Lu Fan ini adalah kebalikan dari Wu Song, kalau Wu Song membenci Ilmu Silat.
Lu Fan ini adalah penggila Ilmu Silat sejati.
Di usianya yang baru 14 tahun ini, Dia sudah menguasai 90 persen Ilmu Lu Sun, bahkan bila ayah dan anak ini bertanding, Lu Sun kesulitan mengalahkan putranya sendiri.
Ini karena Lu Fan mewarisi struktur Tubuh Dewa campur Siluman sehingga dia dapat dengan bebas makan buah-buahan dewa yang tumbuh dekat tempat hukuman Sun Wu Kung sejak kecil sampai besar.
Lagipula dia sangat dekat dan di sayang oleh Sun Wu Kung, sehingga Wu Kung mewariskan semua kesaktiannya pada Lu Fan.
Wu Kung diam-diam juga mewariskan 3 jurus ciptaannya yang khusus untuk memusnahkan Bodhisatva dan Buddha.
Yang memiliki kedahsyatan membelah bumi mengoyak langit. Ketiga jurus itu diam-diam dia wariskan pada Lu Fan dan berpesan kepada Lu Fan agar berhati-hati dalam penggunaan nya.
Kakaknya Lu Ping dan Ibu tirinya Xue Yen, sudah bukan tandingan Lu Fan, mungkin seluruh lembah Hanya Wu Kung dan Lu Sun yang yang sanggup menghadapi bocah ajaib ini.
Lu Fan masih belum sanggup menghadapi 10 jurus ciptaan ayahnya Naga Sakti Meradang.
Lu Fan tidak bisa mewarisi ilmu tersebut karena jurus ini di ciptakan khusus untuk tubuh Lu Sun yang cacat.
Sebenarnya bila Lu Fan dapat menggunakan jurus rahasia Wu Kung dia bisa saja mengalahkan ayahnya.
Tapi konsekwensinya ayahnya akan langsung tewas musnah ditangannya, bila dia menggunakan jurus tersebut. Oleh karena itu dia tidak akan pernah mungkin menggunakan ilmu itu melawan ayahnya.
Sejak Lu Fan lahir Senjata Dewa Legendaris, otomatis keluar dari gelang Lu Sun dan langsung menyatu dengan tubuh Lu Fan.
Di dada Lu Fan langsung muncul tato bergambar Senjata Dewa Legendaris, dan Kini setiap Lu Fan membutuhkan senjata tersebut dia cukup membayangkannya maka senjata itu akan otomatis muncul di genggaman nya.
Hanya Lu Fan sejak kecil tidak punya ke cocokkan dengan Dewa Naga Hitam, ini karena aura tubuh alami Lu Fan suka mengintimidasi Dewa Naga Hitam.
Membuat Naga itu menjauhinya.
Wu Song sedang asyik menebang pohon untuk membuat pondok baru bagi Lu Fan.
Tiba-tiba di datangi Lu Ping, Lu Ping langsung mengajak Wu Song pergi menjauh dari Lu Fan.
Lu Fan yang agak takut dengan sifat kakaknya yang galak memilih diam dan meneruskan menebang pohon.
Dia Pura-pura tidak melihat ketika Wu Song diajak pergi kakaknya, setengah di seret oleh kakaknya. Wu Song mengikuti Lu Ping dengan kelabakan.
Setelah sampai di tempat sepi, Lu Ping menanyakan pendapat Wu Song atas perjodohan yang di tentukan orang tuanya.
Wu Song menjawab dengan jujur sambil menatap mesra kearah Lu Ping dia pun berkata,
"Ping Er... jujur saja aku sangat senang dengan perjodohan ini, karena aku sudah lama menyukai dan jatuh cinta padamu."
"PLAKKK...!"
Jawaban Wu Song menuai tamparan keras dari Lu Ping dan perkataan menusuk keluar dari mulut Lu Ping.
"Wu Song kamu dengar baik-baik, aku tidak mencintaimu, aku hanya menganggap mu seperti adik ku.
Perasaan di antara kita hanya ada perasaan hubungan kakak beradik..!"
"Aku tidak akan pernah tertarik dan mencintaimu, lihat lah dirimu.
Aku katakan sejujurnya aku tidak mungkin mencintai seorang pria lemah tidak bisa silat yang cuma tahu mengerjakan pekerjaan rumah tangga!"
"Aku tidak sudi menjadi istri pria seperti itu!"
"Jadi lebih baik kamu matikan perasaan mu itu, jangan terlalu banyak bermimpi."
"Jangan membuat ke gaduhan di keluarga ku dengan perasaan mu yang tidak jelas itu, itu hanya akan membuat aku semakin benci dan meremehkan mu..!"
Setelah puas melampiaskan amarah dan kekesalannya, Lu Ping langsung pergi meninggalkan Wu Song yang berdiri diam tidak bersuara.
Wu Song tersenyum sedih kemudian bergumam sendiri,
Lu Ping benar, aku hanya pria lemah yang tidak tahu diri, keberadaan ku cuma menimbulkan keributan di keluarga Guru Lu, yang sudah banyak melepaskan Budi pada ku.
Kelihatannya aku harus segera meninggalkan tempat ini, agar keluarga Guru Lu bisa hidup tenang dan damai.
Aku akan mencoba peruntungan ku ke Ibu kota saja.
Mungkin di sana aku akan mendapatkan perluasan pengetahuan sastra dan seni musik.
Setelah memantab kan pikirannya, Wu Song kembali ke pondok sederhana nya.
Dia mengerjakan semua tugas sehari-hari nya dengan rapi, Dia mengisi semua tempat penampungan air sampai penuh-penuh.
Semua pakaian guru, ibu guru juga Lu Ping dan Lu Fan dia cuci dan jemur sampai kering kemudian baru dia lipat dengan rapi.
Pakaian yang sobek dia jahit dan tambal dengan rapi, dia juga memasak berbagai jenis makanan kesukaan guru, Ibu guru, Lu Ping, Lu Fan.
Setelah menyiapkan semuanya, dia menulis sepucuk surat kepada Guru Lu dan keluarganya, meminta maaf dan berterima kasih atas Budi baik yang di lepaskan mereka kepadanya.
Dia mengatakan pada mereka agar tidak perlu khawatir dan mencarinya, dia akan pergi ke ibu kota untuk memperluas pengetahuan sastra dan seni musiknya.
Setelah menyiapkan semuanya Wu Song membawa beberapa stel baju kesayangan nya.
Lalu dia berangkat diam-diam meninggalkan Lembah Alam Penebus Dosa Dewa Buangan.
Ketika makan malam tiba, Lu Sun dan Istrinya sangat terkejut melihat Wu Song menyiapkan begitu banyak jenis menu masakan kesukaan mereka semua.
Tapi Wu Song nya sendiri tidak terlihat, saat di cari ke kamarnya yang mereka temukan hanya sepucuk surat berisi pesan-pesan dari Wu Song.
Dan sepucuk surat lagi ditujukan khusus pada Lu Ping.
Setelah membaca surat itu Lu Ping berderai air mata, dan berkelebat pergi mencari Wu Song. Tapi bagaimanapun dia berteriak dan mencari sambil memanggil-manggil nama Wu Song, dia tidak berhasil menemukan Wu Song lagi.
Akhirnya Lu Ping pulang kerumah dengan perasaan lesu dan bersalah.
Ketika melihat makanan kesukaan dari kecil hingga dewasa, di sajikan dengan rapi dan sempurna oleh Wu Song di atas meja.
Lu Ping sangat terharu sehingga dia makan dengan airmata berlinang membasahi pipinya yang cantik.
Setelah makan Lu Ping segera masuk ke kamarnya, di sana dia menemukan semua sprei selimut dan baju-bajunya yang sobek dijahit dan di lipat dengan rapi oleh Wu Song.
Isi surat Wu Song pada dasarnya hanya berpesan agar Lu Ping menjaga dirinya dengan baik, seperti kalau habis berlatih malam jangan lupa memasak air panas untuk mandi.
Kalau mau tidur jendela jangan lupa ditutup, jangan lupa pakai selimut kalau mau tidur, jangan memasuki hutan terlarang sendirian tanpa membawa Lu Fan.
Perhatian-perhatian yang biasanya tidak pernah dia rasakan, kini terasa sangat menyentuh.
Tanpa sadar Lu Ping mulai mengingat setiap kebaikan dan perhatian tanpa pamrih dari Wu Song kepadanya.
Bahkan tidak jarang Wu Song sering membelanya dari kejahilan Lu Fan yang nakal.
Lu Fan memang nakal dan jahil, juga tidak takut pada siapapun, tapi dia sangat penurut dan menghormati Wu Song.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
surat perpisahan yang mengharukan
2023-09-22
0
Sudar Manto
😭😭😭😭
2022-09-22
1
Noer Hadi
jos
2022-09-10
1