Setelah itu Wu Song baru berkata,
"Kamu lihat kan, bila saat ini tidak ada kamu di sisi ku."
"Aku mau bermesraan dengan siapa,? mengobrol dengan siapa,? jadi aku benar-benar sangat bersyukur kamu hadir dalam hidupku Ceng Mei."
"Aku tidak menipumu, semua ucapan ku adalah murni datang dari dalam hati ku sayang."
Mendengar penjelasan Wu Song hati Ceng Ceng sangat bahagia, dia merasa dia tidak salah memilih Wu Song menjadi pendamping hidup nya.
Wu Song adalah pria yang selain gagah tampan juga sangat dapat diandalkan, dan dijadikan sandaran hidup nya.
"Song ke ke tapi aku merasa sangat gagal sebagai istri, aku tidak bisa memasak dan mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga."
"Semua itu perlu penyesuaian dan proses belajar, semua itu membutuhkan waktu.
Aku lihat perkembangan mu sangat cepat, kurasa Minggu depan kamu pasti sudah bisa masak nasi dan lauk untuk makan kita berdua." ucap Wu Song menghibur sambil memberi semangat pada Istrinya.
Wu Song tiba-tiba tersenyum nakal dan berbisik di telinga Ceng Ceng,
"Kalau pun semua hal kamu tidak bisa, aku juga tidak keberatan Ceng Mei.
Karena menurutku kamu punya satu hal yang sangat memuaskan ku."
Ceng Ceng menatap Wu Song dengan curiga, lalu bertanya dengan kedua alis berkerut,
"Apa itu...?"
Sambil tertawa nakal Wu Song kembali berbisik ditelinga Ceng Ceng.
Wajah Ceng Ceng seketika merah seperti kepiting rebus, ketika mendengar bisikan Wu Song,
Ceng Ceng langsung berdiri sambil berkata,
"Song Ke ke kamu sekarang semakin nakal dan tidak tahu malu, aku tidak mau perduli lagi padamu."
Setelah berkata, Ceng Ceng langsung buru-buru masuk kedalam pondok pura-pura marah pada Wu Song.
Wu Song cepat-cepat berdiri mengejar Ceng Ceng, sambil berteriak,
"Sayang... jangan marah tunggu aku.."
Wu Song segera merangkul bahu Ceng Ceng, berbisik-bisik, tertawa cekikikan, dan saling menowel, lalu mereka masuk kedalam pondok.
Tak lama kemudian dari dalam pondok terdengar suara desahan Ceng Ceng yang tidak beraturan.
Tak lama kemudian suasana kembali hening, hanya terdengar suara jangkrik dan kodok yang terus berbunyi sahut menyahut.
Sementara Wu Song dan Ceng Ceng hidup bahagia.
Di Ibukota LUO YANG terjadi kehebohan, terutama di kediaman perdana menteri.
Si Ma Jian dan Si Ma Su terlibat pertengkaran hebat.
Atas bujukan istrinya, akhirnya Si Ma Su bisa sedikit tenang dan langsung pulang ke CHANG AN memberi kabar pada pangeran ke 4 Si Ma Ong.
Perihal Ceng Ceng yang menolak pertunangan dan kabur bersama Wu Song.
Sementara Si Ma Jian pergi melapor pada Kaisar Si Ma Hui, dan menyatakan sikap nya yang mendukung keputusan cucunya.
Dan ingin mengundurkan diri pensiun dari jabatannya.
Si Ma Hui meski kecewa tapi dia mengerti, dan tidak menyalahkan Si Ma Jian dalam hal ini.
Dia bahkan menyarankan Si Ma Jian agar mempertimbangkan kembali keputusan nya yang ingin pensiun dan mengundurkan diri.
Tapi keputusan Si Ma Jian sudah bulat dia meletakkan jabatan nya dan hidup pensiun sebagai orang biasa.
Karena jasanya yang sangat banyak, apalagi dia masih termasuk kerabat keluarga kerajaan, jadi Kaisar memberikan santunan yang cukup banyak pada Si Ma Jian atas pengunduran dirinya.
Si Ma Jian sangat berterimakasih, dia mengatakan meski dia sudah tidak menjabat, bila kaisar membutuhkan sarannya setiap saat Kaisar boleh memanggil nya menghadap.
Kaisar sangat senang dengan pernyataan Si Ma Jian yang menunjukkan kesetiaannya yang sangat tinggi terhadap kaisar.
Berbeda dengan tanggapan kaisar, Pangeran ke 4 Si Ma Ong sangat marah dan merasa telah di lecehkan oleh Kelakuan Wu Song dan tunangannya Ceng Ceng.
Dia mengutus orang untuk melakukan pelacakan jejak persembunyian Wu Song dan Ceng Ceng.
Dari mata-mata yang disebar, akhirnya dia mendapatkan informasi keberadaan Wu Song dan Ceng Ceng yang bersembunyi di salah satu Puncak gunung Hua.
Maka berangkatlah Si Ma Ong dan pasukan nya, Ayah dan Ibu Ceng Ceng ikut dalam rombongan tersebut.
Wu Song dan Ceng Ceng tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai mereka.
Setelah 3 bulan hidup bersama sebagai suami istri, cinta diantara mereka semakin mendalam.
Hubungan keduanya sangat rukun dan sangat mesra.
Apalagi setelah mengetahui Ceng Ceng sedang mengandung anaknya yang berumur 3 Minggu ke bahagian kedua nya semakin lengkap.
Pagi itu Wu Song tidak pergi ke kebun, dia sedang duduk santai sambil merangkul Ceng Ceng yang duduk di sebelahnya.
Wu Song terlihat sedang menyuapi pangsit buatannya ke mulut Ceng Ceng.
Ceng Ceng makan dengan lahap dalam rangkulan Wu Song dia bersandar manja.
"Song Ke ke apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita nanti..?"
"Belum sayang, lagipula kita belum tahu jenis kelamin nya bagaimana aku dapat menyiapkan namanya."
Song ke ke kan bisa memberikan dua nama, nama laki-laki dan nama perempuan.
Wu Song terlihat sedang termenung, memikirkan nama untuk anaknya.
Tiba-tiba terdengar suara ramai langkah kaki dan teriakan,
"Tangkap...!!"
"Kepung...!!"
Wu Song sangat kaget dia segera berdiri sambil mendekap Ceng Ceng dengan erat.
Dia ingin melindungi Ceng Ceng, Apa daya dia tidak bisa bela diri.
Sehingga dalam waktu singkat dia telah kena ringkus dan terpisah dari Ceng Ceng.
Ceng Ceng hanya bisa meronta berteriak dan menangis histeris.
Melihat Wu Song yang di tangkap dan dipukuli sampai seluruh mukanya penuh darah.
Si Ma Su menghampiri Ceng Ceng dan membentak nya.
"Anak tidak berbakti, kamu sudah mencoreng nama ayah dan Pangeran ke 4 yang terhormat ayo kamu' ikut kami pulang...!!"
"Aku tidak mau....! aku cuma mau hidup bersama Song ke ke...!"
"PLAKKK...!!" Ceng Ceng di tampar Si Ma Su, yang emosi.
"Anak tidak tahu diri... bikin malu saja...!"
Istri Si Ma Su menahan Si Ma Su agar tenang, lalu dia berbisik-bisik pada Si Ma Su, akhirnya Si Ma Su menghela nafas panjang sambil berkata,
"Terserah kamu..."
Lalu dia pun pergi meninggalkan Ceng Ceng yang kini menangis dalam pelukan Ibunya.
Dengan cerdik ibunya membujuk Ceng Ceng agar ikut dengannya dan menikah dengan pangeran ke 4 untuk menutup aib dan kemarahan pangeran ke 4.
"Anak ku dengarkan lah nasehat ibu, ayo kita kembali ke CHANG AN dan jadilah istri pangeran ke 4."
"Bila tidak bukan hanya Ayah dan ibu akan dijatuhi hukuman, Wu Song pun tidak akan selamat, dia akan di pukuli sampai mati oleh para pasukan itu."
Ceng Ceng ingin membantah tapi dia tidak berdaya, dia tidak mungkin melihat Wu Song hidup-hidup di pukuli sampai mati di hadapannya.
Akhirnya Ceng Ceng pun berkata,
Baiklah aku akan ikut kalian, dan menuruti semua keinginan Ibu.
"Tapi ijinkanlah aku untuk berbicara terakhir kalinya dengan Wu Song, ucap Ceng Ceng berlinang airmata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 400 Episodes
Comments
John Singgih
akhir mimpi indah wu song dan ceng-ceng
2023-09-22
0
Sudar Manto
rumit
2022-09-22
1
Manurung Tongah
cinta yang tak direstui
2022-04-29
2