Tiba-tiba awan yang membawa Wu Song dan Ceng Ceng hilang.
Wu Song kehilangan keseimbangan, Ceng Ceng terlepas dari pegangan nya dan hilang menjauh.
Wu Song sendiri terjatuh dengan keras ke atas tanah, Wu Song pun terbangun.
Dengan tubuh penuh keringat dan ternyata semua cuma mimpi.
Wu Song tertawa lega, ternyata semua cuma mimpi.
Wu Song segera bangun, pergi mandi dan sarapan di dapur.
Lalu dia pergi mengantar laporan yang sudah di buatnya ke kamar kerja kepala Pelayan Perdana Menteri.
Wu Song meletakkan semua laporan dengan rapi baru kembali ke kamarnya dan mulai mengerjakan tugas yang lainnya.
Sementara itu Ceng Ceng pagi-pagi sesudah mengantar keberangkatan orang tuanya.
Dia segera meminta ijin kepada kakek nya,
"Kek boleh tidak saya mengisi waktu luang ku, dengan belajar bermain seruling dari kak Wu Song.?'
"Boleh-boleh saja, asal kamu tidak membuat pekerjaan nya terganggu." ucap Kakeknya sambil mengelus rambut cucu kesayangan nya ini.
Dengan riang Ceng Ceng berkata, " Terima kasih Kek, kakek paling baik dan mengerti Ceng Ceng."
"HA...HA...HA...!"
"Ya sudah kamu carilah kesibukan sendiri, ada perlu apa-apa kasih tahu saja Paman Liu."
Paman Liu adalah kepala pelayan kepercayaan Si Ma Jian.
"Kakek mau bersiap-siap pergi menghadap ke Istana."
"Baik kek, kakek hati-hati di jalan.."
Ceng Ceng dengan tidak sabar langsung jalan ke kamar Wu Song.
Ceng Ceng melihat jendela kamar Wu Song sedang terbuka, Ceng Ceng menebak Wu Song pasti sedang berada di kamarnya, sibuk mengerjakan berbagai laporan.
Sesuai dugaannya, Wu Song memang terlihat sangat sibuk dan berkutat dengan setumpuk berkas.
Ceng Ceng berdiri didepan jendela Wu Song dan berkata,
"Selamat Pagi, aku tidak menganggu mu kan?"
Wu Song terkejut mendengar suara gadis yang muncul dalam mimpi nya tadi pagi.
Wu Song segera meletakkan Mao Pit nya, sambil tersenyum menatap Ceng Ceng.
Wu Song berkata,
"Tentu Tidak Nona Muda."
"Ada yang bisa saya bantu.?"
Ceng Ceng terlihat memutar-mutar matanya seperti sedang berpikir, sejenak kemudian dia pun berkata,
"Aku sedikit lapar, sarapan tadi pagi sedikit terburu-buru, karena keberangkatan ayah Ibu ku ke CHANG AN."
"Bagaimana kalau Wu Song ke ke temani aku keluar jalan-jalan, sekalian mencari sarapan.?"
Wu Song berpikir sejenak, kemudian berkata,
"Bagaimana bila ku buatkan pangsit untuk Nona saja.?"
"Kamu jangan terus memanggilku Nona Muda, risih dengarnya.
Lebih baik kamu panggil aku Ceng Ceng atau Ceng Mei juga tidak apa-apa."
"Baiklah," jawab Wu Song sambil mengangguk
"Emangnya kamu juga bisa masak..?"
tanya Ceng Ceng sedikit penasaran.
Wu Song hanya tersenyum, mendengar pertanyaan Ceng Ceng.
"Ceng Mei tunggu di dalam sini saja, aku akan pergi ke dapur menyiapkan pangsit untuk Ceng Mei.."
"Aku tidak mau, aku mau ikut ke dapur melihat mu masak."
"Tapi disana kotor dan jorok kadang ada kecoa dan tikus apa Ceng Mei tidak takut..?"
Ceng Ceng membusungkan dadanya yang memang sudah menonjol kedepan sambil berkata,
"Aku tidak takut kan ada Wu Song ke ke yang menjaga ku."
Wu Song hanya bisa menelan ludah melihat tingkah Ceng Ceng didepannya.
Kemudian Wu Song berkata,
"Baiklah kalau begitu kita sekarang ke dapur saja."
Wu Song kemudian keluar dari kamarnya menutup pintu, lalu berjalan menuju dapur, di ikuti Ceng Ceng yang berjalan sambil tersenyum di belakang nya.
Sesampai di dapur, Wu Song meminjam pakaian memasak koki dapur yang tergantung rapi di sana.
Lalu Wu Song mengambil tepung dan semangkok air putih, Wu Song mulai membuat adonan kulit pangsit.
Setelah kulit pangsit jadi, Wu Song mulai mencincang daging ayam udang dan bab* yang tersedia di dapur sampai halus.
Dilanjutkan dengan mengiris daun bawang yang juga diiris halus bersama bawang putih yang juga dicincang halus, kemudian Wu Song mencampurkan semua cincangan daging daun bawang dan bawang putih cincang setelah semuanya di aduk merata bersama garam dan penyedap rasa.
Wu Song mulai menaruh adonan ditengah kulit pangsit lalu melipatnya, sambil melipat kulit Pangsit Wu Song menyiapkan air panas untuk merebus pangsit.
Akhirnya Pangsit Wu Song pun matang dan siap di sajikan, Wu Song menyajikan dalam dua varian.
Yang satu disajikan dalam bentuk kering, tapi lembut dan kenyal.
Yang satu lagi di sajikan dalam semangkuk sup pangsit, dimana pangsitnya halus dan lembut juga wangi.
Wu Song menaburkan bawang putih goreng diatas kedua varian pangsit tersebut membuat pangsit buatan Wu Song sangat Wangi dan menggugah selera.
Ceng Ceng sejak tadi menatap proses pembuatan kulit sampai proses memasak Wu Song dengan takjub dan kagum.
Kini setelah semua selesai dan tersaji di hadapannya, dengan tidak sabar Ceng Ceng menggunakan sepasang sumpit yang di siapkan Wu Song untuknya.
Dia mengambil sebuah pangsit kering dan memasukkan kedalam mulutnya yang kecil mungil menggemaskan.
Sesaat kemudian dia menatap Wu Song dengan terbelalak dan mengacungkan jempol nya.
Setelah mencoba beberapa kali suapan Pangsit kering.
Kini dia beralih menggunakan sendok kuah dan mulai mencicipi pangsit kuah buatan Wu Song.
Dia kembali terbelalak menatap Wu Song dengan sepasang matanya yang indah.
Lagi-lagi dia mengacungkan jempol jarinya kearah Wu Song, dia memakannya satu persatu dengan lahap.
Akhirnya Ceng Ceng tersenyum puas sambil mengelus perutnya yang sedikit kekenyangan.
Ceng Ceng kemudian menarik Wu Song meninggalkan dapur, Ceng Ceng membantu Wu Song menyelesaikan laporan nya.
Ceng Ceng membantu Wu Song mengerjakan semua laporan di bawah arahan Wu Song.
Setelah beberapa waktu membantu Wu Song, Ceng Ceng akhirnya tertidur kecapekan di atas meja kerja.
Wu Song menggendong nya perlahan-lahan memindahkan nya ke kasur Wu Song agar bisa tidur lebih nyaman.
Kemudian Wu Song kembali melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian Ceng Ceng terbangun dia menatap Wu Song yang masih bekerja dengan serius.
Ceng Ceng menatap Wu Song dengan kagum, kini kekaguman nya kepada Wu Song semakin besar.
Tanpa di sadari nya perasaan cinta mulai tumbuh di hatinya.
Tak lama kemudian Wu Song pun menyadari Ceng Ceng sudah bangun.
Wu Song menuang segelas teh hangat lalu membawanya ke Ceng Ceng dan berkata,
"Ceng Mei minumlah kamu pasti haus setelah bangun tidur."
Ceng Ceng menerima nya dengan perasaan haru, dia dapat merasakan perhatian yang tulus dari Wu Song kepadanya.
Ceng Ceng berpikir dalam hatinya, bisa menikah dengan pria seperti Wu Song lah kebahagiaan terbesar dalam hidup.
Di saat bersaman Ceng Ceng dalam hati juga sedang berpikir bagaimana cara dia menolak pernikahan dengan pangeran ke 4.
Agar dia bisa memilih Wu Song pria yang sangat di kagumi nya ini, menjadi pendamping hidupnya.
Wu Song sendiri tidak berani berharap banyak apalagi bermimpi menjadi pasangan Ceng Ceng.
Meski hatinya pengen tapi dia tidak berani, dan menyadari posisi dirinya sendiri saat ini.
Wu Song hanya bisa menekan perasaannya dalam-dalam dan tidak berani berpikir terlalu banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
tuan putri yang bingung dengan perasaannya sendiri
2023-09-22
0
Sudar Manto
kasian
2022-09-22
1
Manurung Tongah
kebersamaan
2022-04-28
2