Rahma membuka tas pakaiannya yang masih tergeletak di samping lemari pakaian Irsyad, ya dari semalam ia belum sempat mengeluarkan baju-bajunya itu sehingga semuanya masih utuh di dalam tas besarnya.
Sesaat Rahma bingung, semua pakaian tidak ada yang pas untuknya, karena selama ini ia tidak berhijab Rahma yakin Irsyad tidak akan mengizinkannya memakai pakaian itu semua, terlebih kebanyakan di sana adalah celana jeans.
"Rahma, Sudah siap?" tanya Irsyad yang sudah berdiri di belakangnya.
"Belum, Rahma masih bingung karena Rahma tidak membawa hijab, gamis yang ku pakai kemarin itu kan dari Mas, selama ini aku tidak memakai baju-baju yang seperti itu, dan aku yakin kalau Rahma pakai celana Jeans? mas pasti tidak mengizinkannya bukan?" ucap Rahma, mendengar itu Irsyad tersenyum karena Rahma mulai paham.
"Oh, begitu ya? Baiklah tunggu sebentar ya dek." ucap Irsyad yang lantas keluar kamar itu, selang beberapa menit ia pun masuk lagi.
"Mbak Adibba kadang suka kemari makannya ada pakaian beliau di sini, sepertinya ukurannya hampir sama walau lebih besar tubuh mbak Adibba tapi sepertinya ini akan cocok untuk ade, ini di pakai." ucap Irsyad. "setelah sarapan kita ke toko baju syar'i ya, nanti mas beliin baju buat ade di sana." Lanjutnya.
"Mbak Adibba?" tanya Rahma bingung.
"Iya, dia mbak kandungnya mas, yang tinggal di Sragen solo ikut suaminya, tapi kadang suka ke jakarta dan tinggal di sini sementara kalau ada kegiatan di sini." jawab Irsyad.
'Oh, jadi mas Irsyad ini punya kakak perempuan?' gumam Rahma dalam hati, sesaat ia mengamati hijabnya yang sangat besar itu.
"Mas? Apa tidak ada hijab yang lebih kecil, ini sepertinya terlalu panjang mas, seperti mukenah." ucap Rahma.
"Ini bagus dek, kalau pendek nanti lekuk tubuh ade masih terlihat orang, lagian ade kan harus belajar menutup aurat." ucap Irsyad.
"Iya, tapi tidak dengan hijab sebesar ini, nanti Rahma terlihat seperti ibu-ibu mas, Rahma tidak mau, kalau semacam tunik Rahma masih mau pakai, tapi ini?" ucap Rahma menolak.
"Rahma, berpakaian lah sesuai syariat sayang, bukan mengikuti trend fashion, jujur saja mas senang akhir-akhir ini banyak orang berhijab namun mereka hanya mengikuti mode saja tidak paham apa itu syariat berhijrah yang sesungguhnya, karena jilbab ini pertanggung jawabannya besar bagi sang pemilik, tidak hanya semata-mata untuk menutup aurat mu namun juga menjadikan pelindung mu dari segala ke mudharat an yang ada di sekitar mu, seperti tingkah laku, ucapan, dan semuanya, jadi jangan setengah-setengah sayang," Jelas Irsyad.
"Mas, Rahma masih belajar belum bisa di paksa langsung harus syar'i, dan mengikuti semuanya, Rahma butuh waktu kesiapan hati untuk menjadi muslimah yang sesungguhnya, Rahma khawatir setelah ini mas akan menyuruh Rahma memakai cadar juga kan," tutur Rahma sedikit kesal dengan Irsyad yang terus berdalil kepadanya. Irsyad pun memegangi wajah Rahma dengan kedua tangannya dan menatap dalam-dalam.
"Rahma dengarkan mas, mas mau mengungkapkan sesuatu pada mu sesuai isi hati mas, kalau mas itu sudah mencintai ade sejak semalam, mas memang tidak akan pernah melarang jika hal itu tidak wajib di lakukan, mas siap menanggung dosanya jika itu bisa membuat mu merasa nyaman berada di dekat mas sayang, namun mas berusaha keras membawa mu ke jalur mas agar mas tidak gagal menjadi imam mu, mas mau kita sama-sama melangkah ke surga-Nya Allah SWT, dan setiap doa mas saat ini adalah memohon agar Rahma Qurrata Aini istri mas ini bisa menjadi bidadari surga mas kelak, mas ingin berjodoh di akhirat juga dengan mu Rahma." ucap Irsyad tulus dengan tatapannya yang benar-benar dalam sehingga membuat Rahma tidak bisa menatapnya balik ke arahnya.
"Mas tidak akan meminta mu bercadar kok Rahma, itu tidak wajib sayang, yang terpenting Rahma mau memakai hijab panjang ini setiap kali Rahma keluar rumah dan atas izin mas." Lanjut Irsyad, Rahma pun mengangguk pelan, ia tidak tau mau menjawab apa. Cuuuppp Irsyad mengecup kening Rahma dengan waktu yang lumayan lama, ia juga mengecup pipi kanan Rahma dan beralih ke pipi kirinya, lalu kembali menatap mata Rahma.
"Mas mencintai mu dek Rahma." ucapnya lirih yang saat itu juga membuat Rahma mematung sembari membalas tatapannya, Irsyad pun tersenyum lalu mendekap tubuh mungil istrinya itu.
Ya sekilas Irsyad mengusap air matanya, ia sedikit bersyukur karena Rahma merupakan gadis yang sepertinya akan mudah di didik untuk menjadi wanita salehah yang sesungguhnya.
Dengan melonggarkan pelukannya Irsyad pun melepas kan tubuh Rahma.
"Mas tunggu di luar ya, ade ganti baju dulu." ucapnya sembari mengusap kepala Rahma sesaat sebelum akhirnya ia keluar dari kamar mereka.
"Haaaaaahhh rasanya jantungku mau copot," Rahma menghela nafas berkali-kali, ia pun bergegas mengganti pakaiannya dan mengaca, bajunya memang sedikit kebesaran namun tidak terlalu buruk untuknya dengan sedikit ragu ia keluar dari kamar itu dan menemui Irsyad yang tengah duduk di ruang tamu menunggunya turun, sesaat Irsyad terpanah saat melihat penampilan Rahma dengan gamis dan hijab sepanjang panggulnya itu.
Sedikit malas Rahma berdiri di depannya.
"Istri mas cantik sekali mashaAllah..." Puji Irsyad, namun Rahma malah justru memalingkan wajahnya, dengan pipi yang merona itu.
"Sudah jam sepuluh mas, kita sudah telat sarapannya tidak perlu banyak memuji seperti itu, aku tidak suka pujian." gumamnya sembari keluar dari rumah itu mendahului Irsyad namun sekilas senyum itu tersungging dari bibir manis Rahma.
"Iya baiklah Rahma ku." ucap Irsyad pelan dengan langkah kakinya itu ia pun ikut keluar rumahnya dan mengunci pintu rumah itu, sedangkan Rahma memakai sneakers nya, ya Rahma lebih suka pakai itu ketimbang sandal wanita berheels tinggi.
Di perjalanan tak henti-hentinya Irsyad bercerita panjang lebar dengan Rahma yang hanya di jawab dengan kata "ya, belum, tidak tahu, sudah, hmmm." Saat Irsyad menanyakan sesuatu padanya.
Di sebuah resto 24 jam mereka menyantap hidangan sarapan pagi yang sudah telat itu, setelahnya Irsyad mengajak Rahma mampir sejenak di sebuah taman di kawasan Harapan Indah Bekasi itu, sebelum akhirnya menuju toko baju syar'i.
"Kita mampir sebentar ya dek." ucap Irsyad yang lagi-lagi tidak di balas oleh Rahma.
Di sana mereka hanya duduk berdua di atas rumput hijau melihat orang-orang berlalu lalang menikmati hari akhir pekan di sana.
Pandangan Rahma tertuju pada seorang pria yang tengah berjalan beriringan dengan seorang wanita dan snelli jas tergantung di lengannya.
Ia jadi ingat postur tubuhnya sama persis dengan mendiang Fikri yang saat itu juga membuat Rahma menitikkan air mata, sehingga membuat Rahma menyeka nya cepat, menyadari Rahma menangis Irsyad pun menoleh.
"Dek Rahma nangis, ada apa?" tanya Irsyad.
"Tidak apa mas, Rahma mau pulang saja." ucapnya murung, ia pun beranjak dan melenggang pergi menuju mobil suaminya itu terparkir.
Sedikit bingung dengan apa yang terjadi pada Rahma, karena tiba-tiba Rahma terlihat sedih dengan cepat ia pun beranjak dan menyusul Rahma.
Di dalam mobil itu Rahma menatap ke layar ponselnya dan mengusap-usap lembut, mata Irsyad pun menangkap gambar di layar ponsel tersebut.
'Itu Foto dek Rahma dengan seorang pria? Apa pria itu calon suaminya dulu ya?' gumam Irsyad, ia pun terus melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Di sana Irsyad langsung keluar dan membukakan pintu untuk Rahma.
"Mas, Rahma bisa buka pintu mobil ini sendiri, jadi tidak usah berlebihan." ucap Rahma ketus.
"Dek, yang mas lakukan ini masih sebagian kecil kok, Rosulullah Saw saja pernah berjongkok dengan satu kaki di tekuk guna menjadikan itu sebagai pijakan salah satu istrinya saat turun dari sebuah kereta kuda." ucap Irsyad.
"Ck." Rahma pun langsung melenggang pergi ke depan pintu rumah mereka sedangkan Irsyad segera menyusul dan membuka kunci pintu rumahnya, yang saat itu juga membuat Rahma langsung masuk kedalam rumah itu bahkan tanpa mengucapkan salam.
"Walaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh." seru Irsyad pada Rahma.
"Assalamu'alaikum." Tuturnya kemudian sembari terus melangkah masuk, Irsyad pun menggeleng.
"Aku harus mampu meluluhkan batu di hatinya itu, istri ku bukan wanita bertabiat buruk kok." gumam Irsyad, ia pun melangkah masuk setelah membaca doa masuk rumah dan salam lalu menutupnya.
Dengan memasukkan kunci mobil di kantongnya pun bergegas menuju dapur dan menyingsingkan lengannya guna membersihkan kekacauan yang di buat Rahma tadi, ya istrinya itu benar-benar masih sangat muda sehingga kebiasaannya mengerjakan pekerjaan rumah itu belum serajin yang Irsyad harapkan, namun tidak apa Irsyad tetap senang melakukannya karena untuk yang pertama kalinya dapurnya itu benar-benar berantakan semua demi Rahma nya yang tengah berusaha memasak untuknya yaaah walaupun tetap saja makanan itu tidak bisa di makan namun Irsyad tetap senang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
sherly
kalo muda tu SMA kalo dah kerja jd perawat bahkan dah niat mau merried hrsnya bisalah untuk belajar masak ... sabar ya pak ustadz
2023-03-31
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Suami idaman nie Ustadz Irsyad,, 🥰
2022-12-22
0
Lia Muna
wiynzjmk
2022-03-07
0