makan. Lapar betul nih.” canda Hazri yang sedikit garing.

“Ohh..kirain, Bang.” Simon tertawa kecut.

Simon memberi isyarat ke seorang pemuda ceking yang sedang berdiri di dekat pintu. Dia mengangguk dan bersiap melaksanakan perintah. Hazri mengeluarkan uang di kantong celananya, maksudnya mau kasih uang buat bayar makanannya nanti.

“Nggak usah, Bang. Kita sudah ada jatah,” kata Simon menolak.

“Jatah uang? Nggak apa ini buat tambahan nanti.”

“Nggak, Bang. Kita dikasih restoran,” kilah Simon.

“Nggak bayar?”

Simon menggelengkan kepala. Hazri manggut-manggut.

HP Simon berdering. Romi.

“Iya, Bang. Sudah Bang, barusan bangun. Ada. Sebentar...” Simon menyerahkan HPnya ke Hazri. “Dari Bang Romi,” kayanya.

Hazri menerimanya dengan ragu-ragu. “Halo,...”

“Bang Hazri, Romi nih... aku segera ke sana sama teman-teman yang lainnya.” terdengar jelas suara Romi di seberang sana. “Baik, aku tunggu...”

“Oke, Bang.” Klik!. Telepon terputus.

Tidak beberapa lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Simon bergegas keluar. Hampir bersamaan, pemuda ceking yang tadi juga datang berboncengan motor dengan temannya, dia membawa setumpuk dus makanan.

Romi nongol, langsung menghampiri Hazri. “Sehat, Bang?” sapa Romi sambil merangkul pundak Hazri. “Kita semua khawatir Abang kenapa-kenapa. Habis lama benar pingsannya...”

Simon cekikikan mendengar ucapan Romi.

“Baik-baik saja kok. Aku cuma tertidur,” jawab Hazri.

“Tertidur? Bukannya Abang pingsan?”

Simon tertawa kencang tidak bisa ditahan lagi.

“Kenapa kau tertawa, Mon?” tanya Romi ketus.

“Hahaha.., tadi aku juga nanya itu ke Bang Hazri,” jawab Simon.

“Jadi dua hari itu Abang tidur?” tanya Romi lagi.

“Mungkin tadinya sempat pingsan, terus ketiduran kyaknya, hehehe...,” Hazri menjelaskan lagi.

“Pantas, aku lihat Abang memang lebih mirip sedang tidur daripada pingsan.” Romi ikut tertawa. “Kring, bawa sini...,” dia memanggil anak buahnya yang menenteng dus makanan. Nama panggilannya Cungkring.

Dus makanan itu dibagi-bagikan.

“Lah..., kurang ini, Kring, kau ambil lagi sana...,” perintah Romi.

Cungkring mengangguk. Dia pergi lagi boncengan dengan temannya yang tadi ikut minta jatah makanan ke restoran.

“Oh, iya, Bang, ini para ketua wilayah,” Romi menunjuk para pemuda yang datang bersamanya.. Masing-masing lalu menjabat tangan Hazri sambil memperkenalkan dirinya. Hazri membalas perkenalan itu dengan penuh senyuman.

“Kita makan dulu ya, baru bicara bisnis...” kata Romi setelah acara perkenalan selesai.

Setuju..., kata Hazri dalam hati. Dia sudah lapar sekali.

Mereka pun makan dengan lahap. Tak mau kalah Hazri juga makan dengan lahap, bahkan dia habis dua dus. Romi yang paham akan kondisi itu hanya tersenyum.

Selesai makan mereka ngobrol ringan sambil merokok dan minum bir. Hazri menolak rokok, sementara minumnya dia minta es teh saja.

“Sepertinya acara inti bisa kita mulai sekarang nih?” tanya Romi. Semua ketua wilayah mengangguk. “Bagaimana, Bang?” Romi bertanya ke Hazri yang sedang asyik menyeruput es tehnya.

Hazri meletakkan gelas es tehnya.

“Ya terserah kamu. Aku kan statusnya sebagai tamu disini.” jawab Hazri. Dia belum paham maksud Romi dan apa yang mau dia bicarakan itu.

Romi mengajak Hazri masuk ke ruangan di sebelah kamarnya. Simon dan keempat ketua wilayah itu juga ikut masuk. Masing-masing ketua wilayah itu bernama, Ajay, Tomi, Sobir, dan Wahyu. Hazri dipenuhi tanda tanya di pikirannya. Apa mau mereka? Kenapa hanya ketua wilayah yang diajak  masuk? Siapa sebenarnya mereka? Sampai masuk ruangan Hazri belum menemukan jawaban itu semua.

Secuil kopi

Es teh tercipta pada 1879. Seorang pekerja rumah tangga dari Old Virginia, Marion Cabell Tyree menerbitkan sebuah resep penyajian teh yang cukup unik pada saat itu. Dalam resep tersebut Marion meminta pembaca untuk merebus daun teh hijau dan direndam sepanjang hari. "Isi gelas dengan es, masukkan dua sendok teh gula pasir, dan tuangkan teh di atas es dan gula," tulis Marion.

Resep Marion sukses besar, wilayah selatan Amerika Serikat semakin menjadikan es teh sebagai minuman populer yang sederhana untuk disajikan. Tak mau kalah, wilayah utara Amerika juga mengklaim dirinya sebagai penemu es teh.

Seorang kepala sekolah memasak di Boston, Mary Lincoln menciptakan resep es teh dingin untuk dituangkan ke dalam gelas yang berisi es batu, lemon, dan dua gula batu. Akan tetapi, es teh baru bisa tersebar di seluruh penjuru dunia setelah dikomersilkan pada 1904 melalui acara World's Fair, di St Louis, New York. Festival yang diadakan pada musim panas tersebut menciptakan peluang bagi es teh menjadi idola orang-orang di sana.

Episodes
1 1. kontrakan
2 2. rumah
3 3. kamar
4 4. kos
5 5. rs sardjito
6 6. warkop
7 7. KA logawa
8 8. warung makan
9 9. pohon manggis
10 10. emas batangan
11 11. villa kayu
12 12. parkir pertokoan
13 13. angkringan
14 14. markas 1
15 15. markas 2
16 16. markas 3
17 17. dus makanan
18 18. ruang rapat
19 19. pistol
20 20. baret
21 21. rottweiler
22 22. celurit
23 23. Tidar
24 24. pedesaan
25 25. truk
26 26. isuzu panther
27 27. mandau
28 28. perburuan 1
29 29. perburuan 2
30 30. esekusi 1
31 31. esekusi 2
32 32. berita televisi
33 33. bareskrim polda
34 34. ambarrukmo plaza
35 35. bakso malang
36 36. sebuah paket FedEx
37 37. penjelasan bekas gudang semen 1
38 38. penjelasan bekas gudang semen 2
39 39. penjelasan bekas gudang semen 3
40 40. si kenyut dan si kuyi
41 41. penyergapan sang tiger
42 42. terungkapnya sang tiger
43 43. kenangan pohon kelapa
44 44. keputusan kopra
45 45. pertimbangan sabut kelapa
46 46. raungan sang tiger
47 47. rencana dan kegagalan
48 48. sepasang mata berlian
49 49. pandangan itu
50 50. gundah
51 51. kerikil kenangan
52 52. pesan sang tiger
53 53. nego tiger
54 54. siapa dan siapa
55 55. sampai kapan
56 56. ketemu
57 57. pesta penyambutan
58 58. sampai jumpa bung
59 59. bertemu kembali
60 60. pelarian selanjutnya
61 61. lelah dan berserah
62 62. dimana?
63 63. rasa yang pernah ada
64 64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65 65. biji kauka
66 66. sudah berapa?
67 67. kuda sumbawa ngamuk
68 68. uenak sekali
69 69. sang tiger kembali
70 70. masih sama
71 71. bukan kebetulan
72 72. sama mentoknya
73 73. mega proyek sang tiger
74 74. cv marno sugeng
75 75. ada apa gerangan
76 76. dua hari sejak kembali dari progo
77 77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78 78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79 79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80 80. kitab tanpa halaman
81 81. itulah awalnya
82 82. binatang melata
83 83. ronggeng monyet
84 84. kangen juga
85 85.apa sih bagian kita di dunia?
86 86. kode gila illahi
87 87. ternyata
88 88. barisan patah hati
89 89. sah
90 90. cepatnya sang waktu
91 91. ada apa?
92 92. tantangan dari hohoho
93 93. hohoho vs hihihi
94 94. kesadaran hohoho
95 95. nggak sembarangan
96 96. reuni haji
97 97. ka'bah sejati
98 98. sudah kenal?
99 99. apa kabar?
100 100. ketemu sangat jenderal
101 101. cuma wayang
102 102. masih ada ternyata
103 103. boneka pertunjukan
104 104.sarang lama tiger
105 105. tiger tua
106 106. keluar dan kembali
107 107. apa masalahnya?
108 108. siap siap dan siap sajalah
109 109. kejutan
110 110.kisah untuk keluarga
111 111. menjelang jatuh cinta
112 112. kisah yang sama
113 113. usai sudah
114 Secuil Kopi
115 00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116 000. selamat jalan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. kontrakan
2
2. rumah
3
3. kamar
4
4. kos
5
5. rs sardjito
6
6. warkop
7
7. KA logawa
8
8. warung makan
9
9. pohon manggis
10
10. emas batangan
11
11. villa kayu
12
12. parkir pertokoan
13
13. angkringan
14
14. markas 1
15
15. markas 2
16
16. markas 3
17
17. dus makanan
18
18. ruang rapat
19
19. pistol
20
20. baret
21
21. rottweiler
22
22. celurit
23
23. Tidar
24
24. pedesaan
25
25. truk
26
26. isuzu panther
27
27. mandau
28
28. perburuan 1
29
29. perburuan 2
30
30. esekusi 1
31
31. esekusi 2
32
32. berita televisi
33
33. bareskrim polda
34
34. ambarrukmo plaza
35
35. bakso malang
36
36. sebuah paket FedEx
37
37. penjelasan bekas gudang semen 1
38
38. penjelasan bekas gudang semen 2
39
39. penjelasan bekas gudang semen 3
40
40. si kenyut dan si kuyi
41
41. penyergapan sang tiger
42
42. terungkapnya sang tiger
43
43. kenangan pohon kelapa
44
44. keputusan kopra
45
45. pertimbangan sabut kelapa
46
46. raungan sang tiger
47
47. rencana dan kegagalan
48
48. sepasang mata berlian
49
49. pandangan itu
50
50. gundah
51
51. kerikil kenangan
52
52. pesan sang tiger
53
53. nego tiger
54
54. siapa dan siapa
55
55. sampai kapan
56
56. ketemu
57
57. pesta penyambutan
58
58. sampai jumpa bung
59
59. bertemu kembali
60
60. pelarian selanjutnya
61
61. lelah dan berserah
62
62. dimana?
63
63. rasa yang pernah ada
64
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana
65
65. biji kauka
66
66. sudah berapa?
67
67. kuda sumbawa ngamuk
68
68. uenak sekali
69
69. sang tiger kembali
70
70. masih sama
71
71. bukan kebetulan
72
72. sama mentoknya
73
73. mega proyek sang tiger
74
74. cv marno sugeng
75
75. ada apa gerangan
76
76. dua hari sejak kembali dari progo
77
77. belajar ajian tauhid mutlakah 1
78
78. belajar ajian tauhid mutlakah 2
79
79. belajar ajian tauhid mutlakah 3
80
80. kitab tanpa halaman
81
81. itulah awalnya
82
82. binatang melata
83
83. ronggeng monyet
84
84. kangen juga
85
85.apa sih bagian kita di dunia?
86
86. kode gila illahi
87
87. ternyata
88
88. barisan patah hati
89
89. sah
90
90. cepatnya sang waktu
91
91. ada apa?
92
92. tantangan dari hohoho
93
93. hohoho vs hihihi
94
94. kesadaran hohoho
95
95. nggak sembarangan
96
96. reuni haji
97
97. ka'bah sejati
98
98. sudah kenal?
99
99. apa kabar?
100
100. ketemu sangat jenderal
101
101. cuma wayang
102
102. masih ada ternyata
103
103. boneka pertunjukan
104
104.sarang lama tiger
105
105. tiger tua
106
106. keluar dan kembali
107
107. apa masalahnya?
108
108. siap siap dan siap sajalah
109
109. kejutan
110
110.kisah untuk keluarga
111
111. menjelang jatuh cinta
112
112. kisah yang sama
113
113. usai sudah
114
Secuil Kopi
115
00. Jalan Pergi Menuju Jalan Pulang
116
000. selamat jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!