Wu Song yang sedang putus asa karena hasil pengumuman kelulusan Sarjana Nasional nya mengalami kegagalan.
Terlihat terduduk lesu tidak bersemangat dengan tatapan mata kosong didalam kamar Losmen nya yang kecil.
Wu Song memukul meja dengan emosi sambil berkata,
"Lu Ping benar aku cuma seorang pecundang yang tidak bisa apa-apa, bagaimana mau berharap menjadi suaminya."
"Mungkin menjadi pelayannya pun aku tidak pantas."
Tiba-tiba pintu kamar Losmen di ketuk dari luar, Wu Song berpikir pasti pemilik Losmen ingin menagih uang sewa.
Wu Song berpikir biarlah cepat lambat juga harus bayar, bayar saja sekarang.
Besok baru di pikirkan, kalau terpaksa harus ngegembel ya biarlah ngegembel besoknya.
Semua ini adalah resiko dari jalan hidup yang dipilihnya sendiri, segala akibat dan konsekwensinya tentu harus dia hadapi sendiri.
Berpikir seperti itu Wu Song pun berkata "silahkan masuk, Pintu tidak dikunci!"
Pintu terbuka, Wu Song menatap bingung orang yang masuk kedalam kamarnya, Wu Song merasa dia tidak mengenal orang tersebut.
Untuk memecah kecanggungan dan kebingungan Wu Song, orang itu cepat-cepat berkata,
"Tuan aku adalah kepala pelayan pribadi Perdana Menteri Si Ma Jian, kedatangan ku adalah untuk mengantar kan surat undangan dari Perdana Menteri, agar besok pagi anda dapat pergi menemui beliau di kediaman nya."
Mendengar penjelasan dari pelayan tersebut, Wu Song lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menerima Surat Undangan dari Perdana Menteri untuknya.
Setelah menyampaikan surat tersebut kepada Wu Song kepala pelayan tersebut langsung pamit meninggalkan kamar Wu Song.
Kini tinggal Wu Song seorang diri menatap bingung surat di tangannya.
Wu Song membuka dan membaca surat undangan tersebut.
Isinya singkat, cuma meminta Wu Song bila berminat. Besok pagi langsung datang kekediaman Perdana Menteri membawa surat undangan ini untuk menemuinya.
Wu Song kembali bersemangat, meski tidak berhasil lulus Sarjana Nasional. Setidaknya dia ada kemungkinan mendapatkan pekerjaan di kediaman perdana menteri.
Jadi dia tidak perlu terlalu bingung dengan masalah makan dan tempat tinggal lagi.
Berpikir seperti itu hati Wu Song, menjadi jauh lebih tenang.
Setidaknya ada secercah harapan menanti dirinya besok pagi.
Selesai mandi Wu Song memutuskan cepat istirahat, agar besok pagi bisa lebih segar saat menghadap ke kediaman Perdana Menteri.
Ketika pagi tiba, Wu Song cepat-cepat bersiap-siap, setelah membayar biaya penginapan nya di Losmen tersebut.
Sisa uangnya Wu Song pakai membeli sebuah bak Pau, sambil makan Bak Pau dia berjalan ke kediaman Perdana Menteri.
Setelah menghabiskan Bak Pau nya Wu Song akhirnya tiba di depan gedung kediaman perdana Menteri yang megah dan besar.
Di pintu gerbang terlihat dijaga oleh 4 orang yang mengenakan seragam prajurit.
Wu Song jalan maju mendekati mereka sambil memberi hormat, Wu Song menyampaikan maksud kedatangannya sambil menunjukkan surat undangannya kepada ke 4 penjaga tersebut.
Setelah melihat surat undangan tersebut, salah satu prajurit segera mengantar Wu Song ke sebuah ruangan tamu yang sangat luas.
Di sana tergantung banyak Lukisan dan tulisan Kaligrafi serta puisi-puisi pujangga-pujangga terkenal di jamannya.
Wu Song tidak berhenti mengagumi Lukisan yang tergantung rapi di dinding tamu.
Tak lama kemudian Wu Song mendengar langkah kaki berjalan mendekati ruangan itu.
Lalu Wu Song melihat pelayan yang tadi malam datang ke tempatnya, di belakangnya berjalan seorang pria tua berusia 65 tahunan, wajahnya tampak berwibawa dan mengeluarkan aura kepercayaan diri tinggi.
Yang membuat orang di sekitar nya akan merasa rendah diri bila berada di hadapannya.
Wu Song yang dapat menebak orang itulah Perdana Menteri Si Ma Jian yang mengundang kedatangan nya.
Wu Song segera membungkuk memberi hormat sambil mengangkat kedua tangan nya keatas, sebagai adat kesopanan pemberian hormat rakyat biasa terhadap pejabat negara.
Melihat sikap Wu Song yang mengerti adat kesopanan di kalangan istana.
Perdana Menteri tersenyum senang, dia semakin merasa tidak salah memilih orang.
Perdana Menteri memberi tanda mempersilahkan Wu Song untuk duduk, tapi Wu Song dengan hormat menunggu pihak Tuan rumah duduk dia baru menyusul duduk .
Ini adalah sikap etika di kerajaan, Perdana Menteri semakin tersenyum senang melihat sikap Wu Song.
Setelah memberi beberapa pertanyaan formal yang dijawab dengan sopan oleh Wu Song.
Dia pun menawarkan pekerjaan sebagai bagian kepala administrasi dan keuangan keluarga Perdana Menteri.
Perdana menteri menyebutkan gaji dan bonus tahunan yang akan diterima Wu Song, selain itu Wu Song juga mendapatkan fasilitas kamar dan makan sehari 3 kali secara gratis di kediaman perdana menteri.
"Bagaimana anak muda, apakah kamu bersedia menerima tawaran ku, bila ada keberatan kamu boleh utarakan."
Wu Song cepat-cepat memberi hormat dan mengucapkan terima kasih dan menyatakan,
"Aku bersedia menerima tawaran Tuan Perdana Menteri tanpa syarat."
Perdana Menteri meminta kepala pelayan kepercayaan nya mengatur segala sesuatu keperluan Wu Song dan mengenalkan pekerjaan yang harus Wu Song lakukan setiap hari.
Setelah memberikan pesan Perdana Menteri pun pergi ,untuk menghadiri sidang pagi di istana kekaisaran.
Wu Song langsung sibuk mengenali segala jenis pekerjaan dan laporan yang harus dia buat untuk perdana menteri.
Karena kecerdasan dan kemampuan Wu Song dalam menguasai pekerjaan yang menurut Wu Song tidak sulit.
Maka hari itu juga Wu Song mulai mengerjakan berbagai laporan keuangan yang sudah terbengkalai selama 3 tahunan.
Wu Song mengerjakan selama sebulan, dan tidak jarang dia bekerja lembur sampai larut malam.
Akhirnya Wu Song menyelesaikan semua laporannya dan memberikan kepada Kepala Pelayan, untuk di laporkan kepada perdana Menteri.
Perdana Menteri tersenyum puas melihat laporan yang di buat Wu Song, laporan Wu Song melebihi ekspektasi dan harapannya.
Keesokan paginya Perdana Menteri mengundang Wu Song untuk sarapan pagi bersama, dan memberi tahu Wu Song akan kenaikan gajinya.
Perdana Menteri meminta Wu Song bekerja dengan giat dan rajin, perdana menteri berjanji dia akan memberikan imbalan yang sesuai dan tidak akan pernah merugikan Wu Song.
Wu Song mengucapkan terimakasih kepada perdana menteri, Setelah mereka selesai sarapan bersama.
Wu Song pun pamit kembali keruangan kerjanya untuk menyelesaikan laporan-laporan baru yang belum dia kerjakan.
Wu Song tidak pernah sekalipun keluar dari kediaman perdana menteri.
Hari-hari dia lewatkan dengan bekerja, kadang dia mendapat tugas tambahan membantu perdana menteri membuat laporan yang akan di gunakan sebagai laporan sidang pagi perdana menteri kepada kaisar.
Bahkan semakin lama perdana menteri sering meminta pendapat Wu Song dalam menangani berbagai kasus yang di hadapinya dalam menjalankan tugas Negara.
Wu Song selalu bisa memberikan solusi yang tepat untuk perdana menteri, membuat perdana menteri semakin percaya dan menyayangi Wu Song.
Suatu hari Anak mantu dan cucunya datang berkunjung ke kediaman perdana menteri.
Wu Song di perkenalkan kepada mereka semua, sebagai pegawai kepercayaan perdana menteri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
Ikhwatul Jannah
rasanya kaya baca novel dari bab tengah
2024-05-30
0
Ikhwatul Jannah
kok ceritanya kek kepotong ya🥲
2024-05-30
0
John Singgih
semoga saja tidak ada masalah ke depannya dengan keluarga perdana menteri
2023-09-22
0