Lu Ping berjalan sambil menggandeng tangan Wu Song, Wu Song tidak sampai hati untuk menolak nya.
Wu Song sadar dia sudah melukai hati Lu Ping dengan sangat dalam, memanfaatkan perjalanan ini Wu Song ingin memberikan Lu Ping hiburan dan kenangan yang menyenangkan untuknya.
Wu Song tahu dengan jelas meski Lu Ping terlihat tertawa ceria, tapi hatinya pasti sangat sedih.
Sebelum sampai di LUO YANG, Wu Song ingin sebisa mungkin memberikan kenangan indah untuk menghibur Lu Ping.
Bila sampai di LUO YANG, Wu Song akan sepenuh hati mencintai dan menjalankan tugas dan tanggung jawab sepenuh hati untuk Ceng Ceng.
Tiba-tiba Lu Ping menghentikan langkahnya dan berkata,
Lu Fan berikan sepotong pakaian luar mu buat kak Wu Song.
Lu Fan tanpa banyak bantah mengeluarkan sepotong baju dari tas yang dibawanya.
Lalu memberikan pada Wu Song.
Wu Song segera mengenakan pakaian luar itu untuk menutupi pakaiannya yang kotor dan sobek disana sini.
Wu Song mengucapkan terima kasih pada Lu Fan yang disambut goyangan tangan kanan Lu Fan, sambil tersenyum tulus.
Lu Ping Kembali berjalan sambil menggandeng Wu Song.
Memasuki lereng gunung puncak Hua San, mereka mulai bertemu rombongan lain yang ramai ingin mengunjungi Puncak Hua San.
Ada pengemis,pendeta Tao, biksu, Pendekar kelana, Pendekar wanita, bahkan ada yang berpakaian sastrawan.
Berbagai macam jenis dan bentuk orang mulai berdatangan menuju puncak Hua San.
Wu Song Lu Ping dan Lu Fan mulai bergabung dengan rombongan lain berjalan menuju Puncak Hua San.
Tapi Lu Ping tidak pernah melepaskan gandengan nya dari Wu Song, seakan-akan takut bila terlepas Wu Song akan pergi meninggalkan dirinya.
Wu Song sambil berjalan diam-diam melirik Lu Ping dan bertanya,
"Ping Mei apakah kamu merasa capek? kalau capek kita istirahat sejenak di sini."
"Nanti baru melanjutkan perjalanan kita lagi."
Wu Song mengeluarkan sebuah kantung kulit berisi air minum dan memberikan pada Lu Ping sambil berkata,
"Ping Er nih minumlah sedikit."
Cuaca memang mulai agak terik dan panas, meski napas Lu Ping biasa-biasa saja tapi wajahnya terlihat sedikit merah dan berkeringat.
Lu Ping menerima kantung kulit tersebut, sambil tersenyum senang dan berkata,
"Terima kasih Song ke ke,"
Lalu dia meminumnya, kemudian menyodorkan kepada Wu Song agar ikut minum juga.
Wu Song menerima nya dan minum dari mulut kantung yang sama kemudian menutupnya.
Lu Ping tersenyum lebar melihat Wu Song minum dari mulut kantung kulit yang sama dengan nya.
Lalu dia berkata,
"Ayo kita lanjutkan perjalanan saja, aku tidak apa-apa."
Kali ini Wu Song yang sengaja menggandeng tangan Lu Ping, untuk menyenangkan hati gadis itu.
Benar saja Lu Ping terlihat sangat bahagia, dia menggelayut manja di lengan Wu Song.
Yang membuat Wu Song dapat merasakan benda yang lembut kenyal menempel ketat pada lengannya.
Wu Song sedikit merasa bersalah dengan Ceng Ceng, tapi dia juga tidak berani menolak kemesraan singkat dari Lu Ping.
Akhirnya dia hanya bisa menerima nya, dan berusaha menenangkan pikiran nya sendiri agar tidak berpikir macam-macam.
Tidak lama kemudian Wu Song, Lu Ping dan Lu Fan tiba di gerbang lokasi diadakannya pertemuan tersebut.
Wu Song, Lu Ping dan Lu Fan harus mengisi buku tamu pendaftaran yang di sediakan .murid panitia penyelenggara acara ini.
Setelah mengisi buku tamu mereka diantar dan ditunjukkan tempat duduk dibagian paling belakang dan jauh dari arena.
Hal ini karena baik Wu Song, Lu Ping dan Lu Fan mendaftar dengan nama mereka pribadi.
Tidak punya partai atau kelompok tertentu.
Bila mereka menggunakan nama Lu Sun atau Pasukan Naga Hitam, mereka pasti diberi tempat duduk di dekat podium.
Wu Song memperhatikan orang yang duduk di dekat podium rata-rata adalah ketua partai besar dapat terlihat dari Bendera yang dibawa murid mereka masing-masing.
Ada satu kelompok kecil yang juga duduk didekat podium sebagai tamu kehormatan.
Mereka adalah Rombongan dari pihak istana kekaisaran, terlihat di sana ada seorang yang berdiri gagah berpakaian militer lengkap dengan baju jirah nya.
Dia adalah seorang pria tinggi besar berusia 50.an tahun membawa sebilah Golok bertongkat panjang.
Mirip Cing Lung Pao Tao, milik Jendral besar Guan Yun Zhang yang terkenal di jaman tiga negara.
Disebelah depannya sedang duduk terlihat seorang pemuda tampan berusia 20an dan seorang gadis berpakaian hitam rambut di kuncir dan mengenakan cadar hitam sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali.
Hanya sepasang mata dan alis yang indah yang dapat terlihat jelas oleh Wu Song.
Wu Song sedikit merasa heran, sejak berada di lereng gunung dan secara kebetulan bertemu gadis itu terus memperhatikan nya.
Kini gadis itu juga sedang menatap Wu Song, sampai merasa tidak enak dan pura-pura menatap kearah lain.
Lu Fan yang mengetahuinya sehingga timbul niat jahilnya menggoda Wu Song, dia pun berkata,
"Kakak Ipar, kulihat gadis bercadar itu dari tadi terus memandang mu, kelihatannya dia pun naksir padamu."
"Atau jangan-jangan dia kenal denganmu, atau jangan-jangan dia juga salah satu istri simpanan mu."
Ucapan Lu Fan langsung mengundang singkatan dari Lu Ping sambil memelototinya dan berkata dengan kesal,
"Bangsat kecil kamu kalau kamu tidak berbicara tidak ada orang yang akan menganggap dirimu bisu."
"Yeeeahh, langsung marah payah.... jadi terlihat jelekkk .. loh kak.."
"Kalah jauh dengan gadis bercadar itu yang sopan dan selalu menatap lemah lembut kearah kakak ipar."
"Kau...!" teriak Lu Ping emosi sambil mengangkat tangannya ingin menampar adiknya.
Tapi Wu Song cepat-cepat menangkap dan menggenggam tangannya lalu membawanya ke bibir nya dan mencium mesra tangan halus lembut dan wangi tersebut.
Lu Ping wajahnya menjadi merah dia menunduk malu sambil tersenyum, tapi dia tidak menarik tangannya dan membiarkan Wu Song terus menggenggam tangannya.
Dia pun jadi lupa dengan kejengkelan nya pada Lu Fan.
Sedangkan Lu Fan hanya menjulurkan lidahnya meledek kakaknya.
Memang Wu Song sengaja melakukan itu untuk melerai dan meredam emosi Lu Ping yang hampir meledak terpancing oleh kata-kata Lu Fan yang kadang sedikit kelewatan.
Wu Song sekilas sempat melihat gadis bercadar itu membuang mukanya, ketika melihat Wu Song menggenggam dan mencium tangan Lu Ping.
Wu Song tidak begitu perduli, yang penting bisa melerai kedua kakak beradik yang suka bertengkar sejak kecil itu.
Emang dulu di lembah, juga Wu Song yang selalu menengahi mereka berdua kalau sedang ribut.
Di tengah podium kini tampak seorang pria yang merupakan panitia pembawa acara yang berusia sekitar 60 tahun tampak berdiri gagah.
Dan mulai berbicara menggunakan tenaga dalam, agar semua peserta acara dapat mendengar suara nya dengan jelas.
Pria itu bukan orang biasa di dunia persilatan namanya cukup terkenal, dia terkenal dengan julukan Lutung bertangan delapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
Sudar Manto
kethek
2022-09-23
1
Mulki Sofwan Alharis
hoasan
2022-08-31
1
Manurung Tongah
mengembara
2022-04-29
2