Sebelum adzan subuh berkumandang, Irsyad sudah terjaga dari tidurnya, ia pun mengusap matanya yang sedikit perih sembari meraih jam weker di meja sebelah ranjangnya, matanya menyipit memastikan kalau jarum jam sudah menunjukan waktu pukul 02:47 dini hari, ia pun beranjak duduk dan membaca doa bangun tidur, setelahnya ia menoleh ke arah Rahma yang masih tertidur pulas, dengan senyum tersungging ia benar-benar merasa bersyukur memiliki istri yang sangat membuatnya betah untuk terus memandanginya, perlahan ia menurunkan wajahnya dan mencium pipi Rahma dengan waktu yang lumayan lama, sehingga membuat tubuh Rahma sedikit bergerak saat itu juga Irsyad melepaskan kecupan nya dan mengamati tubuh istrinya yang hanya membalik badan membelakanginya lalu kembali tidur.
Irsyad pun menggeleng pelan sembari tersenyum. "Sungguh nama belakang mu pas untuk mu Rahma, Quratta Aini yang artinya penyejuk hati, kau memang penyejuk hati mas saat ini bahkan mata ini tidak bisa lepas untuk memandangi mu." gumam Irsyad sembari mengusap kepala istrinya, ia pun beranjak menuju kamar mandi guna bebersih dan melangsungkan sholat tahajjud sembari menunggu subuh tiba.
Sebenarnya ia ingin melakukan sholat tahajjud bersama Rahma, namun ia lebih kasihan karena Rahma terlihat sangat lelah membuatnya urung untuk membangunkannya sekarang.
Setelah melangsungkan sholat sunnahnya itu Irsyad berzikir sejenak hingga tak lama ia mendengar Adzan subuh dari sebuah pengeras suara yang berasal dari masjid di dekat rumahnya.
"Alhamdulilah, saatnya membangunkan Rahma," gumamnya ia pun beranjak dari tempat sujudnya dan berjalan menuju kamarnya. Perlahan ia membuka pintu itu dan masuk lalu duduk di sebelah Rahma, dengan sangat hati-hati ia menyentuh bahu Rahma dan menggoyangkannya sedikit.
"Rahma," panggil Irsyad halus berusaha membangunkan istrinya.
"Rahma istri ku, ayo bangun kita sholat dulu." Sedikit susah membangunkan Rahma yang hanya bergerak sesaat lalu kembali memeluk bantal gulingnya.
"Sayang ku Rahma... Ayo bangun dulu, nanti keburu terbit loh matahari nya." Irsyad masih terus berusaha.
"Emmmmmm, lima menit lagi mas, Rahma masih ngantuk." ucap Rahma dengan suara seraknya dan mata yang masih terpejam.
"Hei, mati tidak menunggu lima menit lagi, ayo bangun nanti bisa tidur lagi Rahma." Bujuk Irsyad masih terus berusaha.
"Ck," Rahma mengecak, namun tubuhnya masih tidak bergerak, selimut dan bantal itu masih terlalu nyaman baginya.
Melihat Rahma yang masih susah di bangunkan, Irsyad pun menurunkan wajahnya lalu berbisik di dekat telinga Rahma.
"Ade mau bangun terus ke kamar mandi sendiri atau mas gendong ade sampai ke kamar mandi nih?" tuturnya yang seketika itu membuat mata Rahma terbuka, dan langsung beranjak duduk.
"Rahma bisa jalan sendiri" jawabnya yang langsung berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh sedikit oleng.
"mandi sekalian ya bidadari ku jangan hanya mengambil air wudhu saja." Seru Irsyad yang lantas membuat Rahma menghentikan kakinya, lalu menoleh ke belakang.
"Rahma kalau mau sholat subuh tidak perlu mandi dulu mas, lagi pula ini masih terlalu pagi." ucap Rahma di depan pintu kamar mandi, perlahan Irsyad pun beranjak dan mendekati Rahma lalu menyentuh kepalanya.
"Mas mau tanya, ade itu kalau mau bertemu orang yang jabatannya lebih tinggi mandi dulu terus dandan kah atau mau seperti ini langsung menemuinya? Katakan saja seorang presiden lah misalnya." tanya Irsyad halus.
"jelas mandi mas, masa iya bertemu presiden penampilan seperti ini?"
"Kalau begitu mas tanya lagi, presiden dan Allah SWT itu kedudukannya tinggi siapa?" tanya Irsyad,
"Emmm?" Rahma bungkam.
"tinggi Allah SWT kan, masa iya sama presiden saja kita berpenampilan menarik sedangkan di depan Allah penampilannya seperti ini, harusnya kita lebih merasa tidak enak dong Rahma." ucap Irsyad halus.
"Iya Rahma mandi," potong Rahma datar yang langsung masuk kedalam bilik kamar mandi itu. Kata-kata suaminya memang tidak salah namun tetap saja ucapannya itu sudah jelas masuk ke hatinya yang merasa melakukan kesalahan sepele yang sebenarnya tidak baik jika di biarkan terus menerus.
Irsyad pun terkekeh dan berjalan keluar menunggu istrinya di ruang pesholatan.
Di sana Irsyad menunggu lumayan lama menanti Rahma yang tak kunjung turun.
Sesaat senyumnya tersungging saat mendapati Rahma datang dengan mukena yang sudah terpasang di tubuhnya.
"Nah pinter istri mas, kan enak di lihat kalau sholat sudah dalam ke adaan bersih jadi lebih khusyuk lagi kan?" ucap Irsyad yang hanya di balas dengan lirikan tajam Rahma yang langsung berjalan masuk dan berdiri di atas sajadah yang sudah di gelar oleh Irsyad.
Irsyad pun kembali ke atas sajadahnya dan mengumandangkan komat sebelum akhirnya membaca niat sholat subuh berjamaah dan mengangkat kedua tangannya mengucapkan Takbir.
Setelah dua Rakaat itu di jalankan Irsyad membalik badannya mengulurkan tangannya di hadapan Rahma yang saat itu juga di rasanya serta mengecup punggung tangannya itu. Setelahnya Rahma pun berniat beranjak namun dengan cepat di tahan Irsyad.
"Mau kemana dek?" tanya Irsyad.
"Mau masuk mas, Rahma masih sedikit ngantuk." jawab Rahma.
"Rahma, Sebaik-baiknya setelah kita selesai Sholat itu baca Zikir dulu, ayo mas tuntun kita baca Zikir sama-sama ya." Ajak Irsyad yang saat itu juga membuat Rahma mendengus sebal.
'Seperti ini nih tidak enaknya menikah dengan seorang ustadz' gerutu Rahma dalam hati yang terpaksa mengikuti kemauan suaminya itu.
Setelah lama berzikir Irsyad pun beranjak dan meraih dua Al Qur'an lalu menyerahkannya kepada Rahma satu.
"Mas? Rahma kan sudah ikut Zikir masa harus mengaji juga?" ucap Rahma mulai sebal.
"Rahma, langit masih lumayan gelap, habiskan waktu pagi ini untuk mengaji sebentar walau hanya satu muka sayang, karena waktu pagi sesungguhnya tidak baik untuk mu tidur lagi," ucap Irsyad dengan penuh kesabaran dan kelembutan.
"Hiiiiiss mas bilang tadi Rahma boleh tidur lagi kan?" seru Rahma.
"Boleh, tapi nanti sayang sebaik-baiknya waktu untuk tidur lagi itu sehabis Zhuhur ya." ucap Irsyad sembari tersenyum dan mulai memakai kacamatanya lalu membuka ayat suci yang sudah di tangannya itu, sesaat ia melirik ke arah Rahma yang masih besengut itu.
"Rahma?" Panggil Irsyad halus sehingga membuat Rahma melirik kesal kepadanya.
"Ayo buka Al Qur'an nya dan baca ya" titah Irsyad sembari tersenyum, dengan kesal Rahma pun membukanya dari Surah Al Baqarah ayat satu itu.
Dan perlahan mulai membacanya bersama Irsyad, ya walaupun bacaannya belum benar dan masih berkali-kali di benarkan oleh Irsyad, namun Rahma tetap berusaha membacanya walau masih dalam keadaan mengantuk, tak jarang berkali-kali Rahma menutup mulutnya karena menguap.
Hingga pada suatu ketika Irsyad menyadari Rahma sama sekali tak bersuara membuatnya menaikan bola mantannya melirik ke arah Rahma yang ada di depannya.
Ia melihat Rahma yang tertunduk itu tengah memejamkan matanya tertidur tanpa sadar dengan Al Qur'an masih berada di pangkuannya.
Dengan perlahan Irsyad menoleh ke samping kirinya dan meraih kotak tissue kecil yang masih berbungkus plastik. Dengan senyum jail nya Irsyad sedikit membungkuk dan mengambil ancang-ancang dengan satu tangannya yang mulai terangkat namun tidak terlalu tinggi.
Ia pun membidik kearah kening Rahma dan melempar pelan sehingga tissue itu mengenai kening Rahma yang saat itu juga membuat Rahma terkesiap kaget sedangkan Irsyad kembali tertunduk menatap ke Al Qur'an ditangannya sembari terkekeh-kekeh.
"Mas ini jail ya ternyata?" Runtuk Rahma kesal, yang semakin membuat Irsyad tertawa jenaka sembari memegangi perutnya.
"Haduuhhh maaf dek, habis ade? di suruh ngaji malah tidur," ucap Irsyad masih terkekeh-kekeh.
"Siapa yang tidur? Rahma memang matanya sedikit kecil makannya kalau nunduk itu pasti terlihat seperti memejamkan mata." Bantah Rahma yang masih kesal.
"Masa? Al Qur'an di tangan mu saja hampir jatuh tuh tadi, masih mau mangkir?" ucap Irsyad dengan nada meledek.
"tau ahh, Rahma sudah selesai ngajinya" Dengan jengkel dan sedikit malu Ia pun beranjak dan meletakan Al Qur'an itu di rak nya, yang saat itu juga membuat Irsyad menutup Al Qur'an itu dan meletakkannya juga di rak tersebut di sebelah Rahma sembari tersenyum namun Rahma yang melihat itu hanya membuang muka dan melenggang pergi.
"Eh Rahma, tunggu dulu" Seru Irsyad.
"Apa lagi sih mas?, nih ya semua yang mas suruh sudah Rahma jalankan, dari mandi, sholat, Zikir, ngaji juga terus apa lagi?" rengek Rahma yang semakin merasa jengkel.
"Ada satu yang belum dek?" tutur Irsyad.
"Apa?" tanya Rahma ketus.
Irsyad meletakan jari telunjuk di pipinya sembari menepuk-nepuk pelan dengan menggunakan jari telunjuknya itu.
"Cium mas dulu sini, mas nungguin loh ini." ucap Irsyad sedikit berbisik, yang saat itu juga membuat Rahma menghentakkan kakinya dan membuang muka lalu melenggang pergi dengan perasaan jengkel, melihat sikap menggemaskan Rahma membuat Irsyad terkekeh-kekeh sembari terus menatap ke arahnya.
"Rahma...Rahma..." gumam Irsyad sembari menggeleng pelan dan kembali masuk kedalam ruang pesholatan itu dan membereskan sajadahnya mereka.
Sembari melipat Irsyad pun tersenyum ia merasa bersyukur, rumah ini jadi semakin hangat semenjak adanya Rahma walaupun baru hari pertama namun Rahma sudah memberi warna untuk kehidupan barunya itu, satu misi yang harus ia tuntaskan yaitu membuat Rahma nya itu bisa mencintainya dengan ikhlas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
kika
gak solat di masjid kah? aku baca rumi duluan sblm ini, du crita rumi dia dipukul ayahnya klo gak solat jamaah di masjid. tpi ayahnya juga trnyata prnah gak solat jamaah d msjid...he..he..
2023-07-09
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Bagus, smbil baca novel bisa smbil belajar,,, 🥰
2022-12-22
0
Syahria Ria
☺☺☺☺ ustadz..... ustadz..... punya juga ya rasa usil...... makin seru deh ceritanya..... author nya hebat.... bgs juga alur cerita.... 🥰🥰🥰🥰👍👍👍
2022-03-24
0