Sementara itu Lu Fan dan Lu Ping kakaknya, mereka telah selesai mengunjungi Pulau Es.
Lu Ping yang tidak sabar ingin menemui Wu Song dan meminta maaf padanya. Tidak siang tidak malam terus mendesak adiknya pulang Ke IbuKota LUO YANG.
Sedangkan Lu Fan yang sangat menyukai ilmu silat bertemu Kakek Cow Bing Sien yang memiliki pengalaman dan berbagai macam ilmu silat aneh-aneh.
Dia sangat betah di Pulau Es, dan ingin mempelajari semua nya.
Bahkan dia sangat penasaran dengan Gua Terlarang, tapi setelah mendengar penjelasan dari Bing Sien, bahwa selain keturunan langsung dari Pulau Es tidak boleh memasuki tempat itu, dia menjadi kecewa.
Untuk mengurangi rasa kecewanya, Bing Sien menceritakan bahwa cucunya Xue Yen atau Ibu Tirinya Lu Fan adalah satu-satunya orang yang berhasil menguasai ilmu di Gua Terlarang.
Kabar inilah yang membuat Lu Fan bersedia meninggalkan Pulau Es, dan ingin cepat-cepat mengantar kakaknya ke LUO YANG, setelah itu dia ingin cepat-cepat kembali ke lembah.
Merengek pada Ibu Tirinya Xue Yen yang dari kecil sangat memanjakan nya dan tidak pernah menolak permintaannya.
Agar bersedia mengajarinya 1 atau 2 jurus ilmu yang membuatnya penasaran.
Lu Fan sebenarnya bukan ingin mempelajari, dia lebih tertarik memecahkan rahasia jurus yang aneh-aneh, kemudian dia akan menciptakan jurus untuk mengantisipasi dan mengalahkan jurus tersebut.
Lu Fan adalah penggila ilmu silat sejati, hampir semua ilmu yang di milikinya berhasil dia pecahkan .
Kecuali 3 jurus Wu Kung setengah jurus pun dia tidak sanggup memecahkannya, karena terlalu dahsyat dan hampir tidak mungkin bisa di antisipasi.
Sedangkan jurus Naga Sakti Meradang milik ayahnya dia cuma berhasil memecahkan 8 dari 10 jurus tersebut.
Supaya bisa cepat-cepat pulang ke lembah Lu Fan menggunakan Jin Tou Yun sehingga bisa mempersingkat perjalanan mereka dari Pulau Es ke LUO YANG.
Lu Ping sangat senang baginya lebih cepat lebih baik, agar bisa segera bertemu Wu Song.
Tapi Lu Ping harus kecewa, setelah sampai di LUO YANG dia tetap tidak bisa menemukan Wu Song.
Dia hanya tahu dari beberapa peserta ujian yang mengenal Wu Song.
Bahwa Wu Song memang ikut mendaftar dan ikut ujian, tapi Wu Song tidak lulus.
Setelah itu mereka pun tidak tahu lagi, kemana Wu Song pergi.
Dan bagaimana nasib Wu Song selanjutnya mereka tidak ada yang tahu.
Dengan kecewa akhirnya Lu Ping terpaksa menuruti permintaan Lu Fan untuk pulang ke lembah.
Meski penasaran Lu Ping juga tidak berdaya, akhirnya dia dengan kecewa dan terpaksa ikut Lu Fan kembali ke lembah.
Kenapa Lu Ping tidak berhasil menemukan Wu Song, ini karena undangan Perdana Menteri ke Wu Song bersifat rahasia.
Kedua Wu Song sejak masuk ke kediaman Perdana menteri dia tidak pernah sekalipun meninggalkan gedung, hari-hari selalu dia gunakan untuk bekerja main suling dan istirahat.
Kedua Hal inilah yang membuatnya seperti hilang di telan bumi.
Wu Song setelah termenung cukup lama mengenang masa lalu nya, Dia mengeluarkan sebuah seruling bambu dan meniupkan sebuah alunan musik yang sendu dan sedih.
Suara alunan seruling yang ditiup oleh Wu Song, mengalir terbawa angin sampai terdengar jelas di kamar Ceng Ceng.
Ceng Ceng yang sedang berbaring di kasur tapi belum tidur, merasa terhanyut perasaan nya mendengar alunan suara seruling yang ditiup oleh Wu Song.
Tanpa sadar karena penasaran, Ceng Ceng bangun dari kasurnya lalu berjalan mengikuti asal suara seruling itu.
Akhirnya suara seruling itu membawa Ceng Ceng ke kamar Wu Song, Ceng Ceng terpana dan sedikit ragu untuk menghampiri jendela kamar Wu Song.
Akhirnya rasa penasaran mengalahkan rasa malu Ceng Ceng, dia perlahan-lahan melangkah kedepan jendela kamar Wu Song yang terbuka lebar.
Wu Song sangat terkejut ketika menyadari Ceng Ceng berdiri didepan jendela kamarnya.
"Eeh Nona Ceng Ceng maaf bila suara seruling ku mengganggu tidurmu."
Ceng Ceng langsung bereaksi menggoyang kedua tangannya kedepan,
"Tidak mengganggu sama sekali, bahkan terdengar sangat merdu dan indah sehingga aku tanpa sengaja sampai di sini." ucap Ceng Ceng polos.
"Wu Song ke ke maukah kamu besok meluangkan waktu mu mengajari ku meniup seruling." ucap Ceng Ceng tertunduk malu sambil melirik Wu Song.
Wu Song mengangguk cepat, kemudian Wu Song berpikir lalu berkata,
"Asal nona muda mendapat ijin dari kedua orang tua dan kakek mu, aku pasti dengan senang hati mengajarimu."
"Wu Song ke ke tidak perlu khawatir besok pagi ayah ibu ku, sudah harus pulang ke CHANG AN."
"Sedangkan aku masih akan tinggal di sini bersama kakek."
"Kakek pasti akan menyetujui, bila aku meminta ijin kepadanya."
Wu Song mengangguk-angguk, tanda paham.
"Kalau begitu saya permisi dulu, untuk kembali ke kamar besok aku baru datang mencari mu." ucap Ceng Ceng sambil tertunduk malu, lalu berbalik badan dan meninggalkan jendela kamar Wu Song.
Wu Song masih terbengong-bengong, tidak tahu mau berkata apa, Wu Song hanya mencium wangi tubuh Ceng Ceng yang masih tertinggal samar-samar di depan Jendela kamar Wu Song.
Wu Song tanpa sadar melongok kan kepala dan badan kedepan jendela lalu menarik napas kuat-kuat seperti akan menyedot habis semua wewangian yang di tinggalkan Ceng Ceng barusan.
Ketika Wu Song sedang melakukan tingkah konyol nya.
Terdengar suara merdu sedang menahan tawa.
Wu Song terkejut saat mengetahui Ceng Ceng ternyata belum pergi jauh dan dapat menyaksikan tingkah laku konyolnya.
Wu Song sangat malu mukanya merah seperti kepiting rebus, kalau ada lubang didepan nya rasanya Wu Song ingin melompat kedalamnya untuk bersembunyi.
Ceng Ceng sambil menahan tawa menutup mulutnya dia berkata,
"Besok sehabis makan siang jangan lupa ya Wu Song ke ke, aku akan kemari lagi."
Setelah mengatakan itu Ceng Ceng membalikkan badannya tersenyum senang meninggalkan kamar Wu Song.
Wu Song seperti kena hipnotis, mulutnya terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan suara.
Dia hanya bisa menatap bayangan tubuh Ceng Ceng sampai menghilang dari pandangan nya.
Baru dia cepat-cepat menutup jendela, dan memaki kebodohan dirinya yang begitu bodoh dan memalukan.
Wu Song memukul-mukul kepalanya sendiri berulang-ulang, sambil memaki diri sendiri. Atas tingkah konyol yang dia lakukan barusan.
Wu Song meniup mati lampu lilin dalam kamarnya, lalu berbaring di atas kasur mencoba memejamkan mata untuk tidur.
Tapi setelah bolak-balik badan sekian lama di atas kasurnya Wu Song tetap sulit tidur.
Bayangan wajah Ceng Ceng yang sedang menertawakan tingkah konyol nya barusan selalu muncul setiap kali dia menutup mata.
Wajah Ceng Ceng yang cantik semakin lama semakin jelas seperti sedang tersenyum manis padanya.
Akhirnya Wu Song tertidur juga, dan mimpi indah sedang melayang-layang di udara bersama Ceng Ceng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
jadi lupa dong dengan yang merindukannya di rumah
2023-09-22
0
Sudar Manto
manut
2022-09-22
1
Manurung Tongah
ikatan pertemanan
2022-04-28
2