Para tamu di restoran mulai mengalihkan pandangan mereka menatap ke meja Lu Sun.
Termasuk rombongan biksuni muda mereka juga menatap setengah tidak percaya melihat tingkah laku guru mereka.
Lu Sun yang merasa canggung menjadi pusat perhatian terpaksa berdiri meninggalkan makanan kesukaan nya yang belum habis.
Dengan tangan kiri Lu Sun menggandeng tangan biksuni itu menuju taman Restoran yang sepi dan tersedia beberapa tempat duduk.
Lu Ping menatap tidak percaya sampai mengucek-ngucek matanya, begitu juga rombongan biksuni muda itu.
Mereka juga melongo melihat guru mereka di gandeng pemuda tangan satu itu, guru nya terlihat begitu penurut tidak ada perlawanan Sama sekali, berjalan mengikuti pemuda tangan satu itu menuju taman.
Lu Ping cepat-cepat bergerak menyusul ayahnya dari belakang.
Lu Sun mengajak biksuni itu duduk, biksuni itu menurut tapi dia menangis sesenggukan sambil berkata,
"Sun ke ke jahat, kenapa tidak pernah datang mencari ku?"
Lu Sun menghela napas panjang perlahan-lahan berkata, "semua sudah menjadi masa lalu, kenapa kamu harus terus mengingat nya."
"Sun ke ke kamu menyuruh ku melupakan nya? aku tanya padamu kamu sendiri apakah bisa melupakan nya..?"
Lu Sun menengadah menatap langit dengan sedih berkata,
"Bila sudah pergi seharusnya jangan menyseali nya lagi."
"Karena menyesal pun tidak dapat menahan kepergiannya.
Jodoh itu sejak awal sudah sirna sejak anda memunggunginya."
"Bila sudah pergi jangan pernah menyesal.
Karena menyesal pun diantara kita sudah tidak bisa menikmati nya lagi."
"Seharusnya saat itu kamu menyayangi apa yang sudah kamu miliki.
Bila kamu tidak menyayangi nya
Itu berarti kamu tidak pantas
Memiliki nya."
Mendengar kata-kata Lu Sun meledak lah tangisan biksuni itu, dia menubruk dan membenamkan kepalanya menangis tersedu-sedu di dada Lu Sun yang bidang.
Pelan-pelan biksuni itu berkata dalam tangisan sedu sedan nya,
"Aku yang bersalah, aku sudah melewatkan sebutir mutiara yang ada dalam genggaman ku."
"Aku sangat menyesal Sun ke ke.
Tapi sampai kapan pun aku tidak pernah bisa melupakan semua kebaikan mu padaku Sun ke ke."
"Karma semua adalah karma yang ku perbuat, sehingga saat ini saya harus menjalani nya sendiri."
"Dan harus belajar melepaskan mu Sun ke ke, meski berat tapi aku akan terus mencobanya."
Pelan-pelan biksuni itu mulai tenang dan melepaskan pelukannya dari Lu Sun.
Tapi ketika dia melirik dan mendapati tangan kanan Lu Sun yang kosong.
Dia kembali terbelalak pucat meraih lengan baju sebelah kanan Lu Sun yang kosong.
Dengan nada gemetar biksuni itu bertanya,
"Ke.. kenapa dengan lengan kananmu, apa yang terjadi Sun ke ke?
airmata kembali menetes membasahi wajah biksuni itu."
Lu Sun menghela napas lalu pelan-pelan menceritakan masalah nya dengan Giok Lan putri Kaisar Langit.
Wajah biksuni itu tampak merah padam, dia terlihat sangat marah dan geram,
"Sundal Betina itu berani melakukan hal ini padamu, kalau bertemu aku tidak akan mengampuninya."
"Sudahlah Ting Mei, dia juga cukup kasihan, selain kegagalan cintanya dia juga hidup dalam perasaan bersalah dan menyesal.
Dia juga tidak berharap aku akan seperti ini.
Bukan itu yang dia inginkan.
Lagipula dia saat ini juga masih dikurung Kaisar Langit tidak tahu sampai kapan baru bisa bebas."
"Tapi lengan mu, Sun ke ke" ucap Biksuni cantik itu sedih.
Lu Sun tersenyum sambil melihat lengan bajunya, lalu berkata
"Ting Mei, tahukah kamu berkat lengan ini, aku bisa kembali berkumpul dengan istri pertama ku Siau Ching yang ternyata masih hidup."
"Selain itu aku juga bisa berkumpul kembali dengan istri kedua ku Xue Yen dan putriku Lu Ping." ucap Lu Sun bahagia sambil melambaikan tangan nya menyuruh Lu Ping duduk di dekat nya.
Biksuni cantik itu mengangkat kepalanya melihat kearah Lu Ping.
"Sangat cantik mirip dengan ibunya."
"Aku sangat iri dengan mereka berdua Sun ke ke, benar kata-kata nenek dulu aku akan menyesal seumur hidup bila melewatkan dirimu Sun ke ke," ucap Biksuni cantik itu tertunduk sedih.
Siapakah biksuni cantik ini? saya yakin pembaca setia Legenda Jendral Naga Hitam, pasti masih ingat dengannya.
Dia adalah Putri Sun Ting, mantan tunangan Lu Sun, banyak suka duka diantara mereka berdua yang sulit terurai dan dilupakan begitu saja oleh mereka masing-masing.
Ting Mei aku masih ada hal penting yang harus di urus, senang bertemu dengan mu.
Lain hari kalau ada jodoh kita baru bincang-bincang lagi.
Saya permisi dulu, ucap Lu Sun lalu berkelebat pergi sambil membawa Lu Ping.
Setelah pergi jauh Lu Sun dengan sedikit sungkan berkata, "Ping er, kejadian barusan tolong jangan sampai di ketahui oleh ibu mu ya."
Sambil tersenyum nakal Lu Ping berkata,
"Itu tergantung bagaimana ayah menemukan Wu Song untuk ku, bila tidak hmmm."
"Anak kurang ajar kamu berani mengancam ayahmu sendiri." Lu Sun mengangkat tangannya siap memberi jeweran pada telinga Lu Ping.
Tiba-tiba Lu Ping berteriak "ibu lihat ayah setelah berselingkuh dengan biksuni cantik dia ingin menjewer ku untuk tutup mulut."
Lu Sun terkejut dia celingukan melihat kekiri ke kanan depan dan belakang.
Lu Ping menjauh kemudian tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.
Lu Sun yang sadar telah dijebak putrinya, hanya bisa mengomel,
"Bocah nakal kualat kamu nanti berani mempermainkan ayahmu."
Sambil bercanda mereka ayah dan anak bergerak menuju kediaman perdana menteri Si Ma Jian.
"Sun Ting tertunduk lesu, melihat Lu Sun pergi Sun Ting merasa separuh jiwanya ikut terbawa pergi."
Sambil menghela nafas panjang, perlahan-lahan dia berjalan kearah rombongan biksuni muda yang sedang menunggunya.
Mereka hanya melihat mata guru mereka yang sembab dan bengkak merah.
Mereka semua menunduk tidak berani banyak bertanya, cepat-cepat melanjutkan makan mereka.
Lu Sun yang sampai didepan gedung kediaman perdana menteri segera menyampaikan keinginannya untuk bertemu Perdana Menteri.
Begitu Lu Sun menyebutkan nama nya, para penjaga sangat terkejut dan berlarian masuk kedalam mengabari Si Ma Jian.
Si Ma Jian segera mengundang Lu Sun bertemu diruang tamu.
Begitu bertemu Si Ma Jian memberi hormat hampir berlutut, tapi Lu Sun mencegahnya.
Lu Sun secara terus terang menceritakan maksud kedatangannya yang ingin mencari tahu kabar Wu Song muridnya.
Mendengar Wu Song ternyata adalah murid Lu Sun, seluruh tubuh Si Ma Jian gemetaran.
Dalam hati dia mengutuk, ke brutalan anaknya dan pangeran ke 4, sekarang bagaimana mau mempertanggung jawabkan nya dengan Lu Sun.
Bila sampai Dewa Perang ini marah dalam beberapa bulan Seluruh Dinasti Jin akan di hapus nya dari muka bumi.
Bahkan Si Ma Yi pun tidak berani menyinggung orang yang berdiri di hadapan nya ini.
Si Ma Jian berpikir keras bagaimana akan menjawab pertanyaan Lu Sun.
Dia berada dalam dilema jujur salah tidak jujur apalagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
ternyata ada suami takut istri ya disini
2023-09-22
0
Sudar Manto
bingung
2022-09-22
1
Manurung Tongah
ikatan persaudaraan
2022-04-29
2