Petang itu setelah melangsungkan sholat Isya dan makan malam Rahma dan Irsyad masuk ke kamar mereka, Rahma melepas hijabnya dan melepaskan ikat rambutnya itu, ia menatap ke sebuah cermin yang tertempel pada lemari pakaian yang tidak terlalu besar.
"Rambut ku jadi menggelombang." Rahma menggerutu sembari memegangi rambutnya yang panjang sepinggang itu.
"Memangnya kenapa dek?" tanya Irsyad. "Ade tetap cantik kok, rambut dek Rahma itu bagus."
"Iya bagus, tapi tidak seperti sekarang, semenjak berhijab, rambut Rahma jadi tidak terawat." tuturnya, Irsyad pun menyunggingkan senyumnya menggeleng.
"Sudah sini duduk dekat mas."
"Tidak mau aahh, Rahma masih kesal karena hal tadi?" ucap Rahma.
"Tadi?" Irsyad mengingat-ingat. "Astaghfirullah, yang Aida tadi maksudnya? Jadi ade benar-benar cemburu ya?" tanya Irsyad.
"Bukan cemburu mas, tapi Rahma tidak suka, mas terlalu banyak senyum sama wanita lain."
"Iya itu cemburu namannya."
"Isshh cemburu dan tidak suka itu berbeda."
"Iya deh iya, berbeda kosa katanya, tapi intinya sama saja." Irsyad terkekeh, sedangkan Rahma bersungut.
"Begini dek Rahma, abah Ruri itu dulunya pernah menyelamatkan nyawa mas saat mas sedang mandi di sungai." ucap Irsyad.
"Menyelamatkan?" Rahma menoleh ke arah Irsyad yang tengah duduk di atas ranjangnya,
"Iya, jadi dulu saat usia mas masih 14 tahun, waktu itu lagi sadranan kalau orang Jawa bilang, dimana kalau satu hari sebelum ramadhan, kita para santri akan mandi bersama di sungai untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan." Tutur Irsyad Rahma pun mendekati Irsyad dan duduk di sebelahnya.
"Lalu?" tanya Rahma yang mulai tertarik.
"Waktu itu, Tiba-tiba sungai banjir dan mas masih berada di tengah sungai, mas belum sempat menyelamatkan diri seperti teman-teman yang lain, sehingga tubuh mas tersapu arus yang deras itu, dan beruntungnya kebun abah Ruri ada di bibir sungai tersebut, dan beliaulah yang menyelamatkan mas. Makannya semenjak itu Abah Ruri mas anggap sebagai kakek, sekaligus bapak angkat mas." Irsyad menjelaskan, sedangkan Rahma sedikit terpaku mendengar cerita dari Irsyad, kalau saja dulu tidak ada yang menolong suaminya itu, mungkin Rahma tidak akan bertemu Irsyad.
"Dek?" Panggil Irsyad. Rahma pun menoleh,
"Kenapa diam?"
"Tidak, Rahma hanya sedikit tersentuh." tuturnya. Irsyad pun tersenyum sembari mengusap kepalanya.
"Dan untuk Aida, Ade tidak perlu cemburu ya. Karena cinta mas cuma untuk Rahma kok." ucap Irsyad sembari menyentuh hidung Rahma dengan jari telunjuknya. Tanpa menjawab apapun Rahma pun naik ke atas ranjang mereka dan merebahkan tubuhnya, dengan Irsyad yang lantas menyelimuti tubuh Rahma dan mengecup keningnya.
"Mas keluar dulu sebentar ya dek, ada acara sholawatan di majelis." ucap Irsyad, Rahma pun mengangguk dengan Irsyad yang lantas beranjak keluar kamar mereka.
Sesaat Rahma berfikir, kenapa hatinya merasa takut saat bertemu dengan Aida tadi, Perasaannya seakan tidak enak. Rahma pun segera menepis pikiran buruknya dan berusaha memejamkan matanya.
****
Setelah dua hari tiga malam berada di Kabupaten Magelang, mereka pun pulang. kini keduanya sudah berada di Jakarta karena Irsyad mulai ada jadwal berceramah di beberapa majelis, dan lagi ia juga harus mengajar senin esok karena masa cutinya yang sudah habis.
Malam itu di kamar mereka, Irsyad baru saja masuk setelah keluar menghadiri acara tahlilan di rumah tetangga dekat mereka, yang mengundang ustadz Irsyad sebagai pengisi acara. Ia melihat Rahma sedang membaringkan tubuhnya sembari bermain ponsel padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Ade kok belum tidur, ini sudah malam tidak baik bermain ponsel sampai selarut ini sayang." ucap Irsyad.
"Iya Rahma tahu, hanya saja Ini, pihak rumah sakit tempat Rahma bekerja sudah memberi kabar kalau masa cuti Rahma sudah hampir habis senin besok Rahma harus kembali bekerja." ucap Rahma yang lantas beranjak duduk, Irsyad pun meraih ponsel Rahma dan membaca pesan itu, lalu menyerahkannya lagi pada Rahma.
"Dek, ade resign saja ya? Kan jauh masa iya ade harus ke Palembang lagi." ucap Irsyad.
"Rahma juga berfikir seperti itu, terlebih rumah sakit itu pasti akan mengingat Rahma pada seseorang." ucap Rahma dengan pandangan kosong. Irsyad paham seseorang yang di maksud Rahma adalah sosok pria yang seharusnya menjadi suaminya. Cuuppphhh Irsyad mengecup pipi Rahma.
"Sudah malam tidur saja yuk." ajak Irsyad yang langsung merebahkan tubuh Rahma, yang saat itu membuat Rahma terkesiap kaget.
"Mas, ini belum waktunya lho." ucap Rahma yang takut jika suaminya itu akan mengajaknya bersenggama.
"Iya mas tahu sayang, walau mas sangat ingin tapi mas akan menahan itu." jawab Irsyad sembari memeluk Rahma.
Rahma pun termenung ia menatap ke arah langit-langit, dan berfikir kalau selama ini dirinya memang bukan istri yang soleha. Irsyad mengangkat kepalanya dan menoleh kearah Rahma.
"Ade belum tidur ya?" tanya Irsyad.
"Rahma belum bisa tidur, masih terpikir sesuatu mas." ucap Rahma.
"Memikirkan apa? Ayo cerita pada suami mu ini."
"tidak penting."
"Bohong, pasti penting kan? Ayo cerita saja dek." ucap Irsyad. Rahma pun menghela nafas.
Mas?" Panggil Rahma.
"Iya sayang?"
"Rahma boleh bertanya?"
Irsyad tersenyum "tentu saja boleh Rahma, memangnya ade mau bertanya apa?" Tanya Irsyad sembari menopang Kepalanya dengan tangan Kirinya.
Rahma pun terdiam sejenak. "Mas tau Rahma seperti ini sikapnya terkadang suka marah-marah, dan selalu menggerutu tapi kenapa mas tidak pernah marah pada Rahma? Seharusnya mas kecewa pada ku, karena Rahma bahkan tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, tidak bisa masak, dan lagi? Mas selalu bangun lebih dulu dari Rahma." ucap Rahma. Irsyad pun mengusap kepala Rahma.
"Mana bisa mas marah pada mu sayang, ya mungkin mas sedikit merasa ada yang kurang dari mu karena itu semua, tapi seperti yang mas bilang kan? Kalau mas itu mencintai mu Rahma, dan lagi Rahma selalu berusaha menurut walau terus menggerutu tapi mas senang karena ade tetap melakukannya." ucap Irsyad, Rahma pun menoleh menatap ke arah suaminya itu.
"Terimakasih sudah menerima ku mas, dan terimakasih sudah bersedia dengan sabar mendidik ku." ucap Rahma sembari tersenyum. Melihat Senyum Rahma, Irsyad semakin berdebar, ia pun mendekati wajah Rahma dan mendaratkan kecupan di keningnya.
"Mas mau tanya, apa ade sudah mencintai mas?" tanya Irsyad sesaat setelah melepaskannya. Rahma terdiam sejenak, sembari menatap wajah pria di sebelahnya
"Mungkin," jawabnya lirih.
"Kenapa mungkin?" tanya Irsyad.
"Ya mungkin saja karena malam itu, semenjak Rahma menerima nafkah batin dari mas Irsyad, rasanya jadi lain." jawab Rahma lirih tanpa menatap ke arah Irsyad menyembunyikan wajahnya yang memerah, Irsyad pun tersenyum, ia sedikit berkaca-kaca, rasanya lebih bersemangat saat Rahma mulai bisa mencintainya.
"Jadi benar, kalau tingkah ade yang tiba-tiba marah saat ada jamaah wanita yang menghampiri mas, itu karena ade cemburu?" tanya Irsyad.
"Iya, itu benar. Apa lagi akhir-akhir ini mas itu populer di kalangan remaja, banyak tuh remaja putri yang mengunggah Vidio ceramah mas di media sosial." tutur Rahma sembari bersungut-sungut. Sedangkan Irsyad pun terkekeh ia menarik Pipi Rahma dengan gemas, sehingga sedikit membuat Rahma kesal sembari memukul tangan Irsyad agar melepaskannya.
"mas ini Kebiasaan ya." tutur Rahma sesaat setelah Irsyad melepaskan tarikannya itu, dengan tawanya yang membuat Irsyad mengusap matanya yang sedikit basah. Irsyad pun sedikit mengangkat tubuhnya dan mencium kening Rahma lagi, tidak hanya itu kedua pipi Rahma pun mendapatkannya juga, setelahnya Irsyad menatap mata Rahma dalam-dalam.
"Berati mas tidak perlu menunggu seminggu lagi dong?" tanya Irsyad.
"Ma... Maksudnya?" tanya Rahma sembari menelan ludah.
"Mas kan ingin cepat punya anak sayang, masa iya masih bertanya?"
'Aaahhh, entah mengapa, aku merasa menyesal setelah menyatakan perasaan ku padanya.' runtuk Rahma yang lantas mendorong tubuh Irsyad pelan.
"Ini sudah hampir jam dua belas, mas tau Rahma akan susah di bangunin kan jadi lebih baik kita tidur." tutur Rahma yang lantas memiringkan tubuhnya membelakangi Irsyad dengan mata yang terpejam ia berusaha keras untuk segera tertidur.
Tangan Irsyad terangkat dan menyentuh bahu Rahma sembari mengusapnya pelan, saat itu pula mata Rahma terbuka.
'Mas, tolong jangan minta aku untuk melayani mu malam ini, aku masih gugup tahu.' rengek Rahma dalam hati.
Irsyad pun menghela nafas, "jangan membelakangi mas dong dek, kan dosa tidur dengan membelakangi suami." Mendengar itu Rahma pun membalik badannya secara tiba-tiba, sedangkan Irsyad masih berada di belakangnya persis, itu pula yang akhirnya membuat Rahma tidak sengaja mencium pipi Irsyad. Dengan matanya yang membulat Rahma pun beranjak duduk, Irsyad menyentuh pipinya sembari tersenyum senang.
"Cieeee Akhirnya, ade mau mencium mas lebih dulu." ledek Irsyad.
"Kyaaaaaa... Mas ini bicara apa sih?" Rahma pun beranjak, ia merasa malu, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk melenggang pergi menuju toilet yang berada di kamarnya itu.
"Ya Allah dek Rahma sini, mas masih mau lagi." Seru Irsyad dengan gelak tawanya, Akibat melihat tingkah Rahma yang gelagapan itu sungguh membuatnya semakin gemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
💞R0$€_22💞
Asli bacanya ikut cengar cengir tersipu malu aku...☺☺...suami sampe bilang "kok mesam-mesem dhewe sih...🤣🤣🤣🤣🤣🤣..
2022-02-27
0
Qiza Khumaeroh
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2021-09-14
1
Happyy
🤗🤗🤗
2021-09-12
1