Perlahan-lahan Hazri membuka mata, bangun juga akhirnya. Dia memandang sekeliling kamar, melihat tubuhnya dan mengecek ajian ‘Cakra Buana’. Ternyata semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Berarti Romi tidak mencuranginya saat dia dalam keadaan terlemah. Hazri mengingat-ingat. Lamat-lamat dia sadar terakhir dia mengalirkan energi murni, terus gelap, lamat-lamat terdengar kegaduhan, terus gelap, lalu berkata sesuatu ke Romi, terus gelap lagi. Mungkin aku pingsan dan langsung tidur, ucapnya dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala. Dia pun mengangguk-angguk.
Setelah kesadarannya pulih penuh, Hazri beranjak keluar dari kamar. Semua anak buah Romi yang sedang asyik menyanyi-nyanyi sambil gitaran di ruang tengah langsung berdiri begitu melihat kemunculan Hazri. “Siang, Bang.” sapa mereka hampir bersamaan.
Hazri mengangguk. “Mana Romi?” tanya Hazri sambil menguap.
“Sedang keluar, Bang,” jawab salah satu dari mereka.
“Ke rumahnya Tengil, kasih sumbangan,” Simon muncul dari halaman belakang. “Saya Simon, Bang...,” dia mengulurkan tangan.
Mereka pun saling berjabat tangan.
“Kamu yang waktu itu ikut ke kamar sama Romi, kan?”
“Iya, Bang..,” simon tersenyum.
Hazri mengangguk-angguk. “Kalau boleh tahu, kamar mandi dimana?”
“Sebelah sana, Bang,” Simon menunjuk ke arah kamar mandi. “Sebentar, Bang,” dia bergegas ke kamarnya mengambil handuk, lalu memberikannya ke Hazri.
“Terima kasih.”
Hazri pun melangkah menuju kamar mandi yang dimaksud. Tadinya cuma ingin buang air kecil, tapi karena ada handuk, akhirnya mandi sekalian. Saat menyampirkan handuk di tali jemuran belakang rumah usai mandi, dia melihat baju kaosnya yang sudah dicuci terjemur disana. Hazri mengambil dan mengenakannya lalu melangkah kembali ke ruangan tengah.
“Bagaimana kabar teman-temanmu?” tanya Hazri saat bertemu Simon.
“Baik, Bang. Sepertinya sudah pulih total mereka,”
“Bisa antarkan aku ke mereka, aku mau ngecek...”
“Bisa, Bang.” Hazri dan Simon masuk ke ruangan kemarin. Tampak keempat pemuda itu sedang tidur. Hazri memegang pergelangan tangan masing-masing pemuda itu dan memeriksa denyut nadi. Normal.
“Makan apa mereka?”
“Makan bubur sama madu. Kata Bang Romi itu perintah Abang.”
Hazri mengangguk-angguk, dia lega karena semua baik-baik saja. Syukurlah aku tidak jadi menjadi pembunuh, katanya dalam hati. Dia pun keluar dari kamar diikuti Simon di belakangnya. Tiba-tiba perut Hazri merasa sangat lapar sekali.
“Berapa lama aku tidur?” tanya Hazri.
Simon terkejut, jadi selama ini pemuda di hadapannya itu tidur bukan pingsan, batinnya.
“Hampir dua hari, Bang. Tapi bukannya Abang pingsan ya? Hehehe...” tanya Simon penasaran.
“Mungkin tadinya begitu, tapi kurasa langsung tertidur. Disini warung makan terdekat dimana ya?”
“Abang mau makan?”
“Rencananya sih mau hajar yang punya warung.”
“Seriusan, Bang?” Simon terbelalak tidak percaya bakalan langsung hajar orang.
“Hehehe...nggak lah, aku mau makan. Lapar betul nih.” canda Hazri yang sedikit garing.
“Ohh..kirain, Bang.” Simon tertawa kecut.
Simon memberi isyarat ke seorang pemuda ceking yang sedang berdiri di dekat pintu. Dia mengangguk dan bersiap melaksanakan perintah. Hazri mengeluarkan uang di kantong celananya, maksudnya mau kasih uang buat bayar makanannya nanti.
“Nggak usah, Bang. Kita sudah ada jatah,” kata Simon menolak.
“Jatah uang? Nggak apa ini buat tambahan nanti.”
“Nggak, Bang. Kita dikasih restoran,” kilah Simon.
“Nggak bayar?”
Simon menggelengkan kepala. Hazri manggut-manggut.
HP Simon berdering. Romi.
“Iya, Bang. Sudah Bang, barusan bangun. Ada. Sebentar...” Simon menyerahkan HPnya ke Hazri. “Dari Bang Romi,” kayanya.
Hazri menerimanya dengan ragu-ragu. “Halo,...”
“Bang Hazri, Romi nih... aku segera ke sana sama teman-teman yang lainnya.” terdengar jelas suara Romi di seberang sana. “Baik, aku tunggu...”
“Oke, Bang.” Klik!. Telepon terputus.
Tidak beberapa lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Simon bergegas keluar. Hampir bersamaan, pemuda ceking yang tadi juga datang berboncengan motor dengan temannya, dia membawa setumpuk dus makanan.
Romi nongol, langsung menghampiri Hazri. “Sehat, Bang?” sapa Romi sambil merangkul pundak Hazri. “Kita semua khawatir Abang kenapa-kenapa. Habis lama benar pingsannya...”
Simon cekikikan mendengar ucapan Romi.
“Baik-baik saja kok. Aku cuma tertidur,” jawab Hazri.
“Tertidur? Bukannya Abang pingsan?”
Simon tertawa kencang tidak bisa ditahan lagi.
“Kenapa kau tertawa, Mon?” tanya Romi ketus.
“Hahaha.., tadi aku juga nanya itu ke Bang Hazri,” jawab Simon.
“Jadi dua hari itu Abang tidur?” tanya Romi lagi.
“Mungkin tadinya sempat pingsan, terus ketiduran kyaknya, hehehe...,” Hazri menjelaskan lagi.
“Pantas, aku lihat Abang memang lebih mirip sedang tidur daripada pingsan.” Romi ikut tertawa. “Kring, bawa sini...,” dia memanggil anak buahnya yang menenteng dus makanan. Nama panggilannya Cungkring.
Dus makanan itu dibagi-bagikan.
“Lah..., kurang ini, Kring, kau ambil lagi sana...,” perintah Romi.
Cungkring mengangguk. Dia pergi lagi boncengan dengan temannya yang tadi ikut minta jatah makanan ke restoran.
“Oh, iya, Bang, ini para ketua wilayah,” Romi menunjuk para pemuda yang datang bersamanya.. Masing-masing lalu menjabat tangan Hazri sambil memperkenalkan dirinya. Hazri membalas perkenalan itu dengan penuh senyuman.
“Kita makan dulu ya, baru bicara bisnis...” kata Romi setelah acara perkenalan selesai.
Setuju..., kata Hazri dalam hati. Dia sudah lapar sekali.
Mereka pun makan dengan lahap. Tak mau kalah Hazri juga makan dengan lahap, bahkan dia habis dua dus. Romi yang paham akan kondisi itu hanya tersenyum.
Selesai makan mereka ngobrol ringan sambil merokok dan minum bir. Hazri menolak rokok, sementara minumnya dia minta es teh saja.
“Sepertinya acara inti bisa kita mulai sekarang nih?” tanya Romi. Semua ketua wilayah mengangguk. “Bagaimana, Bang?” Romi bertanya ke Hazri yang sedang asyik menyeruput es tehnya.
Hazri meletakkan gelas es tehnya.
“Ya terserah kamu. Aku kan statusnya sebagai tamu disini.” jawab Hazri. Dia belum paham maksud Romi dan apa yang mau dia bicarakan itu.
Romi mengajak Hazri masuk ke ruangan di sebelah kamarnya. Simon dan keempat ketua wilayah itu juga ikut masuk. Masing-masing ketua wilayah itu bernama, Ajay, Tomi, Sobir, dan Wahyu. Hazri dipenuhi tanda tanya di pikirannya. Apa mau mereka? Kenapa hanya ketua wilayah yang diajak masuk? Siapa sebenarnya mereka? Sampai masuk ruangan Hazri belum menemukan jawaban itu semua.
Secuil kopi
Es teh tercipta pada 1879. Seorang pekerja rumah tangga dari Old Virginia, Marion Cabell Tyree menerbitkan sebuah resep penyajian teh yang cukup unik pada saat itu. Dalam resep tersebut Marion meminta pembaca untuk merebus daun teh hijau dan direndam sepanjang hari. "Isi gelas dengan es, masukkan dua sendok teh gula pasir, dan tuangkan teh di atas es dan gula," tulis Marion.
Resep Marion sukses besar, wilayah selatan Amerika Serikat semakin menjadikan es teh sebagai minuman populer yang sederhana untuk disajikan. Tak mau kalah, wilayah utara Amerika juga mengklaim dirinya sebagai penemu es teh.
Seorang kepala sekolah memasak di Boston, Mary Lincoln menciptakan resep es teh dingin untuk dituangkan ke dalam gelas yang berisi es batu, lemon, dan dua gula batu. Akan tetapi, es teh baru bisa tersebar di seluruh penjuru dunia setelah dikomersilkan pada 1904 melalui acara World's Fair, di St Louis, New York. Festival yang diadakan pada musim panas tersebut menciptakan peluang bagi es teh menjadi idola orang-orang di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments