"Wu Song kemarilah mari kuperkenal kan pada Anak, menantu dan cucu ku. Mereka tinggal di CHANG AN jarang kemari." ucap Perdana Menteri Si Ma Jian memberi penjelasan sambil mengenalkan mereka pada Wu Song.
"Ini putraku Si Ma Su, dia bekerja sebagai Menteri kebudayaan di istana CHANG AN." ucap Perdana Menteri dengan bangga.
Wu Song dengan sopan memberi hormat kepada mereka semua satu persatu, Dimulai dari Si Ma Su anak tunggal Perdana Menteri Si Ma Jian,
"Salam hormat ku tuan muda Si Ma Su, senang bertemu anda."
Ini menantuku Guo Yi Ling, beliau adalah cucu tunggal dari penasehat terkenal dinasti Wei.
Mungkin anda pernah dengar tentang Guo Jia, beliau adalah kakek kandung dari menantuku ini. ucap Perdana Menteri memberi penjelasan, ada rasa bangga yang besar dalam setiap ucapannya.
Wu Song memberi hormat kepada istri Si Ma Su,
"Salam hormat ku Nyonya muda, semoga anda dalam keadaan sehat selalu."
Dan ini Si Ma Ceng, atau biasa di panggil Ceng Ceng, Ceng Ceng cucu ku yang cantik adalah
Tunangan dari Si Ma Ong, pangeran ke 4 dari Yang Mulia Si Ma Hui. ucap Perdana Menteri dengan sangat bangga.
Berbeda dengan kakeknya Ceng Ceng terlihat kurang senang, ketika kakeknya menyebut tentang pertunangannya dengan Si Ma Ong cuma dia tidak berani membantah kakeknya.
Wu Song kembali memberi hormat pada Putri tunggal dari Si Ma Su dengan Guo Yi Ling, Si Ma Ceng,
Wu Song dengan kepala tertunduk dan wajah sedikit merah memberi salam singkat,
"Senang bertemu dengan anda Nona muda."
Wu Song sejak awal pertama bertemu Ceng Ceng entah kenapa jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
Tubuhnya gemetar dan agak grogi bila bertemu pandang dengan Ceng Ceng.
Mungkin ini semua karena kecantikan Ceng Ceng yang sedikit mirip dengan Lu Ping putri Guru nya.
Melihat Ceng Ceng seperti melihat Lu Ping, meski Lu Ping terakhir ini bersikap kasar dan menghinanya, tapi di hati Wu Song dia tetap tidak bisa melupakan Lu Ping .
Dia tidak membenci Lu Ping, dia malah menganggap dirinya lah yang tidak pantas bersanding dengan Lu Ping.
"Kalian bertiga, ketahuilah pemuda ini bernama Wu Song, dia sangat cakap dalam bekerja, boleh di bilang dia adalah asisten dan penasehat ku."
"Sejak kehadiran nya tugas ku menjadi ringan banyak, terkadang aku merasa seperti sedang pensiun."
"Kalian tadi melewati taman ada lihat tidak kolam ikan baru ku? aku sekarang bahkan sempat memelihara ikan hias."
"Ya benar kek tadi saya ada melihatnya ikannya sangat cantik," puji Ceng Ceng dengan kagum.
"HA....HA...HA...HAAA..!"
"Semua ini berkat Wu Song ini, " ucap Si Ma Jian memuji kecakapan Wu Song dalam bekerja.
Ceng Ceng menatap Wu Song dengan kagum, menurut pemikiran Ceng Ceng pemuda di depannya ini tidak hanya gagah dan sangat tampan, ternyata juga adalah orang yang cakap dan pandai dalam pekerjaan nya.
Ceng Ceng tahu dengan pasti Kakek nya jarang memuji orang, apalagi bawahan dan di depan orangnya langsung.
Bila kakek nya tidak sangat puas dengan kehadiran Wu Song tidak mungkin kakeknya memujinya seperti sekarang ini.
Mendapat tatapan Ceng Ceng Wu Song menjadi gugup dan grogi, Wu Song tadi sudah mendengar gadis ini sudah punya tunangan.
Bahkan tunangannya adalah seorang pangeran, Wu Song tidak berani berpikir banyak. Meski hatinya sebenarnya sangat tertarik dengan Ceng Ceng, tapi Wu Song menahannya.
Perdana menteri mengajak Wu Song dan keluarga nya makan semeja, masakan yang di hidangkan sangat mewah.
Banyak jenis masakan yang baru Wu Song lihat dan dia tidak pernah mencicipi nya.
Tapi kehadiran Ceng Ceng membuat Wu Song sedikit grogi, dia hanya fokus dengan nasi putih nya saja tidak berani mengambil lauk.
Tidak butuh waktu lama Wu Song pun selesai makan, dia langsung pamit pada semuanya dengan alasan masih ada pekerjaan yang masih harus di urus.
Perdana menteri mengijinkan nya, dan berpesan,
"Jangan terlalu memaksa diri jaga kesehatan mu kalau ngantuk istirahat lah."
Wu Song membungkuk hormat dan mengatakan,
"Ya Tuan terimakasih, saya permisi dulu."
Setelah menjura kepada Perdana Menteri, Si Ma Su dan istrinya serta Ceng Ceng, Wu Song langsung meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.
Melanjutkan pekerjaan nya yang belum selesai.
Karena cuaca agak gerah, Wu Song membuka jendela sambil bekerja, Wu Song merasa lebih segar dan nyaman setelah membuka jendela.
Wu Song terus bekerja dengan serius, Wu Song tidak menyadari ada seorang gadis yang duduk di taman didepan kamar Wu Song.
Diam-diam terus memperhatikan setiap gerak-gerik Wu Song.
Gadis itu adalah Ceng Ceng cucu perdana menteri Si Ma Jian.
Ceng Ceng menghela napas panjang, seandainya bisa memilih, dia tentu lebih suka menjadi istri pemuda seperti Wu Song.
Hidup sederhana saling menyayangi, tentu akan sangat bahagia di bandingkan menikah dan menjadi bagian dari istana yang penuh aturan.
Belum lagi harus menghadapi persaingan kasih sayang.
Itu adalah kehidupan yang sangat melelahkan dan menyedihkan menurut Ceng Ceng.
Setelah memandang Wu Song sekali lagi sambil menarik napas panjang, Ceng Ceng berdiri dan berjalan meninggalkan Taman dengan kepala tertunduk.
Wu Song yang merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya, dia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah taman.
Tapi Wu Song tidak melihat ada siapa-siapa di sana, mungkin hanya perasaan saya saja.
Lalu Wu Song kembali menunduk melanjutkan pekerjaannya.
Sesaat kemudian Wu Song menaruh Mao Pit nya ( Sejenis Pena Bulu Jaman Cina Kuno), Lalu Wu Song terlihat termenung menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
Wu Song teringat dengan Ibu nya yang mati Muda di Medan perang sambil menggendong dan melindungi nya.
Wu Song juga teringat dengan ayahnya yang sedang bersedih melihat kematian ibunya.
Akhirnya Wu Song harus kehilangan ayah ibunya di usia muda.
Tanpa terasa air mata membasahi pipinya.
Wu Song perlahan-lahan mulai tersenyum mengingat kebaikan Guru Lu Sun dan kedua Ibu Guru nya yang sangat cantik.
Wu Song akhirnya tersenyum lebar mengingat kenakalan dan kejahilan Lu Fan.
Wu Song juga tersenyum bahagia, ketika teringat hubungan nya dengan Lu Ping.
Mereka bermain sejak kecil sampai dewasa.
Meski kadang sedikit galak tapi Lu Ping adalah gadis yang cantik dan baik hati.
Wu Song kembali meneteskan airmata saat teringat perpisahan nya dengan Guru dan keluarga Gurunya.
Wu Song bergumam sendiri,
"Guru kapan murid mu yang tidak berbakti ini bisa membalas semua Budi dan kasih sayang yang kalian berikan pada Wu Song."
"Tanpa mu tidak akan pernah ada Wu Song, maafkan Wu Song guru."
Wu Song menghapus air mata di kedua pipinya, menengadah menatap awan putih yang sedang berarak.
Kemudian kembali bergumam,
"Entah bagaimana keadaan kalian di sana? baik-baik kah kalian disana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
tanpa sadar wu song banyak disukai para wanita
2023-09-22
0
Zeindy Anlasty Hirdirian
hmm wusong jgn cengeng...
2022-10-04
1
Sudar Manto
mewek
2022-09-22
1