Ibu Ceng Ceng memberi tanda kepada para pasukan agar melepaskan Wu Song.
Tapi mereka ragu, mereka melihat kearah pangeran Si Ma Ong yang duduk gagah diatas kuda nya.
Si Ma Ong mengangguk kearah pasukannya, mereka pun segera melepaskan Wu Song, yang langsung jatuh terkulai diatas tanah.
Seluruh tubuhnya penuh darah, dari kepala, wajah bersimbah darah.
Ceng Ceng menangis sedih sambil memangku kepala Wu Song dalam pangkuannya.
Ceng Ceng tidak perduli bajunya menjadi kotor terkena darah Wu Song.
Ceng Ceng menangis sedih sambil berusaha membersihkan darah di wajah Wu Song.
Mata Wu Song yang bengap di pukuli sedikit terbuka, dia mengulurkan tangannya menghapus airmata di wajah Ceng Ceng sambil berkata,
"Aku.. aku tidak apa-apa...kamu jangan bersedih..lagi...sayang...jangan menangis..."
Wu Song berbicara tersendat-sendat menahan sakit, dalam kondisi seperti itu dia masih berusaha menghibur dan menenangkan Ceng Ceng.
"Suamiku jodoh diantara kita kelihatannya harus berakhir sampai disini saja."
"Aku berjanji akan berusaha merawat anak kita sampai besar."
"Aku akan menceritakan padanya ayahnya adalah seorang pria yang sangat baik dan sangat dapat di andalkan."
"Tidak Ceng Ceng... kita tidak boleh berpisah.."
"Kamu dengarkan aku Song ke ke... hiduplah dengan baik.. lupakanlah diriku...
Kelak anak kita akan datang mencari mu...
Demi keselamatan mu jangan sekali kali kamu datang mencari ku lagi..."
Maafkan aku Ceng Ceng... aku sungguh pria tidak berguna...., aku bahkan tidak dapat menjaga istri ku sendiri...
"Tidak sayang ini bukan salah mu, aku yang melibatkan mu, sampai kamu jadi seperti ini.
Ini salahku, aku yang terlalu egois memaksa mendapatkan cinta mu."
Lupakanlah aku, hidup lah dengan baik, carilah wanita lain yang lebih pantas untuk mendampingi hidup mu.
"Tidak...tidak.. Ceng Mei... jangan tinggalkan aku...!" teriak Wu Song berusaha menahan Ceng Ceng tapi dia terlalu lemah dan tidak berdaya.
Ceng Ceng melepaskan Wu Song dari pangkuannya dengan penuh linangan air mata.
Ceng Ceng meletakkan kepala Wu Song dengan hati-hati dan pelan-pelan diatas tanah berumput.
Lalu dia membalikkan badan menangis tersedu-sedu dan menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya.
Ceng Ceng berlari meninggalkan Wu Song yang terus memanggil namanya.
Ceng Ceng sama sekali tidak berani melihat kebelakang menatap Wu Song, dia takut hatinya tidak akan rela pergi dan berpisah dengan Wu Song.
Hal itu bisa mencelakai dan membuat Wu Song terbunuh.
Ceng Ceng kemudian naik kereta yang sudah di siapkan untuknya, Ceng Ceng duduk didalam kereta dan menangis sedih dalam dekapan ibunya.
Kereta pun perlahan-lahan berangkat meninggalkan tempat tersebut.
Para pasukan yang sudah mendapatkan instruksi sebelumnya dari pangeran Si Ma Ong.
Langsung menyeret Wu Song tanpa belas kasihan melempar tubuh nya ke sebuah jurang yang sangat dalam bahkan tidak terlihat dasarnya.
Hanya ada kabut dan awan tipis yang menutupi mulut jurang yang gelap.
"AARRGGHHH....!!"
Terdengar teriakan putus asa dan tidak berdaya dari Wu Song.
Salah seorang pasukan yang tidak tega melihat nasib tragis Wu Song.
Dia membuat sebuah papan nisan di pinggir jurang untuk mengenang Wu Song.
Tertulis di papan itu, MAKAM PEMUDA MALANG WU SONG
Setelah membuatkan papan makam, prajurit tersebut berlari mengejar teman-temannya yang sudah bergerak duluan menuju CHANG AN.
Lu Ping yang tidak berhasil menemukan Wu Song kembali ke lembah uring-uringan.
Melihat Lu Ping yang sering murung dan duduk seorang diri melamun .
Xue Yen yang khawatir dengan sikap Lu Ping akhir-akhir ini.
Meminta suaminya Lu Sun agar mengantar Lu Ping kembali ke LUO YANG untuk mencari Wu Song.
Lu Sun tidak berani menolak, dia langsung menggunakan Jin Tou Yun membawa Lu Ping kembali ke LUO YANG mencari kabar Wu Song.
Lu Ping terlihat kembali bersemangat setelah tahu ayahnya lah yang akan turun tangan membantunya mencari Wu Song.
Lu Sun mengajak Lu Ping mendatangi sebuah restoran yang paling terkenal di kota LUO YANG.
"Ayah kita mau mencari orang atau mau mengisi perut ayah yang rakus? awas kalau ayah tidak serius membantuku."
"Aku akan laporkan pada Ibu dan kakek Cow Bing Sien."
"Kamu anak brengsek cuma tahu nya mengancam ayah.
Dari kecil sampai besar tidak pernah berubah."
"Itulah makanya ayah ingin cepat-cepat mengawinka mu dengan Wu Song biar anak itu menggantikan posisi ayah yang tidak enak ini."
"Ayahhh...!!" teriak Lu Ping tidak puas.
Lu Sun tersenyum penuh kemenangan lalu berjalan masuk kedalam Restoran sambil berkata,
"Kalau kamu mau mencari informasi tentang suamimu itu, di sinilah tempatnya. Tinggal pasang mata dan telinga baik-baik informasi itu akan datang dengan sendirinya."
Lu Ping meski tidak puas dengan ejekan ayahnya, tapi harus dia akui kata-kata ayahnya sangat tepat.
Mungkin disinilah dia akan mendapatkan informasi tentang Wu Song.
Lu Sun mencari sebuah tempat duduk yang strategis, dan memesan beberapa macam jenis lauk terenak dan terkenal di restoran ini.
Setelah itu dia mulai memasang telinga mendengarkan cerita dari setiap meja.
Sambil makan Lu Sun terus memasang telinga mendengarkan percakapan setiap meja.
Akhirnya Lu Sun mendengar kehebohan yang terjadi di kediaman perdana menteri Si Ma Jian.
Lu Sun mendengarkan dengan seksama setiap pembicaraan orang-orang itu.
Akhirnya Lu Sun menyimpulkan dia harus menemui perdana menteri itu.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak.
Lu Sun dan Lu Ping saling pandang mereka memiliki pemikiran yang sama harus mengunjungi kediaman perdana menteri yang sudah pensiun itu.
Lu Ping langsung berdiri dan ingin pergi ke kediaman Perdana menteri tapi Lu Sun menahannya.
Lu Sun menunjuk makanan yang dia pesan, Lu Ping terpaksa duduk kembali dengan mulut cemberut.
Melihat tingkah santai ayahnya yang makan dengan lahap seakan lupa sama keadaan sekitarnya.
Lu Ping hanya bisa diam menahan kesal, sambil menunggu Lu Sun menyelesaikan makannya.
Ketika Lu Sun sedang asyik makan, tiba-tiba Restoran kedatangan serombongan biksuni muda yang di pimpin oleh seorang biksuni yang sangat cantik dan anggun.
Lu Sun yang sedang makan menjadi tersedak, melihat pimpinan biksuni tersebut.
Lu Ping sedikit heran menatap sikap Ayahnya yang sangat tidak biasa ini.
Dia jadi menatap curiga biksuni itu dan ayahnya.
Ketika pimpinan biksuni itu berjalan melewati meja Lu Sun dan Lu Ping.
Secara tidak sengaja dia melirik ke meja tersebut.
Sepasang mata bertemu, biksuni itu menghentikan langkahnya seluruh tubuhnya gemetar air mata tiba-tiba berderai membasahi wajah biksuni tersebut.
Lu Sun sendiri tidak bisa berkata-kata, dia hanya terbelalak menatap biksuni cantik tersebut.
Setelah diperhatikan lebih teliti, Lu Ping merasa heran wajah biksuni ini kenapa begitu mirip dengan ibu tirinya Siau Ching.
Untuk menutupi rasa Canggung di depan anaknya Lu Sun pun berkata,
"Ehmm,, bagaimana... kabarmu...?"
Kamu.. kamu.. menanyakan kabarku? menurut mu setelah kamu menghilang bagaimana kabar dan nasib ku apa kamu masih perduli....?!" tanya biksuni cantik itu sedikit emosi dan air mata terus mengalir membasahi wajahnya.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
cari kabar wu song dapatnya mantan yang sudah jadi biksuni
2023-09-22
0
Sudar Manto
hhhh
2022-09-22
1
Manurung Tongah
kenangan yang tak pernah terlupakan
2022-04-29
2