Wu Song terus melatih dan mendalami kitab ke 4, sejak Wu Song menguasai kitab kedua dengan sempurna setiap hari Wu Song dengan mudah berburu beberapa ekor burung yang berada dalam radius 100 Li dengan Irama Suling nya.
Sehingga Wu Song dapat menikmati daging burung bakar sederhana di gua tersebut
Suatu hari secara tidak sengaja di bekas lubang di mana ke 4 kitab ini di simpan.
Wu Song melihat sebuah benda hitam sedikit menyembul di lubang itu.
Wu Song merasa penasaran dia mengorek lubang itu menjadi lebih besar dan dalam hasilnya Wu Song menemukan sebuah seruling Hitam mengkilat Wu Song sendiri tidak tahu Seruling tersebut terbuat dari bahan apa.
Hanya saja seruling tersebut terlihat kokoh dan kuat, ketika di coba dipukulkan ke batu karang tebing, batu karang didepan Wu Song hancur berkeping-keping, tanpa di salurkan tenaga sakti kedalam seruling Hitam itu.
Wu Song mencoba memapas dinding batu supaya air bersih yang mengalir dari dinding tebing bisa lebih besar dan banyak.
Dengan mudah seruling itu memapas dan melubangi Dinding karang yang keras, sehingga air yang keluar lebih banyak dan deras.
Ketika Wu Song mencoba bersilat Memainkan jurus Awan dan Angin Kaligrafi Indah dengan suling Hitam tersebut hasilnya sangat baik dan lancar.
Suling itu juga mengeluarkan suara yang dapat mengganggu konsentrasi musuh ketika di mainkan Wu Song.
Wu Song mencoba memainkan Irama Suling pencabut nyawa dan Sukma. Hasilnya sangat mengerikan bahkan burung yang terbang berjarak 200 Li lebih bisa jatuh terkena irama suling.
Suara suling yang di hasilkan suling hitam ini lebih tajam dan kuat dan sangat mengerikan.
Suling itu seakan dapat mengeluarkan aura yang dapat mengintimidasi area sekitarnya.
Wu Song sangat senang mendapat kan senjata pusaka ini.
Senjata Pusaka Dewa ini adalah milik Dewa Han Xiang Zi, salah satu dari delapan dewa yang di kalahkan oleh Ling Bao Thian Cun.
Melihat kekuatan dan keunikan suling tersebut Ling Bao Thian Cun tertarik dan memintanya dari Dewa Han Xiang Zi.
Bahan dasar seruling ini berasal dari batu meteor langit yang sangat keras.
Setelah ditempa selama puluhan ribu tahun baru suling ini bisa tercipta.
Suling ini awalnya milik Pan Gu Ta Sien, yang setelah tubuh kasarnya hancur. dia meninggalkan jasad kasarnya di bumi, jasad halusnya naik ke surga menjadi Yu Se Thian Cun dengan membawa suling ini.
Karena melihat kebaikan dan kemahiran Han Xiang Zi dalam bermain suling, Yu Se Thian Cun menghadiahinya seruling ini.
Wu Song setelah berlatih sekian lama tetap tidak berhasil mencapai tahap kesempurnaan.
Dia baru menguasai 70 persennya ilmu di kitab ke 4 tersebut, meski baru menguasai 70 persen tapi dia sudah bisa hilang dan muncul tiba-tiba ditempat yang dia inginkan saking cepatnya pergerakan yang di milikinya dia seperti bisa hilang dan muncul tiba-tiba.
Wu Song sangat khawatir dengan Ceng Ceng Istrinya yang kini dia tidak tahu gimana keadaannya.
Jadi asalkan dia bisa keluar dari tempat ini, dia akan pergi menemui dan melepaskan Ceng Ceng dari Pangeran kejam itu.
Wu Song mencoba ilmu barunya untuk sampai ke atas tebing di pinggir jurang.
Begitu Wu Song mengerahkan ilmunya tubuh nya langsung menghilang dan muncul di pinggir jurang tempat makam kenangan dirinya berada.
Sebenarnya ini bukan percobaan Wu Song yang pertama kali untuk nyampai ke pinggir jurang.
Sejak Wu Song menguasai 40 persen ilmu meringankan tubuh nya, Wu Song sudah mulai mencobanya.
Setelah mencoba beberapa kali, Wu Song yakin bila sudah menguasai 70 persen dia akan bisa muncul dipinggir Jurang dengan ilmunya.
Wu Song tidak tahu siapa pembuat makam kenangan ini, yang jelas pasti salah satu pasukan yang masih memiliki hati nurani, pikir Wu Song di dalam hatinya.
Perlahan-lahan Wu Song meninggalkan tempat tersebut menuju pondok tempat tinggal dirinya dan Ceng Ceng.
Wu Song masuk kedalam pondok dan melihat setiap sudut di dalam pondok tersebut, Wu Song mengingat dengan jelas setiap kenangannya bersama Ceng Ceng ketika tinggal di tempat ini.
Wu Song merasa adalah pria yang paling bahagia di dunia ini ketika bisa hidup bersama Ceng Ceng.
Wu Song teringat bagaimana Ceng Ceng sering mengusap wajahnya yang penuh keringat sehabis pulang dari kebun.
Bagaimana Ceng Ceng dengan penuh kasih sayang memandikan dan menemaninya mandi.
Mengeringkan badannya dengan kain kering, membantunya berpakaian dan menggandeng mesra tangannya, menuju pondok untuk makan siang bersama.
Wu Song melihat kursi di depan pondok yang sering dia pakai duduk bersama Ceng Ceng dimana Ceng Ceng sering berbaring manja dalam pelukan nya sambil ngobrol dengannya.
Wu Song masuk ke kamar yang merupakan kamar pengantin malam pertama dan tempat istirahat dia bersama Ceng setiap malam.
Lalu Wu Song pergi ke dapur, di sini Ceng Ceng sering berdiri di belakang nya menemaninya masak.
Wu Song akhirnya tidak tahan sambil bercucuran air mata dia menatap awan putih yang sedang berarak tertiup angin.
Di sana juga kembali muncul wajah Ceng Ceng yang sedang tersenyum sedih menatap nya untuk yang terakhir kali.
Wu Song akhirnya memejamkan matanya, mengingat ajaran di kitab pertama yang mengajarkan nya cara menenangkan hatinya yang sedang diliputi kesedihan.
Pelan-pelan perasaan Wu Song mulai tenang.
"Kakak Wu Song... Kakak Wu Song...!!"
terdengar teriakan seorang pemuda yang ditemani seorang gadis cantik yang berjalan dengan kepala tertunduk malu-malu disamping pemuda tersebut.
Tapi meski malu-malu tapi gadis itu tersenyum bahagia menatap Wu Song.
Gadis itu adalah Lu Ping dan pemuda di sebelah nya adalah Lu Fan adiknya.
Wu Song terkejut mendengar suara Lu Fan yang sedang memanggil nya.
Wu Song membuka matanya dan menoleh kearah Lu Fan, Wu Song berdiri terpaku menatap gadis yang ada disebelah Lu Fan.
Melihat Wu Song terpaku menatap dirinya, gadis itu dengan malu-malu mempercepat langkahnya lalu menubruk kedalam pelukan Wu Song.
Gadis itu menangis sambil meminta maaf kepada Wu Song atas sikapnya dulu.
Wu Song dengan penuh kasih sayang membelai rambut Lu Ping sambil berbisik,
"Aku tidak pernah menyalahkanmu Kakak Ping."
"Semua yang kamu katakan benar, aku terlalu lemah.
Melindungi diri sendiri saja tidak bisa, apa hak ku untuk hidup dan bersanding dengan kakak Ping."
Lu Ping menutup bibir Wu Song dengan dua jarinya yang lentik sambil tetap merangkul Wu Song, lalu berkata.
"Tidak Song ke ke, aku sudah menyadari nya kamu lah pria yang terbaik selain ayah dan adikku, melewatkan mu adalah kebodohan terbesar dalam hidupku."
"Mulai saat ini aku akan mencintai dan menyayangi mu apa adanya, ayo ikut aku ke lembah dan kita meresmikan pernikahan kita."
"Setelah itu kita bisa hidup bersama sampai hari tua Song Ke ke."
Kamu jangan panggil aku kakak Ping lagi, panggil aku Ping er saja." ucap Lu Ping antusias.
Wu Song perlahan-lahan menjauhkan tubuh Lu Ping sambil berkata,
"Maafkan aku Ping er, aku kini sudah punya istri dan dia sedang mengandung anakku saat ini."
"Hubungan diantara kita sudah tidak dapat di lanjutkan lagi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
kalau yang ini kayaknya bukan mimpi deh
2023-09-23
0
Sudar Manto
😜😜😜😜
2022-09-22
1
Manurung Tongah
kenangan yang tak pernah terlupakan
2022-04-29
2